CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
End


__ADS_3

Pagi menjelang sinar matahari masuk melalui celah jendela menyilaukan mata. Keluarga kecil yang bahagia ini masih tidur lelap di bawah selimut saling mendekap satu salah sama lain dengan posisi Sarah di tengah. Sarah membuka matanya perlahan, ia menarik garis bibirnya saat melihat pemandangan wajah teduh putranya dihadapannya masih terlelap. Sarah lalu membelai wajah putra kesayangannya lalu mendaratkan ciuman di pipi tembem itu.


“Jagoan bunda,” ucap Sarah memeluk tubuh putranya namun Sarah juga seakan tidak bisa bernapas dengan belitan tangan yang melingkar di pinggangnya ulah dari suaminya yang tidur di sampingnya.


“Ayah lepaskan aku tidak bisa bergerak,” protes Sarah.


“Begitu ada Arsya kau memberikan aku punggngumu,” ucap Arsen memeluk tubuh istrinya yang berbaring membelakanginya, menaruh wajahnya di tengkuk leher istrinya.


“Mau apalagi anak kita ini jarang sekali bersama kita, dia lebih banyak bersama dengan oma dan opanya dari pada kita,” ujar Sarah sekarang Arsya menjalani kehidupan sama seperti yang Arsen alami berpindah-pindah.


Sarah semakin mencium pipi putranya meluapkan rasa sayangnya membuat Arsya merasa terganggu dan akhirnya menggeliat.


Anak lelaki ini mulai membuka matanya. “Bunda,” ucap Arsya memeluk perempuan yang telah melahirkannya.


“Ia sayang. Anak manis bunda sudah bangun.” Sarah mengendus tubuh putranya.


“Selamat pagi anak ayah,” ucap Arsen dari balik tubuh Sarah.


“Ar bangun ya, mandi sayang, habis itu kita sarapan. Hari ini kita akan bermain bersama,” jelas Sarah bangun menarik badan Arsya untuk bangun.


Arsen pun bangun duduk bersama istri dan putranya.


“Ar mandi sama ayah,” tawar Arsen dia juga merasa waktu bersama putranya juga sangat singkat dan saat Arsya bersama mereka, ia juga mencoba menghabiskan waktu.


“Ia ayah, kita main gelembung sabun ya.”


Arsen telah turun dari ranjang bersiap. “Sini Ayah gendong,” Arsen membungkukkan tubuh tingginya, agar Arsya bisa naik di punggungnya, anak kecil itu sangat bersemangat kemudian menempel pada Arsen.


“Pegangan yang kuat. Aduh rasanya anak ayah sudah bertambah berat saja,” canda Arsen kemudian berjalan menuju kamar mandi.


“Kalian mandilah, bunda akan membuat sarapan untuk kalian,” ujar Sarah mengembangkan senyuman melihat kekompakan ayah dan anak.


****


Sarah telah berada di meja makan menyajikan menu sarapan pagi untuk dua laki-laki yang sangat berarti bagi hidupnya.


“Bunda,” teriak Arsya dari gendongan Arsen mereka berdua telah rapi memakai baju yang berwarna putih senada membuat Sarah menatap bangga keluarga kecilnya.


“Anak bunda tambah ganteng banget,” menatap ayah dan anak itu.


Arsen mendudukkan putra di kursi kemudian ia pun beranjak duduk sebelumnya mengecup sekilas pipi istrinya. Arsen tidak peduli jika kemesraannya itu di lihat Arsya dan anak kecil itu juga mengerti jika ayahnya sangat menyayangi ibunya.


“Ar mau di suap bunda,” pinta anak kecil ini dengan senyum.


“Baiklah.” Sarah mengusap pucuk kepala putranya yang manjanya sama seperti ayahnya lalu duduk di samping putra, mulai menyuap makanan.


“Bunda. Kak Ale masih ada di sini ngak?” tanya Arsya sambil mengunyah makanan.


“Masih ada, Ar mau main sama kak Ale?” tanya Sarah.


“Ia bun, Ar suka main sama kak Ale. Ar mau main layang-layang sama kak Ale,” ucap anak ini dengan semangat.


“Bunda akan beri tahu maminya dulu ya.”


“Kita akan main di taman bersama mereka,” sambung Arsen mengabulkan permintaan putranya.


“Hore, main layangan sama kak Ale,” teriak anak kecil ini sangat senang menaikkan dua tangannya.


