
Pagi menyambut Arsen telah bersiap untuk memulai hari, ia sangat senang hari ini ia akan mengantar istrinya bekerja dengan motor baru. khayalan di angannya ia akan berboncengan mesra dengan Sarah, hanya membayangkan saja membuat pipi Arsen memanas.
“Hari ini aku akan boncengan dengan Sarah, aku bisa dekat dengannya, semoga di jalan nanti banyak polisi tidurnya, biar aku bisa menyuruhnya berpegangan, memeluk dari belakang,” batin Arsen menghayalkan kemesraan dengan Sarah.
“Ayo berangkat Ar,” ajak Sarah yang telah siap menatap aneh pada pemuda yang duduk senyum-senyum sendiri. “Ar!” panggil Sarah, membuyarkan lamunan indah Arsen bersamanya.
“Ha ... ia Ra, kamu sudah siap, Ayo!” Arsen bangkit dari kursi berjalan mendahului Sarah.
Arsen membuka pintu, alisnya mengernyit melihat anak lelaki mengenakan seragam sekolah berdiri di samping pintu.
“Pagi, kak!” sapa Ale pada pemuda tampan itu.
Arsen menarik napas berat hari paginya sudah di awali dengan melihat anak pemilik rumah. “Mau apa?” tanya Arsen.
“Ha ... kenapa ada anak tetangga gesrek ini pagi-pagi, bikin aku ngak mood,” batin Arsen.
“Siapa Ar?” tanya Sarah yang akan keluar dari pintu rumah.
“Anak pemilik rumah,” ujarnya dengan tak bersemangat.
Sarah tersenyum lembut pada anak lelaki yang ada di hadapannya.
“Ale ... ada apa sayang?”
“Kata mami, kakak baru beli motor, Ale di suruh mami untuk ikut numpang ke sekolah,” jelas Ale dengan polos.
Jeduar ...
“Apa!” Arsen tersentak kaget bayangannya untuk berboncengan mesra dengan Sarah seketika buyar dengan munculnya si anak pemilik rumah meminta tumpangan. “Ngak bisa, minta di antar sama mami kamu sana,” tolaknya dengan cepat.
"Tidak boncengan mesraku dengan Sarah, bisa gagal” batin Arsen.
“Ar,” tegur Sarah membuat pemuda ini hanya mengerucutkan bibirnya.
Perhatian mereka teralihkan oleh si pemilik rumah yang keluar dengan wajah ceria lalu menghampiri mereka.
“Selamat pagi,” sapa Rena dengan semangat pagi menggebu, tak tahu jika ia baru saja merusak semangat pagi Arsen.
“Pagi mami,” balas Sarah menarik sudut bibirnya.
“Ale ikut kalian ya, kebetulan sekolahnya kan searah dengan kalian, aku lagi banyak urusan, kiriman daster daganganku datang nanti, aku perlu mengurusnya. Terus mau nagih kreditan daster orang di kampung ini.” Tatapan memohon dari pemilik rumah.
“Ngak bisa!” tolak Arsen.
“Ar ....” Sarah melototkan matanya.
“Oke, mami Ale akan ikut kami. Ayo ikut kakak,” ajak Sarah menarik tangan anak lelaki itu ke arah motor yang terparkir.
“Ra ....” protes Arsen berjalan tak bersemangat mengekori istrinya.
“Ngak lama aku bisa mati kesal karena tetangga gila, suka seenaknya saja, mereka sangat merepotkan,”
Arsen menaiki motornya, Sarah membantu Ale duduk di belakang Arsen.
“Ko di belangkang Ra, suruh saja ia berdiri di depan,” protes Arsen karena jika Ale duduk di belakangnya itu berarti ia tak bisa dekat dengan Sarah.
“Ar kasian dia masih kecil, kena angin dan debu,” bela gadis ini.
“Kalau ada pengganggu seperti ini, kapan aku bisa mendekati Sarah, tetangga menyebalkan ini selalu merusak moment kedekatanku dengan Sarah, bagaimana kami bisa dekat, bagaimana aku membuat Sarah jatuh cinta padaku,” batin Arsen.
__ADS_1
Pemuda ini membuang napas kasar, khayalan tingkat tingginya buyar karena anak tetangga.
“Titip Ale ya,” pesan pemilik rumah tak tahu diri ini, membuat Arsen memutar bola mata malas.
“Ia, mi. Beres.” Sarah kemudian naik ke atas motor. Mereka sudah duduk berbaris di motor. Arsen menyalakan mesin motornya.
“Kami pergi dulu mi,” Pamitnya.
“Ia, kalian hati-hati di jalan, terutama kamu ganteng, hati-hati jauhi ibu-ibu yang naik motor matic di jalan raya bahaya. Pergerakannya random, ngak bisa di baca, ntar kamu di tabrak, dia yang nabrak dia yang marah, pokoknya maha benar deh,” pesan Rena panjang lebar dengan senyum menggoda di balas dengan cebikan oleh Arsen.
