CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
rencana


__ADS_3

Malam semakin larut, pasangan ini masih masih berada dalam perjalanan pulang menuju rumah. Berboncengan menerobos dinginnya angin malam yang menusuk tulang. Hening menguasai tidak ada satu kata pun yang terucap, keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Pertemuan mereka dengan Bian cukup membuat hati Arsen menjadi gelisah dan tak tenang apalagi kata terakhir pemuda itu yang akan berusaha untuk merebut dari tangannya dan ingin kembali pada kekasih hatinya.


Laju kendaraan telah terhenti, mereka telah sampai di depan rumah. Sarah turun dari kendaraan berdiri di samping Arsen menatap wajah suaminya yang terlihat dingin dan masih di selimuti dengan amarah.


Arsen hanya membisu lalu masuk ke dalam rumah lebih dulu dari tadi ia menutupi rasa marahnya.


“Ar!” panggil Sarah berjalan di belakang pemuda itu namun tak di idahkan membuat Sarah bertanya-tanya apakah suaminya itu marah padanya.


Arsen menghempaskan tubuhnya ke sofa lalu bersandar di sandarannya, sambil menutup mata mencoba untuk merilakskan pikirannya.


“Ar,” tegur Sarah dengan ragu, berdiri di hadapannya, melihat Arsen memasang wajah dingin dengan luka lebam menghiasi.


Arsen menegakkan tubuhnya menatap lekat wajah istrinya yang terlihat pias.


“Masuklah. Kau pasti lelah,” titah Arsen terdengar datar, menunjuk kamar dengan ekor matanya, namun Sarah bisa melihat jika pemuda ini masih menyimpan amarah.


Sarah hanya diam di tempat tak beranjak dari tempatnya berdiri mencemaskan keadaan Arsen yang terlihat tidak baik-baik.


“Aku akan mengobati lukamu,” lirih Sarah hendak melangkah mengambil kotak obat.


“Tidak perlu ... masuklah,” sambar Arsen menolak membuat langkah Sarah terhenti.


“Apa kau marah? Sungguh aku tidak tahu kenapa dia bisa ada di sana,” jelas Sarah pelan membahas masalah yang terjadi tadi.


Arsen menatap sarah dengan tatapan tajam, seakan menghakimi, membuat tubuh yang berdiri di hadapannya menjadi cicit mendapatkan tatapan itu.


“Apa kau sudah pernah bertemu dengannya?” tanya Arsen langsung ke inti masalah yang dari tadi membuat hatinya diam dan panas namun mencoba tidak membahasnya, takut jika ia tidak bisa mengendalikan amarah pada istrinya. Pertanyaan itu membuat Sarah tersentak dan menjadi gugup rahasianya akan pertemuannya dengan Bian kemarin akan diketahui Arsen dan dia pasti akan sangat kecewa.


Sarah menarik napas panjang dia akan berkata jujur untuk tidak akan menyembunyikan tentang pertemuannya dengan Bian.


“Kemarin, aku bertemu di minimarket,” jelas Sarah tertunduk siap menerima kemarahan dari suaminya.


“Jadi kemarin ....” geram Arsen mendengar ucapan istrinya apalagi mengingat jika dari siang Sarah sudah tidak ada di minimarket berarti mereka telah menghabiskan waktu bersama. “Kamu menghilang karena bertemu dengannya.” Wajah Arsen memerah terlihat jelas jika ia menahan amarah.


“Dia memaksaku untuk ikut bersamanya dan bertemu dengan ibu Odah.”


Arsen bangun dari duduknya perasaannya terluka di liputi kecemburuan. “Kenapa kau tidak cerita padaku? Kenapa kau tidak jujur!”


Sarah hanya diam berdiri mematung tidak ada kata-kata yang bisa ia ungkapkan, melihat untuk pertama kalinya Arsen terlihat sangat marah padanya membuat sedih dan merasa bersalah.


“Jadi ini alasan kau menolakku semalam, bukan karena kau tidak siap tapi karena kau mengingatnya,” lirih Arsen hatinya semakin sakit saat kembali mengingat malam ke duanya yang gagal karena alasan Sarah yang tidak siap. Ia pikir istrinya takut dengan kejadian ia lakukan dulu namun ternyata ia salah Sarah menolaknya karena terkenang oleh sang mantan.


“Ar bukan begitu,” tapik Sarah mencoba menyangkal.


Arsen menarik napas berat, mencoba menahan rasa cemburunya. Ia rasanya ingin meledak. Melihat Sarah hanya diam tertunduk, lalu kembali duduk menahan diri atas kecemburuan yang ia rasakan.


“Masuklah!” perintah Arsen dengan suara terendah memalingkan wajahnya tidak ingin jika Sarah melihatnya sedang emosi.


