
“Bisakah aku meminta kado ulang tahun darimu, yaitu meminta hakku sebagai suamimu.”
Tubuh Sarah seketika membeku karena ucapan Arsen, detak jantungnya semakin menggila, dengan susah payah ia menelan salivanya mendengar permintaan seorang suami pada istrinya.
Sarah hanya diam mematung tidak tahu harus berbuat apa, ketika Arsen meminta kado dari dirinya. Ia pun tidak tahu, bagaimana dengan perasaannya saat ini? sebab semakin ia terus menahan hatinya agar tidak terbuka untuk Arsen, namun ia tak kuasa sekarang bahkan jantungnya juga selalu berdetak kencang saat berdekatan dengan suaminya.
Perasaan yang juga ia rasakan saat bersama dengan Bian dulu. Wajah Sarah berubah menjadi sangat tegang, dia dalam kebimbangan akan hatinya, apa dia harus menerima Arsen.
Arsen kemudian mengulurkan kedua tangannya menangkup wajah cantik istrinya, sorot mata mereka bertemu.
“Ara aku minta padamu, terimalah aku sebagai suamimu, kita jalani pernikahan kita sebagai suami istri. Jadilah istriku seutuhnya,” pinta Arsen dengan lembut menatap dalam manik mata milik istrinya.
Tak ada kata yang terucap dari gadis ini, ia masih bergumam dengan perasaannya. Arsen memajukan wajahnya perlahan, semakin mendekat ke arah wajah cantik istrinya. Tubuh Sarah seakan membeku tak bisa ia gerakan saat wajah tampan Arsen telah semakin mendekat dan ia tahu suaminya ini akan menciumnya, tapi ia tak kuasa menolak. Tangannya terkepal saat ia menahan ledakan dalam hatinya
Bibir Arsen telah berhasil menempel, ia hanya mematung, saat bibirnya dillumat oleh Arsen dengan lembut. Sarah menutup matanya, entah mengapa ia menikmati saat suaminya terus mellumat bibir ranumnya, memberikan kecupan kecil, serta menyapu dengan lidah bibir bawahnya.
Cecapan, hisapan membuat ciuman Arsen semakin dalam dan menuntut, napasnya mulai memburu, hingga sebuah gangguan datang.
“Ara, Ar. Kami sudah siap!” Suara teriakan keras dari luar pintu rumah mereka membuat tautan bibir itu terhenti.
Arsen melepaskan ciumannya menatap wajah Sarah yang memerah napas mereka telah terengah-engah. Mereka lalu kompak menatap ke arah pintu.
Arsen memutar bola mata malas melihat lagi-lagi tetangga menyebalkan mengganggu kemesraannya bersama dengan istrinya.
“Dasar pengganggu,” gerutu Arsen menghembusakan napas kasar. “Ya tunggulah di luar kami akan siap-siap dulu,” teriak Arsen dengan kesal.
Sarah kemudian tertunduk malu berjalan cepat masuk ke dalam kamar sambil memikirkan, apa yang telah ia lakukan tadi dengar suaminya.
“Ara,” panggil Arsen saat melihat perempuan itu meninggalkannya dengan langkah seribu.
Sarah telah berada di dalam kamar mengusap bibirnya dengan punggung tangan, pikiran jernih telah ia dapatkan. “Apa yang telah aku lakukan tadi? Kenapa aku hanya diam tidak bisa menolak ketika dia menciumku. Ada apa dengan perasaanku mengapa aku juga menikmatinya. Apa yang harus kulakukan dia meminta haknya, aku tidak siap untuk itu, aku juga tidak tahu bagaimana perasaanku padanya,” batin Sarah bingung dengan perasaannya serta keputusan apa yang akan ia berikan untuk suaminya.
Mereka telah bersiap pergi bersama untuk makan malam, merayakan ulang tahun Arsen. Pasangan ini keluar dari pintu rumah di sambut oleh tetangga pengganggu yang dari menunggu mereka keluar dari dalam rumah.
“Ayo kami sudah siap.” Kompak mereka memasang wajah ceria berdiri di hadapan Arsen.
“Baiklah. Ayo pergi kalian yang pilih di mana tempatnya.” ucap Arsen yang berdiri di depan pintu bersama dengan Sarah yang berdiri di sampingnya.
