CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
perpisahan


__ADS_3

“Ar cepat pulang Ara akan pergi selamanya.” ucapan Nikita terus terniang di kepala Arsen.


Arsen mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi panggilan telepon dari Nikita telah suksesnya membuatnya panik dan ketakutan hingga meninggalkan pekerjaannya secara tiba-tiba. Ia tidak peduli semua itu di pikirannya hanya ada Sarah, dia tidak ingin kehilangan gadis yang sangat dia cintainya itu.


“Jangan pergi Ra. Aku kita tidak akan berpisah. Kau tidak boleh meninggalkan aku,” batin Arsen.


Arsen telah sampai di rumah dengan cepat ia berlari masuk mengarahkan kaki ke dalam kamar. Ia sejenak tertegung melihat benar Sarah sedang mengemas pakaiannya bersiap untuk pergi meninggalkan rumah.


“Ara ada apa ini?” tanya Arsen mendekat ke arah Sarah.


Sarah tersentak mendengar kedatangan Arsen ia tidak menyangka suaminya itu pulang di saat seharusnya masih bekerja. Sarah berbalik tertunduk mencoba menyembunyikan wajahnya agar bekas tamparan dari Wina tak terlihat oleh Arsen.


“Aku akan pergi. Kita harus berpisah. Kita harus mengakhiri rumah tangga ini,” ucap Sarah mencoba tegar dan menahan laju air matanya, sambil memasukkan baju ke dalam koper posisinya sedang memunggungi Arsen.


Arsen lalu memeluk tubuh Sarah dari belakang menghirup aroma harum tubuh yang menguar dari gadis ini. Ia sangat merindukan tubuh ini, sudah dua hari ia tidak melihatnya, karena telah membuatnya merajuk.


“Apa kamu masih marah padaku karena aku menuduhmu akan kembali bersama Bian. Ara aku minta maaf,” ucap Arsen dengan lembut ia masih mengira Sarah hanya marah mengenai tuduhan Arsen, jika Sarah akan kembali pada mantannya. Pemuda ini tidak tahu jika istrinya telah mendapatkan teror dari mamanya.


“Bukan karena itu. Tapi, kita memang tidak bisa bersama lagi. Hubungan kita adalah sebuah kesalahan, jadi kita harus mengakhirnya,” jelas Sarah dengan suara bergetar mencoba menahan air mata. Ia juga tidak bisa jujur perihal mama Wina.


Arsen membalikkan tubuh Sarah menghadap kearahanya. Sarah dengan cepat menundukkan pandangannya.


“Kenapa kau tiba-tiba ingin mengakhiri ini?” tanya Arsen mengcengkeram bahu Sarah, nada suaranya mulai terdengar putus asa tidak terima Sarah akan pergi dan mengakhiri hubungan mereka.


Sarah hanya diam membeku dia tidak mampu menjawab mau pun menatap wajah suaminya sungguh ia tidak berdaya.


“Pasti karena Bian!” papar Arsen lagi-lagi menyangkut masalah ini dengan mantan kekasih Sarah.


“Percayalah Ar bukan itu,” sangkalnya dengan air mata mulai turun membasahi pipi.


“Bohong kau akan meninggalkanku untuk kembali pada Bian mantanmu itu kan,” tuduh Arsen.


“Sekali lagi aku katakan bukan itu.”


“Lalu apa? Jangan salahkan aku jika aku berpikir kau akan kembali pada mantanmu. Kau yang membuatku berpikir seperti itu. Semenjak kau bertemu dengannya kau menghindariku dan mendiamkanku, apalagi kalau bukan karena Bian,” tutur Arsen semakin menguatkan cengkraman tangannya di bahu Sarah. Padahal sebenarnya ia tidak tahu saat Sarah bertemu dengan Bian, Sarah juga tahu jika Wina telah menemukan mereka dan di saat itulah Sarah berubah ketakutan akan perpisahan mereka.


“Sudahlah ayo kita berpisah,” kekeh Sarah menepis tangan Arsen yang memegang bahunya.


“Jawab aku, kau akan kembali padanya kan?” tanya Arsen suara meninggi meraup wajahnya frustrasi dia sungguh tidak ingin Sarah meninggalkannya.


“Bagaimana aku kembali padanya. Aku hanya mencintaimu,” batin Sarah kembali hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Arsen


“Ia benar kau pasti kembali padanya!” bentak Arsen.


“Aku tidak akan kembali padanya hubunganku dengannya sudah berakhir,” terang Sarah ia telah lelah menyangkal akan tuduhan Arsen padanya.


