
Hari telah menjelang sore, Arsen telah bersiap untuk menjemput Sarah yang sedang bekerja di minimarket. Dengan wajah ceria dia telah bersiap mengendarai motornya. Ia berjalan mengendap-endap bak maling, takut jika akan bertemu dengan tetangga pengganggu yang akan meminta pertolongan padanya.
“Hati-hati AR seperti biasa kalau ada hari spesial pasti ada tetangga pengganggu yang akan menjadi pengacau, jangan bertemu mereka atau malam keduamu akan berantakan sama dengan kencan pertamamu,” batin Arsen dengan seringai di wajah.
Arsen telah berhasil meninggalkan rumah mengendarai motor menuju tempat kerja istrinya, senyum tertanam di wajah saat akan berhasil menjemput istrinya pulang ia akan bermesraan dengannya, memikirkannya saja sudah membuatnya hatinya berbunga-bunga.
Kendaraannya telah terhenti, namun menatap heran saat ia melihat jika minimarket tempat Sarah bekerja telah tutup. Alisnya mengernyit kemudian turun bertanya pada orang yang berada di dekat tempat itu.
“Pak kenapa minimarket ini tutup?” tanya Arsen pada lelaki yang berada di sana.
“Ngak tahu juga, kenapa mereka tutup, itu dari tadi siang,” jelasnya.
“Tadi siang,” ulang Arsen seakan tak percaya. “Kalau tutup dari siang kenapa Sarah ngak pulang ke rumah,” batinnya raut wajah bahagia seketika berubah menjadi khawatir tentang keberadaan istrinya.
Arsen kemudian merogoh saku celananya meraih ponselnya hendak menelepon Sarah. Setelah mendeal kontak atas nama istriku sayang, dia menaruh di telinga. Pemuda ini bertambah cemas saat nomor ponselnya tidak dapat di hubungi.
“Kenapa tidak bisa di hubungi. Ke mana dia? Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk dengannya,” gumam Arsen pikirannya mulai kemana-mana.
Setelah mencoba menelepon berkali-kali Arsen pun pergi meninggalkan minimarket dengan kecemasan tentang keberadaan istrinya. Namun ia bingung kemana ia akan mencari Sarah, tak ada petunjuk sedikit pun, hingga ia memutuskan untuk mencari kemana pun.
****
Malam telah berganti Sarah masih berada di kediaman Bian tertahan oleh permintaan ibu Odah yang ingin gadis itu untuk tinggal lebih lama. Sarah pun merasa tak enak jika harus menolaknya. Ia khawatir tentang keadaan suaminya yang pasti cemas ia tidak ada di minimarket.
Mereka telah berada di ruang santai setelah menikmati makan malam bersama. Sarah dan ibu Odah duduk berdampingan, di hadapan mereka ada Bian yang selalu tersenyum dan menatap wajah gadis yang ia cintai tanpa henti terpukau akan kecantikan Sarah yang menurutnya bertambah cantik dan terlihat dewasa setelah tak bertemu selama empat tahun walaupun dia menyadari perubahan sikap Ara padanya, seakan menjaga jarak, ia ikut dalam obrolan dua wanita itu.
“Ara kenapa kamu bisa ada di sini sayang? Kenapa kamu pergi dari rumah itu,” tanya Ibu Odah menatap wajah Sarah dengan wajah penasaran.
Sarah sejenak terdiam ia belum siap mengatakan jika ia kemari kabur bersama Arsen untuk menutupi pernikahan mereka.
“Ara ingin tinggal di tempat Ara bersama ibu dulu. Ini kota ibu Ara,” jelas Sarah alasannya memilih ke kota ini.
“Kamu tahu selama empat tahun kami juga di tempat ini.” Ibu Odah mengelus rambut Sarah dengan sayang.
“Ia Ra, ternyata ibu kamu punya banyak aset di tempat ini. Sepertinya memang dia menyiapkan untuk kamu. Tapi, dia ngak bilang,” tambah Bian.
“Aset? Bagaimana ibu punya banyak aset di sini kami saja dulu hidup susah di rumah kontrakan.” Sarah seolah tak percaya ibunya memiliki banyak harta.
“Aku rasa ibumu mulai mengumpulkannya setelah ia menjadi nyonya Hutama. Karena tahu ia sakit parah, dia mulai mengumpulkan semua untuk kamu dan tahu kamu pasti akan keluar dari rumah itu,” jelas Bian akan kesimpulannya selama ini setelah mendapatkan kepercayaan mengelola semuanya.
