
Matahari bersinar dengan cerah Sarah berada di kamar barunya. Duduk di depan cermin rias, menghias wajahnya dengan make up tipis agar terlihat lebih cantik di depan Bian. Hari ini sesuai kesepakatan, ia akan jalan-jalan berdua dengan pemuda yang selalu membuat hatinya dag-digdug tidak karuan. Sebenarnya jalan bersama sudah sering mereka lakukan namun selalu saja terasa spesial.
“Nona Ara. Bian menunggu nona di bawah,” panggil pelayan dari balik pintu kamar yang tertutup.
Sarah mempercepat kegiatannya, kembali sekali lagi memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Setelah sempurna gadis ini bergegas turun ke bawah menemui Bian.
Sarah mendekat pada Bian yang hari terlihat bertambah tampan dan rapi, sama seperti Sarah, pemuda ini juga berusaha tampil total menyiapakan gaya terbaiknya untuk jalan bersama.
“Maaf Ian telat,” ucap Sarah tersenyum lebar.
“Ngak baru juga nyampe. Ayo naik!”
Sarah memakai helm yang diberikan pada Bian kemudian duduk di belakang Bian.
“Kita kemana?” tanya Bian.
“Kita nonton?” ajak Sarah.
Bian mengendarai kendaraannya dengan kecepatan sedang. Sarah dan Bian menikmati moment kebersamaan mereka. Setelah sampai kendaraan Bian menepi.
“Wah ... taman Ian.” Wajah Sarah berbinar senang, turun dari motor melepaskan helm. Berjalan lebih dulu meninggalkan Bian, menuju sebuah danau buatan yang berada di tempat itu.
“Kenapa kita ke mari Ian?” tanya Sarah.
“Kenapa kamu ngak suka kita mampir ke mari dulu?” Tekad Bian telah bulat akan mengutarakan cintanya pada Sarah
“Tentu saja aku suka.” Sarah kembali memperlihatkan wajah bahagia.
“Tunggu disini.” Bian mengarahkan Sarah untuk duduk di bangku lalu meninggalkan gadis itu. Sarah menatap aneh punggung Bian yang pergi meniggalkannya.
Setelah beberapa saat Bian kembali membawa satu cup ice cream di tangannya.
“Buat kamu Ra.” Bian menyodorkan cup itu kemudian duduk di samping Sarah.
__ADS_1
“Cuma satu Ian. Buat kamu mana?” tanya Sarah heran pada pemuda yang sangat menyukai makanan manis.
“Ia buat kamu saja. Kali ini giliran kamu yang jadi boneka. Aku mau curhat. Aku lagi galau,” ucap Bian dengan suara terendah.
“Galau Ian? Masalah ibu kamu, kamu habis berantem ya,” tebak Sarah.
“Sudah makan dan dengar saja aku cerita.” Bian mengelus puncak kepala Sarah menenangkan perempuan yang wajahnya tegang perihal apa yang akan dia sampaikan.
Sarah menganguk perlahan membuka cup ice cream kemudian menyendok dan mendaratkan suapan ke mulut. Melihat Sarah telah menikmati ice creamnya Bian memulai ceritanya.
“Curhat dulukan satu menit. Lalu memaki dan menangis, semuanya satu menit,” jelas Bian mengurutkan kebiasan curhat mereka.
Sarah menyeringai kali ini ia akan mengerjai Bian jika waktu menangis yang selalu yang di berikan Bian sangat kurang. Sekarang pemuda ini yang merasakan kesedihan ia akan menyadari jika waktu satu menit itu kurang. Itu pikirnya.
“Ingat Ian waktumu hanya satu menit dan aku tidak akan memberi tambahan waktu untukmu,” tegas Sarah.
“Ia aku ngak akan meminta tambahan waktu satu menit cukup untukku. Sudah aku mulai ya,” pinta Bian dan di balas dengan anggukan kepala oleh sarah.
Sarah dan Bian duduk saling berhadapan.
Sarah terus menyendok ice cream mendengar curhatan Bian. Alisnya berkerut penasaran akan hal apa yang sangat di inginkan oleh pemuda ini.
“Sudah Ian satu menit curhatnya sudah habis.” Sarah memajukan telapak tangannya pada Bian tanda pemuda ini berhenti bicara. “Oke memaki satu menit,” kata Sarah Sambil memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Bian menarik napas panjang kemudian mulai. “Maaf aku tidak bisa menahan perasaanku lagi. Maaf jika aku lancang. saat ini yang kuinginkan hanya kamu. Yang selalu aku impikan itu kamu. Aku sudah tidak mau hanya sekedar temanmu. Aku ingin menjadi kekasih hatimu, Sarah Alia Wardani aku sangat mencintaimu dan telah tiga tahun aku menahannya. Maukah kamu menjadi pacarku!” ucap Bian dengan cepat mengeluarkan keinginannya yang telah ia pendam selama tiga tahun.
