CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
anak siapa


__ADS_3

Arsen dan Gerald berada di kantin kampus duduk berdua saling berdampingan, sedang menyantap makanan pesanan mereka.


"Gimana sih Ar? Bisa-bisanya kamu sakit di saat ada pertandingan," oceh Gerald pada sahabatnya sambil mengunyah makanan.


Arsen menghela nafas, sudah dua hari Gerald mengoceh tentang tidak ikutsertaanya dalam pertandingan basket.


"Ya mau gimana lagi, emang sakit bisa di tunda," alibi Arsen.


"Gara-gara kamu sakit tim kita jadi kalah, malu banget tahu," sembur Gerald masih tak terima kalah dalam pertandingan.


Ini semua anak gara-gara anak tiri itu, aku membuang harga diriku menumpang di motornya, agar tak terlambat. Ia malah membuatku mabuk kendaraan, aku pasti akan membalasnya nanti. Sekarang lelaki gila ini ngak akan berhenti mengoceh, membuat kuping panas saja. Awas aku akan juga akan balas mengerjaimu," batin Arsen memasang wajah kesal. Menghentikan makannya kemudian meraih ponsel di saku celananya.


Gerald terus mengoceh membuat kuping Arsen terasa panas, namun ia mulai tak mengiraukan sibuk dengan ponselnya, hingga setelah beberapa saat suasana hening. Tak ada lagi suara Gerald yang membuatnya kesal membuatnya merasa aneh dan ingin tahu apa yang terjadi. Arsen mendongak melihat sahabatnya.


Asren mengarahkan pandangan pada Gerald yang duduk di samping. Ia melihat raut wajah sahabatnya berubah tersenyum lucu, seperti ada sesuatu yang menggelitiknya untuk tertawa. Arsen pun ikut menatap kejauhan melihat arah pandang Gerald. Tatapan Arsen tertuju pada gadis cantik yang menjadi sumber kekesalan Arsen. Gadis itu adalah saudara tirinya. Sejenak pandangan Arsen dan Sarah bertemu lalu membuang muka tanda bahwa mereka saling membenci.


"Woi!" Arsen menepuk bahu sahabatnya dengan keras. Membuat Gerald terjengkit kaget.


"Sarah Ar. Gila ... Itu cewek bikin penasaran. Ia sama sekali ngak terpukau dengan senyuman mautku, padahal ini udah level 10 loh, udah yang paling manis maksimal. Masa dia cuma cuek aja," ucap Gerald menarik sudut bibirnya memperlihatkan senyum maksimalnya pada Arsen.


Arsen tersenyum pelik melihat sahabatnya yang sangat penasaran dengan saudara tirinya.


"Jangan dekati dia, kau akan menyesal dia itu ngak pantas untukmu," jelas Arsen.


"Ar dia itu bukan cewek sembarangan, sangat susah mendekatinya. Dia sangat tertutup. Susah banget mencari informasi tentangnya. Aku penasaran dia anak siapa? Orang tuanya punya perusahaan dan bergerak di bidang apa? Apa dia selevel dengan kita?" jelas Gerald penasaran.


"Kamu dan dia bagai langit dan bumi. Dia ngak cocok untukmu."


Dia itu hanya anak tiri yang tak di akui, statusnya juga ngak jelas, siapa ayahnya? orang tuamu pasti ngak akan setuju, gumam Arsen dalam hati.


Gerald menatap tajam pada Arsen dengan tatapan menyelidik, merasa aneh kenapa sahabatnya yang biasa cuek dengan gadis yang ia kejar, tapi mengapa dengan Sarah lelaki ini memberi tanggapan tak suka, seolah Arsen sangat mengenal gadis incaranya ini.


"Kau mengenalnya Ar?" Gerald melipat tangan di dada mencari informasi dari Arsen.


"Ti..tidak," ucap Arsen terbata, Ia tak akan memberi tahu Gerarl jika gadis yang dia kejar adalah saudara tirinya.


