
Arsen telah berhasil meninggalkan rumah mamanya berkat dukungan dari papanya. Mengendarai mobil sport mewah, ia memecah jalan untuk bertemu dengan istri tercinta yang telah memberikannya kado terbaik di hari ulang tahunnya.
Setelah melaju dengan kecepatan tinggi akhirnya Arsen telah sampai di rumah Hutama tempat di mana Sarah berada. Dengan perasaan tidak sabar ia melangkah masuk ke dalam rumah.
Arsen telah berada di depan pintu kamar membukanya perlahan kemudian melangkah masuk. Manik matanya berputar menatap di mana keberadaan istrinya yang ternyata berbaring di kasur. Arsen menarik sudut bibirnya seraya naik ke ranjang ikut bergabung dengan istrinya. Ia mengucup seluruh wajah wanita di cintainya itu dengan sayang.
Sarah berbaring di ranjang mengistirahatkan tubuhnya yang terasa selalu lelah karena menjalani proses kehamilan, rasanya ia baru saja menutup mata, hingga ia merasakan ada sesuatu yang sedang mengganggu tidurnya. Ia pun tersentak membuka matanya lebar akan sentuhan yang ia terima.
“Ar! Kamu di sini? Bukankah seharusnya kau di rumah mamamu? Di pesta ulang tahunmu?” cecar Sarah dengan wajah seakan tak percaya, menatap wajah tersenyum suaminya yang berbaring di sampingnya dan memeluknya erat.
“Ar!” protes Sarah saat pelukan Arsen membuatnya tidak bisa bergerak membenamkan wajahnya di pundak Sarah sesekali mengecup pipinya.
“Bunda kadomu itu!” tanya Arsen dengan suara bergetar.
Sarah mengembangkan senyumannya meraih sebelah tangan Arsen membawanya ke dalam perutnya. “Ia ayah, dia ada di dalam sini,” jelas Sarah.
“Anak kita.” Arsen mengusap lembut perut Sarah dengan mata berkaca-kaca terharu akan buah cintanya berada di dalam perut Sarah.
“Ia, ayah.”
“Terima kasih atas kado terindahnya. Ini adalah kado yang paling membahagiakan untukku,” ucap Arsen seraya mengecup seluruh bagian wajah Sarah menyalurkan semua rasa bahagia dan rindu yang membuncah akibat beberapa hati tak bertemu, hingga kini telah beralih menindih tubuh istrinya.
“Terimalah tanda terima kasihku untukmu bunda, nikmatilah,” goda Arsen menatap wajah Sarah dengan mata mengerling nakal lalu mencumbuinya.
“Ayah ini bukan terima kasih. Tapi, ini memang mau kamu. Dasar mesum,” protes Sarah saat ia telah berada di bawah kungkungan suaminya yang terus mencumbuinya ia tahu suasana sudah tidak aman lagi mendengar deru napas Arsen yang telah memburu pertanda jika suaminya ini akan menambah jumlah percintaan mereka.
“Bunda ... kangen, sudah hampir seminggu kita libur, hitungan kita masih stack di situ, malam ini kita harus tambah,” jelas Arsen terus mencumbui Sarah ia telah terbakar oleh gairah sudah beberapa hari ia menahan diri tidak bertemu dengan Sarah, malam ini ia ingin menyalurkan segala hasrat yang terpendam.
“Tapi ....” suara Sarah terhenti saat Arsen telah menyambar bibirnya mellumatnya dengan penuh gairah, hingga kini bibir itu telah bertaut saling mencecap, menghisap. Tangan Arsen telah bergerliya meraba seraya membuka pakaian istrinya dan malam ini hitungan percintaan mereka akan bertambah.
__ADS_1
****
Sarah tergelatak di bawah kungkungan Arsen. Tubuhnya terasa terombang-ambing, ia merasakan bagaikan terbang akibat permainan Arsen yang terus memompa di inti tubuhnya, semua rasa di pusat tubuhnya siap meledak hingga suara erangan keluar dari keduanya secara bersamaan, tubuh mereka pun bergetar dan telah mendapatkan kenikmatan puncak secara bersamaan.
“Yang ke 87,” bisik Arsen dengan napas tersengal di telinga Sarah membuat wajah perempuan ini bersemu merah mereka telah melewati pergumulan yang ke delapan tujuh dalam pernikahan mereka.
Arsen mengecup kening Sarah lalu turun dari tindihannya menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. ia membawa tubuh Sarah masuk ke dalam dekapannya.
“Ar bagaimana kamu bisa ke sini dan meninggalkan pesta?” tanya Sarah seiring dada mereka yang masih kembang kempis, begitu banyak yang ingin dia tanyakan tadi namun suaminya itu malam menyerangnya membuatnya tidak sempat bicara banyak.
“Aku sudah mengaku pada media dan semua orang, jika kita telah menikah dan kita akan punya anak,” jelas Arsen mengelus rambut Sarah dengan lembut.
“Mamamu?”
“Ia sudah tahu semua, cepat atau lambat dia akan tahu juga, jadi untuk apa terus menutupinya. Sekarang tujuanku hanya kamu dan anak kita,” Arsen mengelus perut Sarah.
