CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
maaf


__ADS_3

Dua bersaudara ini masih berada di pinggir kolam, Arsen mendekati tubuh Sarah yang tergeletak tak berdaya, sangat lemah dan tak bisa bangkit. Semilir angin membuat tubuh Sarah mulai menggigil kedinginan.


“Anak tiri! Kau tidak apa-apa?” tanya Arsen wajahnya terlihat khawatir menatap wajah pucat Sarah, pemuda ini bersimpuh di samping Sarah.


“Aku akan mencekikmu nanti,” umpat Sarah dengan sisa tenaga masih bisa meluapkan amarahnya pada Arsen.


“Aku kan ngak tahu. Jika kamu tidak bisa berenang,” kilah pemuda ini.


Arsen kemudian menyelipkan sebelah tangannya ke bawah lutut Sarah, hendak menolong gadis yang telah kedinginan ini meninggalkan kolam.


“Mau apa kau!” Sejenak gadis ini berontak dengan perlakuan Arsen mengangkat tubuhnya.


“Jangan bergerak atau aku akan menjatuhkanmu!” ancam Arsen, membuat Sarah melingkarkan lengannya di leher Arsen karena tak ingin terjatuh. Sejenak pemuda ini memperhatikan lengan Sarah yang bergelayut padanya. Seketika jantungnya kembali berdegup kencang. Ia sedekat ini dengan Sarah, tak terasa sudut bibirnya tertarik hatinya terasa sedang berbunga.


Arsen menggendong tubuh lemah itu menuju kamarnya yang berada di dapur, di deretan kamar pelayan. Seluruh mata pelayan terbelalak saat melihat tuan mereka menggendong Sarah. Ini pertama kalinya mereka melihat dua Saudara ini tak bertengkar. Arsen terus berlalu melewati para pelayan yang menatap heran sungguh pemandangan langkah.


Ibu Odah dan Erina berada di dapur sedang membahas menu untuk acara besar besok, tak kalah tercengangnya. Sejenak mereka terdiam melihat Arsen dan Sarah. Namun raut wajah mereka berubah panik saat melihat wajah Sarah yang berada dalam gendongan Arsen terlihat pucat serta baju yang basah kuyup.


“Ar, Sarah kenapa?” tanya Erina mengikuti langkah Arsen mencari tahu perihal yang membuat putrinya terlihat lemah. Ibu Odah tak tinggal diam, ikut mengekori Erina.


Arsen hanya diam membisu tak menjawab. Ia berlalu dengan cepat hingga ia telah berada di depan pintu kamar Sarah. Erina maju bergegas membantu membuka pintu kamar Sarah.


Arsen masuk ke dalam kamar sempit itu, lalu menurunkan tubuh Sarah di ranjang kecil tempat yang selama ini bernaung.


“Dia jatuh di kolam renang! Cepat bantu dia berganti pakaian,” titah Arsen.


“Jatuh dikolam renang!” Erina terlihat cemas dengan apa yang terjadi pada putrinya. “Bagaimana bisa dia tidak bisa berenang,” Erina mengungkap kenyataan.


“Sayang kamu tenggelam!” Ibu Odah seketika maju mendahului Erina. Kecemasan tercetak di raut wajahnya, mendengar Sarah tenggelam, gadis yang sudah di anggapnya sebagai putrinya sendiri.


“Cepat bantu dia!” perintah Arsen.


“Kamu ngak apa-apa kan?” tanya Ibu Odah mengalahkan kekhawatiran Erina sebagai ibu kandungnya.


Sarah hanya mengangguk perlahan, tubuh terasa menggigil dan sangat lemah, setelah hampir meregang nyawa. Arsen mundur perlahan membiarkan Erian dan Ibu Odah yang mengurus Sarah, kemudian keluar meninggalkan kamar untuk membersihkan diri. Setelah melihat tuannya pergi ibu Odah mulai membantu gadis malang ini.

