CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
kemesraan


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan indah, Sarah dan Arsen menikmati setiap detik mereka sebagai pasangan bahagia, saat ini usia kandungan Sarah telah menginjak sembilan bulan tinggal menghitung hari tanda-tanda buah cinta mereka lahir ke dunia.


Sarah dan Arsen sedang berada di dapur menyiapkan menu makan siang untuk mereka berdua, di rumah mereka memang banyak pelayan namun Sarah lebih suka mengurus keperluan suaminya sendiri terutama dalam hal memasak.


“Ayah jangan ganggu, aku lagi masak nih, kapan selesainya kalau ayah terus menempel seperti ini,” protes Sarah saat berada di depan kompor namun Arsen terus saja memeluknya dari belakang menempelkan kepalanya di pundak Sarah seraya mengecup pipi istrinya.


“Bun aku ngak mau makan itu. Aku ngidam ingin makanan lain,” ucap Arsen menatap ke arah kompor, ia sedang bermanja dengan istrinya seperti anak kecil.


“Ngidam? Kan yang hamil aku. Kok ayah yang ngidam.” Sarah memutar bola mata malas suaminya ini pasti ingin sesuatu yang aneh.


“Kan katanya kalau suami sayang banget sama istrinya, dia bisa merasakan istrinya yang hamil suaminya yang ngidam,” jelas Arsen sambil mengendus tubuh Sarah, yang kali ini mendapatkan ilmu kehamilan entah dari mana.


Sarah menoleh ke belakang menatap wajah tampan suaminya yang masih menempel di pundaknya.


“Belajar sama dokter siapa?” tanya Sarah.


“Mami Rena,” ucap Arsen singkat.


“Mami? sejak kapan kamu percaya omongan mami.” Sarah mengerutkan alisnya ini pasti hanya akal-akalan suaminya.


“Sudah ah pokoknya, aku ngidam,” kekeh Arsen.


Sarah menghela napas pasrah kali ini membenarkan ngidam suaminya.


“Ia mau makan apa? Nanti aku masakin?” tanya Sarah membuat Arsen menarik sudut bibirnya merasa kemenangan ada di pihaknya.


Arsen mulai mengecup pipi Sarah bertubi hingga kecupan itu turun ke leher mengisap, memberikan gigitan kecil di ceruk leher istrinya.


“Katanya ngidam, mau makan sesuatu, kok malam kaya gini,” protes Sarah menggeliat menahan geli saat suaminya terus mencumbuinya.


“Ia aku ngidam pengen makan kamu,” jelas Arsen dengan napas yang telah terdengar berat membenamkan kepalanya di ceruk leher Sarah.


“Ayah sudah hentikan! Itu bukan ngidam. Tapi ini memang sudah jadi makanan favorit kamu!” Sarah berontak dalam pelukan Arsen meminta melepaskan cekalan tangannya di pinggang Sarah. Suaminya ini selalu saja ingin menyerangnya.


“Ih bundaku kok tahu, kalau makan kamu adalah makan favorit aku.” Tangan Arsen mulai menjalar ke paha Sarah.


“Semalam kan sudah. Kasian anak kita.” Sarah mengelus perutnya yang membuncit.

__ADS_1


“Bunda sih selalu menggodaku,” ujar Arsen menarik sudut bibirnya.


“Menggoda? Memangnya kapan aku menggodamu?” tanya Sarah tak mengerti yang masih menerima dekapan Arsen dari belakang.


“Aku kan paling ngak bisa liat kamu pakai daster, aku langsung jadi nafsu dan tangan aku ingin nyusup aja terus,” ujar Arsen tangannya telah masuk menyingkap daster Sarah yang hanya panjang di bawah lutut.


“Ya ampun ayah, jadi aku harus pakai apa? Cuma ini yang nyaman dan gak gerah,” ujar Sarah memakai daster di saat hamil adalah hal yang paling ia sukai karena bahan kain yang  nyaman membuatnya bebas bergerak dan tidak mudah berkeringat namun itu justru selalu memancing hasrat Arsen, yang dari dulu selalu bergairah saat ia memakai daster. Sarah pun tidak mengerti mengapa suami ini sangat suka melihatnya mengenakan pakaian lambang emak-emak itu.


“Jadi bagaimana ini, aku ngak sanggup.” Arsen mengesek-gesekan bagian bawahnya yang sudah tegang di belakang Sarah. “Ini saja sudah aku kurangin loh dari dulu sebelum hamil semalam lebih dari 3 kali, sekarang Cuma seminggu tiga kali,” keluh Arsen dengan nada putus asa.


“Ayah harus latihan dari sekarang soalnya setelah lahiran nanti juga bakalan berhenti dua bulan,” jelas Sarah akan masa nifas yang kelak akan  di lalui di mana Arsen harus semakin bersabar menahan hasratnya.


“Apa dua bulan? Dua hari saja aku mau gila apalagi dua bulan.” Arsen tersentak membalikkan badan istrinya menghadap ke arahnya, memegang bahu Sarah dan menatapnya lekat.


“Ilmu melahirkan dari mama lagi itu, pasti dari mami Rena lagi kan, ngak usah percaya itu Cuma bohong, menyesatkan.” Arsen menggoncang tubuh Sarah tak terima, wajahnya berubah panik menyalahkan pengetahuan si janda genit.


“Bagaimana sih ayah tadi percaya ilmu tentang ngidam dari mami, sekarang di suruh puasa dua bulan langsung ngak percaya dan menyesatkan.” Sarah terkekeh lucu melihat tingkah suami mesumnya sebenarnya hanya empat puluh hari namun ia menggenapnya menjadi dua bulan.


