
Pasangan yang sedang mengejar layangan ini masih berada di jalan raya. Menatap layangan Ale yang telah semakin turun, Seulas senyum terbit dari bibir Sarah saat melihat benang menjuntai layangan itu.
“Ara tunggu. Ara hati-hati ini jalan raya,” teriak Arsen memperhatikan istrinya yang terus menatap ke arah langit.
Pemuda ini berlari mendekat ke arah istrinya.“ Tunggu aku.” panggilan Arsen tak dihiraukan oleh Sarah.
Melihat benang layangan telah menjuntai, dengan sekali lompatan tinggi, akhirnya Sarah telah berhasil mendapatkan layangan itu. Namun tanpa ia sadari jika sebenarnya lompatannya mengarah ke arah jalan, hingga ia telah berdiri di depan sebuah mobil yang melaju.
Tubuh Sarah bergetar, mematung tak bisa melangkah lagi. Ia memasrahkan nyawanya, sehingga sebuah tubuh tinggi memeluk dan membungkus tubuhnya, menjadi tameng pelindung untuknya.
Ciiiiitttttt .... suara ban mobil bergesek dengan aspal jalan terdengar nyaring, beruntung mobil itu dapat berhenti secara mendadak, mereka pun terlepas dari maut.
Arsen melepaskan pelukannya saat mereka telah selamat.
“Ara kamu ngak apa-apa?” tanya Arsen dengan wajah khawatir, memegang bahu Sarah, menatap setiap inci tubuh wanita yang telah bergetar serta wajahnya yang putih memucat.
“Aku nggak apa-apa Ar,” jawab Sarah dengan suara pelan, masih terkejut dengan apa yang baru saja dialami bersyukur, ia masih bernyawa.
“Syukurlah kamu nggak apa-apa kamu membuatku ketakutan.” Arsen membawa Sarah ke dalam dekapannya memeluk erat agar kecemasannya juga berkurang.
Tiiitttt .... suara klakson mobil menghentikan pelukan mereka, menyadarkan jika pasangan ini berpelukan di tengah jalan dan sedang menghalangi kendaraan yang ada di depannya. Pelukan hangat Arsen terlepas. Amarahnya mulai naik melihat kejadian yang hampir menimpa istrinya.
Bruk … Arsen menendang keras mobil yang hampir menabrak mereka.
“Turun … Turun kau,” teriak Arsen seraya kembali memukul dengan keras bamper depan mobil, Arsen akan melampiaskan kekesalanya pada lelaki paruh baya yang mengendarai mobil.
Lelaki paruh baya itu pun turun untuk menghadapi kemarahan Arsen.
“Hei kenapa kau memukul mobilku!” bentak lelaki itu atas sikap arogan Arsen.
“Apa kau tidak bisa membawa mobil! Kau hampir saja mencelakai istriku,” bentak Arsen pada lelaki paruh baya itu, hendak menyerang namun Sarah menahan tubuhnya untuk tidak bergerak maju.
“Istrimu yang jalan nggak liat-liat. Langsung saja lompat ke jalan,” ucap lelaki itu mengungkapkan fakta dan memang kenyataan Sarah lah yang bersalah tak memperhatikan jalan.
“Kau... berani-beraninya kau menyalahkan istriku!” Arsen mengarahkan telunjuknya pada lelaki itu, emosinya semakin naik mendengar istrinyalah yang menjadi tersangka dalam insiden ini.
“Sudahlah aku yang bersalah,” Sarah mengakui kesalahannya di depan lelaki itu.
“Itu kan istrimu saja ngaku salah,” kata lelaki itu menatap sinis pada Arsen.
“Enggak istriku nggak pernah salah,” bentak Arsen yang buta karena cinta dan kasih sayangnya menjadikan Sarah bak malaikat di matanya yang tak pernah berbuat salah.
"Asal kau tahu sampai kapanku, istriku tidak akan pernah salah," hardik tuan jutek ini.
Hati Sarah berdesir hebat melihat Arsen membelanya mati-matian, padahal dia yang bersalah, hingga ia tersadar jika ia sangat dicintai oleh suaminya ini.
“Hei! Kau tahu banyak orang yang juga punya istri dan sayang pada istrinya, tapi tidak buta dan gila sepertimu, membela istri yang sudah jelas-jelas salah!” hardik pengendara mobil.
