CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
Bian menerima


__ADS_3

Ibu Odah masih menemani putra kesayangannya melampiaskan kekecewaan, akan cinta yang kandas. Gadis yang didambakan, ia perjuangkan telah berpaling, memilih pria lain. Sungguh kenyataan yang sangat menyakitkan bagi Bian.


Bian duduk termenung menyandarkan kepalanya di pundak ibu, memorinya terkenang saat indah bersama dengan Sarah. Bagaimana dulu mereka sangat bahagia menjalani hari sebagai anak pelayan dan anak majikan, saling mencinta tanpa mengenal perbedaan status.


Menyesal dan kata andai itulah kata yang selalu di gumamkan dalam hatinya. Andai ia tidak meninggalkan Sarah mereka pasti akan terus bersama. Andai ia bisa kembali mengulang waktu ia akan lebih memilih menjadi anak pelayan yang melawan semuanya karena mencintai anak majikan.


“Sudahlah biarkan Sarah bahagia dengan Arsen,” ucap ibu Odah mengelus wajah putra memberi pengertian.


Bian mengangkat kepala dari pundak ibunya, menatap dengan tatapan dingin.


“Bian ngak terima dia menikah dengan Arsen, dia ngak pantas untuk Ara. Dia laki-laki yang selalu menghina Ara, jutek dan manja itu!” geram Bian sangat tahu bagaimana sifat Arsen kepada Sarah bahkan, bahkan gadis itu sering menangis karena mendengar hinaannya. “Dia tidak akan bahagia bu!” terangnya.


“Kamu tahu dari mana dia tidak bahagia?” balas ibu Bian menatap wajah putranya yang terlihat kesal.


“Ian, terlepas sifatnya yang jutek, tapi ibu sangat  tahu dia memiliki hati yang baik. Dia hanya terbentuk dari kekecewaan,” jelas ibu Odah yang telah melayani Arsen selama bertahun-tahun ia tahu dengan jelas sifat pemuda jutek itu.


“Kekecewaan apa bu? Dia memiliki semuanya,” ketus Bian duduk bersedekap tidak suka mendengar ibunya juga membela Arsen.


“Kamu memang melihat dia memiliki semuanya. Tapi, bukan itu yang dia inginkan, kau lihat keluarganya. Ia anak korban perceraian yang selalu di perebutkan hak asuhnya. Seminggu tinggal di rumah mamanya, seminggu di rumah papanya. Kau tahu bagaimana perasaannya? Betapa kecewanya dia. Tapi, dia jalani semua agar orang tuanya tidak bertengkar meluapkan amarahnya kepada pelayan dan orang di sekitarnya.”


Bian mendengus, memutar bola mata malas. Benar yang di katakan ibu memang benar adanya Arsen sejak dulu kurang perhatian dan kasih sayang ia juga sadar akan hal itu.


Ibu Odah kemudian menangkup wajah putranya. “Percaya sama ibu Ian. Ibu sangat yakin, dia pasti bisa membuat Sarah bahagia.”


Bian mulai tenang ibu Odah akan bicara dari hati ke hati.


“Tapi bagaimana mereka bisa menikah? Mereka saling membenci dan mereka saudara tiri.” Suara Bian kembali terdengar frustasi membayangkan Sarah dan Arsen bersama.


Ibu Odah terdiam sejenak menarik napas panjang, membuka memori lamanya tentang hubungan Arsen dan Sarah kembali mengenang. Sebelum mereka pergi meninggalkan keluarga Hutama pemuda jutek itu telah berubah baik pada saudara tirinya. Mulai dari menjauhkan Sarah dari lingkup pelayan hingga selalu mencoba dekat dengan gadis itu. Dulu ia memang memiliki kecurigaan Arsen menyukai Sarah namun ia menepisnya, karena melihat mereka adalah saudara tiri.


“Mungkin sejak dulu Arsen memang telah menyukai Sarah, kecurigaanku benar adanya,” batin perempuan paruh baya itu.


“Bian Kamu salah selama ini. Sebenarnya sebelum kita pergi perlakuan Arsen pada Sarah itu telah berubah menjadi baik,” jelas ibu Odah.


“Berubah baik.” Alis Bian mengernyit mendengar ucapan ibunya.


“Kamu tahu hari-hari sebelum kita pergi. Sarah pindah dari kamar pelayan dan dia tidak boleh lagi bergabung dengan pelayan. Itu semua karena Arsen.”


Ibu Odah mulai menceritakan kilas masa lalu empat tahun silam sebelum mereka pergi di saat awal cinta Arsen pada Sarah.


“Aku ingat Sarah pernah cerita empat tahun yang lalu setelah perayaan ulang tahun Arsen katanya dia berubah pada Sarah.” Bian akhirnya mulai mengingat Sarah pernah bercerita padanya jika Arsen berubah baik padanya setelah ulang tahun Arsen. “Jadi Dia telah jatuh cinta pada Sarah.” pemuda tampan ini telah menarik kesimpulan dari hubungan Sarah dan Arsen.