“Ayo Niki pilih tempat yang makanannya paling enak, mumpung ditraktir,” ucap mami Rena dengan antusias.
“Iya Mami tenang saja.” Nikita menaikkan jempolnya.
Mereka kemudian berjalan ke arah motor masing-masing dan mengendarainya, meninggalkan rumah kontrakan mereka. Mengikut arahan yang di berikan oleh Nikita
Sepanjang perjalanan Sarah hanya diam dengan pikirannya, ia sangat tegang dan takut, jika Arsen meminta haknya dan ia akan melayani suaminya. Jujur ia tidak siap untuk melakukan hal itu dengan suaminya, ia merasa hubungannya dengan Arsen tidak boleh lebih jauh lagi. Ia takut patah hati lagi saat Arsen juga akan meninggalkannya ketika mamanya telah tahu keberadaan mereka dan memisahkan ia dari suaminya.
Sarah terus dengan lamunannya hingga tak menyadari jika motor mereka telah menepi dan mereka telah sampai di tujuan yang di pilih Nikita. Sebuah tempat makan yang terlihat ramai.
“Ara ....” panggil Arsen saat melihat istrinya hanya termenung tidak beranjak dari motor. “Ara!” suara Arsen menjadi naik agar Sarah berhenti termenung.
“Ha ....” sarah tersentak kemudian memperhatikan sekitar ternyata mereka telah sampai.
“Kita sudah sampai,” jelas Arsen.
Sarah pun turun dari motor ikut bergabung dengan Nikita, Rena dan Ale yang sudah berdiri di depan restoran
“Kita akan makan di sini, lihat ramaikan kayaknya enak,” jelas Nikita menunjuk ke dalam dan memang terlihat sangat ramai.
“Benar ini enak? Kamu pernah makan di sini ngak?” tanya Rena memasang wajah tak yakin dengan pilihan tempat Nikita.
“Aku juga ngak pernah makan di sini,” ucap Nikita sambil menyengir.
“Sudah ayo masuk, ini pilihan kalian kan!” ajak Arsen berjalan lebih dulu dan di ikuti oleh mereka.
“Ia aku juga sudah sangat lapar, aku akan Makan banyak nanti.” Rena melangkah masuk dengan semangat. “Ayo Ale kita makan enak.” Rena menarik tangan putra kesayangannya.
__ADS_1
Mereka pun masuk mulai memilih tempat duduk, Nikita pun memanggil pelayan untuk memesan makanan. Tak bererapa lama pun pelayan datang membawa daftar menu.
“Pesan apa?” sapa pelayan dengan rama lalu telah bersiap mencatat apa yang akan mereka pesan.
Nikita dan Arsen membaca daftar menu yang tertulis, menatapnya dengan lekat masih mencari makanan yang terbaik. Membuat mami Rena tak sabar.
“Aku pesan soto satu, tapi nggak usah pakai lontong, diganti nasi aja biar kenyang,” ucap Mami Rena yang memesan tanpa melihat daftar menu. Membuat mereka kompak terbelalak perhatian semua teralihkan pada mami Rena, bahkan pelayan terlihat menahan tawanya mendengar ocehan perempuan ini.
“Minumnya ....” Rena berhenti sejenak memikirkan minuman apa yang akan ia pesan.
“Ale Marimas Mi,” timpal Ale memesan juga sama seperti ibunya.
“Oh ia minumnya Marimas jeruk, tapi ingat ya jeruknya, jangan yang jeruk minum jeruk,” oceh Rena tiada henti, membuat wajah bersinar Arsen setelah mendapatkan ciuman dari Sarah menjadi masam karena wanita cerewet ini.
“Hei kalian pikir ini warung tenda apa!” sembur Arsen yang merasa malu akan tingkah konyol ibu dan anak ini, ingin rasanya ia segera pulang tahan akan malunya.
“Iya Mi jangan malu-maluin deh,” timpal Nikita yang juga mengingatkan sang pemilik rumah untuk menjaga sikap. Membuat Rena berdecak kesal.
“Ya elah. Diam kamu Nik ngak usah berisik, biasanya juga makan makanan kondangan aja belagu!” sembur Rena, akhirnya dua wanita yang tadi kompak karena traktiran sekarang mulai kembali saling menyerang seperti biasa.
Perdebatan Nikita dan Rena tak digubris oleh Sarah, dia hanya terus diam tak bersemangat, pikirannya menerawang jauh akan permintaan istrinya.