“Bunda biar Ar makan sendiri.” Arsya mengambil alih sendok yang ada di tangan Sarah.


“Baiklah anak pintar, kamu di temani ayah dulu ya.” Sarah mencium pipi putranya. “Kalau begitu bunda ke kamar dulu, siap-siap sekalian hubungi aunty Rena.”


“Ia bunda.”


Sarah beranjak meninggalkan ayah anak itu, mempersiapkan diri bertemu dengan Rena dan Ale.


Arsen dan Arsya melanjutkan makannya hingga perhatian Arsya teralihkan pada perempuan yang masuk dan bergabung bersama mereka.


“Oma!” teriak Arsya menghentikan makannya turun dari kursi berlari menyambut neneknya. Arsen hanya mengendus membuang napas kasar melihat mamanya.


Wina jongkok menyamakan tinggi badan cucunya. “Cucuku sayang, Oma kangen banget.” Wina memeluk tubuh Arsya mengendus tubuh mungil itu. “Wangi banget cucu Oma. Pasti sudah mandi.”


“Sudah dong Oma,” ucap Arsya.


“Sayang, ikut Oma ya menginap di rumah. Di rumah Oma banyak mainan, kemarin Oma habis beli yang terbaru,” jelas Wina seperti biasa menjanjikan sesuatu yang membuat Arsya senang agar anak kecil ini mau ikut bersamanya.


“Ia Oma.” Mata Arsya berbinar mendengar mainan baru.


Wina menarik duduk di kursi memangku cucunya, Arsen yang berada di sana hanya diam. Melihat interaksi antara nenek dan cucu ini, semenjak ada Arsya mama mau pun papanya sudah tidak memperebutkan perhatiannya lagi, mereka sekarang berfokus pada Arsya.


“Ia sayang, mobil-mobilan, pesawat semua baru Oma beli. Ikut oma ya,” ajak Wina.


“Mau Oma,” jawab Arsya.


“Ngak bisa Ma. Ara nanti ngambek, anaknya mama bawa lagi,” tolak Arsen yang baru merasakan semalam bersama putra sendiri.


“Ar Cuma sehari, mama ngak bisa jauh dari Arsya,” bujuk Wina memasang wajah mengiba.


“Kan dua hari yang lalu sudah. Itu pun kalau Ar ngak jemput untuk ke pernikahan Nikita, pasti ngak dipulangin,” jelas Arsen.


“Ara bisa ngambek dan memunggungiku nanti malam kalau tahu anaknya berhasil di bawa pergi,” batin Arsen.


Perdebatan terjadi antara ibu dan anak ini hingga suara berat dari laki-laki yang baru masuk sukses membuat Arsen semakin menarik napas berat, semakin rumit saja masalah ini.

__ADS_1


“Arsya!” teriak Wisnu yang baru saja datang dan bergabung bersama mereka


“Opa.” Arsya turun dari pangkuan Wina lalu berlari ke arah Wisnu.


“Jagoan Opa.” Wisnu menggendong cucunya mengecup pipinya. “Arsya nginap di rumah Opa ya, di rumah Opa kolam renangnya baru sudah Opa desain untuk kamu, kita berenang,” jelas Wisnu.


“Ia Opa?” tanya Arsya antusias.


“Ia Sayang. Kamu ke rumah Opa ya,” tawar Wisnu.


Wina bangun dari duduknya mendekat ke arah Wisnu. “Tidak bisa! Arsya mau ke rumah Omakah liat mainan barunya,” ucap Wina tidak akan membiarkan cucunya ikut bersama Wisnu.


“Tidak Wina Arsya harus ke rumah Opa liat kolam renang baru, yang ada perosotan panjangnya,” kekeh Wisnu.


Arsen beranjak mendekat pada mereka. “Tidak bisa aku mau mengajak Arsya bertemu dengan Ale,” sela Arsen ia juga tidak membiarkan putra ikut bersama mereka.


“Ke rumah Oma, nanti Oma ajak jalan ke mall beli banyak mainan lagi.” Wina masih berusaha mengusai pikiran cucunya.


“Ke rumah Opa saja. Ngak usah ke mall mainan bagus dan tercanggih juga banyak di rumah papa.”


“Mama, Papa Arsya baru satu hari bersama kami, masa di bawah lagi. kami juga mau bersamanya,” protes Arsen ia sebenarnya prihatin dengan nasib Arsya yang sama seperti dirinya dulu.


