
Yola melangkahkan kakinya menuju perpustakaan. Ia mengambil kursi paling pojok ruangan, membelakangi seorang laki-laki yang tengah membaca sebuah novel.
Yola menelungkupkan kepalanya diatas meja dengan beralas telapak tangannya. Isakan kecil mulai terdengar pelan, hatinya hancur tak berbentuk. Beruntung perpustakaan sedang sepi, Yola bisa tenang untuk menangis sepuasnya.
"Woy kalo mau nangis jangan disini dong" ucap Ardan kesal konsentrasinya terganggu.
Yola menganggkat wajahnya, memutar setengah badan nya ke belakang.
"Terus dimana? dijalan raya? lo pikir gue orang gila" sergah Yola dengan menyeka sudut matanya yang berair.
"Di lapangan bola"
"Huwaaa kejauhan, Keburu air mata gue kering" ucap Yola dengan nada sendu.
"Lagian ngapain sih lo mewek?"
"Hati dedek sakit bang"
"B*go bener dah lo jadi cewek. Kalo sakit tuh dkerumah sakit bukan kemari"
"Bukan sakit penyakit jalal"
"Terus?"
"Gue abis patah hati"
"Wiih hebat juga lo masih berkeliaran disini"
"Maksud lo?
"Dimana-mana kalo hati patah ya pasti isdet lah"
"Astaga, lo lola bener dah. Maksudnya gue tuh lagi galau" jelas Yola sedikit emosi.
"Hehe iya lah, kalau Yola kan jodoh gue"
Yola tertawa kecil.
"Jago gombal juga lo yah. Gombalin due lagi dong"
"Nanti kalo baper gue nggak mau tanggung jawab"
"Cih mau enaknya doang"
"Dasar omes" ucap Ardan menjitak kepala Yola.
"Aww sakit bambang"
"Tadi jalal sekarang bambang yang bener yang mana"
"Yang bener, Ardan sayang" goda Yola menaik turunkan alisnya.
"Sayang pacar orang"
"Yelah udah punya pacar tapi masih genit"
"Nggak papa deh asal lo ketawa lagi. Bahagia in orang kan dapet palaha"
"Mendzolimi orang juga dapet dosa"
"Wkwkwk gue masih single kok"
"Hadeh udah deh. Gue mau nangis lagi" ucap Yola bersiap membalikan badannya ke tempat semula.
"Eits tunggu" Ardan menarik lengan Yola, mencegah dirinya yang hendak berbalik.
"Apa lagi?"
"Ada masalah apa sini cerita" Tutur Ardan tulus.
Yola menghembuskan nafas berat tampak menimbang sebentar.
"Oke. Tapi gue mau minjem bahu lo buat bersandar"
"Lo mau curhat apa modus sih?"
"Biar keliatan dramatis gitu"
"Ckkk jaga jarak tegangan tinggi"
Yola menukul bahu Ardan kencang.
"Gue cancel ceritanya"
"Becanda say" ucap Ardan mengelus bahunya .
"Ya udah dengerin baik-baik" peringat Yola tegas.
"Iya ndoro" jawab Ardan mengangguk takzim.
"Serius" gertak Yola mendelikan matanya.
Ardan menegakan tubuhnya, memasang wajah serius.
__ADS_1
"Jadi gue tuh suka sama cowo" jelas Yola mulai bercerita.
"Terus?" tanya Ardan tak sabar.
"Tapi dia malah jadian sama sahabat gue sendiri hiks"
Ardan membulatkan bibirnya tak percaya.
"Gile, perasaan muka Zen biasa aja. Kenapa banyak yang naksir yah?" tanya Ardan polos.
Yola menepuk jidatnya pelan,
"Bukan Zen"
"Terus?"
"My ketos handsome"
"Si Azam? jadian sama siapa dia?" tanya Azam kepo.
"Nisa?"
"Hah? Nisa?" ulang Ardan tak percaya.
"Iyah. Tapi B aja dong jangan nyemprot juga" sungut Yola menge lap wajahnya kasar.
"Sorry...sorry gue syok banget" sahut Ardan mengelap sudut bibirnya.
"Apa lagi yang udah naksir dari jaman bahola. Stress mendadak gue"
"Ututu di tikung temen sendiri rupanya" tukas Ardan melipatkan tangannya di dada.
"Kok lo malah ngeledekin gue?"
"Siapa juga yang ngeledekin lo? nasib kita sama"
Yola mengerutkan keningnya bingung. Ia menyipitkan matanya menyorot Ardan.
"Lo suka Nisa?" terka Yola sedikit mengambang.
Ardan tersenyum getir, mungkin ini saat yang tepat untuk membuka rahasia pribadinya.
"Btw lo ember nggak sih?" tanya Ardan ragu.
"Enggak kok"
"Okey gue ceritain sedikit tentang kisah kelam gue"
"Apah?"
Yola memasang telinga lebar-lebar. memastikan tak salah dengar.
"Empat tahun?"