Arsen memacu motornya meninggal pemilik rumah genit, hening menguasai. Pemuda ini hanya bisa mengutuki nasibnya yang memiliki tetangga merepotkan seperti mereka.
****
Hari-hari berlalu Arsen menjalani hari dengan semangat, semenjak menjadi fotografer di acara pernikahan ia merasa hidupnya sudah lengkap, dunia yang ia impikan, walau pun pujaan hatinya belum membalas cintanya tapi ia senang masuk dalam kehidupan Sarah.
Malam telah larut Sarah duduk di sofa menunggu kedatangan Arsen. waktu telah menunjukkan pukul dua belas lebih. Namun Arsen belum juga datang, membuatnya khawatir dengan keadaan suaminya, tak biasa pulang selarut ini. Entah mengapa sejak Arsen bekerja ia tak bisa memejamkan mata sebelum melihat suaminya itu pulang ke rumah. Ia baru bisa tenang jika Arsen itu telah sampai, merasa takut jika terjadi sesuatu pada tuan Arsen si anak emas.
Suara pintu terbuka terlihat Arsen masuk ke dalam rumah.
Sarah menatap Arsen lekat. “Baru pulang Ar? kenapa malam banget? Tumben ngak biasanya,” cecar Sarah dengan banyak pertanyaan terlihat jika sekali jika khawatir.
Arsen tersenyum lalu duduk di samping Sarah.
“Ia, tadi aku nunggu Niki, ia minta pulang bareng, jadi tunggu dia dulu tadi,” jelas Arsen yang sekarang satu tempat bekerja dengan gadis genit yang suka menggodanya.
“Oh, gitu.” Sarah mengganguk. “Ia Ar, kasian, dia itu hanya biduan yang sering di pandangan remeh oleh orang, kalau bisa jaga dia,” pesan Sarah.
“Emmm. Walau pun ia menyebalkan aku akan menjaganya. “Kamu kenapa belum tidur?” tanya Arsen tersenyum lembut.
“Belum ngantuk.”
“Ngak,” jawab Sarah dengan cepat, membuang pandangannya.
Arsen menatap istrinya terasa sangat senang gadis ini selalu menunggunya pulang setiap malam.
Arsen merogoh sesuatu di tasnya kemudian mengeluarkan menyerahkannya pada Sarah.
Alis Sarah berkerut melihat Arsen menyodorkan amplop padanya. Lalu dengan ragu menerimanya.
“Apa ini?” tanyanya dengan wajah penasaran.
“Buka saja. Itu hasil memotret kemarin, buat kamu,” jawab Arsen.
“Buat aku?”
“Ia ... itu hak kamu, nafkah untukmu.”
Sarah kemudian membuka amplop itu melihat isinya. Mengeluarkan beberapa lembar uang kemudian mulai menghitungnya.
“Lumayan juga hasilnya, ini gaji pertamamu Ar,” puji Sarah matanya berbinar.
“Itu hasil dari pekerjaan yang aku suka, rasanya menyenangkan, terasa lebih puas dari pada menjadi Ceo, mereka pun puas dengan hasil kerjaku,” jelas pemuda ini dengan bangga.
“Ar ini gaji pertamamu sebagai fhotografer, nikmatilah.”
“Tidak perlu. Sudah buat kamu, aku mau mandi dulu gerah.” Arsen kemudian berdiri menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sarah masih duduk di kursi tak beranjak dari tempatnya, ia sedang mengatur pengeluaran rumah tangga, dengan serius ia menghitung uang yang ia miliki. Mengaturnya layaknya seperti keuangan perusahaan pemasukan dan pengeluaran semua tertulis di buku catatan.
__ADS_1
“Gaji Arsen ditambah uang sisa penjualan perhiasan,” rancau Sarah terus menghitung.
Arsen telah selesai membersihkan diri, telah memakai baju santai menggosok rambutnya yang basah dengan handuk, menatap heran pada Sarah yang masih duduk di kursi yang menjadi tempat tidurnya saat malam, sebab istrinya belum masuk ke kamar.
“Kamu belum tidur? Kamu lagi apa Ra?” tanya Arsen duduk di samping Sarah sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“Aku lagi menghitung pengeluaran dan pemasukan kita, terus berapa yang bisa kita tabung setiap bulan, kita harus berhemat supaya bisa memiliki tabungan yang banyak,” oceh Sarah fokus menulis.
“Tabungan?”
“Ia tabungan untuk membeli rumah. Kita ngak mungkinkan selalu mengontrak di sini, kita harus merencanakan rumah masa depan depan kita,” ucap Sarah santai.
