CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
Episode 103


__ADS_3

Pagi telah menyambut, Sarah masih berada di ranjangnya, terlelap dalam balutan selimut hangat, bergelung nyaman, hingga ia merasakan ada sesuatu yang mengganggu pada tubuhnya. Perutnya seakan di remmas untuk mengeluarkan seluruh isinya.


Sarah tersentak dan bergegas bangun melangkah cepat masuk ke dalam ke kamar mandi.


Uwek ... uwek ... perempuan ini membungkukkan badannya ke wastafel. Mengeluarkan cairan bening dari perutnya, seakan seluruh isinya ingin keluar semua, membuatnya menjadi sangat lemah.


“Ada apa denganku, kenapa aku mual sekali,” gumam Sarah saat telah selesai dan ia telah membasuh wajah pucatnya. Memikirkan keadaan aneh pada tubuhnya, hingga sesuatu terlintas dari pikirannya tentang pertemuannya dengan Rena akan kondisinya dan tebakan si mami tentang kehamilan. Sarah pun terkenang jika ia yang telah membeli tes kehamilan kemarin dan belum sempat memakainya.


“Hamil ... Apa mungkin aku benaran hamil? Ia aku harus memastikannya,” batinnya.


Dengan langkah gontai ia keluar dari kamar mandi melangkah meraih tas yang kemarin ia pakai. Di mana di dalamnya ada tespack untuk menguji kehamilan. Sarah merogoh tasnya dan telah mendapatkan apa yang di cari dengan rasa penasaran bergegas untuk mencoba alat itu.


Perempuan ini telah melakukan semua petunjuk pemakaian yang tertera di tespack, jantungnya berdebar dengan kencang tentang hasil yang akan terbaca nanti. Apakah hasilnya akan membahagiakan atau justru mengecewakan.


Setelah beberapa saat tangan Sarah bergetar, dengan mata berkaca-kaca ia menatap tespack yang berada pegangannya seolah tak percaya. Dengan cermat ia kembali membaca petunjuk dan cara kerja serta tanda di tespack itu hingga membuat air matanya jatuh berlinang.


“Garisnya dua, itu berarti? Aku hamil. Apa aku benar-benar hamil!” ucap Sarah di penuhi tangis kebahagiaan masih menatap tespack yang terpampang dua garis biru seakan tidak percaya sebentar lagi ia dan Arsen akan menjadi orang tua.


“Di sini ada anak kami.” Sarah mengelus perutnya sungguh tidak menyangka jika ia sedang mengandung buah cinta bersama Arsen. “Ar, pasti sangat senang! Jika aku hamil. Dia telah lama menantikan ini. Tapi aku harus memastikannya lagi pada dokter ahli,” kebahagiaan seketika sirna ia takut ini hanya harapan.


“Aku harus ke rumah sakit untuk memastikannya lagi. Setelah itu akan memberitahunya.”


Tubuh Sarah seketika bertenaga kembali, hari ini ia akan memastikannya pada dokter setelah itu baru ia akan membagi kabar membahagiakan itu pada suaminya.


****


Sarah keluar dari ruang pemeriksaan dokter, melangkah pelan menatap selembar kertas putih serta hasil usg diagnosa dokter. Senyum terus mengembang di wajahnya saat membaca namanya dengan keterangan tertulis positif hamil. Ia sangat bahagia sekarang ada makhluk kecil di dalam rahimnya yang akan meramaikan keluarga kecil mereka.


“Sayang ayahmu pasti sangat bahagia. Jika tahu kamu ada di dalam perut bunda. Dia udah nunggu kamu sejak lama.” Sarah kembali mengelus perutnya membayangkan Arsen pasti sangat bahagia jika tahu ia sedang mengandung anaknya. Sarah terus melangkah, mengelus perutnya sambil berbicara sendiri hingga beberapa orang memperhatikannya dengan tatapan heran pada gadis cantik yang berbicara dan senyum-senyum sendiri ini.


“Bunda harus memberi  tahu ayah tentang kamu.” Ia berniat akan menelepon Arsen namun niat itu terhenti saat sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya lebih dulu.


