CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
pergi


__ADS_3

Malam telah larut akhirnya setelah berjam-jam mencoba menahan kantuk, Sarah menyerah dan telah terlelap dalam pelukan Arsen. Deru napas lembut terdengar tanda jika orang ia cintainya itu telah menutup matanya, sesuai ucapannya ia akan pergi saat Sarah tidur.


Arsen mengecup puncak kepala Sarah, dengan perlahan ia mengangkat tangan istrinya yang terulur memeluk pinggangnya erat seakan tidak menginginkan ia pergi.


Arsen bangun perlahan tidak ingin mengusik tidur Sarah. Ia menatap wajah itu lekat sebelum  meninggalkannya, menatap wajah cantik yang selalu membuatnya terpukau. Gadis yang telah membuatnya menggila hingga rela melakukan apa-pun demi cintanya.


Arsen memperbaiki selimut yang membungkus tubuh polos Sarah lalu mengecup keningnya lama setelah itu bangkit untuk membersihkan diri.


Arsen telah membersihkan diri ia keluar dari rumah di tengah malam yang sunyi.


“Ar.” Tegur Nikita yang duduk di depan rumah kontrakan.


Arsen terjengkit kaget mendengar suara di tengah malam ia tidak menyangka jika tetangga pengganggu ini masih di luar rumah. “Niki.”


“Dia tidak jadi pergikan?” tanya Nikita dari tadi ia cemas memikirkan hubungan Arsen dan Sarah ia tidak ingin mereka berpisah.


Arsen hanya menarik napas dalam lalu ikut duduk di samping Nikita. Sejenak mereka terdiam menikmati malam sunyi hingga Nikita mulai obrolan.


“Dua hari yang lalu mamamu mendatangi Ara. Dia sangat marah hingga menyerang Ara. Dia menampar Sarah tiga kali. Dan tadi juga. Ara mencoba menyembunyikan semuanya itu darimu, termasuk bekas tamparannya. Dia tidak ingin kau cemas dan bertengkar dengan mamamu,” jelas Nikita akan masalah sebenarnya.


Arsen terlihat penuh dengan amarah, terlihat jelas rahangnya mengeras, tangannya terkepal erat. Mendengar cerita yang mengerikan tentang mamanya.


“Aku tidak mengatakannya padamu karena ini semua keinginan Sarah,” tambahnya.


“Mamamu mengerikan Ar. Dia telah mengancam Sarah melalui aku dan Rena serta warga dilingkungan ini. Dia tidak berdaya Ar, karena itu dia menyerah.”


“Asal kamu tahu mamamu hampir saja membakar rumah kontrakan ini. Dia juga akan membeli tanah warga lalu mengusirnya, jika Sarah tidak meninggalkanmu,” jelas Nikita.


Arsen bangkit dari duduknya terlihat dengan penuh amarah.


“Mama benar-benar keterlaluan. Jadi ini yang telah membuat Sarah tidak bisa bertahan denganku. Dia telah menyakiti Sarah,” batin Arsen.


“Ar kau mana ke mana?” tanya Nikita melihat Arsen mulai melangkah menjauh.


“Aku harus pergi.” Arsen mempercepat langkahnya meninggalkan Nikita ia juga akan berjuang untuk tetap bersama Sarah.


****


Arsen telah berada di hotel tempat di mana Wina menginap. Arsen masuk dengan banyak pengawal yang mengantarkannya.


Wina menarik sudut bibirnya ketika melihat putranya telah datang padanya.


“Apa yang telah mama lakukan pada istriku?” bentak Arsen menatap dengan wajah dingin pada perempuan yang duduk di kursi.


“Apa dia sudah meninggalkanmu,” ucap Wina menyeringai kemudian bangkit mendekat pada putranya. “Mama hanya mengingatkan siapa dia dan dia tidak pantas untukmu.”


“Ma, kau telah menyakiti istriku!” teriak Arsen dia telah kehilangan hormat pada wanita yang telah melahirkannya.


“Aku akan terus menyakitinya jika kau terus bersamanya!” balas Wina tak kalah berangnya.


“Ma. Aku sangat mencintainya. Aku tidak peduli siapa dia!” teriak Arsen wajahnya masih di penuhi amarah pada perempuan yang telah melahirkannya.


“Cinta ....” Wina tersenyum remeh melipat tangan di dada.

__ADS_1


“Sampai kapan pun mama tidak akan pernah menerima dia sebagai menantu mama.”


“Ma dia istriku!” Arsen mengingatkan.


“Ceraikan dia. Kembalilah bersama mama. Perusahaan sedang goyah dan membutuhkanmu,” paksa Wina.


“Tidak ... Aku tidak akan kembali tanpa Sarah. Aku bahagia hidup bersama istriku!” jelas Arsen ia masih tidak ingin meninggal Sarah walau kata pisah itu telah terucap. Ia berharap mereka tidak berpisah.


