
Pukul 19.00 Motor sport Azam memasuki pagar rumah Nisa dengan selamat. Nisa segera turun, melepas jaket yang dikenakannya.
"Lo kedinginan yah Zam?" ucap Nisa sedikit bersalah melihat raut wajah pucat Azam.
"Iya nih" Azam mengusap-usap lengannya, seolah menunjukan perjuangannya melawan rasa dingin hanya demi Nisa tak kedinginan.
"Jujur banget lo bang" kesal Nisa sembari mengembalikan jaket Azam.
"Biarin anak ganteng nggak boleh bohong nanti dosa"
Nisa mendengus berat, tampak sekali tak terima saat Azam menyebut kegantengannya sendiri.
"Makasi yah Zam" ucap Nisa dengan suara pelan. Ia membantu Azam mengenakan jaketnya.
"Sama-sama" Azam tersenyum simpul, jarang sekali Nisa mau berbuat baik padanya. Kecuali jika ada maunya😃.
"Mampir yuk"
"Gue langsung balik deh" tolak Azam hati-hati.
"Mampir dulu gih lo pasti capek"
"Gue malu ketemu nyokap lo" jujur Azam.
"Tumben biasanya lo kan Cs" cibir Nisa menjengitkan bibirnya.
"Enggak tau nih sekarang gue jadi grogi kalo ngobrol sama nyokap lo, efek mau jadi camer kali yah" tutur Azam seraya menyisir rambutnya ke belakang.
Nisa memukul bahu Azam kecil "PD banget lo"
"Ucapan adalah doa siapa tau menjadi nyata"
"Udah ayok ah masuk" Nisa melangkah masuk lebih dulu meninggalkan Azam yang tengah turun dari motornya.
"Nis"
Nisa menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang.
"Mampir dulu, kalo nggak mau nanti gue kempesin ban motor lo" ancam Nisa menyorot tajam.
"Bukain"
"Yaelah manja bener lo, buka sendiri lah"
"Emang yang boleh manja cuma cewek doang?" gerutu Azam membuka sendiri pengait helmnya.
"Cowok juga boleh, asal dengan orang yang TEPAT"
"Cih nggak ada manis-manisnya lo jadi cewek"
"Meski gue pait, saingan lo udah dimana-mana. Gimana kalo manis? raja semut langsung ngelamar gue"
"Uluh...uluh nanti belum sempet nikahan udah mati duluan kena diabet dia"
"Bagus deh jadi punya kesempatan kan lo" ledek Nisa.
Azam tertawa kecil mengacak rambut Nisa.
"Masuk yuk" ucap Azam menggandeng tangan Nisa.
__ADS_1
"Ini rumah gue"
"Kan lo pernah bilang, anggep aja rumah sendiri" jawab Azam tanpa dosa. Nisa berkacak pinggang didepan rumahnya.
"Cuma basa basi nj*r" ucapnya sebal.
"Yuhuuu Nisa pulaang" teriak Nisa membuka pintu rumahnya.
"Iyaaaa Nggak usah teriak-teriak Mama udah denger" balas Dian melangkah menuju ruang tamu. Ia yang sedari tadi mengintip lewat jendela cengengesan melihat anaknya masuk rumah.
"Malam tante" sapa Azam ramah menyalami Dian, lalu mencium punggung tangannya.
"Malam juga nak Azam"
"Kamu bawa apa Nis?" Dian salfok menatap bungkusan besar yang ditenteng Nisa.
"Eits ini punya Nisa" sergah Nisa menjauhkan barang bawaannya.
"Apaan sih?" Dian melirik Azam, meminta bocoran.
"Emm itu bon.." Belum selesai Azam menjawab mulutnya lebih dulu di sumpal dengan telapak tangan Nisa. Ia tau mamanya pasti akan ceramah jika dia membawa penghuni baru di kamarnya.
"Ember bener lo" cerca Nisa melepas bungkamannya.
"Kamu mau ternak beruang apa gimana sih?" omel Dian yang paham maksud potongan kalimat Azam. Apa lagi jika bukan boneka bear warna pink!.
"Investasi masa depan Ma"
"Lha nambah nilai jual enggak buluk iya" ketus Dian.
"Kan besok jadi barang antik pasti mahal dong harganya"
"Barang antik emang mahal tapi kalo ada bekas iler kamu siapa juga yang mau beli?"
"Sekali kali kek kalo pulang bawa calon mantu nggak boneka melulu" sindir Dian menunjuk Azam melalui sudut matanya.
