CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
tangis perpisahan


__ADS_3

Sarah berada di dapur, hari ini adalah hari liburnya seperti biasa dia mencuri kesempatan menuju dapur sebelum tuan jutek itu mencarinya. Arsen akan memarahinya jika ia ketahuan melanggar larangan untuk tidak ke dapur lagi.


“Mana ibu Odah? Aku ngak lihat hari ini,” tanya Sarah pada pelayan yang berada di dapur.


Pelayan tertunduk sedih tak sanggup mengatakan hal sebenarnya pada Sarah. membuat gadis menatap heran pada tingkah pelayan.


“Maaf nona Sarah. ibu Odah sudah di pecat,” jelas pelayan.


Sarah terkejut mendengar pengakuan pelayan. “Dipecat! Kenapa? Apa kesalahannya,” suara Sarah meninggi geram mendengar pemecatan pelayan kesayangan yang telah ia anggap sebagai ibu sendiri.


“Saya tidak tahu nyonya.”


“Ini pasti ulah Ibu. Dia pasti yang telah memecat ibu Bian.” Sarah berlalu meninggalkan dapur, bergegas menuju rumah Bian. Ia akan membujuk pelayan terbaik itu kembali bekerja seperti dulu.


*****


Sarah telah berada di depan rumah Bian memarkirkan sepeda motornya kemudian turun.  Dengan cepat melangkah menuju rumah sederhana ibu Odah. Setelah sampai di depan pintu, Sarah mengetuk dengan keras dan tak sabaran agar pintu segera terbuka.


“Ara.” Bian terkejut saat membuka pintu ternyata yang datang adalah Sarah.


Melihat Bian telah berada di hadapannya secepatnya gadis ini menjelaskan. “Bian kenapa kamu ngak cerita kalau ibu kamu di pecat! Ini pasti ulah ibuku. Kamu tenang saja, nanti aku akan membujuk ibuku untuk merubah keputusannya,” oceh Sarah masih berdiri di depan pintu, menjelaskan jika semua baik-baik saja.


“Ara kami baik-baik saja. Ibu kamu ngak bersalah. Ara ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu,” ujar Bian meraih tangan Sarah tertunduk sedih di hadapan pintu.


“Ibu mana? Aku ingin meminta maaf atas nama ibuku dan memintanya untuk kembali ke rumah.” Sarah menerobos masuk ke dalam rumah melalui Bian akan menemui langsung ibu Odah. Sarah terkejut Matanya menatap heran dengan koper dan tas yang ada di hadapannya. Gadis ini pun merotasi pandangannya melihat seisi rumah yang bertebaran kain putih membungkus seluruh perabotannya dan tertutupi rapi melindungi dari debu. Seakan penghuninya akan pergi meninggalkan rumah sederhana ini.


“Ada apa ini Bian?” tanya Sarah dengan wajah bingung tak mengerti menatap isi rumah Bian.

__ADS_1


Bian mendekat ke arah Sarah meraih tangannya mencoba memberi penjelasan. “Maaf Ra tadinya aku ingin mampir dan mengatakan ini padamu sebelum kami pergi,”


“Pergi ....” sambar Sarah mulai memasang wajah cemas.


“Ia. Aku dan ibu berencana untuk pergi dari kota ini Ra ....”


“pergi Ian?” sambar Sarah tak sabar dan masih tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Ngak mungkin kalian pergi. Ini pasti ulah ibu kan! Dia pasti memintamu menjauhiku. Jangan pergi Ian, aku akan bicara pada ibuku. Aku pasti bisa membujuknya,” oceh Sarah menahan akan menempuh semua upaya agar Bian tidak pergi bahkan jika ia harus bersimpuh memohon pada ibunya ia akan melakukannya demi agar pemuda ini tidak meninggalkannya.


“Ara bukan seperti itu. Aku ingin pergi untuk hubungan kita. Aku ingin berhasil, ingin punya kekuasaan. Aku ingin menjadi laki-laki hebat yang bisa berdiri di sampingmu, bisa kau andalkan kelak, bukan seperti sekarang aku hanya Bian si anak pelayan. Aku tidak punya apa-apa untuk membahagiakanmu,” jelas Bian memegang tangan Sarah erat memberi pengertian serta meyakinkan pujaan hatinya untuk mengizinkannya untuk pergi.


“Aku ngak butuh itu semua. Asal kau berada di sampingku, itu sudah cukup untukku. Aku ngak butuh harta, materi dan semuanya.” Sarah menangkup wajah Bian menjelaskan jika ia baik-baik saja tanpa harta. Manik mata Sarah mulai berkaca-kaca siapa untuk menerobos untuk turun.


“Aku tahu kau bukan gadis seperti itu. Tapi ... dengan statusku sebagai anak pelayan. Aku tidak bisa melindungimu dari orang-orang jahat. Aku tidak ingin menjadi lelaki yang tidak berdaya. Aku ingin menjadi lelaki yang terbaik untukmu yang bisa kau andalkan kelak.” Kembali Bian menjelaskan.


Sarah menundukkan kepalanya di hadapan Bian hingga puncak kepalanya menempel didada bidang Bian. “Aku mohon jangan pergi meninggalkanku. Kita baru pacaran lima hari. Aku akan sendirian siapa yang akan menemaniku? Siapa yang akan menghapus air mataku? Siapa yang akan mendengar ceritaku nanti,” mohon Sarah merengek sepeti anak kecil terlihat putus asa, mengeluarkan air matanya di hadapan Bian tak sanggup jika pemuda yang di cintainya ini pergi meninggalkannya.