__ADS_1


“Bi Odah, biar aku yang mengurusnya. Tolong kau buatkan minuman hangat untuknya,” pinta Erina yang mengambil alih tugas ibu Odah.


“Baiklah nyonya.” Walau tak rela ibu Odah mundur perlahan memberikan kesempatan Erina sendiri yang mengurus putrinya.


Arsen masuk ke dalam kamarnya membersikan diri dan berganti pakaian tubuhnya masih bergetar ketakutan, saat melihat Sarah pingsan di kolam renang tadi. Setelah rapi pemuda ini menghempaskan tubuhnya ke ranjang king size miliknya. Ia merasa sangat lelah dengan apa yang terjadi tadi, memorinya kembali berputar memikirkan pengakuan cinta yang telah dia ungkapkan pada Sarah.


Arsen menghela nafas berat, masih menyesali kenapa hatinya berlabuh pada musuhnya. Namun ia mengakui jika perasaannya selama ini adalah cinta. “Dia cinta pertamaku.” Batin Arsen menutup mata.


“Aku mencintainya! Gadis itu cinta pertamaku. Harus aku pakan perasaan ini? Aku dan dia bagai bumi dan langit. Kami tidak mungkin bisa bersama, status sebagai anak yang ngak jelas asal usulnya. Sedangkan aku penerus dua perusahaan besar. Apa kata dunia? Belum lagi ibunya yang telah merusak rumah tangga orang tuaku lebih dan parahnya lagi dia saudara tiriku. Mustahil untuk bisa bersamanya”


“Aaahhggg.” Arsen mengacak rambutnya frustasi. “Ini pengalaman pertama kalinya aku jatuh cinta, harusnya indah. Kenapa jadi sumber masalah dan salah orang,” rancau Arsen menatap langit-langit kamar.


“Aku harus melupakannya walau kata orang cinta pertama itu sulit di lupakkan aku akan mencoba. Mulai hari ini aku harus menghindarinya,” rancau Arsen dengan mantap, akan berusaha melupakan Sarah. Lama ia memikirkan takdirnya hingga tak terasa ia terlelap.


***


Hari telah sore cahaya keemasan menghiasi langit. Pemuda tampan yang tertidur diranjang empuknya, mulai menggeliat mengumpulkan separuh nyawa, matanya mulai terbuka.


“Anak tiri.” Itulah kata pertama Arsen ucapkan saat ini. Pemuda ini terduduk mengingat keadaan Sarah. Hatinya tergelitik ingin mengetahui bagaimana keadaan gadis itu. Arsen melangkah turun menuju kamar mandi membersihkan diri kemudian akan kembali melihat keadaan Sarah. Namun saat hendak memegang handle pintu ia kembali berpikir.


***


Arsen berjalan menuju dapur hendak melihat keadaan Sarah, setelah beberapa saat, ia pun telah berada di depan kamar Sarah. Pemuda ini menarik napas sedikit gugup, debaran kembali dirasakannya, karena akan bertemu dengan Sarah. Namun memberanikan diri memegang handle pintu mengetuknya perlahan kemudian masuk.


Sarah berbaring di tempat tidur, mengarahkan pandangan pada arah pintu. Ia menghela napas saat melihat pemuda menyebalkan itu ada di dalam kamarnya. Sarah lalu bangun, duduk dengan menyandarkan badan di kepala ranjang.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Arsen dengan canggung, berjalan mendekat kemudian menarik kursi yang ada di kamar duduk di samping ranjang.


“Seperti yang kau lihat aku masih hidup!” jawab Sarah tersenyum sinis pada musuhnya.


“Sudah ku jelaskan, aku ngak tahu, kalau kamu ngak bisa berenang,” kilah Arsen dengan nada rendah melakukan pembelaan.


Sarah mendengus mencebikkan bibirnya mendengar alibi Arsen. “Kau lihat aku minta tolongkan? Kau malah tertawa!”


