CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
perasaan Arsen


__ADS_3

Di tempat lain dengan suasana yang sama Arsen duduk di kursi kebesarannya. Menatap dingin pada seorang pria yang berdiri tertunduk di hadapannya.


“Tuan Arsen, saya melaporkan berita mengenai dia ... Abian Ari Wibawa pemilik Bie Group. Bergerak dalam banyak bidang bisnis terutama otomotif, hingga saat ini ia masuk dalam jajaran pengusaha baru yang sukses dalam waktu singkat, dia telah memiliki banyak aset kekayaan serta masuk dalam daftar sepuluh orang kaya baru,” cicit pria itu tertunduk takut, tubuhnya bergetar ketakutan tahu jika kabar yang ia laporkan akan membuat tuannya meradang, karena setiap saat ia selalu membawa kabar mengenai pemuda itu, tuannya selalu murka.


“Dan Tuan ....” Pria ini menggantung ucapannya kembali menatap wajah Arsen yang terlihat sudah menegang menahan amarah. “Saya dengar dia akan segera kembali,” ungkap pria ini dengan wajah pias.


Tangan Arsen yang tersembunyi di bawa meja terkepal penuh amarah mendengar laporan tentang keberadaan Bian yang menjadi ancaman untuknya.


“Keluar!” bentak Arsen. Pria itu tanpa membuang waktu tertunduk bergegas meninggalkan ruangan.


Saat bayang pria itu telah menghilang di balik pintu.


“Ahhh!” teriak Arsen penuh amarah menyapu semua benda yang berada di atas  meja kerjanya dengan lengan hingga semua terburai ke lantai.


“Aku sudah mengejarnya selama bertahun-tahun tapi sampai saat ini aku belum memiliki hatinya! Apa yang harus ku lakukan agar mereka tidak bersama. Dia akan kembali dan aku tak bisa melihat mereka bersama apalagi menikah. Ahhhh ....” Arsen mengacak rambutnya frustrasi.


Pemuda ini berjalan meninggalkan meja kerja melalui barang-barang yang berhambur di lantai akibat kemarahan. Ia melangkah menuju jendela kaca kantor berdiri menatap luas pemandangan gedung tinggi lain yang ada di luar.


Arsen menarik napas berat kabar yang ia dengar telah sukses membuatnya menjadi merana. “Aku melakukan semua untukmu  tapi kau sama sekali tidak melihatku. Empat tahun aku mengejar cintamu, tapi kau masih tidak merasakannya sama sekali, kau hanya menganggapku kakak, apa yang  harus kulakukan agar kau bersamaku dan membalas cintaku,” lirih Arsen putus asa sebab cintanya yang ia pendam bertepuk sebelah tangan. Kepercayaan diri dan keyakinan Arsen seketika runtuh, dulu ia mengira dengan kepergian Bian yang cukup lama dia punya lebih banyak waktu untuk bisa mengisi hati Sarah dan membuatnya berpaling. Namun ia salah cinta Sarah pada Bian begitu besar hingga saat ini gadis ini tetap setia menanti dan tak berpaling sedikit pun dari cinta Bian.


“Sarah apa kurangnya aku? Aku jelas lebih baik darinya! Lebih tampan, lebih kaya, lebih berkuasa lebih semuanya, begitu banyak gadis yang menginginkanku. Mengapa kau tidak sama dengan gadis itu. Bahkan kau tidak memiliki sedikit pun cinta padaku!” sesal Arsen menatap jauh pikirannya benar-benar kalut.


“Apa aku harus mengatakan isi hatiku agar kau tahu kalau aku sangat mencintaimu.” Arsen terus merancau.


Sarah telah lulus dan sesuai rencana Eriana Bian akan datang saat ini juga, membuat Arsen kelimpungan memikirkan langkah selanjutnya antara dirinya dan Sarah. Ia tak rela jika mereka bersama.