Mendengar ucapan Arsen yang lagi-lagi membantahnya, membuatnya menjadi murka. “Pikirkan nasib perusahaan keluarga kita, kau ingin itu hancur hanya karena cinta butamu pada anak haram itu!” berang Wina.


“Ma! Jangan hina istriku,” bela Arsen menatap putus asa pada Wina.


Pemuda tampan ini meraih tangan mama mencoba membujuk perempuan itu. “Aku akan kembali biarkan dia ikut bersamaku. Aku akan bekerja keras lagi untuk membuat perusahaan mama lebih lebat lagi dari ini, biarkan aku bersamanya,” mohon Arsen merengek seperti anak kecil pada ibunya.


“Tidak Ar. Tinggalkan dia atau mama akan menghancurkannya,” ancam Wina menepis genggaman tangan putranya yang mencoba bicara dari hati ke hati.


Arsen lalu duduk berlutut di hadapan mamanya memohon belas kasih pada perempuan yang telah melahirkannya ini demi cintanya pada Sarah.


“Mama dia cintaku, aku mohon, aku akan melakukan apa-pun tapi jangan pisahkan aku dengannya. Dia kebahagiaanku, dia hidupku.” Suara Arsen bergetar bertahun-tahun hatinya membatu dan tidak percaya akan cinta hanya Sarah yang bisa membuatnya merasakan indahnya cinta.


“Arsen kau memohon hanya demi gadis murahan itu. di mana Arsen yang dulu, anak mama yang penuh dengan kesombongan dan keangkuhan!” hardik Wina berang melihat kegilaan putranya yang tergila-gila pada anak musuhnya hingga rela berlutut di hadapannya. Arsen telah banyak berubah sejak jatuh cinta pada Sarah.


“Aku tidak pernah memohon mama. Aku hanya ingin biakan aku menjalin rumah tanggaku bersama orang yang kucintai.”


Wina membalikkan badannya tidak kuasa melihat Arsen merendah dan berlutut di hadapannya hatinya seakan teriris namun saat mengingat Sarah kebencian itu kembali datang.


“Tidak ceraikan dia dan kembali pada mama atau mama akan melakukan sesuatu pada mereka semua, semua yang ada di sekeliling kalian akan menerima imbasnya,” ancam Wina.


“Mama sangat kejam, aku tidak menyangka mama bisa berbuat licik seperti itu,” hardik Arsen.


Arsen kembali ke rumah kontrakan ia berjalan ke arah kamar melihat Sarah untuk terakhir kalinya. Ia telah mengambil keputusan ia akan pergi dan benar-benar mengakhiri hubungan ini.


Arsen duduk di pinggir tempat tidur menatap wajah Sarah yang terlelap, ia merapikan selimut yang menutupi tubuh polos itu setelah melalui malam ke dua. Penyatuhan itu kembali terkenang betapa indahnya jika ia bisa terus melakukannya bersama dengan orang yang ia cintai, Arsen teringat bagaimana Sarah yang telah menerimanya sebagai suami.


Arsen beralih menyibak rambut yang menutupi wajah cantik itu, tangan Arsen bergetar matanya berkaca-kaca meraba luka bekas tamparan yang istrinya terima dari mamanya. Hati Arsen terasa teriris melihat luka itu, semakin membuatnya tersadar Sarah akan semakin terluka jika ia terus mempertahankan gadis ini.


“Ini pasti sakit.” Arsen mengelus pipi Sarah.


Arsen mengecup seluruh wajah Sarah dengan lembut dan berakhir di bibir mengecupnya sekilas, Sarah hanya menggeliat.


“Selamat tinggal bunda. Aku akan selalu mencintaimu selama,” bisik Arsen setetes air mata terjun bebas kemudian berlalu keluar dari kamar meninggalkan Sarah.


Arsen meraih ponsel di saku celana, menekan sebuah nomor lalu menggiring ponsel ke telinganya. “Jemput aku. Aku akan kembali,” singkat Arsen lalu menutup panggilannya.


Arsen tinggal menunggu jemputannya datang seraya meraih kamera yang selama ini ia pakai untuk bekerja, sebuah hadiah dari Sarah yang akan menjadi kenang-kenangan berharga untuknya, ia akan membawa kamera itu untuk ikut bersamanya. Dia dalam kamera itu tersimpan banyak kenang tentang keluarga barunya. Kebahagiaannya menjalani rumah tangga bersama Sarah walau hanya singkat namun sangat berkesan untuknya. Sekali lagi Arsen menatap rumah kontrakan kecil yang banyak memberikan kebahagiaan bersama Sarah.


Arsen keluar dari rumah membawa kameranya hanya itu yang akan ia bawa.


“Ar.” panggil Nikita.


Lagi-lagi suara itu menghentak membuat Arsen terjengkit kaget.


“Niki kau mengagetkanku,” ucap Arsen menarik napas panjang menetralkan degup jantungnya seraya mengusap dadanya.

__ADS_1


“Aku akan kembali. Tolong jaga dia untukku,” ucap Arsen pelan menyiratkan jika ia akan berpisah dari Sarah.


