CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
Sarah pergi


__ADS_3

Sarah berada di dalam kamar sedang membereskan barang-barangnya, memasukkan bajunya ke dalam koper seraya air mata terus terjatuh. Kepergian Nikita membuatnya merasa semakin bertambah sepi. Kesedihan semakin merasuk dihati, bayang-bayang akan Arsen selalu bermain di pikirannya sungguh ia sangat merindukan suaminya itu.


Sarah juga memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat ini, tinggal di rumah kontrakan Rena membuatnya semakin terpuruk ia merasa semua orang meninggalkannya. Ibunya, Arsen, Bian, Nikita semua pergi tidak ada yang bersamanya, ia sendiri sekarang.


Sarah telah selesai mengemas pakaiannya, ia telah rapi bersiap untuk pergi menjauh dari masa kelamnya. Ia menarik tuas kopernya, sekali lagi ia tatap kembali rumah yang begitu banyak meninggalkan kenangan indah untuknya bersama orang yang ia cintai yaitu ibu dan suaminya.


“Ibu aku akan pergi, memulai hidup baru, semoga aku juga menemukan kebahagiaanku dan bisa melupakan cintaku pada Arsen,” isak Sarah dengan air mata meleleh, manik matanya menyapu ruang itu melihat untuk yang terakhir kali.


Tok ... Tok ....


Suara ketukan pintu membuat Sarah tersentak dengan cepat ia menghapus air mata yang membasahi pipi putih mulus itu lalu berjalan menarik serta tuas kopernya sambil membuka membuka pintu.


“Ara, keluar!” Suara dari luar itu masih menggema mendesak Sarah untuk keluar.


Perempuan yang bersiap pergi ini pun membuka pintu. Alisnya mengernyit melihat pemilik rumah tersenyum padanya dengan wajah berbinar.


“Ada apa Mi?” tanya Sarah penasaran akan perihal apa yang membuat Rena terlihat bahagia.


Rena berhambur memeluk tubuh Sarah. “Aku di ajak kerja sama untuk barang daganganku,” teriak Rena antusias.


“Maksud mami?” ulang Sarah tidak mengerti.


Perempuan pemilik rumah ini melepaskan pelukannya, beralih memegang bahu Sarah. “Ada orang percaya padaku. Ia memberi modal besar untuk memegang bisnis pakaian, Ara aku bisa jadi juragan daster,” teriak heboh Rena lagi sangat merasa sangat bahagia. Ia tidak menyangka jika akan ada orang akan percaya dengan kemampuan berdagangnya.


“Hebat Mi,” puji Sarah turut bahagia dengan apa yang telah pemilik rumah ini dapatkan.


Sarah tertegun sejenak kembali terkenang pada suaminya, pasti dialah yang ada di belakang semua ini, Nikita yang akan menjadi penyanyi serta Rena yang mendapatkan bantuan dalam berbisnis,  kembalinya Arsen berkuasa ia bisa melakukan apa-pun. Ia merasa bangga Arsen peduli pada tetangga yang selalu membuatnya kesal dan tidak melupakan mereka.


“Makasih Ar telah mewujudkan mimpi mereka, kamu ngak melupakan tetangga kita,” batin Sarah dengan penuh kebanggaan.


“Semoga aku juga berhasiI sama seperti Nikita,” ujar Rena dengan menggebu membusungkan dada menatap masa depannya lebih baik dengan optimis.

__ADS_1


Wajah bahagia pemilik rumah ini seketika menyurut saat melihat sebelah tangan Sarah memegang tuas koper, Rena mengerutkan alisnya.


“Ara kau mau ke mana?” tanyanya dengan wajah penasaran menunjuk koper Sarah dengan dagunya.


Sarah melihat sekilas kopernya lalu tersenyum lembut. “Aku akan pergi Mi,” jelas Sarah yang akan membawa luka patah hatinya menjauh.


“Pergi? Ke mana?” suara Rena terdengar panik mendengar ucapan gadis cantik ini yang akan meninggalkannya juga sama seperti yang di lakukan Nikita


“Pergi mencari suasana baru.” Sarah tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putih, ratanya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa padanya padalah ia sedang menyembunyikan kesedihannya.


Rena tahu apa yang terjadi pada Sarah, ia meneteskan air mata untuk perempuan yang tidak bisa memperjuangkan cintanya dan terpisah dengan suami yang ia cintainya karena ketidakberdayaan. Rena tahu jika hingga saat ini gadis ini masih menyimpan kesedihan yang tidak pernah ia bagi pada siapa pun.


“Jangan pergi Ra, Kalau kalau pergi berarti aku akan tinggal sendiri di sini,” cegah Rena terisak seraya memeluk Sarah membayangkan ia hanya akan tinggal bersama dengan Ale, ia sudah menganggap Sarah sudah sebagai saudara sama seperti Nikita.


“Aku harus pergi Mi. Kalau aku kangen aku akan kembali lagi ke sini,” jelas Sarah mengusap punggung Rena yang terisak, cairan bening juga turun dari wajahnya.


“Di sini saja Ra. Nikita sudah pergi dan kau juga akan pergi.”


Rena melepaskan pelukannya beralih memegang bahu Sarah. “Bantu aku mengurus barang daganganku,” tawarnya agar penghuni terakhir rumah kontrakannya ini tidak pergi.


