
Arsen masih berdiri di depan pintu ruangan rencananya untuk kembali mengambil sesuatu yang tertinggal di urungkan, setelah mendengar rencana Erina untuk Sarah membuat amarah Arsen naik. merasa telah tertipu, ia memerintahkan Erina untuk memecat Bi Odah agar Bian pergi menjauhi Sarah, namun apa yang terjadi ibu tirinya itu malah telah merencanakan kepergian Bian dengan sempurna untuk Sarah.
Tangan Arsen terkepal rasa amarah, cemburu, kekecewaan semua berbaur menjadi satu. Perasaan tak rela, Sarah akan berdampingan bersama lelaki lain memenuhi relung hatinya.
Bagai mendapatkan jackpot, ia sangat beruntung bisa kembali mendengar rencana Erina secara langsung dan dengan mudah ia akan bersiap untuk mengatur langkah memiliki hati Sarah dan menggagalkan rencana Erina.
“Aku tidak akan membiarkanmu bersama anak pelayan itu. Aku akan merebutmu darinya. Aku pastikan rencana ibumu tidak akan berhasil.” Arsen tersenyum miring tak akan mundur dalam mengejar cinta Sarah.
“Sampai dia datang, yaitu ketika Ara menamatkan pendidikannya ... itu berarti butuh waktu bertahun-tahun. Selama itu aku akan mengejar cintamu Ara, perlahan-lahan aku akan menggantikan posisi Bian di hatimu. Aku akan menyentuh hatimu. Waktu bertahun itu akan aku pakai dengan baik, membuatmu jatuh cinta padaku,” gumam Arsen dengan menyeringai memicingkan mata dengan tekad menggebu, akan membuktikan jika ia bisa membuat gadis itu berhenti menunggu Bian dan berpaling hati padanya dengan waktu bertahun yang ia punya hingga Bian kembali, ia sudah harus memiliki hati Sarah.
Arsen masih berdiri di depan pintu mendengar semua percakapan antara ibu dan anak itu. Hingga suara terdengar yang menyapanya.
“Ar kau masih berdiri di sini? Kenapa kau tidak masuk?” Suara Wisnu mengagetkan Arsen yang masih menguping pembicaraan dua orang yang berada di dalam.
“Tidak pa. Aku akan pulang, mama sedang menungguku.” Arsen terbata sedikit gugup.
“Ia ini, giliranmu tinggal bersamanya. Pergilah!” Wisnu menepuk pundak putranya namun niat pemuda di urungkan sejenak.
“Papa habis menemui dokter? Bagaimana keadaannya?” tanya Arsen terlihat khawatir dengan kondisi Erina yang tadi memuntahkan makanannya.
Wisnu menghela napas berat kemudian berjalan ke kursi yang berada di samping ruangan, di ikuti oleh Arsen yang berada di belakangnya. Mereka duduk berdampingan
“Keadaannya semakin memburuk. Beberapa organnya mulai tidak berfungsi dengan baik,” jelas Wisnu menatap kosong terlihat sangat sedih dan putus asa.
“Papa yang sabar.” Arsen menepuk punggung papanya memberi kekuatan.
“Papa kasihan liat Sarah, Papa takut dia tidak siap menghadapi keadaan terburuk mamanya,” jelas Wisnu melihat Sarah yang sangat mencemaskan ibunya. Wisnu takut jika gadis ini terpuruk dengan kemungkinan ibu tidak bisa bertahan.
“Dia gadis yang kuat, dia akan tegar menghadapi semuanya.”
__ADS_1
“Ar papa minta terus seperti ini dampingi dia, berdamailah dengannya. Dia itu saudaramu Ar,” pinta Wisnu tahu jika Arsen tak bisa menerima Sarah sebagai saudara sejak gadis itu masuk dalam keluarga Hutama. Namun berubah saat Erina sakit putra mulai perhatian pada keluarga barunya.
“Itu pasti, Papa tenang saja. Aku akan akur dengannya dan Ar juga sudah menerima dia sebagai ibuku.”
Wisnu menarik sudut bibirnya mendengar putranya telah berbesar hati menerima keluarga barunya.
“Pulanglah ibumu pasti mencarimu, dia pasti marah kau kemari, tapi ingat jangan bertengkar dengannya,” titah Wisnu.
“Ia pa, Ar pulang dulu. Besok Ar kembali lagi.” Arsen beranjak pergi meninggalkan Wisnu yang masih duduk termenung.
***
Arsen telah berada di rumah mama Wina, menyeret langkah kaki dengan tak bersemangat. Rencana Erina menyatukan Bian dan Sarah terus berputar di kepalanya, sesulit inikah bersama dengan orang ia cintai.
“Ar kamu dari rumah sakit lagi, temani ibu tiri kamu itu,” sembur Wina suaranya meninggi tidak suka jika putranya memberi perhatian pada ibu tirinya. Rasa tak rela serta cemburu menyelimuti perasaannya.