Arsen mengaruk tengkuknya yang tak gatal ketahuan sudah ilmunya yang asal dari mami Rena.


“Karena kamu tinggal nunggu hari dan aku harus puasa dua bulan nanti, itu berarti waktu aku tinggal sedikit dong. Aku harus puas-puasin ini, siapkan bekal yang banyak,” jelas Arsen dan kembali menyerang istrinya.


“Kalian sedang apa?” Suara seorang lelaki terdengar berjalan mendekat ke arah pasangan yang sedang bermesraan di dapur itu.


“Papa.” Kompak Sarah dan Arsen seketika melepaskan pelukan mereka. wajah Sarah telah memanas akibat terciduk mertuanya bermesraan sedangkan Arsen hanya bersikap biasa.


Wisnu datang mengganggu pasangan ini, seperti biasa semenjak kandung Sarah memasuki usia sembilan bulan, setiap hari Wisnu selalu berkunjung menanyakan keadaan menantu, sudah tidak sabar menantikan cucunya lahir ke dunia. Wisnu sangat antusias seakan melebihi Arsen yang ayah dari anak itu.


Sarah dan Arsen mengajak Wisnu beranjak dari dapur menuju ruang santai keluarga. Di sana mereka akan duduk mengobrol nyaman.


“Ar bagaimana cucu papa sudah ada tanda-tanda mau lahir belum?” tanya Wisnu menatap perut buncit Sarah.


Arsen menghembuskan napas kasar dengan pertanyaan papanya, setiap hari laki-laki itu datang dan menanyakan kapan Sarah akan melahirkan cucunya.


“Papa sabar dong, Ar juga sudah ngak sabar nih, tapi Ara mau melalui persalinan normal, ia ngak mau operasi cecar,” jelas Arsen untuk ke sekian kalinya. Andaikan saja Sarah mau operasi cecar maka saat ini mereka pasti sudah menimang anak dalam kandungan itu.


“Papa sudah ngak sabar ini gendong cucu. Operasi saja ya Ara?” tanya Wisnu menatap menantunya.

__ADS_1


“Papa sabar ya. Ara ingin merasakan proses menjadi ibu yang berjuang melahirkan anaknya,” jelas Sarah mengelus perutnya, menolak ia ingin merasakan perjuang seorang ibu yang bertarung nyawa melahirkan anaknya ke dunia.


“Prakiraan juga minggu depan.”


“Ara lanjut masak dulu, Papa belum makan siang kan. Kita makan siang bersama ya,” pamit Sarah beranjak untuk melanjutkan kegiatannya yang tadi tertunda akibat ulah Arsen yang selalu mengganggunya.


“Ar. bujuk Ara lagi,” pinta Wisnu.


“Ngak perlu Pa, biarkan saja kami menunggu,” tolak Arsen setelah mendengar ia harus puasa selama dua bulan setelah istrinya melahirkan ia menjadi santai saja dengan kelahiran buah hatinya.


“Setelah Ara melahirkan aku akan puasa dua bulan jadi jangan dulu deh. Aku mau puas-puasin dulu. Persiapan bekal nanti,” Batin Arsen.


“Papa udah baca belum buku yang Ar kasih,” tanya Arsen.


“Tentang persiapan persalinan? Sudah Ar. Papa sudah siap,” jelas Wisnu dengan perasaan bangga.


“Bagus Pa. Aku juga sudah siap menjadi suami siaga yang siap untuk persalinan istri.” Arsen dan Wisnu telah mempersiapkan diri untuk menyambut kelahiran calon bayinya, semua telah mereka persiapkan, bahkan Arsen sudah mengurangi kegiatan kantor, siapa tahu saja Sarah ingin melahirkan di harus ada.


“Andai saja mama kamu ada. Dia pasti juga sudah tidak sabar,” tambah Wisnu membuat raut wajah Arsen menjadi sedih mengingat mamanya, andai saja mamanya hadir, perempuan itu pasti akan mempersiapkan semua dan mendampingi mereka Arsen sangat merindukan perhatian mamanya itu. Namun hingga saat ini Arsen belum berbaikan dengan mamanya padahal tidak lama lagi mereka akan memberikannya seorang cucu.


Wisnu menatap wajah sedih putranya. “Ar, mama kamu selalu tanyain kabar kamu dan anak kamu,” ujar Wisnu.


“Mama.” Alisnya mengerut dalam mendengar mamanya masih perhatian padanya.


“Ia, mamamu sangat merindukan kamu, Ia juga selalu bertanya kapan cucunya lahir. Sepertinya mamamu sama seperti papa ngak sabar menyambut cucunya,” jelas Wisnu.


“Benarkah?” Arsen menarik sudut bibirnya hatinya seketika menjadi tenang.


“Ia.”


“Nanti Ar akan datang menemuinya dengan membawa cucunya, biar Mama luluh dan merestui hubungan kami.”


“Sepertinya mamamu sudah menyesali kesalahannya, tapi ia malu mendatangimu,” jelas Wisnu.


“Kamu yang temui dia lebih dulu ya,” pinta Wisnu.


“Ar pasti akan menemuinya tapi nanti.”

__ADS_1


Arsen memang berniat untuk datang meminta maaf pada mamanya bagaimana pun Arsen sadar dia adalah seorang anak yang harus bersikap baik pada mamanya, namun nanti saat Sarah telah melahirkan dan ia akan datang dengan kebanggaan memperlihatkan keluarga kecilnya.


__ADS_2