“Arsya minggu depan kan kita liburan ke luar negeri, kita harus belanja pakaian di mall.”


“Sayang Opa juga bisa bawa kamu keluar negeri.”


“Mama papa jangan bawa Arsya.”


“Sudah Ar kamu diam saja kami juga ngak ngajak kamu,” hardik Wina.


“Ia kamu diam saja,” timpal Wisnu membuat Arsen berdecak kesal.


Arsya terdiam sejenak ia sebenarnya bukan anak yang gila mainan atau apa-pun, ia bisa mendapatkan itu semua dari orang tuanya, tapi di usianya yang baru lima tahu ia mengerti jika oma dan opanya ini hidup kesepian di rumah dan Sarah sejak dulu sering menasehatinya dan memberi pengertian untuk mendamping mereka, walau sekarang ini Sarah mulai protes sebab ia juga sering di tinggal pergi oleh Arsya, karena mereka sudah mulai berlebihan dalam memanjakan Arsya.


“Arsya mau ya?” tanya Wina.


“Ar sudah ke rumah Oma, sekarang giliran ke rumah Opa,” putus anak kecil ini, sudah tahu hidup bergiliran antara oma dan opanya sama yang di jalankan papanya dulu.


“Yes,” ucap Wisnu dengan senyum kemenangan.


“Ya, Arsya sama Oma saja.” Wina memasang wajah kecewa akan pilihan bijak cucunya.


“Besok Ar, ke rumah Oma.” Janji anak kecil ini.


“Ar, terus bunda bagaimana?” sela Arsen.


“Kasian Opa, ayah.”


Wisnu yang masih menggendong Arsya langsung melangkahkan kaki pergi meninggalkan mereka sebelum Sarah datang dan perdebatan semakin bertambah panjang.


“Daaa,” teriak Wisnu seakan seperti mengejek mereka, tersenyum puas karena dia adalah pemenangnya.


“Aduh Ma aku bisa di punggungi Ara nih nanti malam kalau tahu anaknya di bawa pergi lagi,” keluh Arsen dengan wajah tak bersemangat.


“Makanya kalian program bayi lagi,” ketus Wina hatinya terasa panas karena Arsya lebih memilih Wisnu dari pada dirinya.


“Ngak memang gampang lahirannya, Ar ngak tega, mama liatkan bagaimana perjuangan Sarah melahirkan Arsya,”Arsen bergidik ngeri membayangkan Sarah berjuang melahirkan putra mereka padahal pengalaman melahirkan itu juga di alami hampir semua ibu yang melahirkan normal.


“Ya sudah mama pulang.” Wina melengos lalu melangkah meninggalkan Arsen.


Arsen masih menatap kepergian seluruh biang rusuh itu. hingga tidak merasakan kedatangan istrinya. Perempuan cantik ini telah siap untuk pergi bersama keluarga kecilnya.


Alis Sarah mengernyit dalam saat melihat Arsen hanya sendiri.


“Mana Arsya?” tanya Sarah.


“Sudah di bawa pergi sama papa,” jelas Arsen menatap wajah cantik istrinya.


“Pergi lagi! Dia baru semalam sama kita. Masa pergi lagi, kenapa kamu ngak tahan sih!” Sarah melipat tangan di dada memasang wajah cemberut.


Arsen mendekat pada Sarah memegang bahu perempuan yang telah merajuk itu. “Mau bagaimana lagi mereka punya seribu cara membuat Arsya ikut dengan mereka,” jelas Arsen.


“Kenapa ayah ngak tahan sih!”


“Ngak bisa Bun, Arsya mana tega menolak. Apalagi mereka membujuk Arsya dengan banyak mainan dan janji manis.”


“Terus rencana kita bagaimana?”


“Sudah kita berdua saja. Di dalam kamar,” ucap Arsen menaik-naikan alisnya sepaket dengan senyum mesumnya.


“Ngak mau! Kamu di rumah saja sendiri, aku mau pergi, sama anakku yang lain Ale,” ketus Sarah lalu berjalan meninggalkan Arsen.


“Bunda jangan marah dong, jangan pergi. Aku ikut.” Arsen mengejar langkah istrinya. Seharian ini ia akan menghabiskan waktu membujuk istrinya yang merajuk karena ulah putra mereka.


*****


Malam telah larut Arsen dan Sarah baru saja sampai di rumah setelah menghabiskan waktu seharian bersama anak orang lain yang itu Ale. Sudah seharian Sarah memasang wajah masam padanya karena ulahnya melepaskan putra kesayangan mereka menginap di rumah Opanya.