Sarah berdiri terpaku menatap ke arah Arsen yang sama sekali tak mau menatapnya, matanya mulai berkaca-kaca, sangat sedih Arsen bersikap dingin padanya. Sarah mengakui jika ia memang bersalah, ia bertemu dengan pemuda dari masa lalunya tanpa memberi tahu suaminya.

__ADS_1


Sarah berjalan masuk meninggalkan Arsen yang masih duduk diam, Ia bisa melihat jelas raut kecewa dari wajah itu. Sarah telah berada di kamar lalu menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, mulai menumpahkan air mata, sungguh ia tidak menyangka keputusannya untuk menyembunyikan pertemuan dengan Bian kemarin membuat Arsen sangat marah. Ia mengira itu adalah pertemuannya terakhirnya dengan mantan kekasihnya, ternyata ia salah Bian bahkan tahu di mana ia berada.


Sarah menutup mata masih terisak, bulir air mata tetap merembes melalui ekor matanya. Menyadari kesalahannya yang telah membuat suaminya marah.


Gadis ini berbaring miring hendak terlelap, saat ia hampir menuju alam mimpi, seketika ia tersentak saat merasakan ada tangan melingkar erat di perutnya. Sarah mencium aroma wangi farpum dari orang telah memeluknya dari belakang. Ia bisa merasakan jika itu adalah tangan Arsen, suaminya datang dan memeluknya membuat hatinya seketika menjadi tenang.


“Ar ....” ucap kembali terisak.


Arsen menempelkan wajahnya di tengkuk leher Sarah. “Jangan tinggal aku, jangan kembali padanya. Aku sangat takut, dia akan merebutmu dariku. Dan kau memilihnya, kembali padanya dan meninggalkan aku,” ratap Arsen semakin mempererat pelukannya mengeluarkan seluruh isi hati yang ia pendam tentang ketakutannya. Karena ia tahu dirinya tidak memiliki tempat di hati Sarah dan mereka saling mencintai dengan mudah Sarah akan meninggalkannya dan pergi bersama dengan orang ia cintai.


“Ar ....” Sarah mencoba melonggarkan pelukan Arsen lalu membalikkan badannya menghadap ke arah suaminya.


Sarah menangkup wajah Arsen yang juga berbaring miring menatapnya. “Aku tidak akan kembali padanya, kami sudah berakhir, dan sekarang kau adalah suamiku,” jelas Sarah memberi pengertian agar hati Arsen tenang dan tidak berpikir buruk padanya.


“Aku takut, aku tidak punya apa-apa untuk membuatmu bahagia, sekarang dia lebih baik dan bisa membahagiakanmu,” ujar Arsen menggenggam tangan Sarah yang menempel di wajahnya, berkata jika kebahagiaan mengarah ke arah materi dulu ia jauh dia atas Bian namun sekarang ia sudah tidak punya apa-apa lagi.


 


 


“Aku tidak akan kembali padanya apa-pun terjadi,” jelas Sarah menatap Arsen.


“Aku telah meninggalkan semuanya demi dirimu, aku hanya punya kau saat ini, kau akan sangat menyakiti aku jika kau bersamanya, sampai saat ini aku belum bisa membahagiakanmu, memenuhi harapanmu,” ucap Arsen terdengar putus asa semakin menggenggam tangan Arsen.


“Ar. Aku bahagia hidup bersamamu, kau tidak perlu takut aku milikmu sekarang, ” jelas Sarah memberi ketengan pada pemuda yang terlihat sangat resah menangkup wajah Arsen dengan kedua tangannya.


“Tapi kau hanya mencintai ....” suara Arsen tertahan matanya membulat sempurna saat Sarah menempelkan bibirnya di atas bibir Arsen. Sejenak Arsen membatu menerima serangan yang di berikan oleh istrinya lebih dulu dan tiba-tiba, ia tidak menyangka jika Sarah berani menciumnya lebih dulu.


Gelora telah membakar keduanya namun aksi Arsen berhenti saat bayangan Bian kembali merasuk dalam pikirannya, teringat jika semalam istrinya menolaknya karena mengingat Bian dan ia pun mulai bertanya-tanya, apa tubuh istri telah berada dalam kungkungannya ini masih memikirkan mantan kekasihnya. Ia tidak ingin melakukan di saat Sarah yang masih terniang-niang dengan Bian sama seperti kejadian semalam, saat Sarah menolaknya.


“Ada apa?” tanya Sarah tak mengerti mengapa Arsen menghentikan aksinya padahal ia telah siap untuk memenuhi kewajibannya sebagai istri.


“Tidurlah. Aku tidak ingin melakukannya saat kau juga masih memikirkannya,” jelas Arsen lalu berbaring di samping Sarah, hatinya akan terasa sakit jika ia melakukannya sedangkan isrtinya akan mengingat pemuda lain itu fikirnya.