“Ia. Aku mana tahu. Aku kira kau kan robot Jepang, yang bisa melakukan segalanya, ternyata ada juga yang ngak bisa kamu lakukan. Apalagi hal sekecil seperti berenang masa kamu ngak bisa.”

__ADS_1


Sarah hanya menatap jengah pemuda yang ada di depannya, sedang tak ingin bertengkar dan hanya membuang tenaganya.


“Anak tiri aku yakin dari semua tebakan siapa ayahmu? Aku rasa ayahmu pasti bukan perenang. Kau bukan anak per .... ” Arsen menggantung ucapannya, cepat membekap mulutnya dengan kedua tangan, saat melihat mata Sarah melotot padanya. Ia mulai sadar jika kata-katanya tadi telah melukai hati Sarah.


Arsen melepaskan dekapan tangannya tersenyum kaku. “Aku kelepasan ... aku lupa. Baiklah, mulai saat ini aku tidak akan membahas masalah siapa ayahmu lagi. Bahkan jika kau anak jin sekalipun ... upss .... ” Arsen kembali memaksakan senyuman di sertai menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat melihat Sarah kembali melotot padanya.


“Ia, aku janji.” Arsen mengangkat dua jari telunjuknya.


Sarah mengernyitkan pemuda yang ada di sampingnya menatap heran degan pernyataan Arsen. “Janji?” tanya Sarah meyakinkan Arsen, setidaknya ia bisa lega tak akan mendapatkan hinaan mengenai siapa ayahnya. Ia lebih baik di hina sebagai anak tiri yang tak di akui dari pada anak haram.


“Eeemm.” Arsen berdehem.


Suasana hening saat pertama kalinya mereka bersama tanpa bertengkar, rasa canggung meliputi hingga memilih diam. Arsen memutar pandang, menatap isi kamar Sarah yang kecil dan sangat kontras dengan kamar yang ia miliki, ukurannya jauh berkali-kali luasnya, dengan ranjang besar dan nyaman, serta mewah dengan banyak kenyamanan. Sedangkan saudara tirinya hanya memiliki kamar sempit dengan ranjang kecil sama seperti milik pelayan lain. Sungguh miris nasib saudara tirinya. Tak adil bagi seorang anak tiri keluarga Hutama.


Setelah melihat keadaan saudara tirinya Arsen hendak meninggalkan kamar itu.


“Baiklah anak tiri aku pergi dulu,” pamit Arsen kemudian bangun dari duduknya. Sarah hanya mengangguk perlahan.


Arsen melangkah keluar saat ia sudah berada di depan pintu langkahnya terhenti, dengan tubuh yang membelakangi Sarah.


“Anak tiri.” Panggil Arsen membelakangi Sarah. “Maaf ....” ucap Arsen meminta maaf atas kesalahannya yang mendorong Sarah ke kolam, kemudian berlalu keluar dari kamar Sarah.


Satu kata maaf yang keluar dari mulut  Arsen sukses membuat mata Sarah membola, rahangnya seakan ingin jatuh mendengar pemuda angkuh itu mengucapkan kata maaf padanya. Arsen keluar dari kamar Sarah. Ternyata Erina telah dari tadi berada di depan pintu, mengamati pertemuan saudara tiri ini. Menyadari Arsen akan keluar Erina kemudian bergegas bersembunyi tak ingin keberadaannya diketahui oleh Arsen.


Erina yang akan melihat keadaan Sarah di kamarnya, terkejut melihat Arsen berada di tempat itu, bicara berdua dengan putrinya. Dan tanpa sengaja pula mendengar semua percakapan mereka. Erina terkejut saat mendengar pemuda itu menurunkan tingkat harga dirinya dengan meminta maaf pada Sarah.


.


.


.


Like,coment, vote ....


 

__ADS_1


 


__ADS_2