
Malam telah larut, Sarah masih berada di dapur dengan bahan-bahan kue. Ia mencoba kembali membuat kue ulang tahun. Setelah kue pertamanya hancur berantakkan karena ulah sang saudara tiri menyebalkan Arsen.
"Ini semua gara-gara tuan angkuh itu, aku jadi begadang, membuat kue ulang lagi," gerutu Sarah sambil menghias cake yang ada di hadapannya.
Tubuh gadis ini sudah sangat lelah, matanya terasa berat kantuk mulai menyerangnya. Namun ia tak boleh berhenti cake ini harus selesai dan besok pagi, ia akan ke rumah Bian untuk merayakan ulang tahun lelaki yang penting dalam hatinya.
Setelah beberapa lama akhirnya kegiatan itu selesai juga. Ia menarik nafas lega.
"Akhirnya selesai juga, aku sangat mengantuk. Tinggal memberikan ucapan saja."
Sarah kembali tersipu memikirkan ucapan untuk Bian. Namun seketika menggeleng cepat membuang fikiran tentang Bian. Ia tak berniat lagi berlama-lama memikirkan ucapan manis, Ia tak mau kecewa sama seperti tadi. Saat ia duduk hampir sejam memikirkan ucapan yang tepat namun semua kacau karena Arsen cake itu pun tak berbentuk lagi.
"Udah seperti biasa aja. Selamat ulang tahun Bian best friend." Sarah memasang wajah cemberut ia tadi berharap ucapannya tahun ini bisa berubah. Tapi nyatanya tidak. Sarah mulai menulis ucapan dengan adonan cream yang telah ia siapkan. Setelah semua selesai gadis ini menyimpan kue itu dengan baik kemudian beranjak ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya.
***
Malam telah berganti pagi. Sinar mentari pagi menghangatkan kulit. Sarah telah bersiap membawa kuenya menuju rumah Bi odah. Rencananya setelah ke rumah Bian dan merayakannnya dengan ibu Odah, ia akan ke kampus. Sarah mengendarai mobil ia tak mungkin membawa sepeda motor dengan cake yang ia bawa.
Sarah telah berada di dalam kendaraan menuju kediaman Bian matanya terus menatap kue spesial yang akan ia berikan. Senyum tersungging wajahnya.
Setelah beberapa saat mobil menepi tepat di depan rumah sederhana milik ibu Odah. Sarah pun turun membawa barang bawaannya.
"Ibu," panggil Sarah yang tak mungkin membuka pintu saat tangannya memegang barang-barang.
Pintu terbuka ibu Odah berdiri menatap Sarah yang terlihat kerepotan.
"Ara kamu udah datang sayang." Odah mengambil kue yang pegang Sarah. Mempersilahkan gadis itu untuk masuk.
"Bian ngak pulang semalaman, keterlaluan itu anak. Dia pasti lagi balapan liar lagi atau tidur di bengkel," keluh Odah berjalan masuk ke dalam ruang tengah meletak kue itu di atas meja kecil di ikuti Sarah yang mengekori dari belakang perempuan itu, sambil terus mendengarkan ocehannya.
"Ngak apa-apa bu, itukan hobi Bian." Sarah membela Bian. Ia tahu sahabatnya itu memang suka balapan dan berkumpul dengan teman gengnya ,tapi Bian anak yang baik dia tak pernah melakukan hal aneh yang merugikan keluarganya. Bian juga bersikap manis pada ibunya. Itu semua dia jalankannya karena lelaki itu penyuka otomotif.
"Sebel ibu, Ra. Udah 23 tahun masih juga suka ngumpul sama anak motor, penampilannya udah kaya preman pasar," keluh ibu Odah.
"Ya udah bu, kita tunggu aja ngak lama juga ia pulang."
Sarah dan ibu Odah menata meja. Suara motor terhenti terdengar di depan rumah, mereka sudah menebak itu pasti orang yang sedang mereka tunggu. Pintu terbuka lebar sesosok pemuda tampan dengan baju kaos hitam berlapis jaket jeans serta paduan celana jeans dengan model robekkan di lutut, begitulah penampilan sehari-hari Bian, Wajah tampan dengan anting tindik berjajar di telinga. Membuat ibu Odah selalu protes dengan penampilan putranya. Ibu Odah berdiri menghampiri lelaki ini.
"Dari mana aja kamu semalam? ngak pulang!" Ibu memasang wajah kesal menjewer telinga putra semata wajangnya.
"Ampun bu ... aduh sakit .... lepasin bu ntar putus nih telinga." Bian mengaduh mencoba berontak melepaskan tangan ibu dari telinganya.
Sarah mendekati mereka. "Sudah bu," bela Sarah memegang tangan Ibu Bian.
Tangan ibu Odah terlepas dari telinga putranya. Senyum terbit dari wajah Bian melihat gadis cantik ini berada di rumahnya.
__ADS_1
"Ara," sapa Bian. Menatap penuh kelembutan.
"Kamu lupa ya, hari ini tuh ulang tahun kamu," jelas ibu masih emosi dengan putranya.
