CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
mengejar mimpi


__ADS_3

Rena sedang bersantai di rumah setelah mengerjakan rutinitas pagi mengantar putranya Ale ke sekolah. Single parent ini, duduk di depan tv, membunuh rasa jenuh setelah ia tidak memiliki kegiatan akibat daster dagangannya yang mandek.


Tubuh Rena yang bersandar di punggung kursi, di tegaknya saat melihat berita di tv. Mata Rena membulat sempurna saat menatap gambar di benda persegi itu, sebuah gambar penampakan yang sangat ia kenali.


“Foto Niki dan si ganteng ada di tv?” ucap Rena tercengang sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan mencegahnya berteriak. Rena terus fokus menatap isi berita itu.


“Apa! Niki dan si ganteng punya hubungan! Ha ... Niki pacaran sama si ganteng, ngak mungkin! Kan si ganteng suami Ara. ” gumam Rena bicara sendiri seolah tidak percaya.


“Niki harus tahu berita ini!” heboh Rena bergegas beranjak dari tempat duduknya kemudian berlari keluar rumah menemui Nikita.


Rena telah berada di depan pintu rumah Nikita, perempuan ini lalu mengetuk pintu dengan tidak sabar ingin cepat bertemu dengan Nikita.


“Niki buka pintunya!” Rena terus mengedor pintu Nikita.


Nikita berada di dalam kamar masih bergelung di bawah selimut, merajut mimpi indah di dalam tidur lelapnya. Nikita menggeliat saat mendengar teriakan si pemilik rumah. Suara teriakan bertalu-talu merasuk di telinganya membuat tidurnya terganggu


“Mami, ada apa dengan dia, menyebalkan mengganggu saja,” decak Nikita yang merasa terganggu dengan suara si pemilik rumah kemudian bangun untuk membersihkan diri sebelum ia keluar melihat apa yang membuat Rena memanggilnya.


Rena masih terus menggedor pintu hingga tak sadar jika suaranya juga mengganggu gadis yang patah hati yang berada di sebelah, membuatnya keluar melihat apa yang sedang terjadi.


“Ada apa Mi?” tanya Sarah.


Rena berhenti sejenak memanggil Nikita menatap Sarah yang mendekat ke padanya.


“Ini Niki ....” ucapan si pemilik rumah menggantung saat mendengar suara pintu terbuka dan Nikita telah keluar.


“Apaan sih Mi,” sembur Nikita yang telah berdiri di ambang pintu menatap malas pada pemilik rumah.  “Ini belum waktunya bayar kontrakan,” tebak Nikita apalagi yang membuat Rena kelimpungan mencarinya jika bukan masalah uang sewa rumah.


“Bukan kontrakan,” Sangkal Rena melambaikan sebelah telapak tangannya. Tujuannya hanya ingin memberitahu berita tentang Nikita.


Rena mendorong Nikita kembali masuk ke dalam rumahnya membuat gadis ini tak mengerti, Rena menyalahkan benda persegi itu lalu mengarahkan remote tv mencari channel yang menayangkan gambar penghuni rumah kontrakannya. Sarah yang ikut masuk bersama mereka sama seperti Nikita menatap heran dengan tingkah Rena.


“Coba kamu liat tv, hampir semua berita memasang gambar kamu,” tukas Rena masih sibuk mengutak katik remote.


“Apa!” Nikita tersentak tak percaya. “Ngak mungkin Mi, memangnya aku siapa? Aku ini belum jadi Artis,” Nikita memutar bola mata jengah seraya bersedekap di dada tersenyum remeh pada Rena.


“Atau ada video mesum mirip aku,” heboh Nikita memegangi wajahnya, panik ia tidak memiliki alasan apa-pun untuk masuk pemberitaan di tv kecuali berita kriminal itu pikirnya.


“Huss bukan itu,” sangkal Rena lalu membulatkan matanya, mengarahkan tatapan menyelidik. “Atau kau memang punya video mesum? Kau pernah merekamnya?” cecar Rena seketika menatap tajam pada penghuni rumah kontrakannya.


“Enak aja, masih perawan ting-ting ini.” Nikita membuang muka seraya mengerucutkan bibirnya. Sarah hanya tersenyum melihat perdebatan mereka.


“Katanya kamu pacaran sama si ganteng,” tukas Rena.