Melihat air mata Sarah terburai, Bian menjadi tak tega niatnya untuk pergi sejenak goyah melihat gadis yang ia cintai menangis memohon padanya dengan sepenuh hati. Bian mengangkat wajah Sarah menghapus air mata itu. “Tolong mengerti ini demi kebaikan kita berdua. Waktu kita masih panjang Ara, kita akan berjuang bersama demi cinta kita. Kamu belajar yang dengan baik, selesaikan kuliah kamu dan aku juga akan berjuang untukmu. Aku janji saat kamu selesai dengan pendidikanmu, aku pasti akan pulang dengan keberhasilan dan setelah itu kita akan menikah,” jelas Bian memberi pengertian akan rencana mimpi bersama mereka.


“Itu lama Ian, aku ngak bisa kita berpisah selama itu. Tetaplah di sini kita berjuang bersama. Aku mohon jangan pergi,” ucap Sarah memohon, menatap mata Bian yang juga melihat kesedihan yang dalam sama sepertinya, Suara Sarah telah terdengar parau akibat terlalu banyak menangis.


“Maaf Ra. aku tidak bisa mengubah keputusanku aku harus pergi,” tegas Bian tak akan mengubah keputusan Bian.


Sarah mematung berdiri di depan Bian kepalanya terus tertunduk tak sanggup menatap wajah pemuda yang ada d hadapannya. Ia terus membiarkan air matanya lolos keluar tanpa bisa ia bendung, apalagi setelah mendengar keyakinan Bian yang akan meninggalkannya dan ia tak berhasil membujuknya hatinya menjadi hancur tubuhnya terasa lemah tak bertulang.


“Tunggu aku Ra. Aku pasti kembali. Kita akan menikah tetap jaga hatimu untukku. Aku sangat mencintaimu.” Bian meraih wajah Sarah mendaratkan kecupan lembut di kening perempuan yang ia sangat cintai.


Sarah melangkah mundur tubuhnya terhuyung perlahan meninggalkan Bian tatapan gadis ini kosong. Ia hanya diam tak mengeluarkan kata-kata lagi hanya air mata yang menjelaskan jika betapa hancurnya perasaannya. Ia telah putus asa.

__ADS_1


“Ara ....” panggil Bian dengan lembut melihat gadis itu mundur selangkah demi langkah menjauhinya.


Sarah membalikkan tubuhnya ia akan pergi membawa amarah, kecewa, benci, perasaan takut kehilangan semua menjadi satu. Sudah tak ada yang bisa jelaskan, ia menyeret langkah kakinya yang  terasa berat, dia mengalami yang di namakan orang patah hati bahkan saat baru pacaran lima hari. Cintanya begitu menyedihkan hanya karena perbedaan kasta menghalangi cinta mereka. Apa salahnya jika anak majikan menyukai anak pelayan sesal Sarah.


Bian berjalan cepat mencoba menghentikan gadis yang akan meninggalkannya, dalam keadaan menangis, ia pun tak rela Sarah pergi dalam keadaan bersedih.


Bian mengejar Sarah saat berada di belakang Sarah, Bian mendekap tubuh itu memeluknya dari belakang mencoba membujuk gadis yang merajuk itu. “Ra aku mohon, aku hanya pergi untuk sementara, bukan selamanya. Tolong tunggu aku Ra. Aku mohon ... jangan biarkan aku pergi dengan perasaan sedih dan melihat air matamu, beri aku izin Ra. Lepaskan aku dengan senyuman,” pinta Bian memeluk erat gadis yang terisak ini.


Sarah berontak melepaskan pelukan Bian, saat pelukan itu terlepas  dengan cepat berlari keluar meninggalkan rumah tanpa kata-kata. Bian yang melihat Sarah pergi meninggalkannya mencoba mengerjanya, tekadnya kali ini goyah. Ia tak bis pergi meninggalkan Sarah baru kali ini ia melihatnya begitu sedih dan itu karenanya


“Bian jangan mengejarnya, kita harus pergi,” cegah ibunya berdiri di samping putranya menahan bahu pemuda itu. Ia dari tadi melihat pasangan itu.


Bian beralih memeluk ibunya, dadanya terasa sesak, bulir air mata menetes saat di pelukan hangat ibunya seperti anak kecil. Pemuda ini sudah tak tahan lagi perasaannya sama saja dengan Sarah. “Ibu aku membuatnya menangis, dia pasti sangat sedih. Kenapa nasib cinta kami seperti ibu,” ratap Bian.


“Sudah Ian. Ingat tujuanmu. Ayo kita harus pergi. Ibu yakin dia kan menunggumu, dia sangat mencintaimu.”


****


Bian dan ibunya telah berada di dalam taxi menuju bandara. Sepanjang perjalanan Bian hanya merenung, di kepalanya hanya bayangan Sarah yang menangis. Ibunya pun hanya diam, ia tahu putranya pasti sedang merasakan patah hati.


Ara aku pergi, tunggu aku. Aku pasti kembali Bian mengirim pesan ke ponsel Sarah sebagai pamitnya yang terakhir. Pemuda ini memegang ponselnya berharap pesannya terbalas.


Tit tit  tit


Suara pesan masuk ke ponsel Bian dengan cepat pemuda ini membacanya. Ia menarik sudut bibirnya, sebulir air mata jatuh tanpa terasa saat membacanya. Ia mendekap ponselnya didada terima kasih Ara. Aku sangat  mencintaimu.” Batin Bian.


Berjuanglah. Aku di sini akan terus menunggumu.

__ADS_1


Langkah kepergian Bian terasa ringan saat Sarah merelakan kepergiannya dan akan menunggunya.


__ADS_2