__ADS_1
Sarah terdiam memikirkan ucapan lelaki itu dan bertanya ke dalam hatinya. Sebegitu berharganya kah dirinya, bagi Arsen. Suaminya ini begitu memujanya, bahkan rela melakukan apa-pun demi dirinya. Arsen tak pernah peduli apa-pun akan ia hadapi jika menyangkut kebahagiaannya.
“Kurang ajar kau. Aku tidak akan melepaskanmu.”
Arsen maju hendak memberikan tinjunya pada lelaki itu namun Sarah mencegahnya.
“Sudahlah Ar! Ayo kita pulang!” Sarah menarik tangan Arsen menjauh dari tempat itu.
“Maaf pak, saya yang salah,” akui Sarah kemudian pergi membawa Arsen.
“Hei kenapa kau malah minta maaf, dia yang hampir mencelakaimu!” teriak Arsen berbalik pada lelaki yang hampir menabrak istrinya.
“Ayo sudah.”
Sarah dan Arsen berjalan pulang berdampingan sepanjang jalan Sarah terus menatap wajah suaminya lekat yang masih mengoceh meluapkan kekesalannya.
“Kenapa kau malah minta maaf maaf? Seharusnya aku menghajarnya tadi, aku akan mematah kaki,” oceh Arsen
Seulas senyum tertanam menghias wajah Sarah, ia terharu akan perhatian Arsen padanya entah mengapa perasaannya berbunga menyadari betapa beruntungnya ia memiliki pemuda ini di sisinya.
Merasa Sarah hanya terdiam dan menatapnya membuat langkah Arsen terhenti
“Ara. Kenapa kau melihatku seperti itu.” Arsen mengernyitkan dahinya melihat gadis ini terpaku memperhatikan wajahnya.
Sarah tersentak kemudian memalingkan pandangan ke sembarang arah, menyembunyikan wajahnya yang merah merona karena malu telah menatap wajah tampan suaminya.
“Apa kau sadar kita berlari sangat jauh hanya karena layangan sialan itu dan bahkan hampir kehilangan nyawa,”oceh Arsen.
Arsen kemudian jongkok di hadapan Sarah yang tertunduk.
“Ayo naik biar aku gendong. Kau pasti sangat kaget tadi kan? Badanmu pasti lemas. Aku saja rasanya tidak dapat merasakan lututku saking kagetnya,” jelas Arsen memberi perhatian pada istri tercintanya.
“Nggak perlu Ar,” tolak Sarah.
“Ayo naik kau pasti lelah habis berlari,” paksa Arsen.
Sarah pun mengikuti keinginan Arsen ia mendekat mulai naik di punggung suaminya. Setelah tubuh Sarah menempel di punggung dan tangan istrinya melingkar di lehernya, ia pun berdiri mulai menggendong istrinya.
Sarah termenung memikirkan pengorbanan besar yang telah dilakukan Arsen untuknya. Bagai roll film yang berputar, ia mulai mengingat bukti besar cinta Arsen untuknya mulai dari meninggalkan orang tua, rela hidup tanpa kemewahan dan harta, bahkan rela bertengkar dengan ibu-ibu yang menghinanya dan terakhir memarahi pengendara mobil yang menyalahkannya, masih membela padahal dialah yang bersalah, bahkan tadi rela mati untuk melindungi dirinya. Mengingat semua itu jantung Sarah mulai memacu lebih kencang, seakan jantungnya telah memiliki debaran untuk pemuda yang mengendongnya ini.
Sarah hanya berguman dengan hatinya sambil menatap wajah tampan milik suaminya, hingga akhirnya ia tergelitik untuk mendengar perasaan cinta Arsen lagi untuknya.
“Ar, apa kau benar-benar mencintaiku?” tanya Sarah akhirnya mulai peduli dengan perasaan Arsen setelah melihat banyaknya pengorbanan lelaki itu untuknya.
Arsen tersenyum tipis baru kali ini Sarah bertanya tentang perasaannya, tidak seperti biasa bahkan walau pun ia mengatakan ribuan kali Sarah tak akan peduli.
“Kau masih bertanya! Tentu Saja aku sangat mencintaimu,” jawab Arsen dengan santai pengakuan cinta untuk Sarah bukan lagi sesuatu yang sulit baginya. Arsen berjalan santai seakan tak ingin kedekatan ini berlalu.