“Ha. Ngak mungkin Mi.” Nikita tercengang mendengar penjelasan Rena, merasa lucu ia dan Arsen tidak mungkin di gosipkan pacaran, pemuda itu sangat anti padanya.


“Ia di tv ada foto kamu pelukan sama si ganteng.”

__ADS_1


Rena menunjuk tv yang telah memperlihatkan berita yang ia maksud. Sarah dan Nikita kompak tertegun menatap gambar Nikita yang melingkarkan tangan pada pinggang Arsen serta pemuda itu merangkul pundak Nikita terlihat mesra.


 


“Kenapa jadi begini,” ucap Nikita pelan terus mendengar penjelas di tv,  melihat  foto yang menurutnya sangat biasa untuk hubungan tetangga pengganggu dan tuan jutek.


“Ini kan foto habis manggung, waktu kerja sama Ar di pesta pernikahan. Aku kan memang sering minta foto bareng dia. “ biduan ini seakan tidak percaya dengan berita yang ia dengar. “Kenapa tersebar gini, malah bilangnya pacaran lagi. Sama Arsen yang terkenal itu.”


Sarah berdiri mematung air matanya seakan ingin keluar melihat gambar wajah suaminya yang ia rindukan. Rasa sesak akibat rindu akan kehilangan itu sedikit terobati melihat wajah tampan itu berseliweran walau melihat hanya di tv.


“Niki kamu selingkuh yah sama si ganteng!” tuduh Rena juga ikut terbawa oleh berita saat melihat foto itu.


“Enak aja mami, mami kan juga sering minta foto sama Ar, mami juga punya banyak foto meluk dia,” sosor Nikita menoyor kepala Rena. Dia dan si pemilik rumahkan sama saja tergila-gila pada ketampanan Arsen.


“Ra, aku ngak selingkuh sama Ar, kamu tahukan dia jutek sama aku,” jelas Nikita yang melihat Sarah hanya diam. Ia takut Sarah berpikir yang tidak-tidak padanya


Sarah menarik sudut bibirnya, tentu saja ia tidak akan berpikir Nikita dan Arsen bersama ia telah melihat cinta suaminya hanya padanya. Ia tahu ini pasti ulah Arsen untuk Nikita.


“Dret ... Dret ....


Suara ponsel di saku Nikita membuat gadis ini mengalihkan tatapannya pada Sarah, lalu merogoh saku celananya mengeluarkan ponsel itu. Alis Nikita berkerut saat melihat angka yang tertera di kontak ponselnya, kemudian menerima panggilan itu.


“Ia, saya Nikita,” ucap Nikita. Sarah dan Rena menatap Nikita.


“Benaran bu! ngak bercandakan. Seriuskan?”


“Ada apa Nik?” tanya Sarah tidak mengerti.


Nikita menatap Sarah dengan wajah berbinar lalu meraih kedua tangan sahabatnya itu. “Aku di panggil ke sana rekaman Ra, ada label yang akan mengontrakku,” teriak Nikita sangat bahagia mimpinya menjadi penyanyi akan segera terwujud.


“Wah Ki hebat,” celetuk Rena merangkul pundak biduan ini.


“Niki selamat ya. Mimpi kamu jadi penyanyi akan segera terwujud.” Sarah lalu memeluk Nikita kini mereka saling merangkul tiga wanita yang di lindungi oleh Arsen.


“Ia Ra, aku akan menjadi penyanyi dan aku akan terkenal,” teriak Nikita sangat senang


“Aku tahu ini pasti karena Ar, dia tahu aku ingin menjadi penyanyi,” tebak gadis yang menjadi patner kerja Arsen.


Sarah juga sudah menebak ini semua pasti perbuatan Arsen, ia sudah menganggap jika tetangga pengganggunya itu bagai keluarga.


“Katanya aku harus siap-siap hari juga akan ada orang yang akan menjemputku untuk ke sana,” jelas Nikita yang mimpi sudah ada di depan mata.


“Hari ini?” Sarah tidak menyangka akan secepat ini, membuat mereka menjadi sedih akan kehilangan perempuan ceria ini.


“Cepatlah kau bersiap-siap jangan sampai mereka menunggumu, kami akan membantumu,” ucap Rena suaranya bergetar menahan tangis dia akan kehilangan penghuni kontrakan yang telah lama bersamanya dan sudah seperti saudara.


Mereka bertiga mulai membantu Nikita bersiap-siap. Rasa sedih dan bahagia berbaur menjadi satu, mereka akan kehilangan gadis ceria yang selalu membuat suasana hangat namun bahagia  akan mimpi Nikita selama ini akan tercapai.