Dret ... Dret suara getar ponsel membuat perhatiannya teralihkan. Sarah lalu merogoh tas selempangnya. Menatap layar ponsel sekilas dan mengarahkannya di telinga.


“Ya Ian. Ada apa?” Sarah


“Ra tolong kamu ke rumah, bujuk ibu.” Bian.


“Memang ibu kenapa?” Sarah.


“Kamu ke sini saja, dia lagi ngamuk!” Bian.


“Baiklah aku ke sana sekarang.” Sarah.


Sarah memasukkan ponselnya ke dalam tas bersama dengan kertas dari rumah sakit, niatnya untuk memberi tahu Arsen gagal. Dia lalu segera menuju rumah mantan kekasih, yang telah di anggap sebagai keluarga. Dengan rasa penasaran apa yang membuat Bian meminta kehadirannya.


****


Sarah telah berada di rumah ibu Odah sesuai dengan keinginan Bian yang terdengar di panggilan tadi, sepertinya sangat membutuhkan bantuannya.


Perempuan ini melangkah masuk ke dalam rumah setelah pelayan mempersilahkannya. Alis Sarah berkerut dalam, saat melihat ibu Odah berdiri membelakangi putranya terus mengoceh dan Bian hanya duduk pasrah mendengar semua itu.


“Ara,” sapa Bian menarik napas lega melihat perempuan cantik itu berjalan ke arah mereka.


“Untung kamu datang,” sambut Bian berdiri mendekat pada Sarah menggiring tubuh perempuan itu untuk duduk di sampingnya tanpa ibu Odah sadari kedatangan Sarah ia masih mengoceh meluapkan amarahnya.

__ADS_1


“Ada apa Ian?” tanya Sarah dengan wajah penasaran menatap wajah putus asa Bian.


“Dengar saja,” ucap Bian.


“Pokoknya ibu ngak mau kamu berhubungan dengan Nikita Milly, dia itu artis jahat, tega, kejam!” ujar Ibu Odah bersedekap masih membelakangi mereka.


“Ara kamu dengar kan,” bisik Bian pada Sarah.


Sarah menarik sudut bibirnya mendengar penyebab ibu dan anak ini bertengkar karena sahabat artisnya.


“Tolong Ra. Cuma kamu yang bisa menghentikan dan membujuknya.” Bian memasang tatapan memohon.


“Kamu serius dengan Nikita?” tanya Sarah.


“Sebulan ini kami dekat. Aku merasa nyaman bersamanya, dia gadis yang apa adanya,” jelas Bian dengan suara pelan menatap punggung ibunya yang masih mengomel. “Bantu aku Ra, aku dan Nikita sudah janjiaan akan datang bersama di ulang tahun Arsen, tapi ibu ngak setuju.”


Sarah tersenyum geli ternyata karena persiapan menghadiri ulang tahun suaminyalah suasana menjadi heboh seperti ini.


“Kamu ingat ini! Ibu ngak suka kamu bersama Nikita!” tegas ibu Odah lalu berbalik. Perempuan paruh bayah ini tercengang saat melihat ada perempuan cantik duduk di samping Bian dan tersenyum padanya.


“Ara, kamu di sini sayang. Sejak kapan kamu di sini?” Ibu Odah lalu mendekat pada Sarah. “Kamu dengar ya Ibu ngomel?” tanya perempuan ini dengan rasa bersalah kemudian duduk di samping Sarah.


Sarah tersenyum kemudian mengangguk perlahan.


“Itu gara-gara Bian, masa dia dekat dengan artis jahat itu!” hardik ibu Odah dengan tatapan tajam pada putranya.


Sarah menggenggam tangan ibu Odah menatapnya dengan kelembutan. “Bu. Niki, gadis yang baik, dia sahabat Ara. Itu semua hanya akting, di dunia nyata dia ngak begitu,” jelas Sarah dengan kelembutan tantang karakter Nikita yang sebenarnya.


“Ia. Bu,” tambah Bian.