Sarah menarik tangan Bian ke meja kecil yang di atasnya berada kue ulang tahun, mereka lalu duduk di lantai beralaskan karpet. Bian duduk di antara Sarah dan ibu Odah.
Bian sangat bahagia menatap kue yang berada di hadapannya. Ia tahu ini pasti buatan Sarah spesial hanya untuknya. Ia merasa sangat di sayangi dan di hargai oleh gadis ini karena perhatian khusus Sarah.
"Selamat ulang tahun Ian," ucap Sarah pada Bian yang masih menatap kue ulang tahunnya seperti anak kecil yang mendapatkan mainan.
"Makasih Ara." Bian merangkul bahu Sarah. Membaca ucapan yang ada di kuenya.
"Ya ucapanya masih best friend. Tahun depan aku pastikan di cake ini akan ada tulisannya sayangku Bian," batin Bian sedikit kecewa, namun tersenyum dengan rencana mengatakan cinta agar tulisan itu berubah.
"Udah berdoa dulu, baru tiup lilin," sahut Odah yang duduk di sebelah kanan Bian membuyarkan lamunan pemuda ini.
Bian kemudian menutup matanya berdoa agar keinginannya di kabulkan.
"Ya tuhan buatlah dua wanita yang ada di sampingku ini. Selalu berada di sisiku dan tak akan pergi meninggalkanku. Selalu beri mereka kesehatan dan kebahagian karena mereka begitu berharga bagiku. Tuhan aku ingin gadis yang menjadi jodohku kelak adalah Sarah, menemaniku menjalani hari dengan bahagia hanya itu harapanku. Doa Bian untuk dua wanita yang paling penting dalam hidupnya dan ia berjanji akan melindungi dua wanita ini dengan sekuat tenaga.
"Lama banget doa Ian," protes ibu yang gemas melihat tingkah putranya berdoa.
Bian membuka matanya. "Ia dong bu." Bian tersenyum lembut menatap Sarah lalu bersiap meniup lilinya namun celetuk ibunya membuatnya terhenti.
"Emang kamu minta apa sih Ian? Minta kaya ya?" tanya ibu membuat Sarah menarik senyum melihat wajah penasaran perempuan ini.
"Aduh Ian, minta jodoh? Emang kamu udah bisa ngasih makan anak gadis orang," protes ibu Odah terus menghalangi Bian meniup lilin.
"Bukan untuk Bian, tapi untuk ibu, semoga Bian dapat bapak baru!" goda Bian membuat ibunya berecak kesal mendengar doa putranya.
"Ini anak ..." Ibu kembali menjewer telinga putranya. "Aduh bu, sakit." Bian mengaduh.
Sarah hanya terkekeh melihat tingkah ibu dan anak ini. Ia sudah biasa melihat tingkah lucu dan absurd ibu dan anak ini, malahan Sarah senang jika melihat mereka berdebat seolah semua kesedihannya hilang, berganti tawa.
"Ya ... ampun bu." ibu Odah pun melepaskan tangannya. Bian kemudian merangkul bahu dua wanita ini. "Setiap hari doa Bian sama saja, semoga dua wanita yang paling berharga ini selalu berada di sisiku dan aku bisa menjaganya," jelas Bian menatap Sarah.
"Udah tiup lilinya." Sarah menepuk bahu Bian. Lelaki ini pun menunduk. lalu meniup lilin kue ulang tahun spesiak buatan Ara.
Lilin telah padam, semenjak Sarah masuk dalam hidup mereka setiap pertambahan usianya terasa sangat berkesan.
"Selamat ulang tahunya Bian, semoga harapan kamu terkabul." Sarah memberi ucapan dengan tulus.
"Ia makasih, Ra." Bian mengelus kepala Sarah dengan sayang. Gadis yang ia harapkan akan menjadi pendampingnya menjalani hari-hari dan kelak bersatu di pelaminan.
Sarah dan Bian saling menatap dalam tatapan penuh cinta dan sayang namun pandangan mereka terhenti saat mereka mendengar suara isak tangis, manik mata mereka kompak melihat Ibu Odah yang pipinya basah.
__ADS_1
"Ibu kenapa?" tanya Bian.
Sarah lalu pindah duduk di sebelah Ibu Odah kemudian memeluknya.
"Ibu terharu Bian, kamu 23 tahun, coba aja bapak kamu masih ada dia liat anaknya udah besar." Ibu Odah menyeka air mata yang ada di pipinya.
"Ibu." Sarah memeluk wanita itu erat memberi kekuatan.
"Coba bapak kamu masih hidup Ian. Dia pasti bantu ibu ngomelin kamu, kamu pasti jadi artis besar bukan seperti sekarang jadi begal," ucap ibu Odah terisak.
"Huss..." protes Bian agak kesal ibunya menyebutnya begal. "Ibu, Bian ini anak motor yang hobi balap bukan anak geng motor yang suka begal." Bian menangkup wajah ibu mengahapus air matanya.
"Sama aja Ian, terserah kamu mau bilang apa. Ibu itu maunya kamu jadi artis sama kaya idola ibu Ari wibawa bukan jadi anak geng motor," keluh ibu Odah.