“Tidak mungkin kau sangat mencintainya. Sampai saat ini, hanya dia yang ada di dalam hatimu.”


“Sudahlah aku tidak akan kembali dengannya. aku hanya ingin berpisah denganmu.” Sarah menerobos tubuh Arsen kembali meraih kopernya.


“Jangan berkilah lagi kau masih selalu memikirkannya!”


“Ar berapa kali aku katakan aku sudah tidak lagi memikirkannya lagi!” Suara juga mulai meninggi.

__ADS_1


“Aku akan membuktikan jika kau masih memikirkan Bian mantanmu itu.” Arsen menarik tangan Sarah membalikkan tubuh gadis itu menghadapnya, kemudian menarik paksa tengkuk leher Sarah.


Arsen lalu menempelkan bibirnya di bibir ranum Sarah, membuat mata gadis ini membulat dengan tindakan yang di terima oleh Arsen.


Arsen mellumat bibir lembut dan kenyal Sarah dengan rakus, tidak ada penolakan dari gadis ini. Walau awalnya ia terkejut hingga akhirnya pasrah, ia juga mencoba menikmati ciuman yang di lakukan pemuda itu padanya.


Kecupan-kecupan kecil yang di berikan Arsen membuat Sarah terbuai membalas ciuman itu hingga mengalungkan tangannya di leher suaminya, mereka berpangut meluapkan semua perasaan cinta dan rasa ingin memiliki satu sama lain.


Arsen terus melummat, menyesap memperdalam ciumannya di bibir Sarah serasa bagai candu yang tidak bisa ia hentikan, tubuhnya telah memanas, kabut gairah telah menggelora membakar kedua. Arsen melepaskan tautan bibirnya.


Arsen sudah tidak dapat menahan dirinya ia telah terbakar oleh gairah dengan sekali gerakan ia mengangkat tubuh Sarah ke ranjang. Dia baringkan tubuh itu dengan perlahan, lalu ia kecup seluruh bagian wajah Sarah dan Ia kembali melummat bibir ranum itu, Sarah tidak tinggal diam ia menekan tengkuk leher Arsen membuat pangutan mereka semakin dalam.


Tangan Arsen mulai bergerliya, kecupan pun turun menuju leher putih mulus itu menyesap, menghisap, membuat gadis ini menggeliat menahan sensasi geli yang menggelitik. Arsen menyentuh inci demi inci tubuh Sarah. Mencoba membuka baju yang di kenakan istrinya dan dengan sekali tarikan kain itu telah lolos dari tubuh istrinya, dan telah memperlihatkan bukit kembar yang terbungkus dari bra yang dikenakan. Tak mau kalah Sarah juga dengan gairah menggelora melepaskan satu persatu kancing baju yang menempel tubuh Arsen, bagi Sarah ini adalah pengabdiannya pada Arsen hanya ini yang bisa ia berikan sebelum ia pergi menjauh dari kehidupan pemuda ini dan berpisah dengan Arsen selamanya.


“Ahhhh,” leguhan Sarah terdengar saat Arsen bermain di bukit kembaranya, seraya meremmas dengan sebelah tangan membuat nafsu Arsen semakin menggelora menjamah tubuh Sarah.


Tubuh mereka telah polos napas mereka telah terdengar berat gairah membakar keduanya. Arsen telah siapa untuk menikmati malam ke dua mereka, niatnya untuk membuktikan jika Sarah masih mengingat mantannya terbantahkan, dia telah melihat bagaimana gadis yang cintai membalas semua sentuhannya serta menerimanya juga menginginkan dirinya.


“Ara, aku akan melakukannya,” ucap Arsen sudah tidak dapat menahan diri lagi, ia ingin penyatuhan bersama gadis yang ia cintai. Telah lama ia menantikan memadu kasih bersama istrinya.


“Lakukanlah,” menutup matanya perlahan tanda memberi izin, ekor matanya basah meneteskan air cairan bening yang sedari tadi ia tahan, ini adalah terakhir kalinya ia bersama dengan suaminya itu.


Arsen memposisikan tubuhnya lalu mulai melakukannya perlahan.


“Ahhh.” Rintih Sarah dengan tubuh bergetar merasakan sakit dan sesak di inti tubuhnya. Ini pertama kalinya ia merasakan penyatuhan. Saat pengalaman pertamanya ia tidak sadarkan diri.


“Sakit bunda?” tanya Arsen berhenti sejenak menatap wajah Sarah yang terlihat menahan sakit.


Sarah menggelengkan perlahan menutupi rasa sakitnya. Ia tidak ingin Arsen berhenti ini adalah kenangannya sebagai suami istri kelak.