Rena memegang tangan Sarah disertai raut wajah bersalah akan kesedihan yang di tanggung perempuan ini dan membuat mereka berpisah.


“Maaf Ra, andai bukan karena mama Ar tidak mengancam kami dan kamu tidak menolong kami, kau pasti masih bersama Ar sampai saat ini, kalian pasti masih bahagia. Maaf karena kami yang lemah ini.” Rena merasa sangat bersalah apalagi saat rumahnya hampir terbakar ia sangat marah hingga hilang kendali meluapkan isi hatinya pada Sarah.


“Bukan salah mami kami memang tidak bisa bersama,” ucap Sarah tersenyum miris menepuk punggung tangan Rena.


“Kau akan ke mana Ra?” tanya Rena.


Sarah mengendikan bahunya tersenyum simpul tidak memberikan jawaban untuk Rena. Ia tidak ingin ada orang tahu tentang keberadaannya.


Setelah berbincang dengan pemilik rumah dan berpamitan. Sarah akhirnya pergi menjauh meninggalkan tempat yang banyak meninggalkan kenangan. Ia ingin menemukan kebahagiaan dan bisa melupakan cintanya pada Arsen. hubungannya dengan suaminya itu tidak akan pernah kembali lagi. Sebelum meninggalkannya Arsen telah memutuskan untuk melupakannya dan menghapus Sarah dari hidupnya. Sarah juga akan melakukan hal yang sama mencoba melupakan Arsen.

__ADS_1


___________


Sebuah perkantoran yang menjulang tinggi pemuda tampan bergelar tuan jutek ini, duduk di kursi kebesarannya, menatap berkas-berkas  yang bertumpuk di meja kerja. Setelah kembali ia di hadapkan dengan banyak pekerjaan yang menguras tenaga dan pikirannya.


Suara derap langkah kaki Dion sang asisten mendekat padanya membuat pandangan Arsen teralihkan sejenak. Pemuda ini meletakkan kembali berkas laporan yang ia baca ke meja.


“Apa kau sudah melakukan semua yang ku perintah?" tanya Arsen akan perintahnya untuk mengurus tiga perempuan yang sudah tidak bisa ia lindungi.


“Ar, aku sudah melakukannya.” Dion mengangguk mengiyakan, itu merupakan tugas yang mudah baginya.


Dion kemudian melaporkan yang terjadi di rumah kontrakan tiga pintu itu hasil dari penulusuran orang ia tugaskan.


“Ar aku mendapatkan laporan, jika di rumah kontrakan yang kau perintahkan awasi itu. Penghuni yang berada di petak tengah.”


“Ara ...” gumam Arsen petak tengah artinya tempat yang ia tempati bersama dengan istrinya dulu, Arsen fokus, hatinya berdesir rindu mendengar akan informasi tentang perempuan yang di cintainya itu.


“Ia telah pergi, meninggalkan rumah itu,” jelas Dion dengan santai ia tidak tahu jika kabar itu sangat penting bagi Arsen.


“Pergi!” Arsen tersentak, bangkit dari kursi kebesarannya, wajahnya di penuhi dengan amarah.  “Ke mana?” tanya Arsen menatap tajam pada Dion membuat asisten ini menjadi cicit.


“Tidak tahu Ar dia terlihat keluar membawa koper. Orang yang kita tugaskan sedang mengikuti ke mana dia pergi,”


“Cari tahu ke mana dia!”  bentak Arsen wajahnya terlihat cemas takut terjadi sesuatu pada orang yang ia cintai.


“Baiklah.” Dion hanya mengikuti apa yang di perintahkan bosnya.


Arsen kembali duduk di kursi kerjanya, mengusap wajahnya prustasi. “Ara mengapa kau pergi? Meninggalkan tempat kenangan kita, apa kau tidak ingin mengingatku lagi.”


“Apa kau pergi untuk menghindariku, kau tidak ingin menungguku. Kau tidak mengharapkanku kembali,” Arsen menarik rambutnya di atas tengkuk lehernya. Sangat kecewa Sarah pergi meninggalkan tempat yang meninggalkan kenangan indah mereka.


“Kalau itu yang kau inginkan aku akan melupakanmu, aku sudah tidak ingin menyakiti hatiku lagi,” tekad Arsen akan melupakan cintanya pada Sarah.

__ADS_1


“Dion ikuti terus ke mana dia pergi, pastikan dia aman. Tapi, Aku sudah tidak ingin mendengar laporannya lagi, pantau saja,” titah Arsen dengan suara bergetar ia akan mencoba melupakan Sarah walau di hatinya masih terbesit keraguan dan ia masih sangat mencemaskan keadaan Sarah.


“Aku akan mencoba melupakanmu Ra dan tidak akan peduli padamu. Sampai kapan pun kau tidak akan pernah menerimaku di dalam hatimu. Mencintaimu hanya membuatku sakit dan terluka, aku tidak akan mengulang kisah kita,” batin Arsen merasa kecewa dengan kepergian Sarah satu hal yang tidak pernah Arsen ketahui adalah bagaimana hati Sarah padanya, yang ia tahu jika gadis yang di cintainya itu tidak akan mencintainya dan berjuang untuk hidup bersamanya. Hingga ia merasa jika hubungannya dengan Sarah hanya ia saja yang selalu mengharapkan cinta membuat hatinya selalu tersakiti.


__ADS_2