Ibu Odah berdecak kesal mendengar penjelasan Sarah seharusnya perempuan ini membelanya bukan malah berpihak pada Bian. Ibu Bian lalu berdiri menatap tajam pada Sarah dan Bian seakan menghakimi ke dua anaknya itu.


“Dengarkan Ra, ketakutan ibuku! Tapi Niki sih sadiss banget kalau akting!” bisik Bian mendekatkan tubuhnya pada Sarah.


“Ia, Ian. Memang kejam sih perannya, pantas saja ibu kesal,” tambah Sarah yang juga berbisik. Mereka berdua terlihat grasak-grusuk di depan perempuan paruh baya itu.


“Bujuk dia Ra,” pintah Bian tidak bisa menghadapi ibunya.


“Sepertinya sulit Ian, aku ngak pernah liat ibu semarah itu.” Nyali Sarah juga seolah ikut ciut.


“Tolong ibu mengerti, itu kan hanya akting Bu! Dia ngak begitu, Nikita sangat baik,” jelas Sarah membela Nikita serta meyakinkan ibu Odah.


“Ibu itu dari dulu ngak pernah suka sama dia semenjak dia main di sinetron, terus nyiksa idola ibu si Fitri,”  oceh ibu Odah suasana seolah mencekam.


Sarah mengarahkan pada pandangannya pada Bian tidak mengerti siapa yang di maksud idola perempuan itu, inilah kebisaan para ibu-ibu tidak tahu siapa nama artis yang ia tahu nama perannya di sinetron.


Bian mendekat ke Sarah berbisik. “Idola ibu dari dulu, shireen sungkem,” bisiknya sambil menatap wajah ibunya.


“Sungkar Ian.” Sarah menyikut pinggang Bian memperbaiki ucapan pemuda itu.


“Aku kan ngak tahu Ra.” Bian tersenyum pelik.


Bian dan Sarah hanya sibuk berbisik terus menatap wajah ibu Odah yang seolah menghakimi dan memarahi mereka karena telah membela Nikita.


“Terus idola ibu yang lain juga dia, jahatin. Dia usir dari rumah, dia ambil suaminya,” tambahnya

__ADS_1


“Bu, itu hanya akting,” sela Bian berdiri mendekat pada ibunya mengelus dengan lembut punggung perempuan yang telah melahirkannya.


Melihat Bian berdiri mendekat Sarah pun maju ikut membujuk, memegang tangannya. “Ia bu, Nikita ngak semenyeramkan yang seperti ibu pikirkan.”


Ibu Odah menghempaskan tangan mereka lalu melangkah menjauh dengan tatapan penuh kekesalan, berbalik berdiri tegak di depan dua orang ini. “Pokoknya ibu ngak akan suka sama dia. Bagaimana nanti kalau kamu nikah sama perempuan itu? Terus dia racuni ibu atau dia dorong ibu dari tangga. Sama seperti mertuanya di tv. Atau dia bikin ibu stroke lalu muka ibu di bekap bantal. Atau Dia rebut harta kamu terus kita di tendang dari rumah kita ini dan akhirnya kita menjadi gembel di jalanan, cuma bawa koper satu lagi,” oceh ibu Odah panjang lebar bergidik ngeri membayangkan ia akan merasakan nasib yang sama seperti korban yang sering perankan di tv.


“Ibu, itu ngak mungkin. Ibu perfikir terlalu jauh makanya hentikan kebiasaan menonton itu.” Bian mendengus menghembuskan napas berat ibunya tidak ingin mengerti sedikit pun.


“Ibu Bian akhirnya dekat dengan perempuan lain, itu bagus bu,” jelas Sarah mengingatkan jika putranya itu telah kembali menata hidupnya.


“Kalau dia memang mau dekat dengan perempuan lain lagi, nanti ibu carikan jamaah mama Dede di jamin perempuan baik-baik, bukan Nikita yang kejam itu,” ocehnya


“Ibu masa jemaah mama Dede, Nikitalah bu,” protes Bian.