“Ara kamu pesan apa?” tanya Arsen menatap aneh pada Sarah yang dari tadi terlihat murung.
“Ara!” panggilnya lagi membuat Sarah sontak melihat ke arah Arsen.
“Kamu kenapa dari tadi diam saja,” tanya Arsen.
“Ia Ra. Kamu sakit ya?” timpal Nikita yang juga menyadari jika sahabatnya ini lebih banyak diam.
“Tidak aku baik-baik saja,” Sarah memaksakan senyuman.
“Dia pasti sedang memikirkan kata-kataku tadi,” batin Arsen menatap wajah murung istrinya.
Makan malam traktiran Arsen hanya di isi dengan ocehan antara Rena, Ale dan Nikita sesekali di timpali oleh si tuan jutek,
“Ia kakak, Ale jarang-jarang ini makan enak, Ale Cuma makan enak kalau ada kondangan, sama pas lagi sakit,” ucap anak kecil ini dengan polos sambil mengunyah makannya.
“Kok sakit Ale?” tanya Arsen mengernyitkan dahinya.
“Ia kak, Kalau udah sakit baru ditanyain mulu, mau makan apa nak? kalau sudah sembuh sudah ngak di tanyain lagi,” ucapnya dengan pipi mengembung mengunyah makanan.
“Ya elah mami lidah sudah pahit karena sakit, udah susah makan baru di tawari makan enak, kebangetan deh.”
Rena terbelalak mendengar pengakuan anaknya. “Ale.” Nada suara Rena penuh penekanan pada anaknya kemudian tersenyum pelik ke arah Arsen dan Nikita.
"Ale kan memang malas makan, sampai mami beliin vitamin makan," alibi Rena.
"Ya elah Mi, biar minum vitamin juga kalau tiap hari sate juga siapa yang napsu makan," ketus Nikita.
"Sate." Alis Rena mengernyit.
"Ia. Sayur, tempe, model Ale mah ngak usah di kasi vitamin kasih makan aja terus ayam goreng pasti makan banyak."
"Benar itu kak Niki, Ale suka ayam goreng," timpal Ale.
“Ih mami kamu memang pelit banget!” sembur Arsen mendengus mendengar pengakuan anak si pemilik rumah.
Arsen, Nikita terus mendengarkan celetukan Ale dan Rena, sedangkan Sarah tak sedikit pun menimpali Hingga
makan malam itu berakhir tak ada suara yang keluar dari perempuan ini.
****
Mereka telah berada di depan rumah kontrakan.
__ADS_1
“Makasih ya ganteng, Ara, traktirannya, besok-besok lagi,” ucap Rena dengan gaya seperti biasa genit menggoda Arsen.
“Ia sering-sering saja, Ar,” timpal Nikita.
“Kalian mau bikin aku bangkrut.” Arsen kembali memasang wajah jutek untuk dua tetangganya.
“Sekali lagi terima kasih Ayah,” goda Nikita dan Rena berkata sama seperti Ale lalu kompak berlari setelah menyebut kata ayah pada Arsen.
Arsen menarik sudut bibirnya entah mengapa saat mendengar kata ayah, ia selalu berbangga hati. Merasa ia sangat dihargai dan kehadirannya sangat berarti bagi mereka.
Arsen masuk menyusul Sarah yang telah masuk lebih dulu ke dalam rumah.
“Ara!” panggil Arsen, mengikuti langkah kaki Sarah.
Tubuh Sarah mulai menegang mendengar panggilan suaminya, takut jika ia akan meminta haknya.
“Ara, kenapa kamu diam saja dari tadi,” tanya Arsen mulai membahas perihal yang sedang di pikirkan Sarah.
“Ar ... aku,” ucap Sarah terbata.
“Aku tidak akan memaksamu melakukannya. Aku akan selalu sabar menunggumu sampai kapan pun, hingga kau siap. Bahkan jika kau tidak akan pernah siap melakukannya denganku, aku akan tetap bersamamu selamanya,” lirih Arsen menyadari jika cinta Sarah mungkin tidak akan pernah dia dapatkan, dihati istrinya hanya ada satu nama yang sedari sejak dulu dan itu adalah Bian.
“Ar ....”