“Ar.”


“Sudahlah, Ayo kita tidur saja.” Arsen menarik tubuh Sarah ke dalam pelukannya. Malam ini ia kembali gagal melakukan malam ke duannya, akibat terniang dengan Bian, sampai Sarah mencintainya Bian hanya akan menjadi duri dalam pernikahannya.


 


 


 


 


*****


 

__ADS_1


 


Di tempat yang berbeda Bian masih berada di dalam mobil duduk menikmati ice krim untuk menenangkan diri, hatinya terasa hancur setelah mengetahui jika orang yang ia cintai benar-benar telah meninggalkannya. Perasaan, kecewa, putus asa, terkhianati, penyesalan semua berbaur menjadi satu.


“Bos hentikan. Anda bisa sakit jika terus memakannya,” tegur Mike yang duduk di kursi kemudi menemani Sang bos patah hati, melampiaskan patah hatinya dengan memakan banyak ice cream yang ia beli.


“Biarkan aku. Pergilah,” usir Bian tatapan matanya sedingin ice krim yang ia makan.


"Ara mengapa kau meninggalkan aku, aku berjuang untukmu, bekerja keras agar aku pantas dan layak bersamamu. Agar kau tidak malu berdampingan dengan aku si anak pelayan. Tapi mengapa kau menikah dengan laki-laki lain. Kau tahu aku sangat mencintaimu. Semua yang aku lakukan hanya untukmu, semua ini tidak berarti bagiku. Aku hanya ingin dirimu,” batin Bian tertunduk menyembunyikan wajahnya di sandaran kursi depan tak terasa ada bulir air mata yang jatuh ia menjadi lelaki cengeng menghadapi patah hatinya.


“Bos, kita pulang sekarang, ibu pasti mencari Anda.”


Bian hanya diam masih menyesali akan cintanya yang telah menikah dengan orang lain.


“Mengapa kau bisa menikah dengan Arsen. aku tahu cintamu hanya padaku. Cinta kita sangat kuat  dan dari semua pemuda kenapa harus Arsen kau sangat membencinya,” Batin Bian.


“Mike,” panggil Bian dengan nada dingin.


“Mengapa mereka bisa menikah?” tanya Bian tak mengerti baginya pernikahan Arsen dan Sarah pasti memiliki banyak misteri yang tersembunyi.


Mike hanya diam tak menjawab ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tahu perasaannya bosnya sangat sensitif salah bicara sedkit saja bisa membuatnya murka.


“Aku akan merebutmu darinya, kau tidak mencintainya, kau tidak akan bahagia bersamanya, kebahagiaanmu hanya bersamaku,” batin Bian kembali bersemangat.


“Mike bantu aku merebutnya kembali,” jelas Bian.


Mike berbalik menatap wajah bosnya, setelah mendengar ide gila dari pemuda yang tak terima di tinggalkan.


“Bos jangan,” cegah Mike.


“Aku tidak peduli. Dia harus kembali menjadi milikku. Arsen harus meninggalkannya dan pergi dari kehidupan Sarah,” ucap Bian dengan berapi-api. “Dia adalah anak emas, laki-laki yang manja dan tidak akan bisa hidup kekurangan.”


“Maksud bos?” tanya Mike tak mengerti.


“Dia bekerja sebagai fhotograper di pernikahan kan?” tanya Bian yang tahu pekerjaan Arsen.


“Ia bos.”


“Aku mau kau menghalangi semua pekerjaannya. Batalkan semua acara yang memakai jasa WO pernikahan tempatnya bekerja, dengan begitu ia tidak akan bekerja dan hidupnya akan semakin sulit, dia adalah anak manja yang tidak bisa menderita dan tidak pernah hidup susah, saat ia semakin sengsara, ia akan pergi dengan sendirinya, kembali ke kehidupannya dan meninggalkan Sarah,” jelas Bian akan rencananya dan perintah mutlak yang harus di lakukan oleh Mike.


“Tapi bos ....” Mike mencoba menolak perintah bosnya yang telah dibutakan oleh cinta.


“Aku tidak mau dibantah! Kerjakan semua yang aku perintahkan!” tegas Bian dengan nada dingin. Cintanya harus kembali padanya dengan cara apa-pun. Walau menempuh cara yang licik.


“Baiklah bos.” Mike mengiyakan keinginan bos. “Kita akan pulang sekarang.” Pemuda ini mulai menyalakan mesin mobil.


Bian telah merencanakan sesuatu agar hubungan Sarah dan Arsen berakhir dan ia bisa kembali pada wanita yang sangat ia cintai.


 

__ADS_1


 


__ADS_2