
Malam telah larut mereka masih di acara pesta pernikahan yang menjadi tempat kerja Nikita dan Arsen. Sarah tak hentinya menarik sudut bibirnya, terkadang terkekeh, melihat Nikita berdiri di panggung melantunkan nada dengan goyangan heboh, meliuk-liukkan tubuh lenturnya di hadapan tamu undangan. Sejenak suasana hatinya menjadi baik, ingatan tentang pertemuannya dengan Bian telah hilang. Keputusan untuk ikut ke acara pernikahan bersama mereka sangat tepat membuatnya menjadi terus tertawa.
Sesekali arah pandangnya mengarah pada Arsen yang berada di tengah acara sedang melakukan tugasnya memotret.
“Terima kasih.” Ucapan yang terdengar dari Nikita setelah ia menyelesaikan sebuah lagu, lalu berjalan ke belakang duduk bersama dengan Sarah yang juga dari tadi duduk di sana.
“Niki kamu ngak cape dari tadi goyang begitu,” tanya Sarah melihat sahabatnya.
“Engap tahu, cape banget, badanku terasa mau patah. Tapi ini demi totalitas untuk menghibur,” jelas Nikita mengibaskan tangannya ke arah lehernya, dengan napas yang terengah-engah serta keringat yang bercucuran.
Sarah menarik sudut bibirnya mendengar jawaban Nikita ternyata walau terlihat gesrek dia memiliki sikap tanggung jawab terhadap pekerjaannya.
“Hebat kamu Nik, totalitas banget,” puji Sarah.
“Ia Ra, ini adalah batu loncatan untuk perjalanan aku untuk menjadi terkenal. Siapa tahu aku bisa menjadi artis terkenal nanti,” jelas Nikita akan mimpinya.
“Artis?”
“Ia Ra aku dari dulu ingin menjadi artis terkena.”
“Semoga cita-citamu ini tercapai, kamu sukses Nik.” Doa Sarah dengan tulus.
“Makasih Ra. Semoga kita semua akan menjadi orang yang berhasil. Terutama dia, aku yakin dia akan sukses.” Nikita menunjuk ke arah Arsen yang terlihat dari jauh sedang memotret pengantin dan tamu undang berdiri membidik kamera mengatur seraya mengarahkan pose pada orang yang akan diambil gambarnya dengan wajah tertutup masker.
“Sukses?” Alis Sarah mengernyit alisnya mendengar ucapan sahabatnya.
“Ia Ra, kamu ngak tahu ya, awalnya orang meragukannya karena ia tidak pernah memperlihatkan wajahnya, sekarang suami kamu itu banyak peminat fotonya di luaran sana, yang suka dengan hasil kerjanya. Mungkin hanya butuh beberapa tahun ia sudah bisa membuka studio foto sendiri,” jelas Nikita.
Sarah hanya diam menatap ke arah suaminya, selama ini ia benar-benar tidak tahu bagaimana pekerjaan Arsen.
“Coba liat Ra. kamu ngak bangga apa liat di berdiri begitu sambil memfoto, aku aja bukan istrinya gemes, cool banget,” puji Nikita seperti biasa bertingkah genit matanya berbinar melihat ke arah tubuh tinggi Arsen yang membidik kameranya.
“Ra kenapa sih dia harus selalu menutupi wajah ganteng, memang dia segitu takut ya di kejar ibu-ibu,” oceh Nikita yang tidak tahu jika sebenarnya pemuda ini sedang menyembunyikan identitasnya.
Sarah hanya menarik sudut bibirnya menatap kagum pada suaminya yang jauh di sana, yang terlihat sangat keren jantungnya tiba-tiba berdetak kencang untuk Arsen, ia kembali mengingat bagaimana suaminya itu memperlakukannya semalam dengan lembut dan mereka hampir saja melakukan malam ke dua namun gagal karena ingatannya tertuju pada Bian.
Nikita tersenyum melihat Sarah menatap ke arah Arsen dengan mata berbinar. “Ra udah liatinya, baru nyadar kalau dia keren,” goda Nikita membenturkan bahunya di bahu Sarah membuat lamunan Sarah buyar.
“Kamu ini,” protes Sarah.
“Sudah ah aku harus nyanyi lagi, ini sudah larut malam, tamu undangan juga pada pulang, ngak lama lagi kita pulang.” Nikita lalu meninggalkan Sarah kembali melantunkan nada untuk penonton.
