
Telah berhari Erina menerima perawatan di rumah sakit. Penyakit yang menyerang Erina merupakan kesedihan yang mendalam namun mengandung hikmah besar bagi keluarga mereka. Selama berada di rumah sakit hubungan mereka menjadi lebih baik, jarak yang dulu membentang di antara Sarah dan papa tirinya mulai mengikis, begitu pula dengan hubungan Arsen dan Erina mulai membaik. Pemuda ini telah berdamai menerima Erina sebagai ibunya.
Perasaan Arsen bukan hanya sekedar prihatin dengan penyakit Erina. Saat melihat perhatian papanya pada perempuan yang di cintainya itu, hati Arsen menghangat melihat cinta yang begitu besar papanya hanya untuk istrinya. Kebencian yang ia rasakan sejak dulu menghilang saat melihat dua orang tua itu saling mengasihi dan berbagi suka dan duka.
Sarah dan Arsen berada dalam ruangan, duduk di sofa berdampingan memperhatikan Wisnu yang begitu perhatian pada Erina.
“Saya kamu harus makan biar cepat sembuh,” pinta Wisnu mengarahkan sendok ke mulut Erina.
Erina duduk menyandarkan tubuhnya di bantal yang berumpuk. Perempuan ini terlihat begitu lemah dan lelah namun masih berjuang untuk detik yang lebih panjang. Ia terus melemparkan senyum lembut agar yang melihat tak begitu mencemaskan keadaannya. Tak sedikit pun ia mengeluh akan sakit yang di dera.
Erina membuka mulut menerima suapan dari suaminya namun belum menelan ia pun merasa mual. “uwek ... uwek.” Erina memuntahkan makanannya.
“Sayang ... kamu kenapa?” tanya Wisnu bangun dari duduknya, wajahnya terlihat panik.
“Ibu,” lirih Sarah melihat ibunya keadaan ibunya, ia bersama dengan Arsen kompak bangun dari duduk, berjalan mendekati orang tua mereka.
“Ada apa, Pa?” tanya Arsen mendekati papanya dengan raut wajah khawatir.
“Ar panggil dokter. Dia memuntahkan makanannya,” titah Wisnu.
Arsen memencet tombol yang ada di ruangan lalu mendorong tubuh Sarah untuk keluar dari ruangan. Ia tahu gadis ini pasti akan menangis melihat kondisi ibunya yang semakin memburuk bahkan sudah tak bisa menerima asupan makanan.
“Ayo keluar dari sini.” Arsen menarik tangan Sarah. Ia telah melihat mata Sarah mulai berkaca-kaca.
“Tapi Ar.”
“Ibu kamu ngak apa-apa, dokter akan memeriksanya.”
Selama Erina sakit Arsen selalu berada di samping Sarah menguatkan dan menyeka air mata gadis rapuh itu. Hubungan mereka semakin hari semakin dekat, tanpa sadar Sarah mulai bergantung pada Arsen.
Dokter dan perawat telah masuk ke dalam ruangan untuk menangani Erina. Sarah berada di depan pintu ruangan ibunya, melihat dokter dan perawat memberikan upaya agar ibunya masih bertahan hidup. Air mata tak henti jatuh melihat wanita yang ia sayang berjuang menerima suntikan demi suntikan, obat-obatan. Hatinya teriris menyaksikan semua itu andai keadaan bisa di putar biar ia yang merasakan semua derita ibunya.
“Sudah jangan menangis.” Arsen berdiri di samping Sarah membawa kepala gadis itu bersandar di bahunya sambil melihat dari kaca pintu.
“Itu pasti sakit sekali,” rintih Sarah terus mengeluarkan cairan bening dari ekor mata menatap ibunya dari kejauhan.
__ADS_1
“Dia perempuan yang kuat.” Arsen menguatkan Sarah.
“Kondisinya semakin memburuk tubuhnya telah menolak makanan untuk masuk. Aku takut ia tidak sanggup untuk bertahan lagi,” ratap Sarah mencurahkan ketakutannya. Diiringi dengan isakan dan keputusasaan.
Sarah dan Arsen terus berdiri hingga getar ponsel di saku celananya terasa mengganggu.
Dret ... dret ....
“Ya hallo Ma.” Arsen
“Ar, kamu sudah ngak peduli sama mama kamu, kenapa kamu terus menemani ibu tirimu. Kamu harus pulang sekarang!” Suara Wina meninggi.
“Ia Ma. Arsen akan usahakan untuk pulang nanti.” Arsen memutuskan panggilan.
Arsen menarik napas dalam melihat sikap mamanya tak mau mengerti keadaan keluarga papanya yang sedang di rundung sedih. Wina masih menyimpan kebencian walau ia tahu jika rivalnya itu berada dalam keadaan sekarat.
Dokter telah selesai memeriksa keadaan Erina. Sarah dan Arsen pun kembali masuk ke dalam ruangan melangkahkan kaki mendekat pada ibu yang tergolek lemah dengan wajah pucat seakan tak ada aliran darah lagi di wajah itu.
“Ibu ngak apa-apa,” ucap Erina dengan pelan agar hati Sarah dan Arsen tenang.
Sarah hanya diam sekuat hati ia menahan air matanya. Ia tahu ibunya tidak baik-baik saja, tapi ia juga tak ingin menampakkan kesedihannya.
“Aku harus pulang, mama sedang menungguku,” ucap Arsen sebenarnya tak rela untuk meninggalkan tempat ini. Hatinya terasa tenang berada bersama keluarga papanya, keluarga impian seakan ia miliki saling mengasih dan kompak saling memberi perhatian.