Nikita berhambur memeluk tubuh pemuda tampan yang selalu ia goda, seraya tak kuasa meneteskan air mata.


“Jangan pergi, kalian tidak boleh berpisah,” ratap Nikita terisak di tubuh pemuda yang sudah ia anggap sebagai kakak pelindung untuknya. Dia akan kehilangan patner kerja yang perhatian padanya.


“Sudah jangan menagis.” Arsen memeluk tubuh tetangga menyebalkannya yang selama ini selalu membuatnya kesal namun selalu ia lindungi bagai keluarga. Kelak hidup berbarengan dengan tetangga pengganggu inilah yang akan paling di rindukan oleh Arsen.


Pelukan itu terlepas Arsen mengusap air mata yang membasahi pipi Nikita.


“Aku harus pergi,” pamit Arsen menatap wajah Nikita dan mengelus bahu gadis genit ini.


“Ternyata kau Arsen Raditya Hutama. Maaf telah membuat hidupmu sulit bersama kami,” ujar Nikita dengan rasa bersalah karena selalu membuat Ceo ini kesal karena ia senang sekali dengan celetukan tuan jutek ini jika telah kesal.


“Tidak apa-apa, kalian adalah keluargaku walau menyebalkan,” Arsen tersenyum lembut pada Nikita.


“Jaga diri kalian semua. Aku sudah tidak bisa menjaga kalian. Ingat jaga sikapmu jangan genit.”Arsen mengusap puncak kepala perempuan genit yang selama ini menjadi patner kerjanya.


“Inikan hanya padamu ... Ayah.” Nikita kembali bersikap manja seperti biasa saat bersama Arsen.


Arsen mencebikkan bibirnya melihat tingkah gadis ini.


“Ar saat kau kembali follow ig ku ya. Kau kan Arsen yang terkenal,” pinta Nikita dengan mata berkaca-kaca kembali menggoda Arsen.


Arsen tercengang membulatkan matanya mendengar ucapan Nikita. “Dasar kau masih menyebalkan saja!” Arsen berdecak kesal tapi beginilah Nikita ia tidak akan pernah tahan tidak membuat Arsen kesal.


Suara mesin mobil yang terhenti membuat perhatian mereka teralihkan, mereka melihat banyak sedan mewah yang datang menjemput Ceo ini, terlihat jelas jika pemuda ini bukan orang sembarangan. Waktu Arsen telah habis ia harus pergi meninggalkan rumah kontrakan ini.


“Aku harus pergi. Sekali lagi jaga diri kalian baik-baik, jaga Ara untukku,” pamit Arsen.


“Hati-hati, semoga kita berjumpa lagi.” Nikita mengusap air mata yang membasahi pipinya sekali lagi memeluk Arsen sekilas.


“Salam sama mami dan Ale. Aku pergi dulu.” pesan Arsen lalu meninggalkan Nikita.


Arsen melangkah kakinya berjalan meninggalkan Nikita, pemuda tampan ini telah berjalan beberapa langkah, Arsen kembali berbalik, sekali lagi menatap rumah yang telah menjadikan hidupnya berkesan. Saksi kehidupan saat menjalani rumah tangga yang bahagia bersama Sarah walau di lalui dengan kesederhanaan.


Arsen melangkah ke arah mobil yang pintunya telah terbuka dan di pegang oleh pengawal laki-laki.


Arsen menatap Nikita yang berdiri di depan rumah kontrakan melambaikan tangannya sekilas lalu masuk ke dalam mobil.


Arsen telah masuk ke dalam mobil duduk di samping mamanya.


“Bagus Ar kau membuat pilihan yang tepat,” tutur Wina tersenyum penuh kemenangan akhirnya ia berhasil mendapatkan kembali putra kesayangannya .


“Aku kembali hanya untuk perusahaan,” ucap Arsen dengan wajah dingin.


“Kau akan dengan mudah mendapatkan penggantinya. Banyak wanita yang mengingikanmu dan lebih baik darinya,” jelas Wina tersenyum remeh.


“Mama dengar ini baik-baik. Dia akan menjadi pertama dan terakhir dalam hidupku. Tidak akan ada perempuan lain yang bisa menggantikannya, aku tidak akan hidup dengan perempuan lain selain dia. Aku akan sendiri selamanya,” jelas Arsen terdengar dingin dan penuh amarah mengelus kamera yang dari tadi di genggamnya.


Wina mengepalkan tangannya penuh amarah dengan pernyataan putranya yang bak tamparan keras baginya. Ia memiliki putra namun ia hanya akan sendiri selamanya. Ia mungkin tidak akan memiliki pewaris dari Arsen.


Arsen telah pergi meninggalkan Sarah hubungan mereka telah berakhir akibat tekanan dari Wina.  Ia pergi dengan luka di hati, merasakan sesaknya patah hati.

__ADS_1


Ya pisah deh, maaf ya author kalau ngak ada adengan pisah-pisahnya ngak srek begitu. Ngak baper.


__ADS_2