CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
kekesalan Arsen


__ADS_3

Arsen memutuskan untuk pulang ke rumah setelah mendampingi Nikita di acara pemutaran film perdananya. Sekelebat bayang Sarah yang tadi muncul di sana, seakan mengganggu pikirannya.


Pemuda tampan ini masuk ke dalam kamar Sarah hanya untuk mengenang. Seperti yang sering ia lakukan saat ia merindukan gadis itu. Arsen duduk di pinggiran ranjang Sarah, matanya menyapu seluruh ruangan mengamati tempat yang bisa membuat sedikit rindunya berkurang.


Arsen menghirup aroma kamar yang seakan menyisakan aroma tubuh Sarah. Entah mengapa kali ini ia seakan merasakan jika istrinya itu, berada di dekatnya. Arsen berbaring indra penciumannya menghirup wangi sampo yang biasa Sarah kenakan seakan melekat di bantal itu.


“Kenapa aku merasa dia ada di sini.” Arsen semakin mengendus bantal Sarah yang menenangkan hati, mendekap guling dengan erat. Suasana kamar membuatnya hatinya sedikit tenang hingga tidak terasa Arsen terlelap di kamar Sarah.


***


Sarah telah kembali dari rumah Bian melangkahkan kaki menuju kamar. Saat hendak memegang handle pintu, satu tepukan membuat Sarah tersentak.


Gadis cantik ini berbalik menatap orang yang berdiri di belakangnya.


“Papa.” Menatap heran.


“Ra, jangan masuk ada Arsen,” ucap Wisnu mencegah Niatnya Sarah.


Sarah menatap heran mengapa Arsen bisa tidur di kamarnya.


“Dia memang sering tidur di kamar kamu, apalagi saat dia merindukanmu,” jelas Wisnu membuat Sarah merasa bersalah mendengarnya.


“Kamu istirahat di kamar yang lain saja,” saran Wisnu ia menghormati permintaan Sarah tidak ingin bertemu dengan Arsen.


“Baiklah Pa.” Sarah menarik napas lega hampir saja ia bertemu dengan Arsen. Andaikan tadi ia masuk ke dalam kamar entah apa yang terjadi jika ia bertemu dengan Arsen.


Sarah berjalan meninggalkan pintu kamar bersama dengan papanya.


“Ra saat ini ia pasti sangat merindukanmu. Kamu tidak ingin menemuinya?”


“Ara ngak punya keberanian Pa untuk bertemu dengannya. Sarah sudah membuatnya patah hati,” jelas Sarah.


Wisnu mengembuskan napas berat akan hubungan rumit dua anaknya, tapi ia memutuskan tidak ikut campur.


****


Pagi telah menyambut Arsen telah bersiap dengan memakai setelan kerjanya membuat wajahnya tampannya semakin bersinar, Arsen turun untuk menikmati sarapan bersama papanya. Di ruang makan papanya telah duduk menunggunya sambil membaca koran.


“Pagi Pa,” sapa Arsen duduk di berhadapan dengan papanya yang di tarik oleh pelayan untuknya.


“Pagi Ar.” Wisnu melipat koran di tangannya.


Arsen tertegun melihat menu sarapan yang terhidang di meja makan besar itu. Sajian berupa nasi goreng yang kembali mengingatkannya akan kenangan bersama dengan Sarah.


“Ada apa Ar?” tanya Wisnu saat melihat Arsen hanya diam saja.


“Ha ... ngak apa-apa Pa.” Seperti biasa pemuda ini di layani oleh pelayan.

__ADS_1


Arsen mulai menyendokkan makanan ke mulutnya, alisnya mengernyit sambil mengunyah makanan, heran saat merasakan rasa masakan itu.


“Ara,” gumamnya teringat akan rasa yang sama persisi dengan buatan istrinya.


“Kamu bilang apa Ar?” tanya Wisnu.