Ibu Bian adalah pecinta sinetron garis keras ia memiliki hobi menonton tv, hingga ia memiliki keinginan agar putra tampannya juga bisa seperti itu. Walaupun anak pelayan Bian memang dianugerahi wajah yang sangat tampan, kulit putih, bersih, tinggi yang badan yang menjulang, tak kalah dengan artis besar lainnya dari kecil ibunya sudah mengarahkannya menjadi public figur sama seperti di tv. Namun apa daya pemuda ini lebih mencinta dunia otomotif.
"Ibu sudah cukup ya nama belakangku saja nama artis idola ibu Abian Ari Wibawa," protes Bian tak habis pikir dengan ibunya kenapa suka sekali menonton sinetron di tv.
"Kamu lihat kan Ra. Akhirnya kamu tahu. Kenapa ayahku lebih cepat ke surga ... Pusing ayahku Ra, ngadepin ibu. Istrinya aja lebih memilih memberi nama anaknya nama belakang artis idolanya dari pada nama belakang suaminya," tutur Bian menatap Sarah yang pipinya telah menggembung menahan tawa melihat kekonyolan ibu dan anak ini.
"Ya, Ialah Ian. Ayah kamu kan namanya Dadang Sarimin, ia masa ibu ngasih nama kamu Abian Sarimin. Bisa di bully kamu di sekolah karena nama ayahmu," kilah Ibu Odah tak kalah ngototnya. Sarah membuang pandangannya ia sudah tak bisa menahan tawa, bahunya bergetar terkekeh pelan.
"Karena itu juga kami hidup miskin Ra, kami ngak dapat warisan dari keluarga ayah. Kami dicoret dari silsilah keluarga besar ayah karena ibu ngak mau ngasih nama belakang ayah di namakku, coba aja nama belakangku Sarimin sudah jadi tuan tanah kami Ra, udah kaya anak sultan aku." Bian melipat tangan di dada.
"Ih ogah, ibu lebih baik ngak dapat warisan dari pada anak ibu di bully di sekolah, Wajah tampan di panggil Sarimin," rancau ibu Odah.
Bian menarik sudut bibirnya tersenyum kemudian memeluk ibunya dengan sayang.
"Ia ibu benar, lebih baik kita ngak dapat warisan ayah dari pada di ejek terus. Bian juga ngak mau warisan bu, kalau nama belakangku itu ... hahaha ... Makasih ya bu." Bian tertawa keras, membenarkan keputusan ibunya lalu mencium pipi ibunya.
"Ari Wibawa kan idola ibu, ganteng loh kulitnya putih, bibirnya merah mereka. pemain sinetron tersandung," jelas ibu Odah bintang idolanya. kemudian mendapat pelukan erat dari Sarah dan Bian.
Sarah hanya akan terus tertawa jika berada di anatara ibu dan anak ini. Ada sedikit rasa iri di hatinya andai ia dan ibunya memiliki kehangatan dan keakraban yang di miliki Bian dan Ibu Odah. Walaupun mereka hanya hidup sederhana dan menjadi pelayan itu pasti sangat membahagiakan.
"Sudah makan kuenya ..." kata Sarah
Bian, Sarah dan ibu menikmati kebersamaan mereka. Tak ada jarak dia antara mereka dan berharap ini akan terus terjadi dalam hidup mereka.
Setelah selesai Sarah pamit pada Bian ia akan langsung ke kampus. Bian mengatarkan gadis ini hingga di depan pintu.
"Ra, terima kasih karena telah masuk dalam hidup kami. Bagi kami, kamu itu hadiah terindah yang melengkapi kebahagian kami, jadi jangan sedih dengan keadaan kamu sekarang, ingat ada aku dan ibu yang selalu menyayangi kamu. Aku akan selalu berada di sampingmu, kelak aku akan membawa keluar dari tempat itu." Bian menyemangati Sarah. Ia tahu gadis ini selalu ingin merasakan hangatnya bercengkraman dengan seorang ibu dan tak ada yang menerima Sarah kecuali mereka. Ia tahu Sarah suka bersedih jika telah berada di rumah Hutama.
"Makasih Ian. karena selalu berada di sampingku. Tetaplah berada di sampingku, aku berharap kau membawaku pergi dari sana aku menunggumu." Sarah pun meninggalkan Bian.
Begitulah hubungan Sarah dan Bian hanya sebatas memberi isyarat saling mencintai namun tak ada yang ingin mengungkapnya. Di hati mereka memiliki cinta yang besar. Mereka juga bertekad akan menjaga perasaan masing-masing dan hanya tinggal menunggu waktu saja. Walaupun kelak perbedaan membentang Sarah si anak tiri yang ibunya haus dengan kemewahan dengan Bian anak pelayan yang menyukai dunia balap. Namun hati mereka yakin Sarah tidak akan menikah jika pemuda itu bukan Bian, begitu pula sebaliknya Bian tak akan menikah jika gadis itu bukan Sarah.
__ADS_1
.
.Like, coment, vote....