Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 10 Misi Yang Gagal


__ADS_3

Suasana panas membuat gerah, tetapi hal ini tidak menyurutkan Siswa siswi SMA Nusa Bhakti untuk menikmati menu makanan dikantin.


Begitu pula Nisa DKK mereka milih meja yang masih kosong.


"Fil pesenin kita makan yah" pinta Yola. Melihat antrian yang mengular panjang membuatnya mager.


"Nggak mau, liat tuh antriannya panjang banget gue bisa mati berdiri" Filla menolak mentah mentah permintaan Yola.


"Nisa aja" Filla memberikan opsi lain untuk Yola.


" Enak aja, kenapa harus gue?" sanggah Nisa.


"Cuma lo yang pantes jadi bodyguard"


Nisa menjitak kepala Filla


"Mulut lo pedes juga yah kalo ngomong"


"Udah deh nggak perlu beratem mending kita suit aja, siapa yang kalah berarti dia harus mau mesenin kita makan" Icha berusaha menengahi, dibanding yang lainnya hanya dia yang masih waras hati nuraninya.


"Mending lo aja yang pesen cha? lo kan orang baik" cetus Nisa, ia yakin Idenya berhasil. Nisa mengerlingkan matanya kearah Yola meminta dukungan.


"yups betul, orang baik kan nggak boleh nolak orang yang minta bantuan". Yola menyetujui ide Nisa. Mereka tau Icha tipe orang yang tidak tegaan, susah untuk menolak permintaan orang lain.


"Kita suit aja biar adil" Filla membela Icha tidak terima temannya dijadikan kacung.


Icha memegang lengan Filla, mencoba meredakan kekesalannya.


"Biar Icha aja yang mesinin" ucapnya. Icha pun berdiri ikut mengantri.


Yes. Nisa berseru bersamaan dengan Yola. Idenya berhasil.


Filla menghembuskan nafasnya, Tidak tahu bagaimana caranya agar Icha sadar bahwa dirinya bukan orang baik, tapi lebih mengarah kearah orang gobl*ok.


Selang beberapa menit kemudian Icha datang bersama makan siang mereka. Empat mangkuk bakso dan empat gelas es jeruk.


Filla antusias menyantap makanannya


"Satu, dua, tiga, Oke cukup. Filla dengan sadar menaruh tiga sendok sambal kedalam mangkuk, memotong baksonya dengan ukuran jumbo, kemudian melahapnya.


Filla berhenti mengunyah, segera mengambil sehelai tissu memuntahkan potongan baksonya. Rasanya aneh, bukan rasa daging yang dirasakannya tetapi rasa pedas yang menyengat lidahnya.


Icha refleks mengambilkan es jeruk padanya.


"Gila pedes banget" ucap Filla tangannya mengipasi lidahnya yang terasa seperti terbakar.


"Emang lo udah gila kali Fil, ngapain make sambel banyak banget?" Nisa yang tadi juga ikut menghitung jumlah takaran sendok sambal yang diambil Filla mendesis kesal. "Salah siapa?" imbuhnya.


Filla meneguk cepat es jeruknya hingga tandas. Filla mendesis tak karuan, rasa pedas menyiksanya. Icha yang tak tega melihat kondisi Filla memberikan jatah es jeruk miliknya.


Filla menerimanya dengan senang hati. Segelas es jeruk tidak cukup menghilangkan rasa panas dirongga mulutnya.


Filla mengusap sudut matanya yang sudah berair. Yola melihat Filla prihatin, Ia berinisiatif membelikannya susu cair.

__ADS_1


"minum gih cepetan".


"Buat apaan? perut gue udah kembung nih" Filla menolak halus.


"Lo minum aja sedikit, minum susu bisa meredakan rasa pedas" Yola memberikan pengarahan.


"Jangan sok tau deh La. Kasian Filla jangan lo kerjain" Nisa menjawab gusar arahan Yola, ia prihatin terhadap Filla perutnya pasti sudah kenyang sebelum ia makan.


"Gue serius Nis" Yola tidak terima dituduh macam macam.


"Setau gue lo salah satu murid yang pintar,nyatanya lo cuma pinter ngebacot doang Nis" ucap Yola sinis.


Nisa menghentakan kakinya, ucapan Yola menusuk relung hatinya yang terdalam. Nyesek, rasanya perih namun lukanya tidak terlihat kasatmata.


"Minuman susu itu mengandung Casein ( protein susu) yang dapat menghilangkan sensasi pedas akibat capsaicin yang terdapat dalam cabai. Cara kerjanya Casein bekerja sebagai pelarut Capsaicin sehingga rasa pedas itu bisa hilang" Yola terpaksa menjelaskan panjang lebar agar temannya percaya.


Filla menganguk mesti tidak paham, ia meneguk sedikit demi sedikit minuman yang diberikan Yola.


"Gimana udah mendingan?" tanya Yola dengan intonasi suara yang dinaikkan satu oktaf.


Nisa terasa tersindir. Ia mengunyah makanannya dengan cepat.


"Lumayan makasih La" filla tersenyum hangat, siksaannya sedikit berkurang.


"Oke sama-sama"


Icha menghembuskan nafasnya lega. Seketika kengerian menghampiri dirinya. Ia melihat Nisa yang mendadak kalem, ini menjadi simbol bahaya untuk pertemanan mereka.


Seseorang yang semula kecerewetannya abadi mendadak bungkam seribu bahasa pasti seseorang itu sedang tidak baik baik saja.