Azam tersenyum kikuk meski dalam hatinya bersorak riang.
"Nisa masih pelajar nggak pantes punya pacar"
"Cih bilangnya nggak pantes punya pacar tapi punya mamas mantan, gimana ceritanya?"
"Aish Mama, pinter bet dah kalo suruh ngungkit-ngungkit kesalahan orang" cibir Nisa menghempaskan tubuhnya disofa.
"Eh masih pelajara tapi kalo ada yang mau ya jangan ditolak dong, kan investasi" bisik Dian mencolek perut Nisa.
"Apa sih mah Nisa capek ih" Nisa memejamkan matanya, pura-pura tertidur. Ia tak ingin memperpanjang perbincangan dengan Mamanya yang bisa membuat Azam semakin besar kepala.
"Emm ini ada bingkisan buat tante" ucap Azam menyodorkan sebungkus martabak manis kepada Dian.
"Waaah makasih yah" balas Dian tersenyum ceria.
"Biasa aja keles" cibir Nisa lirih namun penuh tekanan agar bisa didengar.
"Boleh tante buka?"
"Boleh tante"
"Ah basa basi biasanya juga langsung dibuka kenapa sekarang jadi drama" timpal Nisa.
__ADS_1
Dian antusia membuka Ia mencium aroma makanan yang dibungkus kardus itu.
"Tante cicipi yah ini pasti enak"
"Jangan norak dong" sahut Nisa meski tak diajak bicara.
"Tuh kan enak" puji Dian dengan mata berbinarm
"Ya enak la orang garitasan dimakan sendiri pula enggak bagi-bagi" sindir Nisa.
"Emang bener ya orang kalo belinya dengan cinta jadi rasanya beda" Dian acuh dengan sindiran Nisa.
"Apa gue terlalu kudet sampe nggak tau jaman sekarng bisa beli pake cinta bukan duit"
"Astaga bego bener dah anak gue maksudnya belinya dengan disertai cinta dan kasih sayang" sangggah Dian gemas.
Nisa membulatkan bibirnya lalu manggut-manggut.
"Saya permisi pulang dulu Tan udah malem" pamit Azam disertai senyuman manisnya. Ia yang sejak tadi asyik menyimak akhirnya membuka suara. Ia merasa tak enak hati karena menjadi biang pertikaian anak dan emak itu.
"Lo kesini juga udah malem pinter" sergah Nisa.
Azam menggaruk tengkuknya, betul juga yah?.
"Eh iya Ma. Kalo besok Nisa bawain calon mantu, Nisa mau cari yang cerdas biar anak-anak Nisa jadi professor"
Dian mencebikkan bibir kesal dengan cibiran Nisa.
"Yaelah cari yang cerdas nanti kalo ketahuan selingkuh dirakitin bom molotov mampus kamu Nis"
"Mama doa in nya jelek banget" gerutu Nisa memanyunkan bibirnya.
"Nisa setia lho orangnya" jelas Nisa membela diri.
"Oh iya saking setianya sampe nggak bisa move on kan?" ledek Dian yang kini telah tertawa keras.
"Maksud Azam tadi biar enggak terlalu larut pulangnya Nisa" Sengit Dian membenarkan disela tawanya.
"Nah ya itu maksud gue" senyum Azam melebar senang mendapatkan pembelaan.
"Duh senengnya dibelain" timpal Nisa seraya menendang nendang udara kosong didepannya, melampiaskan kekesalannya.
"Syirik sekali anda" ucap Dian sinis.
"Ya sudah silakan kalo maunpulang. Enggak baik juga udara malam untuk kesehatan" ucap Dian tersenyum tulus.
"Duh perhatiannya" sahut Nisa memalingkan wajahnya jengah melihat tingkah Mamanya yang over ramah alias sok baik ke Azam.
Azam mengangguk singkat, menyalami Dian berpamitan pulang.
"Hati-hati yah" seru Dian untuk terakhir kalinya.
"Iya Tan. Makasi"
Azam mengalihkan pandangannya menatap Nisa.
"Balik dulu Nis" ucap Azam sebelum melangkah keluar.
"Hmmm" gumam Nisa cuek. Ia bergegas melenggang ke kamarnya hendak membersihkan diri meninggalkan Dian yang kembali rakus memakan martabak manisnya.
__ADS_1
Nisa menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Ia menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya kembali melayang ke masa saat-saat bersama Azam. Baru saja ditinggalkan namun sudah meninggalkan jejak rindu.
"Tidak ingin memiliki namun tak membolehkan pergi, egois kah?"