__ADS_1


****


Tiga penghuni rumah ini telah berada di depan rumah kontrakan, menunggu orang untuk menjemput Nikita yang Sarah yakini pastilah orang suruhan Arsen. Beberapa saat mereka melihat sebuah mobil yang berhenti di depan rumah, terlihatlah seorang wanita cantik turun dari mobil itu lalu menghampiri mereka.


“Jemputan kamu sudah datang itu,”


“Dengan Nikita, saya Ana datang menjemput Anda,” ucap perempuan yang bertugas membimbing Nikita itu dengan wajah mengulas senyuman menatap mereka.


“Tunggu sebentar ya, aku pamit dulu,” ujarnya dan di jawab dengan anggukan.


“Ra, Mi. Aku akan pergi. Kalian baik-baik Ya, saling menjaga,” pamit Nikita memeluk Sarah ada cairan bening yang menetes dia akan berpisah dengan sahabatnya.


“Ya Nik, baik-baik di sana. Kau pasti akan sukses.” Sarah membalas pelukan Nikita ia juga tak kuasa menahan haru.


Pelukan terlepas Nikita kini beralih pada si pemilik rumah yang telah hidup bersama dengannya.


“Mami.” Peluk Nikita terisak pada si pemilik rumah. Rena adalah teman seperjuangan menjalani hari, mereka selalu dianggap rendah oleh orang-orang sekitarnya karena di cap sebagai wanita genit, ia seorang biduan dan Rena single parent.


“Ingat kalau sudah sukses jangan sombong,” ucap Rena mengelus punggung perempuan yang telah ia anggap adik sendiri dengan linangan air mata.


“Ia, mi.” Suara Nikita bergetar.


“Ini saran supaya kamu cepat terkenal dan sukses.”


Pelukan itu terlepas Nikita yang telah siap untuk pergi setelah melakukan pelukan perpisahan, menunda niatnya ia penasaran mendengar nasehat Rena dan wejangan dari pemilik rumah untuknya agar menjadi terkenal.


“Jangan lupa Nik kalau mau jadi penyanyi  terkenal, nanti di sana kasih drama-drama kesedihan seperti yang lain, jadi orang jadi iba,” cerocos Rena dengan tips cepat menjadi penyanyi terkenal yang sering ia tonton di tv.


Nikita yang tadi sedih jadi menatap jengah pada si pemilik rumah ini. Sarah hanya bisa menarik sudut bibirnya.


“Bilang, kalau tujuan kamu mau jadi penyanyi buat membahagiakan orang tua, mau bikin emak dan bapakmu naik haji.” Rena mengucap nasehatnya dengan semangat menggebu membuat Nikita menghela napas kasar.


“Naik haji dari mana! Mami lupa ya aku ini anak yatim,” sembur Nikita memutar bola mata jengah.


“Oh ia aku lupa!” Rena menepuk jidatnya, lalu kembali berpikir sejenak. “Atau gini aja! Bilang kamu anak yatim miskin tinggal dikontrakan kecil, terus bawa wartawan liput rumah kecil Mami. Sekalian biar mami sama Ale juga masuk tv.” Rena menangkup pipinya gemas sendiri membayangkan ia juga akan ikut di liput di tv bersama Nikita.


“Ia, aku cerita kalau Mami pemilik rumah galak yang suka marah dan ngancam ngusir aku kalau ngak bayar kontrakan. Bagaimana sedih kan?” ujar Nikita gemas dengan rencana Rena.


“Niki! Awas saja kamu bilang begitu,” ancam Rena.


“Aku ingin orang tahu suaraku, bukan penderitaanku!” ketusnya.


Sarah yang berada di antara mereka hanya bisa tersenyum mendengar nasehat Rena untuk menjadi terkenal.


“Baiklah! Sudah waktunya, aku harus pergi, jaga diri kalian,” pamit Nikita telah berjalan meninggalkan mereka.


“Ia, Nik jaga diri baik-baik.” Kompak Sarah dan Rena melambaikan tangan.

__ADS_1


Nikita telah pergi meninggalkan mereka mengejar kesuksesan kini tinggal Sarah dan Rena. Gadis yang beberapa hari ini menghiburnya dari patah hati kini juga pergi meninggalkannya, membuat Sarah semakin sedih dan merasa sendiri.


__ADS_2