Sarah terdiam, ternyata ibunya telah merencanakan semua untuknya seolah sudah mampu membaca garis nasibnya tak akan bisa bertahan lama di dunia.
"Ibu maaf aku tidak bisa memenuhi harapanmu untuk menikah dengan Bian, pemuda yang ibu siapkan ternyata bukan jodohku, dan mereka pasti sangat kecewa jika aku telah menghancurkan harapannya, aku tidak mungkin bisa bersatu dengannya," batin Sarah sangat sedih apalagi dari tadi mereka terus membahas pernikahannya bersama Bian.
__ADS_1
“Sayang sebelum kami pergi, ibu kamu mempercayakan semua ini pada Bian karena kelak kalian akan menikah,” ucap ibu Odah menatap lembut. “Ara Bian telah sukses dari semua yang di titipkan ibu, keinginan ibu adalah kamu menikah dengan Bian.”
Sarah seakan tak bisa bernapas dadanya terasa sesak mendengar dari ibu Odah tentang harapan ibunya yang sangat ingin ia bersanding dengan Bian hingga rela memberikan harta berharganya untuk pemuda itu. Tapi itu tidak akan mungkin terjadi, dia telah menikah dengan Arsen.
“Bian sudah jadi orang kaya tapi, awas saja dia kaya orang kaya di tv. Dari miskin, terus kaya, terus jadi sombong lalu bangkrut terus menyesal dapat hidayah,” oceh ibu Odah dari adegan yang sering dia dapat di tv.
“Ibu ....” protes Bian memasang wajah cemberut.
Sarah hanya diam mendengar ibu dan anak ini saling merecokin. Berada di antara mereka membuatnya menjadi sangat sedih.
“Jadi kapan kalian bisa menikah?” tanya ibu Odah sangat antusias merencanakan pernikahan untuk putra kesayangannya dengan gadis yang sangat ia cintai.
“Bian sih mau secepatnya Bu.” Pemuda ini pun tak kalah antusiasnya.
Bian dan Sarah saling pandang, raut bahagia tampak dari Bian sedangkan Sarah, mendengar itu hati Sarah seakan teriris dia benar-benar telah mengecewakan ibu dan anak ini. Air matanya telah menggenang, akan jatuh turun membasahi pipinya. Ia telah tak sanggup berada di antara mereka dan mendengarkah harapan mereka akan pernikahan.
Sarah pun akan pamit pergi meninggalkan rumah Bian.
“Ibu, aku harus pulang ke rumah,” ucap Sarah yang telah berdiri dari tempat duduknya.
“Pulang Ra? kenapa pulang? Menginap saja di sini sayang, ini juga rumahmu.” Ibu Odah juga berdiri hendak menahan langkah Sarah.
“Ia Ra. Kamu menginap saja.” Bian juga mencoba menahan langkah Sarah.
“Maaf Bu Ara ngak bisa, Ara harus pulang,” kekeh Sarah kemudian memeluk Ibu Odah lalu berjalan keluar rumah tak menghiraukan ibu dan anak itu merasa aneh melihat tingkahnya.
“Ara!” panggil Bian namun gadis itu hanya semakin mempercepat langkahnya.
“Ara!”
Bian menarik tangan Sarah membuat langkah itu terhenti mereka telah berada di luar rumah. Bian kemudian menghadapkan tubuh kekasihnya itu lalu memegang kedua bahunya.
“Ara jangan pulang dulu ... aku masih sangat merindukanmu, kita harus membahas tentang pernikahan kita,” jelasnya pemuda ini kemudian memegang kedua tangan Sarah.
“Aku sangat mencintaimu, aku telah kembali untukmu, kita sudah bisa menikah sekarang.” Bian mengecup punggung tangan Sarah menatap dengan tatapan mendamba wajah pujaan hatinya.
Sarah sudah tidak dapat menahan lagi mendengar sejak tadi keinginan Bian hingga tangis yang dari dia tahan mulai pecah, air matanya mulai berurai tertunduk dengan rasa bersalah pada pemuda yang telah berjuang keras memperjuangkan cinta untuknya.
“Kamu kenapa menangis?” tanya Bian melihat orang yang ia sayang berurai air mata.
“Bian maafkan aku. Kita tidak akan menikah,” ucapnya dengan air mata terus turun, dia akan membuat pemuda ini berhenti akan harapannya.