“Jika bukan dia?” tanya Arsen seraya menncumbui ceruk leher Sarah berbarengan bagian bawahnya memompa bagian inti istrinya ia yakin penyahutan ini membuktikan jika Sarah sudah tidak mengingat mantan kekasihnya ini.


“Mamamu,” ucap Sarah pelan merengkuh tubuh Arsen akhirnya tidak tahan menyembunyikan semuanya.


“Mama.” Cumbuaan Arsen terhenti mendengar alasan Sarah ingin berpisah dengannya tubuh bagian bawah mereka masih bersatu.


Ia menatap wajah Sarah lamat-lamat dan ia telah melihat merah bekas luka tamparan itu. Ia menyibak rambut yang menutupi wajah cantik Sarah sedari tadi.


“Ara wajahmu,” Arsen menangkup wajah Sarah matanya berkaca-kaca menatap iba melihat gadis yang ia cintai terluka dan ia sudah bisa menebak ini pasti ulah mamanya, ia hendak menghentikan aksinya.


Sarah tidak membiarkan Arsen untuk berhenti, ia rengkuh tubuh pemuda itu, mengarahkan tangan Arsen untuk meremmas bukit kembarnya lalu mengecup wajah Arsen untuk memancing gairah Arsen naik, tanda jika ia tidak boleh berhenti. Arsen mengecup kening Sarah lama, air matanya jatuh membasahi dahi istrinya.


Gairah Arsen telah berkobar kembali saat Sarah mencumbunya. Arsen kembali memompa tubuhnya yang telah memanas.


Arsen bergerak lembut mengantarkan gelenyar kenikmatan pada tubuh mereka. Seraya air mata yang terasa ingin menetes memikirkan penyatuhan ini adalah akan menjadi tanda perpisahan mereka.


“Aku sangat mencintaimu, andai kau tahu aku bahkan telah berlutut di hadapan mamamu agar kita tidak berpisah, aku juga tidak ingin kehilanganmu,” batin Sarah merengkuh tubuh Arsen seakan tidak ingin melepaskannya dengan air mata yang menetes di ekor matanya.


Arsen masih bergerak terus bergerak, bibirnya tak henti melummat bibir istrinya sementara tangannya bergerliya menyetuh setiap inci tubuh yang begitu ia dambakan sekian lama.


Sudah berapa lama Arsen berpacu namun energi itu seolah tak ada habisnya rasanya ia tidak ingin mengakhiri penyatuhan terakhir ini.


“Ar,” lirih Sarah tubuhnya bergetar ia sudah merasa tidak memilik tenaga untuk melayani Arsen ternyata tenaga suaminya ini begitu luar biasa. Napasnya terasa pendek mulai tersengal

__ADS_1


Arsen yang melihat Sarah sudah tidak berdaya segera merengkuh tubuh itu, lalu mempercepat gerakannya mengejar kenikmatan puncak dari penyatuhan ini.


“Araaa,” erang Arsen akhirnya tubuh Arsen bergetar dalam pelukan Sarah ia mengerang menyemburkan benih cinta di tubuh Sarah. Tubuh Arsen limbung di atas tubuh Sarah dengan napas tersengal serta keringat yang membasahi.


Akhirnya setelah sekian lama mereka melakukan hubungan selayaknya suami istri namun sangat miris karena ini yang terakhir kalinya.


“Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku,” mohon Arsen dengan napas tersengal dadanya kembang kempis.


Sarah diam hanya air mata yang terus turun. Penyatuhan mereka telah berakhir, ia telah berhasil melalui malam keduanya. Sekaligus memberi hak Arsen sebagai suaminya untuk terakhir kalinya sebelum mereka berpisah.


Arsen mengecup kening Sarah dengan lembut lalu bergeser turun dari tindihannya, berbaring di samping Sarah beralih memeluk dengan erat.


“Jangan menyerah, bertahanlah,” pinta Arsen meraih tangan Sarah lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut. Inilah yang selama ini Arsen takutkan, Sarah akan melepaskannya dengan mudah saat mamanya telah menemukannya.


“Aku tidak bisa Ar. Ada banyak yang akan terluka jika kita bersama.” Sarah berbaring miring masuk ke dalam pelukan Arsen mengeluarkan cairan bening menyembunyikan wajahnya di dada polos suaminya.


“Aku akan patah hati, Aku tidak ingin kehilanganmu.”


Sarah mendongak lalu menangkup wajah suaminya. Manik mata mereka bertemu dengan air mata yang berkubang tak tahan untuk menetes. “Kita harus tetap berpisah,” kekeh Sarah.