"Lalu kenapa kau menyuruhku jangan mendekatinya?" tanya Gerald penuh selidik terus menatap Arsen. Ia memiliki kecurigaan pada Arsen pasalnya setiap pemuda ini melihat Sarah. Wajah Arsen seketika berubah ada kekesalan tersirat. Dan ia juga merasa aneh kenapa reaksinya terhadap gadis itu sangat berlebihan.


"Kau mengenalnya mengaku saja, terlihat dari wajahmu kau sedang menyembunyikan sesuatu," paksa Gerald.


"Aku bilang tidak mengenalnya, kenapa kau sangat ingin mengenal gadis yang tak penting itu," elak Arsen mulai kesal.


"Kau tahukan kita ini pewaris. Orang tua kita telah memperingatkan kita untuk mencari pasangan dari keluarga setara, karena itu aku ingin tahu apa Sarah setara dengan level kita, sebelum aku mengejarnya."


Arsen mendengus tersenyum remeh mendengar ucapan Gerald yang mau saja menuruti perkataan orang tuanya.


"Aku tidak akan menerima perjodohan, aku hanya akan menikah dengan wanita yang aku cinta. Walau dia dari kalangan apa-pun mau miskin, yatim piatu dan ngak punya apa-apa jika aku suka. Aku tetap akan menikah dengannya, cinta itu penting dalam hubungan," jelas Arsen yang telah belajar dari percintaan orang tuanya yang menikah bukan karena cinta hanya karena perjodohan bisnis hingga tak pernah bahagia akhirnya bercerai.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin Ar, kelak kau hanya akan terima nasib di jodohkan dengan perempuan yang tak kau kenal," ucap Gerald meragukan. "Karena itu aku penasaran dengan Sarah aku harap di sama seperti kita. Agar aku tak perlu menikah paksa. Aku penasaran dengan cewek itu melihat dari pakaiannya dan barang-barangnya semua branded tapi kenapa ke kampus hanya naik motor bukan mobil dari kemampuan dan kecerdasan sepertinya dia bukan gadis biasa dia sangat pintar," jelas Gerald masih bingung.


"Sudah jangan fikirkan gadis itu, dia ngak penting."


"Ar, dia berbeda banyak teka-teki, aku tak bisa menemukan datanya di kampus ini, identitasnya seperti tersembunyi, dan aku menyuruh orang untuk mengikuti di mana tempat tinggal,"


"Apa! Kau menyuruh orang mengikutinya?" potong Arsen ia tersentak kemudian berdiri, suaranya meninggi wajahnya terlihat panik. Gerald bisa tahu jika Sarah saudara tirinya.


Gerald mengernyitkan dahinya melihat Arsen terkejut hingga berdiri dengan sikapnya. "Kenapa sih Ar, biasa aja kali? Aku cuma nyuruh orang ngikutin dia tapi itu juga gagal. Dia menghajar semua orang suruhanku dia bisa bela diri," jelas Gerald.


Asren kembali duduk menarik nafas lega, ia menarik dua sudut bibirnya. Hampir saja Gerald tahu jika Sarah saudara tirinya.


"Untung aja tuh anak tiri bisa bela diri. Hebat juga tuh anak jin, dia bisa mengalahkan orang suruhan Gerald. Jangan-jangan bapaknya ahli kungfu Mungkin dia anak Bruce Lee kali atau anak Jackie Chan jadi biasa bela diri. Jadi penasaran sama bapaknya tuh anak tiri, bapaknya sebenarnya pembalap atau ahli kungfu sih, punya anak hebat banget batin Arsen mengelus dadanya tanda ia selamat sekaligus tersenyum lucu membayangakan siapa bapak saudara tirinya.


"Ahh penasaran banget, itu cewek siapa sih bapaknya? anak perusaahan apa dia ngak punya nama belakang keluarga lagi," keluh Gerard frustasi.


"Sudah ngak penting, ayo cabut ke lapangan basket," ajak Arsen kemudian berdiri menarik tangan Gerald untuk mengikutinya.