“Ara, jangan bilang seperti itu, apa pun yang terjadi kita akan menikah, aku sangat mencintaimu,” wajah Bian mulai gusar tak mengerti mengapa Sarah berubah, menikah adalah impian mereka selama ini.
__ADS_1
“Kita tidak akan bisa menikah. Ian,” ucapnya terbata dan terisak semakin tertunduk menyembunyikan wajahnya.
“Karena aku telah menikah dengan lelaki lain,” ucap Sarah dengan nada terendah merasa bersalah karena telah membuat perjuangan selama empat tahun pemuda ini menjadi sia-sia.
Deg ...
Bak tersambar petir Bian mendengar ucapan dari Sarah, Ia terdiam mematung, tubuhnya bergetar, merasa tak bisa merasakan kakinya, mendengar perempuan yang ia dambakan selama ini, dia perjuangkan dengan susah payah telah menikah dengan pemuda lain.
Sejenak Bian mencerna kata-kata Sarah lalu mencoba memaksakan senyumannya, memegang kedua bahu gadis ini.
“Ngak ... Ngak mungkin, kamu sangat mencintaku, cinta kita sangat kuat.” Bian mencoba tidak mempercayai kata-kata Sarah, melihat dulu mereka saling mencintai, ia tidak akan percaya dengan mudah jika gadis ini menghianati cinta mereka.
“Aku benar Ian aku sudah menikah.” Sarah meyakinkan.
“Tidak kau bohong, kau bercanda ... kau hanya marah karena kita berpisah lama. Maafkan aku yang telah pergi meninggalkanmu, aku sudah kembali kita akan menikah!” Bian memeluk tubuh Sarah erat seolah tak ingin melepaskannya, sangat takut akan mimpinya hancur.
“Bian jangan seperti ini.” Air mata Sarah semakin deras mengalir melihat pemuda ini terlihat putus asa mendengarkan ia telah menikah.
“Tidak ... kamu yang jangan bercanda seperti itu, kau membuatku sangat takut. Kau adalah impianku selama ini, semua yang aku dapat ini untukmu, semua tidak akan berarti untukku.” Bian semakin memeluk kekasih hatinya, ada cairan bening di jatuh di pipinya tak terima jika orang yang ia perjuangkan ini telah berpaling.
Sarah mencoba berontak agar pelukan erat Bian terlepas hingga akhirnya Bian melepaskannya.
Sarah menghela napas, mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan kata perpisahan untuk mengakhiri hubungan percintaan mereka.“ Hubungan cinta kita telah berakhir sampai disini, carilah perempuan yang terbaik untukmu, hiduplah bahagia bersamanya,” ucap Sarah dengan suara bergetar dan air mata berlinang mengucapkan kalimat pahit untuk mengakhiri percintaan mereka, tak pernah sedikit pun terniang di benaknya jika ia akan berakhir seperti ini dengan lelaki yang sangat ia cintai.
Sarah kemudian berlari meninggalkan Bian pergi dari rumah itu, dengan air mata terus mengalir ia juga merasa sesak cintanya kandas namun apa dia di telah menjadi milik tuan jutek.
“Kita tidak akan berpisah, kamu hanya marah padaku,” teriak Bian memanggil kekasihnya yang pergi semakin jauh.
“Ara!? Panggil Bian lirih wajahnya tampak sangat sedih.
Bayangan Sarah telah menghilang Bian masih berdiri di tempatnya rasanya enggan beranjak untuk hari ini seakan semua terasa mimpi ia baru saja bertemu dengan orang yang ia cintai di hari itu juga hubungan mereka berakhir.
Ibu Odah keluar menemui putranya yang terlihat sangat sedih. Ia juga tidak tahu apa yang terjadi antara Sarah dan Bian.
“Bian,” ucap ibu Odah memegang pundak putra yang diam mematung.
Bian lalu berbalik memeluk tubuh ibunya. “Ibu dia marah, karena kita pergi meninggalkannya, dia sedang membalasku ia bercanda jika ia telah menikah, itu tidak mungkinkan bu? Dia tidak mungkin menghianatiku setelah semua yang kulakukan untuknya,” lirih Bian tidak percaya dengan omongan Sarah.
“Bian.” Ibu Odah memeluk putranya ia juga tidak tahu apa yang terjadi tapi satu yang ia tahu pasti putranya pasti hancur jika benar gadis yang ia cinta telah menjadi milik orang lain.
Bian melepaskan pelukannya lalu memanggil penjaga rumah.
“Ikuti dia, jangan sampai aku kehilangan jejaknya lagi.” titah Bian.
__ADS_1