Sarah duduk menopang dagunya dengan sebelah tangan terus menatap kagum pada suaminya itu, wajahnya memanas tak kalah pemuda itu melihatnya lalu melambaikan tangan padanya. Membuatnya salah tingkah karena telah tertangkap basah sedang memperhatikan Arsen dari jauh. Sarah lalu mengarahkan pandangannya pada Nikita yang menyanyi.
“Kenapa aku jadi malu-malu dan salah tingkah begini?” batin Sarah mengutuki ke konyolannya.
Arsen berjalan, meraih minuman lalu melangkah ke arah Sarah membuatnya semakin mati gaya, Arsen duduk di samping di istrinya.
“Cape ya?” tanya Arsen dengan nada cemas menatap Sarah menyodorkan minuman pada istrinya. “Ini sudah larut kamu pasti sudah mengantuk?” Arsen memang menolak jika istrinya ikut bersamanya, dia tidak mau jika Sarah merasa bosan dan lelah karena menunggu mereka.
Sarah menggelengkan kepala mengembangkan senyuman, lalu meraih minuman yang di berikan Arsen.
“Aku ngak cape, aku senang di tempat ini, suasananya ramai,” jelas Sarah lalu menenggak minuman yang di berikan oleh Arsen. “Ar. Aku bisa ikut lagikan besok?” pinta Sarah menggembangkan senyuman pada suaminya agar ia bisa ikut kembali melihat mereka bekerja, karena statusnya yang telah resmi pengagguran dari pada duduk di rumah sendirian lebih baik dia ikut.
“Ngak bisa, ini yang terakhir kalinya kamu ikut.”
“Ayolah ... Ayah ....” Sarah kembali mengenakan kata Ayah untuk membuat Arsen luluh dan seperti keinginannya, Arsen tersenyum padanya.
“Baiklah ... Bunda,” ucap Arsen mengacak puncak kepala istrinya dengan sayang menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
__ADS_1
“Makasih .... Ayah,” ucap Sarah mengalihkan wajahnya membuat Arsen menjadi bertambah gemas melihat tingkah istrinya lalu duduk semakin mendekat merangkul bahu istrinya.
“Terus panggil aku seperti itu. Itu panggilan kesayangan kita,” ujar pemuda tampan yang mengenakan masker ini, berbisik di telinga Sarah, membuat wajahnya seakan teraliri panas menjadi merah merona karenanya.
“Kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu, aku akan menunggumu di sini.” Sarah mengedarkan pandangannya malu-malu, jika terlihat suaminya merangkul tubuhnya, bermesraan di muka umum bak anak Abg yang sedang kasmaran.
“Udah selesai bunda, tamu undangan sudah pada pulang, mempelainya juga sudah ngak ada,” jelas Arsen pelan. “Tinggal menunggu tuh tetangga pengganggu.” Arsen menatap sinis ke arah panggung di mana Nikita bernyanyi walau jutek ia tak tega meninggalkan perempuan itu sendirian, apalagi setelah insiden Nikita di ganggu oleh penonton genit ia tidak akan pulang jika tidak bersama Nikita.
Sebuah sedan mewah terhenti di depan lokasi diadakan pesta pernikahan tempat mereka bekerja, suasana telah mulai lengang.
“Dia ada di dalam bos,” jelas Mike mengintip melalui kaca spion menatap pemuda yang memasang wajah dingin. Mike lalu turun dari mobil membuka pintu mobil untuk majikannya.
Bian turun dari mobil menatap tempat acara dia ingin bertemu dengan kekasih hatinya.
“Dia bersama dengan suaminya, bos,” ucap Mike yang lalu mendapatkan tatapan tajam dari Bian yang tidak suka mendengar ucapan Mike jika kekasih hatinya telah memiliki suami. Bian berjalan lalu berjalan masuk ke dalam.
Di tempat yang sama Sarah dan Arsen duduk berdampingan menunggu Nikita menghibur sisa yang orang berada di pesta. Sesekali mereka tertawa bersama melihat tingkah Nikita yang menggila memungut sawera dari penonton.
Bait lagu yang di nyanyikan oleh Nikita telah selesai, ia lalu menghampiri sepasang suami istri itu.
“Ayo pulang,” ajak Arsen dengan ketus pada gadis ini yang masih terlihat mengatur napas setelah menghibur dengan lantunan nada.
“Nanti Ar, mumpung di sini ada Ara. Kita bersenang-senang dulu, dangdutan, kita duet,” ajak Nikita seperti biasa menggoda si tuan jutek.
Sarah hanya tersenyum mendengar Nikita mengajak mantan ceo ini dangdutan hal yang tidak pernah di lakukan oleh Arsen seumur hidupnya.