Deg ...
Sarah tercengang menatap pemuda yang ada di hadapannya tak sadar cup ice cream yang berada di tangan Sarah terjatuh ke tanah mendengar pernyataan cinta yang selama ini dia tunggu. Telah tiga tahun Sarah menunggu kata cinta dari mulut Bian sekarang ia tak menyangka hari ini akan datang.
“Ara ... bagaimana? Kamu mau kita pacaran?” Bian menggenggam tangan Sarah yang terasa dingin seperti es. Tubuh gadis ini melemah.
“Ya Tuhan Akhinya pujaan hatiku mengajaku pacaran. Itu berarti tahun depan aku akan menulis my love di kue ulang tahunnya. Aku akan menjadi pacar Bian,” batin Sarah hatinya berbunga.
__ADS_1
“Ra, aku ngak mau kita cuma jadi teman saja, aku ingin kamu menjadi pacarku. Ini pertama kalinya aku menyukai seorang gadis dan sudah lama aku suka sama kamu,” jelas Bian.
Sarah tersenyum bahagia mendengar kata-kata Bian. Dengan mantap dan tanpa ragu- ragu gadis ini mengangguk.
“Ia, aku mau kita pacaran.” Sarah tertunduk malu wajahnya merona saat menerima cinta Bian. Dia tidak akan membuang kesempatan emas menjadi menjadi pacar Bian.
Bian menarik sudut bibirnya mendengar pernyataan cintanya di terima, tangan mereka masih bertaut duduk berdampingan, tak bisa menyembunyikan perasaan senang masing-masing. Keduanya kompak membuang pandangan, menatap ke samping menyembunyikan wajah mereka tersipu malu dan wajah yang merah merona sangat bahagia.
“Emmm.” Bian berdehem untuk menormalkan keadaan yang canggung dan malu-malu. “Jadi hari ini kita pacaran ya.” Bian kembali menegaskan.
“Ia, mulai hari ini kita pacaran,” ucap Sarah pelan masih berusaha menormalkan kinerja jantungnya.
Cukup lama mereka terdiam hanya duduk merasakan kebahagian, beginilah hubungan mereka sejak dahulu hanya sebatas saling menatap namun terasa membahagiakan.
“Ayo kita pergi dari sini, kita jalan-jalan, kamu tadi mau nonton,” ajak Bian berdiri dari tempat duduknya lalu mengulur telapak tangannya. Sarah menatap tangan itu mereka akan berjalan dengan saling genggaman tangan sama seperti yang selalu pasangan pacaran lakukan. Sarah meraih tangan Bian kemudian berdiri.
Sarah dan Bian berjalan beriringan, mengitari taman menuju motor yang terparkir. Tangan mereka bertaut. Sarah tertawa kecil melihat tangan yang di genggam oleh Bian, terasa kaku dan canggung. Merasa pacarnya tertawa, Bian mentatap kearah Sarah.
“Kenapa Ra?” tanya Bian menghentikan langkahnya.
“Aneh saja, kita pegangan tangan seperti ini.” Sarah merasa aneh dengan hubungan baru mereka yang telah menjadi pacar biasa mereka hanya saling tatap sekarang pegangan tangan.
“Kaku ya. Kamu pasti berasa kaya orang mau nyebrang jalan, kita pegangan tangan gini.” Bian terkekeh dengan tingkah mereka yang mencoba meniru pasangan lain.
Sarah mengangguk kemudian terkekeh. Mereka kembali melanjutkan langkah kaki mereka.
“Thanks Ra, Kamu adalah cinta pertama aku dan pacar pertama aku,semoga kita selalu bersama,” ucap Bian mengenggam erat tangan Sarah.
“Sama Ian aku juga seperti itu. Ini juga yang pertama untukku.”
Sarah dan Bian melanjutkan jalan-jalannya. Sebagai pasangan akhirnya setelah tiga berteman akhirnya mereka memutuskan untuk menjali kasih. Hari ini dan tempat ini akan menjadi tempat spesial bagi mereka. Dua insan berbeda dunia ini telah menjalin kasih Sarah anak tiri keluarga Hutama dengan Bian anak pelayan. Begitu banyak halangan yang akan membentang jalan bahagia mereka, namun mereka yakin dengan hati kekuatan cinta masing-masing untuk saling menjaga cinta dan berjuang untuk cinta.
.
__ADS_1
.Entah mengapa kalau Sarah dan Bian bersama aku juga selalu ikut tersipu malu...
.Like. coment , vote