“Ia Ma,” saut Arsen mengiyakan dengan pelan kemudian berlalu hendak ke kamar untuk mengistirahtakan tubuhnya yang terasa lelah.
“Mama ngak suka liat kamu perhatian padanya,” emosi Wina masih meninggi pada putranya mengekori putranya dari belakang.
Arsen berbalik menatap mamanya. “Ma, dia itu sedang sakit parah,” beber Arsen kembali berjalan menuju kamar.
“Itu hukuman untuknya, karma karena sudah menjadi penghancur rumah tangga orang.” Wina menyeringai menertawai ketidakberdayaan musuhnya saat ini.
“Ma!” Suara Arsen meninggi tak suka mendengar ucapan mamanya tak prihatin dengan keadaan ibu tirinya, kemudian berjalan cepat emosinya juga mulai naik, ia takut tak bisa menahan diri dan berbalik menyerang mama. sekarang ini hatinya sedang gelisah dengan rencana Erina jangan sampai ia melampiaskan amarah pada mamanya.
Wina terus mengekori putranya tak puas dengan Arsen yang mengabaikannya dan membela Erina perempuan yang paling ia benci.
__ADS_1
“Ar apa kamu lupa, dia menghancurkan keluarga kita, dia yang membuat mama dan papa pisah!” bentak Wina suaranya meninggi berdiri di tempat.
“Cukup Ma! Hentikan dia tak bersalah, dia tak ada kaitannya dengan rumah tangga Mama yang gagal. Papa menikahi mama hanya karena pernikahan bisnis. Mama yang hadir dalam cinta mereka, bukan dia,” ungkap Arsen kenyataan menyakitkan hubungan antara cinta segitiga di masa lalu orang tuanya.
“Ar!” Wina meneteskan air mata kecewa mendengar pernyataan Arsen yang sekarang berbalik membela ibu tirinya. Sejak mengenal arti cinta dari Sarah, Arsen mengerti bahwa sebuah perasan tak akan bisa di paksakan. Begitulah perasaan papanya.
“Ar tahu ini menyakitkan untuk mama tapi kenyataannya, papa ngak pernah mencintai mama. Hanya perempuan itu yang ada di hati papa selama ini.” Kembali Arsen membuat hati mamanya hancur dengan mengungkap kebenaran, dari dulu ia tahu hubungan mereka namun menutup mata demi mamanya dan menyalahkan semua pada keluarga baru papanya.
Ari mata Wina semakin tak bisa di bendung lagi, ucapan Arsen sangat melukai perasaannya, hatinya terasa tersayat. Putranya telah berbalik arah menyerangnya.
Arsen mendekat ke arah mamanya memeluk perempuan yang melahirkannya itu. “Maafkan Ar Ma, aku ngak bermaksud menyakiti hati mama,” ucap Arsen dengan nada terendah karena tidak bisa menahan ledakan emosinya.
“Kamu membelanya sekarang ... Kamu juga akan meninggalkan mama.” Tangis Wina semakin pecah.
“Tidak Ma. Ar tidak membelanya, sampai kapan pun, aku akan selalu sayang sama mama dan ngak akan meninggalkan mama,” ujar Arsen menyeka air mata mamanya ia merasa sangat bersalah karena telah membuat ibunya menangis.
“Tolong mama mengerti, dia sedang sekarat dan entah berapa banyak waktu yang ia punya,” jelas Arsen.
“Ma!” panggil Arsen. Wina beranjak pergi dengan perasaan kecewa besar pada Arsen dan masih terisak. Kenyataan yang di ungkapkan putranya sangat melukai hatinya.
Arsen menarik napas berat melihat punggung mama menjauh darinya. Perempuan yang melahirkannya itu belum bisa mengerti dan menerima keadaan.
***
Mentari pagi menyambut sinar hangatnya memberi kekuatan untuk menjalani hari. Arsen telah bersiap kembali ke rumah sakit, setelah pertengkaran dengan mamanya. Niat untuk terus berada di samping keluarga papanya tidak pudar meski ia tahu telah menyakiti hati ibu yang melahirkannya
Arsen berada di depan pintu kamar mamanya mengetuk perlahan sebelum ia pergi meninggalkan rumah menuju rumah sakit.
Tok ... Tok ....
Arsen mengetuk namun pintu tak kunjung terbuka, tanda jika mamanya masih marah padanya.
“Ma buka pintunya, Ar ngak bermaksud menyakiti hati mama. Ar sayang sama mama, posisi mama tak akan terganti di hati Ar,” ucap Arsen dengan rasa bersalah menyesali mengapa ia bisa mengatakan hal itu. Benar adanya jika ia punya julukan tuan jutek akibat ucapannya yang sangat tajam dan menyakitkan hati.
__ADS_1
Arsen telah berdiri lama di depan pintu kamar mama membujuk dengan segala cara namun tidak di idahkan si pemilik kamar, hingga ia memutuskan untuk pergi memberi waktu pada Wina agar tenang.