CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
telah berlalu


__ADS_3

Matahari telah bersinar cerah, sinar hangatnya masuk melalui jendela yang terbuka. Seorang gadis cantik duduk di meja rias memoles wajah putih mulus itu dengan make up. Gadis ini menarik dua sudut bibirnya membentuk senyuman saat melihat pantulan kesempurnaan dirinya di cermin.


Sarah terus mengembangkan senyuman terbaik, hari ini adalah waktu spesial yang paling ia tunggu dalam hidupnya. Hari yang akan menjadi awal masa depan indah dan harapan tingginya menuju kebahagiaan.


“Sudah siap Ra?” tanya Wisnu melangkah masuk ke arah Sarah yang duduk di meja rias, menatap bangga pada putri cantiknya.


Sarah dengan cepat berdiri di hadapan lelaki yang selama ini menjadi penguat hidupnya.


“Ia Pa,” ucap Sarah tersenyum lembut, kebahagiaan terpancar di wajah cantiknya.


“Maafin Papa, Papa dan Arsen ngak bisa menghadiri kelulusan kamu.” Wisnu mengelus bahu Sarah, membingkai wajahnya dengan rasa bersalah.


“Ngak apa-apa Pa. Ara ngerti.”


Sampai saat ini rahasia mengenai status Sarah sebagai putri tiri Hutama masih tersimpan dengan baik, karena itu mereka tak bisa menghadiri hari penting bagi Sarah.


Sesosok pemuda mengenakan setelan jas putih, terlihat sangat tampan berjalan ikut  bergabung dengan mereka. Arsen sejenak mematung, saat tatapan matanya menyorot kecantikan wajah Sarah terpoles make up.


 


“Ar!” tegur papa Wisnu menatap heran melihat keterpukauan putranya pada gadis yang ada di sampingnya. “Ar!” Wisnu menaikkan tekanan suaranya melihat Arsen yang masih mematung di hadapan Sarah.


“Ia.” Arsen terjengkit kaget mendengar suara papanya kemudian dengan cepat menguasai diri.


“Kamu cantik sekali, Ra,” puji Arsen tersenyum pada Sarah terlihat pemuda ini salah tingkah.


“Makasih Ar.”

__ADS_1


Wisnu menatap lekat putranya saat berbicara dengan Sarah, ia merasa ada yang lain di tatapan Arsen saat melihat gadis cantik itu. Sejak dulu ia selalu merasa ada yang lain pada Arsen jika berdekatan dengan Sarah. Sorot mata putranya berubah berbinar jika itu menyangkut Sarah, perhatian dan kasih sayang lebih yang dicurahkan Arsen berbeda dari seorang kakak pada adiknya. Mungkinkah cinta? Namun Kesimpulan itu selalu dia samping Wisnu, baginya Arsen tak mungkin menyukai saudaranya. Walau sebagai lelaki ia merasa perhatian Arsen sebagai rasa suka.


“Sayang banget Ra, kami ngak bisa datang mendampingi kamu.” Sama seperti Wisnu. Pemuda ini juga kecewa karena tak bisa menghadiri hari penting Sarah.


“Ngak apa-apa, Ar.”


“Ini semua karena para pemburu berita itu, kepo banget sama hidup orang.” Arsen memasang wajah kesal semenjak ia menjabat menjadi Ceo di perusahaan ibunya, kehidupannya terus terusik semua orang penasaran dengan kehidupan pribadinya terutama dengan percintaannya yang sampai sekarang masih menjadi misteri.


“Sudah Ar, itu memang risiko Ceo kaya plus ganteng seperti kamu,” canda Sarah terkekeh membuat Arsen menarik sudut bibirnya mendengar candaan yang seperti pujian untuknya.


“Makanya Ar kalau ngak mau di kejar wartawan kamu nikahlah, biar orang ngak penasaran dengan kehidupan percintaan kamu,” cetus Wisnu menambahkan.


“Pa,” protes Arsen mencebikkan bibirnya.


“Memang benar, kamu cepat nikah Ar, papa sudah ingin gendong cucu. Bagaimana Ra, kamu juga pasti sudah ingin punya keponakan kan?” tanya Wisnu tersenyum pada Sarah yang di balas anggukan dengan penuh semangat dan senyum lebar.


“Kenapa jadi bahas masalah pernikahanku.” Arsen memasang wajah cemberut.


“Sudah kita tidak akan membahas masalah jodoh Arsen yang lama itu, ngak datang-datang, kita akan merayakannya kelulusan Ara nanti,” selah Wisnu.


“Kalau kamu pulang, kita akan merayakannya,” ucap Arsen.


Sarah mengangguk tanda setuju mereka kemudian keluar dari kamar siap melakukan kegiatan mereka masing-masing. Begitulah kekompakan mereka sejak kepergian Erina, saat ini mereka telah menjadi keluarga yang saling mendukung dan menguatkan.


Waktu berlalu dengan cepat tak terasa empat tahun panjang telah di lalui oleh Sarah dengan derai air mata dan perjuangan atas kepergian Erina. Namun kehilangan itu semakin hari semakin memudar berkat dua lelaki yang selalu berada di sisinya menjadi penguat, kasih sayang yang hilang dari ibu, telah tergantikan dengan figur seorang ayah yang memberikan perhatian dari sosok Wisnu dan seorang kakak yang selalu menjaga dan melindungi dari figur Arsen hingga luka hatinya terobati.