“Ibu kira begitu dan mungkin ...” ucapan ibu Odah terhenti saat mengingat pesan dari Erina.


“Mungkinkan sebelum meninggal nyonya Erina telah tahu Arsen menyukai Sarah? Karena itulah dia merencanakan hubungan Bian dan Sarah karena tidak mau Arsen bersama dengan Sarah. Melindungi Sarah dari orang memiliki kekuasaan. Apakah yang di maksud nyonya Erina adalah Arsen. Ia ... itu pasti Arsen dia bisa melakukan apa saja. Jika dia menyukai Ara dia akan pasti akan menikahinya. Erina tidak mau Sarah dan Arsen menikah,” batin ibu Odah.


“Mungkin apa Bu?” tanya Bian tidak mengerti mengapa ibunya tidak melanjutkan kata-katanya.


“Tidak ada apa-apa,” ucapnya berbohong tak ingin tahu Bian tahu.


“Biarlah ini akan menjadi rahasia selamanya. Jodoh Sarah adalah Arsen bukan Bian, sekarang biarkan mereka bahagia,” batinnya.

__ADS_1


Perempuan ini memegang tangan putranya, mengulas senyuman menatap wajah tampan itu. “Hubungan kamu sudah selesai Ian, kalian tidak jodoh. Kalian hanya akan menjadi saudara. Kita akan menjadi keluarga dia putri juga,” jelas perempuan paruh baya ini memberi pengertian.


“Bu Bian ngak bisa. Aku sangat mencintainya.”


“Ian biarkan dia bahagia. Kita hanya bisa mendukungnya. Dia telah menemukan kebagiannya nak. Kamu tahu bagaimana dia selalu menderita, biarkan dia bahagia.” Ibu odah menarik tubuh Bian ke dalam pelukannya mengelus rambut putranya dengan sayang.


“Cinta sejati itu, saat orang yang kita cintai bahagia, maka kita juga akan bahagia untuknya, kau sangat mencintainya kan? kau tidak akan mungkin membuatnya tidak bahagia,” kata ibu Odah memberi pengertian.


Bian terdiam ia sangat mencinta Sarah ia tidak akan tega melihat gadis yang ia cinta tidak bahagia dan bersedih.


“Ara aku sangat mencintaimu, tapi jika bersama Arsen kau bahagia, maka aku akan mundur dan mendukungmu. Aku akan menerima hubungan kita telah berakhir. Aku akan merelakanmu karena aku selalu ingin kau bahagia, kesedihanmu adalah kelemahanku,” batin Bian dalam hati cintanya pada Sarah sangat besar dan tulus, sejak dulu ia tidak bisa melihat Sarah bersedih. Dia akan melakukan apa-pun demi gadis ini agar bahagia termasuk mendukung pilihannya bersama dengan pemuda yang ia cintai.


Pemuda ini pun menarik napas panjang mengambil keputusan . “Baiklah Bian akan mencoba merelakan dan mendukung pilihan Ara semua demi kebahagiaannya bu,” ucap Bian menggenggam tangan ibunya.


“Kamu memang anak baik Ian, ibu bangga sama kamu. Ibu doakan semoga kamu juga menemukan kebahagiaan kamu juga, perempuan yang baik,” ujar perempuan ini menatap bangga pada putranya lalu kembali memeluknya.


Sesosok pemuda mendekat ke arah ibu dan anak yang sedang berperlukan ini. Dia adalah Mike yang ikut bergabung dengan mereka, melihat asisten datang Bian teringat dengan apa yang telah ia lakukan pada Sarah dan Arsen


“Ya ampun bu. Bian lupa.” Bian tersentak menatap ibunya dengan perasan bersalah.


“Lupa apa?” tanyanya tidak mengerti.


“Bian sudah mengganggu mereka, aku sudah membuat mereka tidak memiliki pekerjaan lagi,” akunnya


“Mengapa kamu lakukan itu Ian.” Ibu menatap dengan wajah kecewa ia tidak menyangka karena Bian telah di butakan oleh cinta hingga bisa berbuat sehina itu.


“Saat itu aku khilaf bu, aku ngak bisa berpikir jernih untuk membedakan yang baik dan benar, aku cemburu. Aku ngak terima Sarah telah menikah dengan Arsen. Aku ingin dia pergi dari kehidupan Sarah lalu aku pikir jika aku menekan Arsen membuat kehidupannya sulit dia akan meninggalkan Sarah,” jelas Bian merasa menyesal telah melakukan itu.


“Ia Bu. Aku tidak akan mengganggu mereka lagi. Aku akan membantu mereka.”


Bian lalu berdiri mendekat ke arah Mike. Akan memberikan titah pada anak buahnya.