Mereka telah berada di kamar, Arsen telah membersihkan diri lebih dulu dan telah mengenakan baju tidur. saat ini mereka masih di ruang ganti pakaian


“Bunda jangan ngambek lagi dong,” bujuk Arsen mendekap tubuh Sarah dari belakang yang berdiri di depan lemari pakaian.


“Sudah ayah, lepaskan. Aku mau ganti baju.” Sarah meliuk-liukan tubuhnya.

__ADS_1


“Ia, aku janji besok pagi-pagi aku jemput anak kita,” rayu Arsen mengecup pipi istrinya.


“Sudah kamu tidur sana.”


Sarah berhasil melepaskan pelukan Arsen kemudian berlalu ke kamar mandi.


“Ya di punggungi deh malam ini. Ini semua gara-gara Arsya,” batin Arsen berjalan tak bersemangat menuju ranjang mereka.


Arsen naik ke ranjang manik matanya masih menantikan kedatangan istrinya. Tidak beberapa lama, Sarah keluar dari ruang ganti pakaian melangkah pelan.


Arsen menelan salivanya dengan susah payah, manik matanya menatap lekat saat melihat Sarah berjalan ke arahnya mengenakan daster pendek yang memperlihatkan paha mulusnya dan belahan dada, sangat seksi dan sesuai dengan kesukaan Arsen, dengan rambut panjang tergerai serta aroma wangi parfum yang menyeruak menembus penciuman membuat seketika tubuh pemuda pemuja wanita berdaster ini memanas, dan telah berkabut gairah.


“Bunda,” ucap Arsen dengan jantung berdegup kencang istrinya ini telah sukses menggodanya dan membuat sesuatu di pangkal pahanya menegang.


Sarah menyeringai lalu naik ke tempat tidur berbaring miring membelakangi Arsen. Ia sengaja menyiksa Arsen membuat gairah suami itu meronta-ronta namun ia akan mengacuhkannya karena ada yang harus ia lakukan.


“Ah tuh kan di punggungi lagi,” batin Arsen menatap frustasi punggung istrinya dari belakang.


Arsen ikut berbaring lalu mendekap tubuh Sarah dari belakang.


“Bunda jangan marah lagi, aku ngak kuat menahannya. Kau menggodaku,” Arsen mengendus aroma tubuh Sarah mengesekkan inti tubuhnya yang telah mengeras di belakang Sarah.


Sarah hanya tersenyum ia tahu suaminya tidak akan tahan dengan godaanya.


“Bunda.” Arsen menarik bahu Sarah agar mengubah posisi untuk berbaring lurus, Sarah pun berbalik.


“Jangan marah lagi, aku sangat mencintaimu,” ucap Arsen menatap wajah merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik itu lalu mengecup bibir Sarah sekilas.


“Aku sudah tidak marah ayah. Aku juga mencintaimu,” jelas Sarah mengembangkan senyuman manik mata mereka bertemu kilat gairah terpancar dari keduanya.


“Aku akan selalu mencintaimu,” ucap Arsen tanpa kata-kata lagi ia menindih tubuh istrinya, menyambar bibir ranum yang terasa manis itu, mellumat perlahan, menyapu dengan lidah menggoda seketika mereka berpangut, lidah mereka bertaut saling menyesap, menghisap, hingga bunyi cecapan itu terdengar membuat ciuman itu semakin panas dan menuntut, tautan itu terlepas, kecupan panas itu turun ke tulang rahang hingga menyusuri leher jenjang Sarah kembali, menyesap, menghisap hingga meninggalkan bekas, memberi sensasi geli membuat tubuh Sarah menggeliat di bawah hangat tubuh Arsen. Jari-jari nakal Arsen mulai bergerak meraba seluruh tubuh istrinya meremmas lembut bukit kembar itu hingga membuat Sarah mengerang nikmat.


Dengan sekali tarikan Arsen telah berhasil membuka daster Sarah, ia kembali bermain di leher putih itu, tangannya bak gurita menjalar membuka bra Sarah.


“Ahhh,” Suara desahan kenikmatan keluar dari bibir Sarah saat Arsen menenggelam wajahnya di bukit kembarnya menghisap, menjilat membuatnya menggelinjang, tangannya menekan tengkuk Arsen untuk semakin lebih dalam lagi.