Hanya dengan kedipan dua pasang mata itu meloloskan air mata. Sungguh sangat menyakitkan perpisahan mereka sudah tidak bisa terelakkan lagi.


Arsen mengelus wajah bekas tampar di pipinya membuktikan jika istrinya itu menderita dan tidak berdaya menghadapi mamanya.


“Apa kau tidak bisa bertahan denganku, berjuanglah untukku, hanya diam dan bertahan di sisiku,” mohon Arsen.


“Aku tidak bisa Ar. Kita harus berpisah.” Suaranya terdengar lirih bergetar Sarah tidak memberitahu jika ia sudah mencoba bertahan bahkan berlutut memohon restu mamanya.


"Apa tidak ada sedikit pun cintamu untukku? Apa aku tidak bisa masuk ke dalam hatimu?" tanya Arsen akan hasil perjuangannya selama ini mengejar cintanya.


Air mata Sarah semakin berderai ia tidak sanggup untuk menjawabnya karena jika Arsen tahu perasaannya pemuda ini pasti tidak akan melepaskannya.


Arsen bisa merasakan Sarah menggeleng dalam pelukannya tanda penolakan, bahwa perempuan ini tidak mencintainya.


"Biarkan aku pergi."


Arsen memasang raut wajah kecewa akan keputusan Sarah yang kekeh ingin berpisah menganggap Sarah tidak akan mencintainya mau pun memperjuangkannya dan menyerah dengan mudah.


Arsen menatap manik mata istrinya seraya menggenggam tangan Sarah yang menyentuh pipinya lalu menarik napas panjang. “Baiklah jika kau tidak bisa bertahan denganku lagi, bersamaku membuatmu menderita. Kita akan berpisah. Aku akan yang pergi menjauh,” ucap Arsen dengan suara bergetar menahan tangis.


Mendengar ucapan Arsen, air mata itu melaju turun membasahi pipi. Sarah terisak masuk ke dalam pelukan Arsen hatinya hancur, dadanya terasa sangat sesak saat Arsen telah siap melepaskannya dan berpisah dengannya.


Arsen mengecup puncak kepala istrinya dengan Sayang.


“Aku tidak akan mengejarmu lagi. Aku akan belajar melupakan, karena apu-pun yang aku lakukan untukmu, kau tidak akan bertahan untukku. Kita akan berpisah untuk selamanya,” ucap Arsen dengan penuh kekecewaan hatinya terasa sakit ia telah melalui perjuangan panjang meninggalkan segalanya namun semua sia-sia ia gadis yang dicintai juga tidak bisa bersamanya, membuatnya hanya patah hati.


Sarah semakin merengkuh tubuh Arsen terisak di dadanya, tubuhnya bergetar, walau ini harapannya selama ini. Ia tidak menapik perasaannya hancur pemuda yang selalu mengejarnya sekarang tidak akan mengharapkan cintanya, ada rasa sedih, kecewa, menyesal semua membaur menjadi satu.


“Semoga kau menemukan kebahagiaanmu.” Suara Arsen bergetar ia juga telah menyerah dengan kisah cintanya.


“Kau juga Ar. Semoga kau menemukan pengganti yang lebih baik dariku, maaf mengecewakanmu dan membuatmu terluka,” batin Sarah rasanya ia ingin sekali mengucapkannya pada Arsen namun seakan tak rela hanya air mata yang terus ia keluar sudah tidak bisa berucap satu kata pun.


“Tidurlah ... saat bangun, kau sudah tidak akan melihatku,” ujar Arsen semakin mengeratkan pelukannya mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut meluapkan Sarah cintanya.

__ADS_1


Ucapan Arsen membuat Sarah takut untuk menutup matanya. Ia benar-benar takut jika ia membuka matanya Arsen telah pergi dari hidupnya untuk selamanya.


Telah berjam-jam Sarah menangis dalam pelukan Arsen, menahan agar matanya tidak tertutup berusaha kuat agar tidak terlelap mencoba menahan lelah serta rasa remuk setelah melalui malam kedua yang menguras tenaga. Ia ingin bisa memiliki waktu yang lebih banyak memeluk tubuh ini untuk terakhir kalinya. Suasana sunyi hanya keheningan dan isakan terdengar, Arsen terus mengelus puncak kepala Sarah dengan sesekali mengecup puncak kepalanya dengan kelembutan menunggu agar gadis yang ia cintai itu tertidur. Rasanya ia juga tidak ingin berakhir dan Sarah tidak menutup matanya. Ia juga masih ingin memeluk tubuh ini.


__ADS_2