Ardan menarik nafas, memberikan jeda pada ceritanya.
"Asal lo tau. Gue udah suka sama Nisa sejak kelas 1 SMP"
"Wth?"
"Sayangnya gue terlalu pengecut buat ngungkapin perasaan gue"
"Ya ampun miris banget"
"Yah begitulah sampai akhirnya temen gue sendiri, Aldo nembak Nisa duluan".
"Jadi cowok gantle dikit makanya".
"Tapi gue bersyukur kok. Seenggaknya gue tau perasaan Nisa buat siapa"
"Emang Nisa nggak peka kalau lo suka sama dia?"
Ardan menggeleng lemah,
"Makanya kalo suka jangan di simpen rapet-rapet. Kasih celah dikitlah buat masuk tengah"
"Gue malu"
"Tapi tau sendiri kan akibatnya?" tanya Yola menyudutkan
"Di gondol temen sendiri" lirih Ardan menunduk
"Nah itu tau"
"Tapi nggak papa, ini akan gue jadiin pelajaran. Sekarang gue bakal kasih kendor sama doi"
"Udah punya target baru?". tanya Yola memandang Ardan serius.
Ardan mengangguk mantap.
"Siapa?"
"Seseorang yang sedang menatap ku tanpa kedip"
__ADS_1
Yola mendorong dahi Ardan dengan jari telunjuknya
"Kenapa lo jadi gombal mulu"
"Kalo gue seriusin emang lo mau?" tantang Ardan.
Yola meremas jemarinya, dirinya dbuat geregetan sendiri oleh Ardan.
"Mau asal lo siap buat nganter kemana pun gue pergi"
"Gue lagi nyalon jadi pacar bukan tukang ojek" ketus Ardan.
"Tapi gue butuh seseorang yang siap anter 24 jam"
"Pacaran aja sama abang ojol noh"
"Abang ojolnya nggak ada yang seganteng abang Ardan sih" goda Yola tersenyum lebar.
"Ya jelas la gue tuh limited edition"
"Dipasaran juga banyak"
"Ngece banget lo"
"Eh seriusan barang bekas banyak dijual dipasar loak" canda Yola.
"Barang bekas mulut lo ndower. Gue masih ori tau"
"Uluh uluh jadi pengen coba"
"Maaf bukan barang obralan"
"Sok jual mahal lo" cibir Yola.
"Masa jual murah nanti saingan lagi sama lo"
"Ardan lo kok nyebelin sih" kesal Yola mulai jengah.
"Awas orang yang nyebelin rata-rata ngangenin lho"
"Idih nggak level gue kangen sama lo. Masih banyak orang-orang yang pantes gue kagenin"
"Terserah. Tapi inget yang amit-amit bisa jadi didalam hatinya justru ngucap amin-amin"
"Ngomong sama lo nggak ada abisnya"
"Iya seperti cinta ku padamu"
"Hoax banget"
"Udah stop. jangan baperin gue lagi" tandas Yola.
"Okey Siap" ucap Ardan menurut.
"Tadi sampe mana cerita lo?"
"Nggak tau lupa. Yang gue inget cuma lo"
Yola mengerucutkan bibirnya. Disaat hatinya sedang dilema malah dipertemukan dengan orang gila.
"Emm emang lo nggak pernah kasi kode ke dia?" seru Yola tiba-tiba.
"Udah sih tapi baru ngode sekali. Sayangnya dia nggak pernah menanggapi sama sekali"
"Masa sih, Nisa kan orangnya pengertian"
Ardan memgendikan bahunya,
"Entahlah. Dia nggak pernah ngungkit masalah itu dan gue nggak pernah cukup keberanian buat mengungkap ini semua"
"Padahal Nisa pernah putus sama Aldo, lo jadi punya kesempatan kan?"
"Gue terlalu kudet dalam masalah PDKT"
"Lo kan bisa gitu cari di mbah google cara nembak yang romantis"
"Gue udah nyari tapi nyali gue cuma setinggi touge"
"Gimana mau dapet cewek kalau begitu ceritanya
"Lo tenang aja. Setelah hampir 4 tahun jadi kutu kampret sekarang gue tau cara paling romantis buat nembak cewe"
"Gimana?
"Cara mengungkapkan cinta yang sebenarnya bukan dengan kata-kata mesra atau sebuket bunga. Tetapi dengan membawa rombongan keluarga"
"Andai Nisa tau, pasti dia merasa beruntung banget bisa dicintai laki-laki setia kayak lo"
"Emang lo nggak beruntung kalo dapetin gue?"
"Gue bakal bersyukur kalo lo bisa nepatin ucapan lo barusan"
"Okey, gue besok nggak bakal nembak lo pake cokelat tapi langsung dengan kalimat akad"
__ADS_1
Pipi Yola langsung blushing mendengar kalimat terakhir Ardan. Ia memalingkan wajahnya ke samping untuk menghindari bertatap muka dengan Ardan.
"Ya Tuhan, apakah ini yang dinamakan gugur satu tumbuh seribu?".