“Pergilah, ada Sarah yang akan menemani ibu.” Erina tersenyum lembut pada Arsen yang sikapnya telah berubah perhatian padanya.
“Aku akan kembali besok,” pamit Arsen berlalu meninggalkan Erina dan Sarah.
Hening menguasai ruangan, Erina dan Sarah berputar dengan pikiran masing-masing. Ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan namun mencoba menahan perasaan agar air mata tak menguasai mereka, walau di mata mereka yang tampak hanya ada kesedihan.
“Ra, kamu masih marah sama ibu?” tanya Erina memecah kebisuan, membahas kekecewaan Sarah padanya, menatap Sarah yang duduk di samping meraih tangan Sarah dengan rasa bersalah karena telah membuat gadis ini patah hati.
Sarah menarik sudut bibirnya dengan payah mencoba menyembunyikan perasaan, akan kepergian Bian memberi ketenangan hati pada ibunya. “Itu sudah tidak penting lagi.” Sarah menepuk punggung tangan ibunya.
“Maafkan ibu Ra, ibu hanya ingin yang terbaik untuk kamu,” ungkap Erina dengan penyesalan.
__ADS_1
“Sudah Bu, jangan bicarakan ini lagi,” tolak Sarah mencoba kuat namun Erina bisa melihat kesedihan di mata putrinya.
“Ra."
“Ara akan menuruti keinginan ibu. Ara akan melupakan Bian,” ucap Sarah dengan lirih tertunduk sedih. Ia menyerah akan cintanya yang tak di restui oleh ibunya. Memilih mengikuti keinginan Erina.
“Bukan begitu Ara. Ibu tidak ingin kamu melupakannya. Ibu ingin kamu menunggunya.”
Alis Sarah berkerut mendengar keinginan ibunya, bukankah dari dulu ini yang di harapkan ibunya. Ia berpisah dengan Bian. Sama seperti yang ia lakukan sekarang memisahkan Bian darinya.
“Ibu memang menyuruhnya untuk pergi meninggalkan kamu, tapi dia akan kembali. Ibu hanya ingin dia sukses dan bisa membahagiakan kamu. Ini semua rencana ibu untukmu. Ibu memberikannya waktu sampai kamu menyelesaikan pendidikan, dia akan datang padamu sayang, dan menikah denganmu, setelah semua selesai dan ia membawa keberhasilan. Tunggu dia Ra, bersabarlah, kalian akan bahagia setelah ini,” jelas Erina mengungkapkan rencananya pada Sarah, awalnya ia akan menyembunyikan rahasia ini namun melihat Sarah yang terlihat kehilangan harapan akan mimpi indah, Erina memutuskan untuk memberitahu Sarah agar putrinya setidaknya punya semangat untuk menunggu Bian.
Mendengar rencana indah yang di siapkan ibunya akan masa depannya bersama Bian, membuat Sarah terharu dan tak kuasa meneteskan air matanya, rasa bersalah memenuhi relung hatinya karena telah salah sangka pada ibunya.
“Ibu maafkan aku, aku tidak tahu. Ibu merencanakan masa depanku dengan Bian.” Sarah terisak merasa sangat bersalah.
“Ibu melakukan itu untuk kamu Ra, karena ibu tidak bisa mendampingimu selamanya, sebelum ibu pergi. Ibu ingin kamu punya pendamping yang baik untukmu,” jelas Erina ikut mengeluarkan air matanya.
“Terima kasih atas kasih sayangmu padaku ibu,” Sarah mencium punggung tangan ibunya.
Erina menarik napas dalam tertunduk sedih menahan air matanya. “Saat ibu pergi ....”
“Ibu ....” potong Sarah.
“Saat ibu pergi dari dunia ini, tetaplah tinggal bersama Arsen dan papanya. Jangan meninggalkan rumah Hutama, kau boleh pergi dari rumah itu setelah Bian datang menjemputmu dan kalian menikah,” jelas Erina dengan suara bergetar.
“Ibu sangat menyayangimu Ra. Maaf jika selama ini cara ibu salah menunjukkannya. Ibu hanya ingin kamu menjadi wanita yang kuat saat ibu meninggalkanmu nanti. Kamu juga selalu menganggap ibu lebih menyayangi Arsen dari pada kamu. Sayang ibu pada kalian sama, ibu merasa bersalah padanya, kita masuk dalam kehidupannya merusak kebahagiaannya. Ibu kasihan melihat hidupnya Ra, berantakan karena kehadiran kita,” jelas Erina merasa bertanggung jawab dengan perasaan sakit hati Arsen.
Sarah hanya terdiam mendengar semua penjelasan ibunya. Merenungi kehidupan Arsen. Dirinya memang sibuk membenci pemuda itu karena selalu menghina mereka, namun setelah mendengar ungkapan ibunya, ia tersadar jika Arsen juga merasakan kekecewaan karena pernikahan ini, sama halnya dengan dirinya.
“Arsen anak yang baik, hanya hatinya banyak menyimpan luka dan kesedihan, tak ada yang mengerti perasaannya. Jadilah saudara yang baik untuknya Ra, anggap dia kakakmu,” pinta Erina.
Sarah menganggukkan kepala dengan pelan ia akan mencoba berdamai dengan Arsen sebagai keluarga lagi pula hubungannya dengan Arsen mulia membaik.
Perbincangan Erina dan putrinya terus berlanjut membahas masalah masa depan dan rencana jodoh terbaik di persiapkan seorang ibu untuk putrinya. Di depan ruangan tanpa mereka sadari seorang ada seorang pemuda dari tadi berdiri mendengar seluruh pembicaraan mereka dengan amarah tertahan dan penuh kekecewaan.
__ADS_1
.
Like. Coment. Vote ....