“Mamamu pasti sangat marah.” Sarah bisa membayangkan betapa murkanya Wina, tahu putranya kembali pada anak musuhnya.
“Rumah,” ulang Sarah mendongak menatap heran dengan ucapan suaminya.
Arsen tersenyum lalu mengecup sekilas bibir Sarah. “Ia, aku sudah tidak ingin hidup berpindah-pindah dari rumah ini ke rumah mama,” jelas Arsen akan meninggalkan kebiasaan lama tinggal bergantian seminggunya itu. “Aku sudah tidak akan memilih antara mama dan papaku, aku sudah memiliki keluargaku sendiri.” Arsen mempererat pelukannya.
Ada jeda sejenak lalu Arsen kembali membuka suara.
“Andai saja aku bukan Arsen. Kita akan pergi lagi dari kota ini lalu kita tinggal di tempat kita dulu, hidup sederhana. Pasti sangat menyenangkan,” ujar Arsen pengalaman tinggal di kota kecil dulu membuatnya sangat merindukan kehidupan itu.
“Sebenarnya aku ingin anak kita tumbuh di lingkungan sederhana, seperti kita dulu. Hidup bersama tetangga pengganggu, tumbuh kuat dalam kerasnya ghibahan tukang sayur dan ibu-ibu berdaster, mengejar layangan seperti Ale. Anak kita numpang makan di rumah tetangga,”
Sarah dan Arsen tertawa bersamaan membayangkan kehidupan mereka dulu terutama Arsen yang selalu saja kesal dan sangat sulit beradaptasi.
__ADS_1
Sarah ikut menimpali. “Pakai sampo hijab dan sabun mandi susu kambing kalau sakit bukan ke dokter tapi kerokan,” ucap Sarah menambahkan semakin tertawa mengingat Arsen selalu menyuruhnya mengganti perlengakapan mandi mereka dulu.
“Bunda!” protes Arsen mencubit gemas hidung istrinya membuat Sarah mengaduh. “Itu sudah tidak akan terjadi, kita tidak akan hidup susah lagi sama seperti dulu. Semenjak aku kembali mengurus perusahaan, aku mulai membangun bisnisku sendiri.”
“Benarkah?”
Arsen mengangguk. “Selama ini walau aku selalu mengatakan akan melupakanmu, tapi hatiku selalu saja mengharapkan kita kembali bersama. Karena itu aku membangun beberapa brand, siapa tahu kelak kita berdua akan kabur lagi, jadi kita tidak perlu menderita.” Kenang Arsen bagaimana kehidupan ekonomi mereka yang pas-pasan dulu.
Sarah mendongak menatap wajah tampan suaminya lekat, terharu sampai kapan pun cinta suaminya itu hanya untuknya walau terpisah Arsen selalu menjaga cintanya untuknya. Sarah menangkup wajah Arsen.
“Terima kasih atas cintamu yang begitu besar untukku. Aku sangat mencintaimu Ayah,” ucap Sarah mengecup bibir Arsen meluapkan semua perasaanya, sungguh ia sangat beruntung mendapatkan cinta Arsen yang begitu tulus untuknya.
Mata Arsen mengerjap saat Sarah mellumat lembut bibirnya jantungnya berdetak kencang saat mendengar kembali ucapan cinta dari Sarah membuat hati dan perasaannya berbunga-bunga. Arsen membalas ciuman Sarah seketika mereka kembali berpangut, Sarah menghentikan ciumannya saat ia merasakan napas Arsen mulai terdengar berat dan kembali terbakar oleh gairah.
Manik mata mereka bertemu, Arsen menarik sudut bibirnya menatap wajah istrinya lalu berbisik.
“Bunda kau harus membayar terima kasihmu atas cintaku,” bisik Arsen mengingat ucapan terima kasihnya dengan bergumul dengan Sarah.
“Ahh.” Dengan sekali sentakan Arsen menarik tubuh polos Sarah untuk menindihnya hingga saat ini posisi Sarah di atas Arsen.
“Ar!” protes Sarah duduk di paha Arsen yang berbaring.
“Gantian sekarang aku yang akan menikmati terima kasihmu,” goda Arsen dengan senyum mesumnya membuat wajah Sarah bersemu menahan malu.
“Ayah! Aku kan bisa berterima kasih dengan hal lain,” protes Sarah.
“Aku hanya mau terima dengan cara ini. Sekaligus yang 88 sayang. Ayo bunda sayang.” Hitung Arsen.
Sarah menggeleng pelan melihat tingkah mesum suaminya yang seolah tiada puasnya untuk melakukan pergulatan di ranjang. Sarah hanya bisa mengikuti keinginan suaminya sebagai ungkapan rasa cinta dan terima kasihnya ia pun memulai aksinya. Pergumulan yang ke 88 mereka kini sepenuhnya dalam kendali Sarah malam ini akan menjadi malam panjang mereka yang di penuhi dengan desahan dan erangan kenikmatan dari kedua.
__ADS_1