***


Sarah telah sampai di kediaman Hutama, gadis cantik ini turun dari mobil yang terparkir berlalu masuk untuk mengistirahatkan tubuh lelah setelah menjalani hari panjang.


Niat Sarah terhenti saat melihat Arsen yang mengenakan kemeja putih dengan lengah tergulung pertanda jika pemuda ini juga baru pulang dari kantor sedang menunggunya di lapangan basket.


“Ayo main,” ajak Arsen memantulkan bola basket di tangannya.


Bola basket adalah alasan Arsen selalu dekat dengan Sarah, setiap ada waktu luang mereka akan memainkannya bersama.


“Ayo ....” Sarah menerima tawaran Arsen kemudian maju hendak merebut benda bulat itu dari tangan Arsen mereka bermain dengan sengit.

__ADS_1


Dua bersaudara bermain dengan sengit tak ada yang mau mengalah. Bola berada di tangan Arsen ia memantulkannya sambil menatap pergerakan gadis yang fokus dengan bola ditangannya sementara Arsen terus menatap wajah Sarah. “Bagaimana lagi aku menunjukkan cintaku padamu? Aku sangat mencintaimu dan ingin kita terus dekat seperti ini, melalui hari bersama.” Batin Arsen kemudian melemparkan bola di tangan ke ring basket dan tepat masuk ke dalam.


Keringat bercucuran dari tubuh mereka napas mulai terengah-engah. Rasa leleh telah mendera keduanya. Hingga Sarah menyerah terduduk di tengah lapangan tak ingin melanjutkan permainan lagi.


“Aku lelah. Ar,” keluh Sarah.


Arsen meraih botol minuman yang telah di siapkan lalu menyodorkan pada Sarah, ikut duduk di samping gadis ini berselonjor kaki.


“Terima kasih.” Sarah menyambut botol pemberian Arsen, membuka kemudian meneguknya.


“Selamat atas kelulusanmu,” ucap Arsen tulus. “Apa rencanamu ke depannya?” tanya Arsen menatap wajah teduh di sampingnya.


Sarah tersenyum tipis memikirkan kelulusannya itu berarti kepulangan Bian. “Tidak ada yang akan kulakukan. Aku tidak pernah merencanakan apa pun selain menunggu Bian datang,” jawab Sarah dari dulu pikirannya hanya menunggu kepulangan Bian dan rencana terbesarnya adalah mengikuti pesan ibunya yaitu menikah dengan pemuda yang ia cintai Bian.


“Bantu aku mengurus perusahaan. Kamu bisa menjadi asistenku,” tawar Arsen penuh pengharapan ingin terus dekat dengan Sarah.


“Tidak Ar, Bian akan datang dan kami akan menikah.” Sarah mengulas senyuman pada Arsen menolak dengan lembut. Sorot matanya berbinar dan penuh kebahagiaan.


“Menikah,” ulang Arsen mendengus tatapannya berubah dingin tak suka mendengar rencana Sarah. Ada perasaan sakit di dalam hati sebuah tidakrelaan jika gadis ini menikah dengan dengan pria lain dan meninggalkan. “Secepat itukah?”


“Kamu juga harus cari pasangan Ar, kalau tidak ... aku sebagai adikmu akan melangkahimu, menikah lebih dulu,” canda Sarah.


“Bagaimana aku bisa mencari pasangan jika perempuan yang aku suka itu kamu. Kamu pemilih hatiku selama bertahun-tahun. Tapi kau sama sekali tak bisa melihat itu. Apa aku harus mengungkap isi hatiku,” batin Arsen termenung sejenak.


“Sudah jangan bahas lagi. Aku ingin merayakan kelulusanmu, kita makan malam bersama.” Arsen berdiri mengulur tangannya agar Sarah juga ikut berdiri, mereka pun meninggalkan lapangan basket.