Senyum mengembang terbit dari bibir Arsen saat mendengar rancangan masa depan kita keluar dari mulut istrinya. Hatinya terasa berbunga, itu berarti Sarah menata kehidupan panjang bersamanya.
“Masa depan kita,” ulang Arsen menatap Sarah lekat tersenyum penuh arti.
Sarah membulatkan matanya menyadari kata yang terucap.
“Emmmm, maksudku aku, kau tak mau kan bertetangga dengan mereka. jangan berpikiran aneh-aneh.” ralat gadis ini wajahnya memanas melihat Arsen terus memandangnya dengan senyum menggoda membuatnya seketika salah tingkah.
“Baiklah aku akan bekerja keras agar bisa membelikan rumah untuk masa depan kita,” goda Arsen menyeringai. Sarah mendengus memutar bola mata kemudian kembali menatap catatannya.
Suasana hening seketika Arsen masih dengan handuk di kepala.
“Ra?” panggil Arsen ada sesuatu yang akan ia katakan.
“Emmm” gadis ini hanya berdehem.
“Ra ... bisa ngak kita ganti sampo dan sabun di kamar mandi diganti baru,” pinta Arsen menatap Sarah lekat.
“Memangnya kenapa sampo dan sabun yang di kamar mandi?” tanya Sarah santai masih menulis.
“Di kamar mandi Cuma ada sampo untuk perempuan,” jelas Arsen masih menggosok kepalanya dengan handuk.
“Memang kenapa kalau shampo perempuan, aku suka, biar untuk perempuan, semua juga bisa pakai. Aromanya wangi, lembut di kepala dan juga dingin lagi,” jelas Sarah mulai merasa jika tuan ini protes dengan shampo rakyat jelata pilihannya.
“Tapi itukan sampo hijab, masa aku juga ikut pakai itu,” keluh Arsen anak pewaris dua perusahaan memakai shampo hijab. “Liat rambutku jadi lemes gini.”Arsen membuka handuk yang menutupi kepalanya.
Sarah mendengus memutar bola mata mendengar keluhan tuan Arsen si anak sultan, yang masih membawa kebiasaan mewahnya. “Ya ampun Ar cuma shampo hijab doang, bagaimana kalau aku nyuruh kamu pakai shampo sachet kembalian dari warung, yang kalau di buka, bukan pakai gunting tapi di gigit,” jelas Sarah panjang lebar agar pemuda mantan Ceo ini sadar akan kehidupan yang keras dan seadanya.
Arsen menelan salivanya dengan susah payah membayangkan ia akan menggunakan shampo yang dikatakan sarah.
“Terus kenapa sabunnya? Itu bagus menghaluskan kulit?” ketus Sarah menatap tajam pada Arsen.
“Ia sabun mandi susu kambing,” gerutu Arsen pelan tertunduk tak mau gadis ini mendengar kata-katanya namun terdengar juga oleh Sarah.
“Kenapa kalau susu kambing, itu baik untuk kulit atau kamu mau yang ada gambar badaknya.” Kembali Sarah kesal karena selera mereka yang tak sama membuat Arsen bergidik mendengar sabun yang ada badaknya.
“Ar kalau kau tidak suka semuanya, pulang saja ke rumahmu yang nyaman itu, di sana semua yang terbaik, karena aku tidak bisa memenuhi gaya hidupmu,” tutur Sarah kembali menyarankan lelaki yang telah menjadi suaminya ini pergi meninggalkannya. Sebenarnya ini juga ide gilanya agar Arsen tak betah.
Arsen menjadi kesal mendengar ucapan Sarah yang lagi-lagi menyuruhnya untuk pulang, lalu dengan cepat ia menggeser tubuhnya mendekat ke arah Sarah lalu menarik tengkuk leher gadis ini menempelkan bibirnya, Sarah membulatkan matanya ketika Arsen mencium bibirnya, mulai mellumatnya perlahan. Ia mencoba untuk berontak melepaskan ciuman itu namun tak bisa kepalanya telah terkunci hingga tidak bisa bergerak pasrah Arsen menikmati bibirnya.
Arsen melepaskan ciumannya.
“Kau gila Ar,” hardik Sarah wajahnya merah merona mengusap bibir bekas ciuman Arsen, mencoba bernapas dengan normal.
Arsen tersenyum puas menatap Sarah. “Tolong Ra, jangan menyuruhku terus menerus untuk pulang, karena aku ngak mau pisah denganmu, sesulit apa-pun aku akan melaluinya. Mulai sekarang jika kau menyuruhku pulang aku akan menciummu,” jelas Arsen menyeringai.
“Kau menyebalkan,” bentak Sarah beranjak menuju kamar dengan wajah kesal meninggalkan Arsen yang tersenyum puas karena telah mendapatkan ciuman istrinya.
__ADS_1