“Mike aku ingin kau membatalkan rencanaku jangan ganggu hubungan mereka, kembalikan semua pekerjaan mereka,” titah Bian telah menyadari kesalahannya.


“Tapi Bos,” ucap Mike.


“Aku sudah merelakannya aku tidak akan mengganggu hubungan mereka lagi,” terang Bian.


“Tapi bos,” ucap Mike dengan tubuh bergetar ketakutan menghadapi Bian.


“Aku akan mendukung kebahagiaannya.”


“Tapi Bos ....”


“Sudahlah.” Bian merangkul bahu Mike orang telah mendukungnya selama ini.


“Maaf bos saya telah melakukan kesalahan besar, saya telah memberitahu nyonya Wina Raditya keberadaan mereka,” jelas Mike dengan tubuh bergetar ia telah siap menerima kemarahan bosnya.


“Apa! Bagaimana bisa kamu melakukan itu tanpa perintahku,” murka Bian rasanya ia sangat ingin menghajar pemuda yang ada di hadapannya ini.


“Maaf bos saya sedih melihat Anda seperti itu dan rencana bos kemarin juga bisa merugikan nona Sarah. Jadi saya pikir jika menghubungi orang tuanya maka dengan cepat tuan Arsen akan kembali dan Anda bisa bersamanya,” alibi Mike hanya ingin kebahagiaan bosnya.

__ADS_1


“Bodoh! mamanya pasti akan datang membawa Arsen pulang,” berang Bian tangannya mengepal erat. “Mamanya pasti tidak akan pernah merestui hubungan mereka, mungkin ia akan membuat Sarah menderita.”


Bian mengarahkan pandangan pada ibunya meminta pendapat dan jalan keluar.


“Ibu bagaimana ini?” keluh Bian wajahnya terlihat kalut.


Semua diam membisu tidak tahu apa yang akan mereka lakukan.


***


Arsen berada di dapur sedang memasak untuk santap siang, seraya menunggu Sarah, hatinya bergejolak menanti kedatangan Sarah. Matahari telah naik namun istrinya itu belum juga kembali dari rumah Bian. Sejak tadi hatinya tidak tenang gelisah takut jika Sarah berubah pikiran lalu memilih untuk kembali pada mantanya dan memumutuskan untuk meninggalkannya.


Arsen sedang berdiri di depan kompor sedang menggoreng masakan, semenjak tidak bekerja ia selalu memasak bersama Sarah. Walau pun ia terus memeluk istrinya itu dari belakang namun dengan cepat ia bisa mengerti. “Kenapa Ara lama sekali, membuatku cemas saja, jangan-jangan dia akan kembali pada Bian,” oceh Arsen mengangkat makanan yang telah matang di penggorengan lalu meletakkan di atas piring kemudian berjalan ke luar menaruh di ruang depan sambil menunggu Sarah ia akan menyajikan masakan itu.


Arsen duduk di sofa. “Ah ... kenapa juga tadi aku membiarkannya pergi, membuat aku takut saja, ini semua karena ia memanggilku Ayah, kenapa aku selalu lemah dengan kata ayah.” gerutu Arsen prustasi. “Tapi dia sangat manis jika sedang memanggilku ayah.” Arsen tersenyum menatap ke atas membayangkan wajah cantik istrinya di hiasi oleh senyuman.


Tok ... tok ...


Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Arsen membuat Arsen menarik senyuman. Istri yang ia tunggu sejak tadi telah datang kembali padanya, kecemasan dan kegalauannya, jika Sarah tidak akan pulang seketika menghilang seiring dengan ketukan pintu yang bertalu-talu. Ia pun bergegas bangkit dari duduknya. Membuka pintu menyambut Sarah dengan senyuman.


“Ara dia sudah kembali padaku. Dia tidak memilih Bian,” batin Arsen dengan kebahagiaan.


Arsen meraih handle pintu membukanya dengan cepat.


“Ra kenapa lama sekali,” gerutu Arsen hendak maju mendekap tubuh Sarah yang telah membuatnya khawatir namun ia mengurungkan niatnya. matanya membulat sempurna, dengan susah payah ia menelan salivanya melihat perempuan yang berdiri dihapannya.


“Ma ... mama,” ucap Arsen dengan suara tercekat tubuhnya bergetar seketika, rasa takut kembali di hatinya melihat perempuan yang melahirkannya berdiri di hadapannya. Yang ia takut kan selama ini telah terjadi. Mamanya telah menemukannya dan akan memisahkannya dengan gadis yang ia cintai.


 


 


 


 


Info: mau libur dulu ya ada acara, mau kondangan tempat tetangga. Doain. mudahan aja di sana ketemu si Tuan jutek jadi tukang foto. dan Nikita Milly jadi biduan, biar bisa duet lagu mandul atau Haredang.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2