***


Arsen dan Gerald menuju lapangan basket. Dua pemuda tampan yang menjadi idola kampus ini sangat menyukai permainan basket.


Aaa...Arsen...Arsen...Ayo Arsen...Semangat Arsen... Gaung suara teriakan gadis-gadis berdiri dipinggir lapangan yang melihat Arsen bermain basket. Wajah mereka menatap kagum pada sosok pemuda tinggi bertubuh dan berwajah sempurna. Apalagi saat pemuda itu menguasai bola suara gadis-gadis semakin menggema.


Arsen memantulkan bola basket dan di hadang oleh beberapa lelaki yang mencoba merebut bola dari tangannya. Arsen mencoba fokus terus memantulkan bola sambil mencari cela untuk lolos dari kepungan lalu mencetak angka. Saat melihat suasana sekeliling matanya terpusat pada suatu objek. Garis bibirnya tertarik melihat saudara tirinya berjalan di pinggir lapangan sambil melihat buku yang ada di tangannya. Sebuah ide pembalasan pun muncul di benaknya.


Wah...kebetulan ada anak tiri, ini kesempatan untuk membalas perbuatannya yang membuat aku tak bisa bertanding dan mabuk kendaraan batin Arsen menyeringai lalu siap dengan rencananya.


Pletak... Suara bola basket yang mengenai kepala Sarah membuat gadis ini terhuyung tak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Gadis ini memegangi kepala ia merasa ingin pingsan rasa sakit menjalar keseluruh tubuhnya. Suara tawa terdengar di telinga Ia melihat sekitar semua orang menertawakannya.


Hahahahaha...


Melihat Sarah jatuh terduduk di pinggir lapangan Arsen pun menghampiri lalu jongkok di hadapan Sarah.


"Upp sorry ngak sengaja," ledek Arsen tanpa rasa berdosa. Tersenyum penuh kemenangan di hadapan Sarah.


"Gimana rasanya anak tiri? Itu pelajaran karena membuatku tak bisa mengikuti perlombaan, kita impas sama-sama sakitkan," bisik Arsen di hadapan Sarah masih duduk memegangi kepalanya.


Sarah menggepalkan tangan, marahnya telah di ubun-ubun. Pemuda ini benar-benar telah membuatnya kesal. Apalagi saat melihat Arsen tersenyum penuh kemenangan. Namun tak ada yang bisa ia lakukan untuk membalas pemuda ini. Kecuali hanya pasrah.


Sarah menggambil bola basket yang masih berada di dekatnya lalu dengan kasar ia akan meluapkan amarahnya, hanya pada bola basket  yang telah mengenai kepalannya. Kemudian dengan penuh amarah melemparnya ke arah ring basket dan ternyata lemparan Sarah tepat sasaran. Bola itu masuk ke dalam ring membuat seluruh yang orang berada di lapangan menatap takjub dengan kemampuan Sarah. Tidak luput pula Arsen ia bahkan tercengang membuka mulutnya lebar dengan apa yang baru saja ia liat kehebatan lain dari saudara tirinya.


Arsen kemudian menatap Sarah lekat sungguh tak percaya.


"Hei anak jin, bapak kamu pemain basket ya? Aku tahu kamu anak pemain basket, pasti kemampuanmu itu dari bapak kamu" Hardik Arsen dengan masih menghina tentang siapa ayah Sarah. Sekaligus masih terpukau dengan kemampuan Sarah. Gadis ini bisa melempar bola basket hanya dengan posisi duduk dan tepat sasaran.


"Diam, aku bilang jangan bawa-bawa orang tuaku! Aku anak siapa itu bukan urusanmu!" bentak Sarah belum bisa berdiri masih merasakan pusing. Arsen melemparkan bola dengan sangat keras.

__ADS_1


"Sarah kau tidak apa-apa?" Gerald mengulur tangannya hendak menolong gadis ini namun di tepis oleh Sarah.