“Ibu bilang tidak ya tidak, sudah jangan bujuk ibu lagi.” tatapan tajam ibu Odah berikan pada putranya


“Karena Ara ada di sini ibu mau masak. Jangan pulang sebelum makan dulu, tunggu saja di sini,” ujar ibu Odah meninggalkan mereka.


Sarah dan Bian kompak tertunduk lesu menghembuskan napas berat akan kegagalan mereka membujuk ibu penggila sinetron garis keras ini, mereka kembali melangkah menuju sofa duduk berdampingan.


“Gagal Ra.” Bian menyandarkan tubuhnya di punggung sofa mengusap wajahnya putus asa.


“Sabar Ian.” Sarah menepuk bahu Bian.


“Padahal hari ini aku juga ada janji dengannya mencari kado untuk ulang tahun Arsen besok. Tapi sepertinya aku harus membatalkannya,” jelas Bian dengan wajah tak bersemangat.


“Sabar Ian, nanti juga ibu luluh.” Memberi semangat pada Bian


“Semoga saja Ra.”


Obrolan mereka terhenti terpaku dengan isi pikiran masing-masing ulang tahun Arsen telah membuat Nikita dan Bian menyusun rencana untuk semakin dekat lagi. namun terhalangi oleh ibu Odah.


“Kado untuk Arsen, besok ulang tahunnya,” batin Sarah teringat akan kabar bahagianya. Ia pun menunduk menatap perutnya, yang di dalamnya ada buah cinta mereka, lalu mengelus dengan lembut.


“Sayang bunda tahu, kamu pasti akan menjadi kado terindah untuk ayahmu di pertambahan usianya besok, kamu akan menjadi kado bunda untuk ayah,” batin Sarah tersenyum ia telah terpikir rencana untuk memberikan kabar kehamilannya sebagai kado bagi Arsen.


Seraya menunggu ibu Odah menyiapkan hidangan untuk mereka dan Bian yang sedang menghubungi Nikita. Sarah menyiapkan sebuah kado untuk suaminya. Ia menaruh surat keterangan dokter serta hasil Usg di dalam sebuah kotak persegi kecil yang ia dapatkan dari pelayan dan membungkusnya, terakhir mengikat dengan pita hingga terlihat manis. Senyum tidak pernah hilang dari wajahnya membayangkan Arsen yang akan sangat bahagia jika tahu ia tidak akan lama lagi menjadi ayah.


Tak beberapa lama Sarah telah membungkus kado spesial untuk suaminya. Bian pun datang kembali duduk di samping Sarah.


“Ian kamu kan besok ke ulang tahun Ar. Aku titip ini ya untuknya,”  ujar Sarah menyodorkan kotak kecil yang di atasnya terikat pita karena ia tidak mungkin bisa hadir di pesta itu.


Bian mengulurkan tangannya menerima kado pemberian dari Sarah. “Apa ini Ra?” tanya Bian menatap barang yang ada di tangannya.


“Kado ulang tahun untuknya,” jelas Sarah dengan wajah berbinar.


Alis Bian mengernyit dalam. “Sekecil ini?” cecarnya menatap Sarah lekat. “Jangan bilang kau tidak punya uang untuk membelikannya kado mahal, suamimu itu Ceo ternaman Ra, hadiah kamu jangan mau kalah sama yang lain,” jelas Bian membolak-balikkan kado Sarah.


“Ian kado ini memang kecil. Tapi, akan menjadi kado terindah dalam hidupnya,” ujar Sarah dengan percaya diri akan kadonya akan membuat suaminya sangat bahagia.


“Benarkah ini sangat spesial? Aku jadi penasaran, memang apa isinya?” tanya Bian penasaran menunggu jawaban dari Sarah.


“Rahasia,” jawabnya singkat hingga membuat Bian menghembuskan napas kasar.


“Baiklah aku pasti akan memberikan padanya.”

__ADS_1


“Terima kasih Bian,” ucap Sarah.


Obrolan mereka terhenti saat ibu Odah yang masih memasang wajah datar memanggil mereka untuk makan bersama. Di meja makan itu mereka akan kembali membujuk ibu Odah untuk menerima Nikita.


__ADS_2