Tubuh mereka telah polos, deru napas telah terdengar berat, pasangan ini telah terbakar oleh gairah, mereka akan melakukan penyatuhan namun sebelum itu Arsen menghentikan aksinya mencumbui Sarah. Ia beringsut mendekat ke arah nakas untuk meraih sesuatu.


“Jangan,” Sarah menghentikan Arsen saat tangan suaminya itu sudah memegang pengaman. Ya semenjak Sarah melahirkan Arsen selalu menggunakan pengaman untuk menghindari kehamilan dan agar istrinya itu tidak melahirkan lagi. menyaksikan proses kelahiran membuatnya menjadi trauma hingga memutuskan dia sendiri yang akan mencegah kehamilan istrinya.


“Ada apa bunda?” tanya Arsen tak mengerti.


“Ayah aku ingin punya anak lagi,” jelas Sarah.


“Punya anak lagi! Tidak!” tolak Arsen dengan tegas.


“Tapi aku juga ini merasakan punya anak yang menemani kita, sekarang Arsya lebih sering sama oma dan opanya dari pada kita. Kita harus punya anak lagi.”


“Bunda punya anak itu berarti kamu akan merasakan sakit saat melahirkan, aku ngak tega melihat itu. Saat kamu hamil jatah malamku berkurang, setelah melahirkan aku puasa dua bulan, berat bun. udah satu aja. Arsya sudah cukup bagiku,” jelas Arsen yang tidak akan menambah anak.


Sarah menarik napas berat lalu ia bangun mendorong tubuh Arsen hingga kembali berbaring kini gilirannya menindih suaminya.


“Bunda sabar aku belum pakai pengaman,” protes Arsen masih menolak memiliki anak.


“Aku tidak akan berhenti,” ujar Sarah kini gilirannya mengecup bagian tubuh Arsen.


“Bunda kau memperkosakuu!!!”


“Aku akan terus melakukannya sampai kau menghamiliku,” ucap Sarah memegang kendali di atas tubuh suaminya.


“Ahhh,” desah Arsen.


Malam semakin larut suara desahan, rintihan terdengar di dalam kamar pasangan yang kini sedang berusaha untuk membuat anak ke dua mereka.


Kebahagiaan terus menerpa kehidupan rumah tangga Arsen dan Sarah, percintaan yang semula penuh liku, luka, perjuangan dan air mata, telah terhias indah setelah melalui jatuh bangun kini kebahagiaan itu mereka raih.


Hubungan yang berawal dari kebencian, permusuhan antara Arsen si tuan jutek dan Sarah si robot Jepang telah menjadi cinta. Cinta yang berlandaskan akan jodoh. Sekuat apa-pun mengejar cinta jika bukan jodoh tidak akan bersama (Sarah dan Bian), namun sekuat apa-pun menolak, jika jodoh maka akan tetap akan bersama (Arsen dan Sarah).


The end ....


Sampai jumpa lagi.


Arsen Raditya Hutama.


Sarah Alia Wardani.


Abian Ari Wibawa.


Nikita Milly.


Penulis Adinda Adi.


Hai pecinta JODOHKU TUAN JUTEK. Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan atas dukungan kalian pada karya ke duaku, hingga suara kalian terpecah ada yang mendukung Arsen dan ada yang mendukung Bian. Terima kasih untuk Coment yang baik, like yang kencang, vote yang banyak tanpa kalian karya saya tidak akan menjadi apa-apa.


Maaf jika karya author amatiran ini masih banyak kekurangan, dari banyak typo, tulisan berantakan bahasa yang tidak sesuai, serta cara up date yang berantakan dan membuat gemas maaf  saya akan selalu belajar dan mencoba memperbaiki lagi.


Terima kasih atas sambutannya pada novel ke dua saya ini. selanjutnya saya akan membuat novel ke 3 yang berjudul.


PERNIKAHAN KEDUA ARINI


Jangan unfavoritkan dulu ya siapa tahu saya dapat hidayah ngasih extra part keluarga Nikita dan ibu Odah, atau keluarga Ayah, bunda dan Arsya dan untuk mengetahui pengumunam novel baru.


Terima kasih siapa tahu ada yang belum baca karya pertama saya.

__ADS_1


JODOH PILIHAN KAKAKKU, percintaan Aska si tiang listrik dan Nayla si bule Jerman.


Ya kita berpisah deh dengan ayah dan bunda ....  Oh ia tolong dong Koment terakhirnya untuk cerita ini please ... ya.


__ADS_2