****


Hari telah berganti malam jutaan bintang bertabur di angkasa menghias keindahan dalam gelap. Arsen telah bersiap untuk merayakan kelulusan Sarah dengan perayaan sederhana. Konsep makan malam romantis berdua di taman rumah adalah pilihan Arsen.


Arsen tak bisa mengajak Sarah berjalan bersama di depan banyak orang karena statusnya sebagai Ceo perusahaan membuat kehidupannya banyak di sorot.


Arsen keluar kamar mengetuk pintu kamar Sarah yang terletak di sebelah kamarnya tak beberapa setelah mengetuk gadis cantik ini keluar.


“Ayo kita makan malam di taman bawah,” ajak Arsen.


“Tanam bawah? Baiklah,” sambut Sarah menutup pintu kamar lalu berjalan bersama Arsen

__ADS_1


“Apa ini Ar?” tanya Sarah dengan mata terpukau saat melihat taman rumah di hias dengan lampu kecil berkilau sangat indah dengan satu meja bundar dan dua kursi.


“Makam malam untuk kita berdua,” jawab Arsen kemudian berjalan mendekat ke arah meja, menarik kursi untuk Sarah.


“Terima  kasih.” Sarah melayangkan senyuman pada pada pemuda yang ia anggap kakak kemudian duduk.


Sarah dan Arsen makan malam di bawah jutaan bintang, perbincangan di selipkan dengan canda tawa antara sesama saudara, itu menurut Sarah tapi tidak dengan Arsen jantungnya memiliki debaran kencang jika bersama dengan gadis ini.


Sarah menyilang sendok dan garpu di atas piring tanda ia telah menyelesaikan makan malamnya. Arsen juga melakukan hal yang sama kemudian ia berjalan mendekat pada Sarah.


“Ra ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu,” Arsen jongkok di depan Sarah yang duduk di kursi. Ada sesuatu penting yang ingin di katakan mengenai hatinya.


“Ada apa Ar?” tanya Sarah alisnya bertaut melihat wajah serius Arsen seketika ia penasaran hal apa yang ingin di katakan oleh Arsen padanya. Gadis ini pun menatap lekat wajah Arsen menunggu kata apa yang akan di ucapkan Arsen.


“Ara sebenarnya ....” Arsen terlihat ragu berkata lalu menggenggam tangan Sarah membuat, gadis ini semakin tidak mengerti dengan perlakuan Arsen.


“Ara sebenarnya aku ....”


Dret ... Dret ....


Kata-kata Arsen tertahan saat mendengar getar ponsel Sarah yang berada di saku celananya. Sarah yang telah diam siap menyimak seketika perhatiannya buyar mendengar suara ponselnya.


Sarah mengalihkan pandangannya pada saku celana di mana ia menyimpan ponselnya.


“Tunggu dulu Ar, aku jawab telepon dulu?” cegah  Sarah sambil merogoh saku celana mengeluarkan ponsel tak mau melewatkan panggilan itu. Ia menatap lekat layar benda kotak itu dengan nomor yang asing dan tak di kenali, dengan ragu ia menggeser ikon hijau kemudian menaruhnya di telinga.


“halo!” Sapa Sarah.


Sejenak hening tak ada jawaban membuat Sarah memasang wajah heran.


“Halo,” ulang Sarah dengan nada lebih tinggi.


“Ara ... Ini aku Bie-biemu,” Suara di seberang sana. Sarah sejenak terdiam mematung mendengar suara itu.


“Bian ....” ucap Sarah dengan suara bergetar serta disertai kristal bening jatuh membasahi pipi mendengar kembali suara pemuda yang ia rindukan lagi. Akhirnya selama empat tahun hari itu datang juga. Degup jantung Sarah kembali berdebar kencang setelah mendengar suara pemuda itu.


Setelah penantiannya panjang Bian akhirnya menghubunginya. Pemuda ini menepati telah janjinya, setelah kelulusan Sarah semua akan berjalan sesuai rencana ibunya.

__ADS_1


__ADS_2