Icha mengerjap ngerjapkan matanya, mengingat perkataan Yola, Nisa pasti tersindir keras olehnya.


Filla menambahkan kecap kedalam makanannya, menyicipinya sedikit, menambahkan lagi, kemudian menyicipinya. Warna kuah yang semula merah segar kini berubah menjadi sedikit hitam. Filla tak mempermasalahkannya dia optimis menghabiskan makanannya.


Suasana sepi, hanya dentingan sendok garpu yang beradu dengan mangkuk terdengar.


Yola menikmati baksonya tanpa hambatan. Icha masih sibuk dengan pikirannya, menebak apa yang terjadi dengan Nisa. Sedangkan Nisa sendiri sibuk dengan hatinya, rasa sakit itu membuatnya bad mood.


Sampai waktu istirahat habis mereka masih diam, tidak ada yang berniat mengawali percakapan. Mereka berjalan bersisian menuju ruang kelasnya, bersiap menerima pembelajaran berikutnya.


"Gue ke kamar mandi sebentar yah" ucap yola es jeruk yang diminumnya mulai berefek.


"Oke" jawab Yola simpel.


"Mau gue temenin nggak? " Icha menawarkan diri.


"Gue sendiri aja" ucap Filla sambil berlari, dirinya sudah tidak tahan, es jeruk yang diminumnya ingin segera keluar.


Filla mempercepat larinya, kamar mandi sudah didepan matanya, Ia merasa ada sesuatu yang hendak keluar. Tanpa mengurangi kecepatan larinya Filla membelokan badannya menuju kamar mandi itu berada.


Bruugk


Filla tersungkur dilantai. Mengaduh kesakitan hasrat ingin buang air kecil seperti lenyap seketika, terganti rasa nyeri ditumitnya.

__ADS_1


"Maaf gue nggak sengaja" ucapnya, suaranya yang cempreng menusuk gendang telinga Filla. Rasa sakit yang ia terima menjadi ganda.


Filla menerima uluran tangan lelaki yang baru saja menabraknya. Emosinya meledak dasar pengacau umpatnya dalam hati.


Filla bangkit, mulutnya bersiap memaki seseorang didepannya. Sepatah kata belum keluar saat matanya membaca name tag yang melekat pada seragam yang dipakai lelaki dihadapannya.


"Al..do?" ucap Filla terbata.


" Ganesta" Filla meneruskan membaca name tag Aldo. Jadi benar rumor yang berada dikelasnya, jika Siswa baru yang masuk ke kelas X IPS 2 adalah makhluk tertampan diseantero belahan bumi?


Filla hanya sebatas pernah mendengar namanya, Aldo Ganesta. Filla sama sekali belum bertemu dengannya, dan kini seseorang yang dicarinya sedang menatap kebingungan kearahnya.


Aldo melambaikan tangan didepan wajah Filla. Filla kelabakan dibuatnya, jiwanya sedang terbang dilangit ketujuh senang sekami bisa bertemu seorang pangeran.


Filla tidak menyiakan momen langka ssepeeti ini, Ia mengulurkan tangannya.


"Boleh kenalan nggak? nama gue Filla".


Aldo mengerutkan dahinya, tidak paham dengan situasi yang terjadi.Aldo menjabat tangan Filla.


"Boleh kok, Aldo Ganesta".


Filla tersenyum lebar, Mungkin ini adalah pertanda bahwa dirinya akan bisa menggebet Aldo.


"Lo nggak apa-apa kan?


"Engg nggak kok" Filla menjawab dengan canggung.


"Serius? atau mau ke UKS aja, siapa tau ada yang luka"


"serius, palingan cuma lecet".


"Gue ambilin obat merah dulu yah, buat antisipasi kalo beneran ada luka" tawar Aldo, dia takut jika terjadi sesuatu pada gadis didepannya".


"Santai, gue nggak kenapa kenapa, paling cuma luka kecil"


"Kalo gitu gue ambilin plester, lo tunggu sini aja yah? sebentar". Aldo membalikan badanya bersiap pergi.


"Aldo tunggu, gue nggak mau diplester,gue cuma mau...." Filla sengaja membuat pertanyaannya mengambang,memancing reaksi Aldom


"mau apa?" Aldo menaikan alisnya menunggu pertannyaan Filla selanjutnya.


"Mau nomer hand phone lo" Filla menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Urat malunya telah putus. Tapi tidak mengapa baginya, setelah ini dia bisa chattingan dengan Aldo, atau mungkin bisa lebih, VC misalnya, senangnya batin Filla.


Aldo tertegun mendengar jawaban Filla. Dia benar benar syok.


"Emmm. ."


"Aldo, Filla"


Tiba tiba seseorang mengagetkan keduanya. Tepat tak jauh dari mereka seorang KepSek menatap tajam kerarah mereka.Tentu saja, bel tanda masuk pembelajaran dimulai telah berbunyi sejak 15 menit yang lalu tempat mereka seharusnya tidak disini.


Setelah memberikan senyuman termanis, keduanya langsung membubarkan diri. Filla menggerutu, baru saja dirinya akan membuka jalan kedekatan dengan Aldo namun seseorang malah menghancurkannya.

__ADS_1


Ya ampun Pak KepSek nggak bisa liat orang bahagia, kenapa harus mendadak muncul sih. Tunggu lima menit lagi kek, atau seenggaknya saat Aldo sudah memberikan nomer ponselnya. Aarrrgh .


Filla berjalan gontai menuju kelasnya. Misinya untuk mendapat nomor Aldo gagal, angan-angannya pupus ditengah jalan.


__ADS_2