__ADS_1
“Sejak kapan?” tanya Sarah memperhatikan wajah Arsen dari samping.
Arsen menarik sudut bibirnya memikirkan sejak kapan ia cinta pada Sarah. “Sejak kita bertengkar di butik dulu dan aku memegang dadamu.”
“Sudah selama itu,” ucap Sarah seakan tak percaya padahal keterangan ini sering diungkapkan Arsen tapi ia tidak pernah peduli baru kali ini ia menegaskannya.
“Sudah lama, tapi aku terus menyimpannya dan tidak mengungkapkannya. Aku selalu menunjukkannya padamu tapi kau tidak pernah melihat cintaku,” lirih Arsen akan perasaannya.
“Memang apa yang kau suka dariku?”
“Semuanya ….”
Sarah tersenyum bahagia setelah mendengar kembali semua isi hati Arsen untuknya, ungkapan perasaan yang dulu sering diungkapkan padanya tapi entah mengapa pengakuan kali ini begitu menggetarkan hatinya membuatnya merasa terbang ke langit.
Sarah mengeratkan tautan tangannya di leher pemuda ini, menempelkan wajahnya di ceruk leher Arsen, mengendus aroma tubuh yang menghangatkan perasaanya serta membuat jantungnya semakin berdetak kencan, rasanya ia ingin selalu memeluk tubuh ini dan tak melepaskannya.
Pasangan ini telah hampir sampai di rumah, Arsen telah bersiap dengan langkah apa yang akan di ambilnya untuk sang pemilik layangan.
“Aku akan memarahi Ale nanti,” oceh Arsen masih mengendong Sarah.
“Kenapa Ar?” tanya Sarah tak mengerti.
“Gara-gara layangan dia, kita hampir mati tadi,” jelas Arsen langkah kakinya mulai masuk di area rumah.
“Sudahlah Ar dia hanya anak kecil,” bujuk Sarah.
Arsen mendengus mendengar Sarah membela anak pemilik rumah. Hingga sorot matanya menangkap bayangan Ale. “Nah itu dia!” Arsen berjalan mendekat ke arah anak kecil yang menunggu di depan pintu rumahnya dan masih mengendong Sarah.
“Ar jangan ....” sarah memperingatkan dari balik punggung Arsen agar tak memarahi anak kecil itu.
“Kak Ara mana layangan Ale,” sambut Ale melihat pasangan ini bergendongan.
“Layangan-layangan ....” sembur Arsen lalu berjongkok memudahkan Sarah turun dari punggungnya.
“Ar ...” protes Sarah berdiri di samping Arsen.
“Kau tahu karena layanganmu itu kami hampir saja ....”
Cup ...
Sarah mendaratkan satu kecupan lembut di pipi Arsen, membuat matanya terbelalak sempurna, tubuhnya membeku bak tersengat listrik, tak siap dengan apa yang ia dapatkan dari Sarah. Arsen tak menyangka jika wanita yang ia cinta telah memberikan ciuman untuknya, pertama kalinya ia mendapatkan balasan akan cintanya.
Sarah tersipu malu, wajahnya telah merona kemudian dengan langkah cepat masuk ke dalam rumah untuk menyembunyikan wajahnya. Ia juga tidak tahu dengan apa yang telah ia lakukan. Apalagi ada Ale diantara mereka.
Arsen masih berdiri mematung belum bisa menetralkan kekagetannya, jantungnya seakan lompat keluar hingga saat bayang Sarah telah masuk ke dalam rumah dia mulai sadar kemudian memegang sebelah pipi yang telah di kecup oleh Sarah.
“Kak Ar layangannya mana?” tanya Ale membuyarkan lamunan Arsen.
__ADS_1
Arsen tersadar lalu berjongkok di hadapan Ale kemudian memegang bahunya. “Ale kau tahu karena layanganmu itu ... sangat membawa berkah untukku, terima kasih Ale,” puji Arsen memeluk tubuh Ale erat dengan sangat bahagia, tak jadi melampiaskan kekesalan pada pemilik layangan yang hampir membuatnya celaka.
Makin rumit ya... Ara sudah ada rasa sama Arsen, Bian lagi yang sudah dekat .....