“Engak ada-ada Pa.” Arsen kembali menikmati menu sarapannya dengan hati semakin memikirkan Sarah merasa aneh kenapa ia selalu merasakan kehadiran Sarah yang terasa begitu nyata.


Wisnu menarik garis bibirnya menatap Arsen yang makan dengan lahap, kemudian pandangannya menatap jauh pada Sarah yang berdiri di belakang tembok sedang mengintip mereka.


Sarah tersenyum puas telah menyiapkan menu sarapan untuk Arsen. saat ia hanya bisa menatap dari kejauhan wajah tampan suaminya tanpa bisa mendekapnya sungguh menyesakkan dada saat rindu itu butuh pelukan agar sedikit berkurang.


“Ar ngak lama lagi Gerald menikah kan?” Wisnu mencoba berbincang dengan putranya yang dari tadi hanya diam saja.


“Ia.” Arsen mengangguk menjawab singkat.


“Papa ngak bisa datang.”


Arsen menatap wajah papanya, Gerald adalah anak rekan bisnis papanya.


“Kenapa Pa?”


“Kamu saja, itu juga sama saja, Papa takut kecapean di sana akan banyak orang,” alibi Wisnu ia hanya akan menemani Sarah di rumah, menghabiskan waktu bersama putrinya yang tidak lama lagi akan pergi.


“Baiklah.”


Arsen dan Wisnu menyudahi obrolan mereka tentang pernikahan Gerald sebab Arsen harus segera ke kantor


Di gedung perkantoran yang menjulang tinggi seorang pemuda tampan duduk di kursi kebesarannya sedang termenung, setelah menghadiri acara Nikita suasana hatinya terasa sangat buruk pikirannya menjadi kacau, bayangan Sarah seolah terus berada di sekitar, mulai bayang Sarah di bioskop, kamar yang wangi dengan tubuh Sarah hingga sarapan yang sama rasanya dengan masakan istrinya. Arsen terus saja termenung semua kejadian yang ia alami membuatnya semakin merindukan istrinya hingga malas untuk melakukan aktivitas.


Dret ... dret ....


Getar ponsel di meja membuat Arsen tersentak dari lamunan, ia pun bergegas meraih ponselnya kemudian menatap nama yang tertera di layar.


“Nikita lagi, mau apa lagi pengganggu ini?” ucap Arsen malas kembali menaruh benda persegi itu. ia sedang tidak ingin menjawab panggilan Nikita, Suasana hatinya sudah buruk ia bisa gila jika harus menghadapi kegilaan gadis genit itu.


Suara pintu ruangan terbuka membuat Arsen mengarahkah pandangannya. pemuda ini menarik napas kasar saat asistennya mendekat yang pastinya akan memberikan tumpukan pekerjaan.


Dion menghampiri Arsen dengan ponsel tergenggam di tangannya.


“Bos telepon dari Nikita,” sapa Dion lalu memberikan ponselnya pada Arsen.


Beginilah si gadis pengganggu ini, Dia tidak akan menyerah dengan mudah saat Arsen tidak menjawab teleponnya, maka dia akan menggoda Dion agar ia bisa menghubungi Arsen.


“Aku tidak ingin menerimanya, dia pasti ingin merepotkan aku,” ketus Arsen mengalihkan pandangannya bersandar di kursi.


“Dia memaksa.” Kali ini Dion yang memaksa Arsen. asistennya ini tidak berhenti menyodorkan ponselnya membuat pemuda Arsen menjadi jengah dengan ulah asistennya.

__ADS_1


“Baiklah.” Arsen berdecak kesal menerima ponsel dari Dion dengan wajah malas lalu mengarahkannya ke telinga.


“Em ... ada apa?” Arsen dengan jutek.


“Ar kau pasti datangkan ke pesta pernikahan Gerald? Jemput aku ya, supaya media melihat kemesraan kita dan semakin bertanya-tanya?” Nikita dengan suara mengalun manja.


“Aku tidak mau pergi denganmu!” suara Arsen meninggi.