Arsen menbulatkan matanya.“Hei kau gila ya! Mengajakku dangdutan,” hardik Arsen lagi-lagi membuat Arsen kesal.
“Ayo lah, kita duet, minimal kamu joget saja, biar kita dapat saweran, lumayan tambah-tambah buat beli skin care,” paksa Nikita.
“Ogah.” Arsen melipat tangan di dada membuang pandangannya menolak rencana gila tetangga pengganggu.
“Apa! Otakmu memang sudah geser karena kebanykan goyang. Kau mengajakku berduet menyanyikan lagu mandul. Menangnya aku mandul,” berang pemuda ini. Tatapan tajam di arahkan Arsen pada Nikita.
“Uppss. Aku akan menyanyikan lagu itu.” Nikita menutup mulutnya kemudian terkekeh, lari meninggalkan Arsen menuju panggung sangat senang mengganggu pemuda jutek ini.
“Hei Niki jangan lari kau, awas jika kau menyanyikan lagu itu,” teriak Arsen lalu mengejar Nikita menuju panggung mencegah agar gadis gila itu tidak menyanyikan lagu.
Sarah tertawa melihat tingkah konyol Arsen dan Nikita yang berkejaran seperti anak kecil. Pemuda itu benar-benar selalu di pusingkah dengan tingkah Nikita. Tawa Sarah terhenti saat pandangannya pada pemuda yang telah berjalan ke arahnya. Tubuhnya seketika bergetar, wajahnya berubah panik melihat Bian berada di tempat yang sama dengan mereka. Rasa ketakutan terlintas akan Bian yang bertemu dengan Arsen dan masalah besar akan terjadi.
“Bian,” lirih Sarah menatap sekilas Arsen yang bersama dengan Nikita di panggung.
Bian telah berada di depan Sarah tanpa kata pemuda ini lalu memeluk tubuh gadis yang ia cintai, dari tadi hatinya tak tenang, tentang Sarah yang telah menikah dan ia mencoba untuk tidak mempercayainya.
“Ara kau hanya milikku kan?” pemuda ini memeluk erat tubuh kekasih hatinya, hingga Sarah merasa sesak.
“Bian lepaskan.” Sarah mencoba melepaskan pelukan itu melihat ke arah Arsen dan Nikita, namun ia tidak bisa pelukan itu semakin erat menjeratnya.
Arsen sedang bertengkar dengan Nikita tentang lagu.
“Nikita jangan menyanyikan lagu itu. Aku tidak suka.” Arsen mencoba merebut mic dari Niki.
“Jadi aku harus menyanyikan lagu apa?” Nikita yang telah memenggang mic hendak menyanyi. Namun matanya membulat saat melihat ke arah Sarah yang mencoba membebaskan diri dari pelukan seorang pemuda itu.
“Ar ... haredang Ar ... panas,” ucap pelan Nikita menatap ke arah Sarah yang di peluk.
Arsen menatap heran pada Nikita yang tiba-tiba diam, berbicara aneh. Arsen lalu mengarahkan arah pandangnya ke arah manik mata Nikita.
“Bian!” ucap Arsen hatinya telah panas, tangannya seketika mengepal, emosinya telah naik melihat istrinya di peluk oleh mantan kekasihnya.
__ADS_1
“Haredang panas ... panas ... ini,” ucap Nikita melihat Arsen yang telah berjalan meninggalkannya terlihat penuh amarah, ia sangat tahu jika Arsen sangat mencintai istrinya, pemuda itu pasti telah terbakar cemburu dan suasana akan memanas.
“Lepaskan dia! Berani-beraninya kau menyentuhnya,” murka Arsen suaranya meninggi dengan tatapan membunuh melihat pemuda lain memeluk tubuh wanita yang dicintai lalu menarik tubuh Bian dengan kasar agar menjauh dari Sarah.
Pelukan itu terlepas tubuh Bian terhuyung ke belakang menjauh dari Sarah.
“Dia kekasihku.” Bentak Bian tak mau kalah suaranya juga penuh dengan amarah pada pemuda yang tidak dapat ia liat jelas wajahnya karena menggunakan masker.
“Dia istriku.” Tunjuk Arsen lalu berdiri membelakangi sarah melindungi agar pemuda itu tidak dekat dengan istrinya.
Mendengar pemuda bermasker mengakui kekasihnya sebagai istrinya membuat Bian semakin meradang, dia tidak akan percaya.
“Ngak mungkin ... dia pacarku!” Tegas Bian, tatapannya penuh amarah.