"Ar, kau mengenal Sarah?" sambar Gerald yang entah sejak kapan ada di antara mereka, melihat interaksi Sarah dan Arsen. Dia mulai curiga mereka saling mengenal. Gerald sangat bersemangat jika memang Arsen mengenal Sarah itu berarti ia tak perlu repot-repot mencari informasi cukup bertanya pada Arsen.


"Tidak .... " kilah Arsen.


"Tadi aku dengar kau bilang bapaknya pemain basket, kamu juga bilang Sarah anak pemain basket. Berati kau tahu siapa dia? Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu padaku." Gerald terus bertanya.


Mati aku, Gerald ngak boleh tahu jika anak jin ini, saudara tiriku. Aku bisa malu banget memiliki saudara yang ngak jelas asal usulnya. Dan ia pasti akan membuatku pusing dengan banyak pertanyaan jika ia tahu. Kenapa dia tiba-tiba dia dengar dan ada di sini sih bikin pusing aja, apa yang harus aku katakan agar dia diam dan tak curiga, batin Arsen.


"Tidak aku tidak mengenalnya," sangkal Arsen memalingkan wajahnya agar kebohongannya tak terbaca.


"Ngak Ar, kau pasti mengenalnya, mengapa kamu menyuruhku menjauhinya, jika kau tak mengenalnya? Itu berarti kamu mengenalnya, kamu tahu dia anak pemain basket, Ngaku aja kamu! Ayo beri tahu apa hubunganmu dengannya," desak Gerald.


Arsen yang terpojok masih jongkok di depan Sarah yang belum bisa berdiri. Ia tak peduli dengan ocehan dua sahabatnya ini.


"Aku tidak mengenalnya, Aku hanya ingin bilang tadi, emm kalau bapaknya ... emmm ... bapaknya .... " ucapnya dengan ragu.


Mati aku batin Arsen


"Apa Ar? Kenapa bapaknya," desak Gerald tak sabar.


Terserah! Masa bodoh yang penting rahasiaku tersimpan gumam Arsen. Hingga akhirnya terpikir.


" Aku tadi ingin bilang ... emmm... Bapak kamu pemain basket ya ... karena kau telah memantulkan hatiku," Goda Arsen menutup mata dan mulutnya rapat seakan ingin menangis, ingin rasanya ia tenggelam di lautan paling dalam karena telah merayu orang yang paling di bencinya demi agar rahasia mereka tak terbongkar. Ia terpaksa mengeluarkan kata-kata itu demi agar sahabatnya itu diam.


"What..." Gerald membelalakan matanya mulutnya terbuka mendengar sahabatnya merayu kaum hawa untuk pertama kalianya.


Sarah melengos membuang pandangannya lalu berdiri meninggalkan lapangan tak memperdulikan dua lelaki itu.


Gerald masih terdiam mematung masih tak percaya hingga ia merasa Arsen telah meninggalkannya.


"Ar kau menyukai Sarah" Gerald mengejar Arsen.


"Tidak, aku tidak mungkin menyukainya." Arsen terus berjalan menghindari pertanyaan sahabatnya.


"Kenapa kau merayunya?" tanya Gerald penasaran terus mengejar Arsen.


"Karena kau bertanya terus siapa bapaknya! Dia anak siapa dan aku tidak mengenalnya. Aku ngak tahu jadi aku terpaksa mengatakan itu seperti itu supaya kau puas, sudah jangan tanya lagi tentang gadis itu."


Sial, demi rahasia ini ngak kebongkar aku telah merayunya. Anak tiri itu pasti puas melihatku terlihat konyol di depan Gerald. Niat mau ngerjain tuh anak jin, malah aku yang terjebak. Batin Arsen.


.



Duh Tuan Arsen jadi malukan🤭. Bisa-bisanya ngeyaru tuh anak jin. Makanya jutek banget, jangan benci banget sama tuh anak tiri. Kalah lagikan dari Sarah😋😜

__ADS_1


.


.Like, coment, vote....


__ADS_2