Kembali kata-kata Arsen menusuk relung hati Sarah, membuktikan jika pemuda yang ada di hadapannya ini sangat mencintainya. bahkan tanpa balasan darinya, membuat hatinya kembali berdesir.
“Masuklah tidur, istirahat, kau pasti lelah karena telah menyiapkan semuanya,” kata Arsen tersenyum pada istrinya. “Aku masih mau menyelesaikan pekerjaanku,” ucap Arsen berjalan meninggalkan Sarah kemudian duduk di sofa.
“Apa yang harus aku lakukan, cintanya padaku sangat besar dan tulus, haruskah aku membuka hatiku padanya dan menghapus semua ketakutanku tentang semua perbedaan kami, Walau bagaimana pun dia adalah suamiku sekarang, aku tidak boleh mengacuhkannya dan mengecewakannya lagi, begitu banyak pengorbannnya untuk, dia adalah suamiku berhak atas diriku,” batin Sarah.
“Ar!” panggil Sarah menatap Arsen yang duduk di sofa yang telah bergelut dengan kameranya.
“Eeemm,” dehem Arsen.
“Ar ... bisakah kita memulainya besok?” tanya Sarah niatnya tadi untuk menolak Arsen ia urungkan dan memutuskan mengatakan ia.
“Memulai apa?” tanya Arsen tak mengerti arah pembicaraan Sarah, menatap kameranya sambil mengingat agenda yang apa yang akan mereka kerjakan besok bersama Sarah.
“Tentang kita yang akan menjalani hubungan sebagai suami-istri yang selayaknya dan memberikan hakmu. Kita akan memulainya besok,” ucap Sarah pelan tertunduk malu.
Arsen mendongak tercengang rahangnya seakan ingin jatuh mendengar kata-kata yang di ucapkan istrinya yang akan menjalankan rumah tangga bersamanya bahkan sepaket dengan haknya yang diperjelas oleh istrinya. Pemuda ini terdiam mematung menatap wajah Sarah lekat mencari kebenaran dari wajah istrinya.
“Ar ....” panggil Sarah yang menatap Arsen hanya membeku. “Ar!” panggilnya sekali lagi.
Arsen tersentak dari lamunannya kemudian berjalan mendekat ke arah Sarah memegang bahunya.
“Kamu bilang apa tadi Ra?” tanya Arsen seolah tak percaya gadis yang ia cintai akan menjalin kehidupan rumah tangga bersamanya.
“Kita akan memulai besok sebagai suami-istri, aku akan mencoba untuk membuka hatiku, menjalani kewajibanku sebagai istri,” ulang Sarah pelan akhirnya akan mencoba hidup bersama Arsen membuang ketakutannya.
“Benarkah, kamu mau menerima aku sebagai suamimu?” tanya Arsen memastikan.
Sarah mengangguk pelan, Arsen mengembangkan senyuman melihat anggukan tanda ia dari istrinya. Ia sangat bahagia serasa ada jutaan kembang api yang meledak di hatinya mendengar perempuan ini akan mencoba membuka hati untuknya.
Arsen menarik tubuh Sarah ke dalam pelukannya mendaratkan kecupan bertubi-tubi di puncak kepala istrinya. “Terima kasih karena kau mau menerimaku,” ucap Arsen terharu.
“Kenapa bukan malam ini?” tanya Arsen menggoda istrinya.
“Aku lelah,” kata Sarah pelan menyembunyikan wajah meronanya di dada suaminya.
“Tapi, malam ini aku sudah bisa tidur seranjang dengamu kan?” Arsen semakin mengeratkan pelukannya, mencium puncak kepala istrinya berkali-kali.
“Mulai besok,” ucap Sarah tegas.
“Baiklah, aku sudah tidak sabar untuk besok.”
__ADS_1
Pelukan hangat itu menjadi awal hubungan dari Sarah dan Arsen. Arsen sangat bahagia akan keputusan gadis yang ia cintai sungguh ini adalah kado terindah di hari ulang tahunnya. sedangkan Sarah mencoba memulai semua dari awal menerima Arsen sebagai suaminya hingga saat ini pun ia tidak tahu dengan hatinya apakah nama Arsen telah melekat di hatinya.
maaf ya kalau tulisan aku semakin hari semakin acak-acakan dan fielnya terasa ngak, dapat soalnya up date tiap hari, bikin otak aku jadi keram.