“Ayolah jemput aku di sana banyak media, bantu aku promoin film dan biar semakin di kenal.” Nikita.


“Pergi saja sendiri! jangan merepotkan aku. Jelangkung saja datang sendiri.” hardik tuan jutek


“Ya, ampun itu mulut tega banget sih, mana ngak bisa di skip lagi. Dari dulu kau selalu menyamakan aku dengan makhluk halus.” Nikita.


“Ia karena kau perempuan alam gaib, di mataku kau itu antara ada dan tiada.” Tuan jutek.


“Ya ampun tega banget kau kalau ngomong ngak pernah di saring, akuarium saja ada filternya.” Nikita.


“Bodo amat. Aku matikan.” Arsen berdecak kesal.


“Baiklah...terima kasih banyak sudah mau jemput aku, aku tunggu  di rumahku ya, by ....” Nikita memutuskan sambungan membuat Arsen murka.


“Hei Niki! Aku belum bilang setuju, dasar perempuan menyebalkan,” berang Arsen seketika berdiri amarahnya telah naik karena tingkah Nikita yang menyebalkan hingga ia telah menggantung tangannya yang memegang ponsel Dion ingin membantingnya.


Melihat bosnya berdiri murka dan akan melampiaskan amarahnya pada ponsel kesayangannya membuat Dion panik lalu mendekat ke arah Arsen.


“Bos jangan di banting, itu hp gambar apel digigit! Mahal,” cegah Dion menegas kata mahal mengingatkan bosnya jika itu bukan miliknya.


“Aku tidak peduli! Dia menyebalkan. Pengganggu!” Arsen semakin tersulut emosi telah siap melampiaskan ke marahannya dengan ponsel Dion agar hati puas ia memang sedang mencari pelampiasan akan pikirannya yang kalut tentang Sarah.


“Bos kalau hpku yang bergambar apel tergigit itu dibanting, bulan ini aku yang gigit jari, buat beli lagi,” jelas Dion dengan wajah memelas memohon agar Arsen tidak membanting ponselnya.


Permohonan Dion membuatnya tak tega. “Aaaa!” Arsen berteriak kesal membuang ponsel itu ke meja dengan kasar.


Arsen kembali duduk di kursi kebesarannya Nikita telah sukses membuat kesal.


“Menjeputnya memang dia siapa?” gerutu Arsen.


Dengan cepat Dion mengulur tangannya meraih ponselnya dari meja Arsen kemudian mendekapnya dengan sayang.


“Uh, selamat hampir saja.” Dion menarik napas lega hampir saja bulan ini ia gigit jari, ini merupakan pelajaran bagi Dion ia tidak akan membiarkan ponselnya di pakai Nikita untuk menghubungi Arsen lagi, hanya karena rayuan maut gadis genit ini hampir saja ponselnya menjadi korban.


Sejenak Dion menatap Arsen yang memasang wajah dingin, ia tidak pernah melihat Arsen bersikap seperti ini pada Nikita, pasti ada sesuatu yang membuat perasaan bosnya ini menjadi kacau.


“Huh lebih baik aku tidak berada di dekatnya, sebelum jiwa ingin nampolnya berkobar,” batin Dion mencari aman untuk dirinya, ia tidak mau ikut terkena imbasnya juga.


“Bos aku keluar dulu,” pamit Dion meninggalkan Arsen.

__ADS_1


Arsen hanya diam mengalihkan pandangannya pada kaca yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. Nikita telah sukses membuatnya bertambah kacau.


Arsen teringat jika Gerald akan menikah dengan Susan beberapa hari lagi, sahabatnya itu akan mengelar pernikahan bisnis yang megah dan semua orang sedang membicarakan pernikahan itu, karenanyalah Nikita meminta datang bersama sebab itu akan semakin membuat Nikita terkenal. Arsen hanya berharap Gerald bahagia dengan pernikahannya walau tanpa dasar cinta.


__ADS_2