“Itu dulu, aku telah menikah dengannya, sekarang ia telah menjadi istriku. Dia milikku,” ucap Arsen dengan penuh penekanan atas status sarah. membuat Bian sudah tidak dapat mengendalikan dirinya.
Brak .... Bian melayangkan tinjunya ke arah wajah Arsen yang tertutupi masker, membuat pemuda terhuyung. Arsen tidak mau kalah ia juga membalas dengan melayangkan pukulan di wajah Bian.
Baku hantam pun terjadi suasana menjadi riuh, semua yang ada di sana mendekat ke arah mereka melihat perkelahian duel dua pemuda memperebutkan satu wanita.
Sarah dan Mike mencoba melerai perkelahian Arsen dan Bian yang semakin bringas tak ada yang mau mengalah dan berhenti saling menyerang.
“Ar! Bian hentikan, cukup.” Sarah telah berada di antara dua pemuda yang seketika menghentikan serangannya setelah menyadari Sarah telah di tengah mereka.
“Ra jangan menghalangiku!” teriak Arsen mencoba menerobos tubuh Sarah untuk kembali menyerang Bian namun tertahan.
“Lepas aku Mike! Aku harus menghajarnya.” Bian juga mencoba maju mendorong tubuh asistennya.
“Sudah Bos, hentikan.” Mike berdiri membelakangi Bian.
“Aku akan mem ....” ucapan Bian terhenti ketika melihat wajah yang berada di belakang Sarah saat masker penutup wajahnya telah terbuka akibat perkelahian mereka.
“Arsen!” Bian terpaku melihat Arsen berada di antara mereka sejenak ia terdiam mencerna semua.
Mendengar Bian yang mengenalinya membuat Arsen meraba wajahnya yang ternyata telah terpampang jelas.
“Ara kau dan Arsen?” tanyanya seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat dua saudara tiri ini mengakui telah menikah.
“Ia Bian. Dia suamiku, Aku dan Arsen telah menikah,” jelas Sarah mantap. Membuat hati Bian seakan dihujam jutaan belati. Gadis yang ia cintai telah menikah dengan pemuda lain.
“Kau berbohong, kau tidak mungkin menikah dengannya. Kau sangat membencinya,” ucap Bian dengan tubuh lemah seakan tak bertulang namun masih tak terima dengan kenyataan yang ada. Menggingat jika Sarah dan Arsen hanyalah musuh.
“Aku sangat mencintainya, Aku akan melakukan apa untuknya,” sambar Arsen.
“Dia suamiku sekarang,” tambah Sarah.
“Bagaimana mungkin kau menikah dengannya, kau tidak mencintainya. Kau hanya mencintaiku,” jelas Bian tentang fakta hati Sarah.
Ucapan Bian membuat hati Arsen yang berdiri di belakang Sarah juga ikut sakit, ia sadar jika yang di katakan rivalnya itu benar adanya, dia hanya memiliki Sarah bukan hatinya, hanya ia yang mencintai dan mengingikannya tapi tidak dengannya . Hati gadis yang ia cintai masih kuat terikat dengan Bian.
“Sudahlah Bian, hubungan kita telah berakhir. Lupakan aku. Aku sudah menikah, aku telah menjadi istri Arsen.” manik mata sarah tampak berkaca-kaca kembali mengucapkan kata yang menyakitkan untuk Bian pemuda yang sangat mencintai dan juga telah berkorban banyak untuknya. Sungguh ia tidak tega mengucapkan kata yang telah menyakitkan hatinya.
“Ayo Ar.” Sarah menarik tangan Arsen untuk pergi meninggalkan tempat itu meninggalkan Bian terdiam mematung mendengar kembali kata perpisahan untuknya yang telah terlontar dua kali.
“Ara aku tidak tahu bagaimana kau bisa menikah dengannya. Yang aku tahu Kau tidak mencintainya, cintamu hanya untukmu. Aku pastikan aku akan merebutmu darinya,” teriak Bian pada Sarah yang semakin menjauh darinya.
Arsen menghentikan langkahnya amarahnya semakin tak terkedali mendengar Bian akan merebut Sarah darinya. Tentu saja ia sangat takut jika itu terjadi, wanita yang ia cintai akan memilih Bian cintanya dari pada bersamanya. Apa lagi melihat cinta Bian yang juga sangat besar dan akan menerima apa-pun keadaan Sarah.
“Sudahlah Ar ayo kita pergi.” Sarah mengarahkan tubuh Arsen meninggalkan tempat itu.
__ADS_1