 

__ADS_1


****


 


Hari menjelang sore cahaya keemasan menghiasi langit. Sarah telah selesai dengan rangkaian acara kelulusannya, walau di balut dengan perasaan sendiri saat acara itu berlangsung, karena tak ada kehadiran ibunya di samping.


Sebelum kembali di kediaman Hutama, Sarah memutuskan untuk mampir ke sebuah tempat. Sarah berjalan turun dari mobil melangkahkan kaki menuju tempat peristirahatan terakhir orang yang paling ia sayang yaitu makam Erina. Ia berjalan menyusuri deretan pemakaman yang berbaris rapi dengan seikat bunga tergenggam erat di tangan kanan.


Langkah kaki terhenti saat berada di pusara yang bertuliskan nama ibunya. Sarah pun berjongkok lalu menaruh seikat bunga yang ia bawa ke makam Erina.


“Ibu, Ara datang. Ara kangen banget sama Ibu. Aku sudah lulus Bu, sesuai dengan harapan Ibu selama ini. Sayang sekali ibu tidak ada di di sini melihat aku.” Sarah menatap tempat di mana tubuh ibunya berbaring dengan tenang. Matanya meloloskan air mata berucap bangga jika ia telah mengabulkan keinginan ibunya.


“Ibu. Terima kasih atas semua kebaikan Ibu, berkat Ibu aku memiliki keluarga sekarang. Aku merasakan kasih sayang seorang ayah yang tidak pernah aku dapat dari papa Wisnu. Dia sangat baik, begitu menyayangiku, tidak membedakan walau aku bukan anak kandungnya.” Curhat Sarah merasa sangat beruntung ada hikmah besar akan kepergian ibunya.


“Dan Arsen, kami tidak pernah bertengkar lagi. Dia juga sudah tidak pernah memanggilku dengan sebutan anak tiri, anak jin atau robot Jepang.” Sarah tersenyum mengingat hubungannya dulu dengan Arsen yang selalu di warnai dengan pertengkaran setiap kali mereka bertemu.


“Arsen sangat menyayangiku, menjagaku dia memperlakukan bagai seorang putri, bahkan sekarang aku punya pengawal pribadi yang selalu menjagaku, supir yang mengantarku, dia kakak terbaik, selalu mengabulkan permintaanku bahkan sebelum aku memintanya,” jelas Sarah lagi.


“Ibu yang tenang di sana. Dua anak Ibu kini akan bahagia, Sarah telah lulus sesuai keinginan ibu, Bian juga akan datang menemuiku dan kami akan menikah hidup bahagia. Sedangkan Arsen ....” Sarah menarik napas panjang lalu menceritakan kehidupan Arsen selama ini. “Dia sudah menjadi Ceo di perusahaan mamanya, di tangan Arsen perusahaan mamanya semakin maju, dia sangat terkenal dengan Ceo galak, dingin, sombong, arogan.” Sarah terkekeh menceritakan sikap jutek Arsen pada orang-orang.


“Dan tiga bulan lagi tepat di ulang tahunnya ke 27 dia akan menjadi pewaris Angkasa Hutama perusahaan milik papanya. Hebat kan dia Bu? Ara bangga memiliki kakak hebat seperti Arsen,” jelas Sarah dengan bangga kemudian kembali melanjutkan ceritanya.


“Dia juga terus masuk berita Bu, selain sebagai pewaris terhebat yang memiliki wajah tampan dan prestasinya memajukan perusahaan. Orang-orang juga penasaran dan bertanya-tanya dengan percintaannya, siapa yang menjadi pasangan Arsen pemuda yang memiliki kesempurnaan, katanya mereka gadis beruntung yang akan menjadi pendampingnya dan Ara yakin mereka tidak salah. Gadis yang di cintai Arsen pasti sangat beruntung nanti. Arsen pemuda baik dan memiliki segalanya Ara saja jadi adiknya merasa beruntung apalagi gadis yang menjadi pasangannya,” jelas Sarah menceritakan semua seolah ibunya mendengar.


“Tapi sampai sekarang dia belum punya pasangan Bu, entah seperti apa perempuan yang ia inginkan. Mamanya selalu menjodohkannya dengan gadis sempurna cantik, kaya, cerdas, tapi dia selalu menolak. Papa juga selalu memaksanya mencari pendamping lalu menikah tapi dia tak mau. Dia sukses dengan karir tapi tidak dengan percintaan, dia payah terlalu jutek dengan wanita. Saat Bian datang Ara akan menikah dan melangkahinya sebagai saudara tertua.” Sarah kembali terkekeh menertawakan nasib percintaan Arsen yang miris.


"Terima kasih Bu, atas rencana indah dan sempurna Ibu untuk Ara, atas keluarga dan limpahan cinta dari mereka,” ungkap Sarah kembali meloloskan air mata terharu dengan perjuangan Erina dalam merancang kebahagian untuknya.

__ADS_1


“Ibu Ara pulang dulu.” Sarah berdiri meninggalkan makam ibunya dengan perasaan lega.


Hingga saat ini Sarah belum mengetahui perasaan cinta Arsen yang sesungguhnya pada dirinya, yang ia tahu Arsen adalah sosok kakak terbaik untuknya. Arsen masih membisu menyimpan rapat perasaan yang telah ia pendam hingga empat tahun telah berlalu.


__ADS_2