
Ke empat lelaki dengan pakaian serba hitam segera merangsek masuk. Ia meringkus kedua preman yang sedang menghajar Ardan secara bersamaan.
Salah satu lelaki itu menyeret tubuh si cungkring yang mungkin tak lagi bernyawa karena tembakan yang dilepaskan tepat mengenai dadanya.
Dua orang lagi memegangi preman yang bertubuh sedang, lantas mengikatnya kuat agar tak kabur.
"Maaf nona aku terlambat" ucap salah satu dari mereka gelisah, takut tuannya marah jika tau mereka lalai.
Nisa menggeliatkan tubuhnya saat Ia hendak menggendong tubuhnya tak tergeletak.
"Jangan takut nona, aku tidak akan menyakiti mu"
Nisa tampak tak percaya dengan ucapan orang yang tak di kenalnya, Ia bersusah payah untuk bangkit sendiri.
"Biar ku bantu nona, kau harus segera dapat perawatan"
Nisa kesusahan untuk sedikit menjauh, Ia tak bisa percaya begitu saja.
"Baiklah sepertinya tidak ada jalan lain" laki-laki itu segera mengeluarkan sapu tangan yang sudah diberi obat bius lalu membekap Nisa pelan.
Perlahan tubuh Nisa melemah, ia ambruk ke lantai.
"Cepat bawa keduanya ke rumah sakit" ucapnya gusar membopong Nisa keluar rumah.
"Siap bos" salah satu dari mereka bergegas keluar rumah menyiapkan mobil.
Kedua orang bersergam hitam lainnya berusaha memapah Ardan yang masih sadar untuk bangun.
"Siapa kau" tanya Ardan lirih.
"Aku adalah pengawal Nona Nisa. Kau tenang saja" jelasnya hati-hati membangunkan Ardan bangkit.
Ardan tertatih berjalan keluar. Seketika Ia ingat dengan Yola yang masih di dalam.
"Ta..pi te..man ku ma sih a da di da lam"
"Aku akan memeriksa ke dalam. Kau tak perlu khawatir" ucapnya sembari membalikan tubuhnya berbalik ke dalam rumah.
Ardan mengangguk singkat, lantas matanya tiba-tiba terpejam tak kuat lagi menahan lagi rasa sakit yang menderanya.
******
Nisa mengerjap-ngerjapkan matanya, entah sudah berapa lama Ia pingsan. Nisa menggerakan kepalanya untuk menoleh ke samping saat merasakan gengaman hangat di telapak tangan kanannya.
Ia sedikit terkejut saat bola matanya menangkap sosok lelaki yang sama persis dengan Azam.
"Lo udah sadar?"
"Azam" ucap Nisa lirih.
Lelaki itu mengangguk lantas membelai lembut dahi Nisa.
"Biar gue panggilkan dokter yah" ucap Azam bersiap pergi.
Nisa menarik tangan Azam, Ia menggeleng lemah. Ia masih takut di tinggal sendirian, lagi pula sekarang dia sudah lebih baik.
"Gimana bisa lo disini?" tanya Nisa penasaran.
"Anak buah gue yang ngasi tau kalo lo masuk rumah sakit"
"Ja di..i tu bo dy...gu ard lo?" tanya Nisa terbata karena rahangnya masih nyeri.
Azam menganggukan kepala mengiyakan sembari mengecup punggung tangan Nisa yang sedari tadi digenggamnya.
"Maaf gue lalai jagain lo"
Nisa tersenyum hangat, ingin sekali rasanya memeluk tubuh tegap itu. Namun apalah daya tubuhnya sangat lemah.
"Makasih Zam"
Azam mengecup dahi Nisa, tanpa terasa air matanya mengalir turun. Perasaannya hancur melihat orang yang dicintainya terbaring tak berdaya seperti ini.
"Gue janji bakal nangkep pelakunya sampai ketemu, gue nggak akan biarin dia bisa berkeliaran lagi setelah nyakitin lo" bisik Azam.
Nisa memejamkan matanya hatinya terasa tenang sekarang. Azam selalu bisa membuatnya nyaman.
"Btw gimana bisa body guar lo sampe di rumah gue?"
"Pake kaki lah"
"Gimana kronologinya Azam" ucap Nisa dengan sedikit penekanan.
"Udah sakit masih aja marah-marah"
"Gue kepo binggaw tolong ceritain "
Azam menarik nafas dalam-dalam mungkin ini saat yang tepat untuk cerita semuanya.
"Oke dengerin baik-baik. Gue nggak mau ngulang bercerita"
__ADS_1
"Iya bawel buruan"
"Sejak kejadian malem itu gue ngirim mata-mata buat ngawasin kemana pun lo pergi" ucap Azam dengan tenang.
"Uwu so sweet" Senyuman terkembang dikedua sudut bibir Nisa. Kenapa sekarang ceritanya kayak istri CEO sih.
"Dari mata-mata yang gue kirim, dia bilang ada dua orang yang ngincer. Makanya gue siapin pengawal buat jagain lo"
Nisa semakin terharu memdengar pengakuan Azam. Sungguh ini sangat diluar nalarnya. Sebenarnya terbuat dari apakah otak Azam sehingga dia bisa berpikiran sedewasa itu.
"Tapi sayangnya gue nempatin pengawal gue di tempat yang salah. Jarak mereka dengan rumah lo lumayan jauh. Jadi mereka kelamaan dateng"
"Enggak apa-apa, gue udah bersyukur bisa selamat Zam"
Azam menghela nafas. Ia merasakan tangan Nisa yang menggenggamnya erat. Perasaannyasemakin tak karuan. Ia mersa bersalah tak bisa menjaga Nisa dengan baik.
"Masih sakit?"
"Udah mendingan"
"Jangan banyak gerak biar cepet sembuh"
"He.eh. Oh ya keadaan Ardan sama Yola gimana?"
"Ardan masih belum sadar. Yola cuma luka ringan. Dia berhasil bertahan sampai body guard datang.Cuma pipinya yang lebam kena tamparan karena mencoba kabur" jelas Azam panjang lebar.
"Semoga Ardan nggak kenapa-kenapa"
Ckk...ck...ck...
"Cowok lo disini masih aja lo nanyain cowok lain" cibir Ardan menatp Nisa sedikit kesal.
"Ya ampun Azam gue khawatir sama keadaan Ardan yang terluka sempet banget lo cemburu"
"Pokoknya gue nggak suka lo perhatian sama cowok selain gue titik"
"Dih maksa"
"Oh ya, sekarang gue yang tanya sama lo. Kenapa Ardan bisa dirumah lo? kalian berdua nggak mesumkan?"
"Pikiran lo kotor banget"
"Hayoo terus kenapa bisa dirumah lo?"
"Dirumah gue juga ada Yola. Ardan tuh yang ngaterin Yola"
"Yola ngapain ke rumah lo?"
"Jadi dia udah ikhlas?"
"Iya, udah move on malah"
"Syukur deh. Tapi kok Yola sama Ardan?" tanya Azam heran.
"Wkwkw kan lo sendiri yang bilang waktu itu ada yang diam-diam menganggumi Yola dari jauh"
"Astaga gue cuma becanda"
"Kejadian beneran kan"
"Semoga aja mereka berjodoh"
"Aamiin".
"Sekarang lo istirahat yah" ucap Azam menyelimuti tubuh Nisa hingga dada.
"Gue mau liat keadaan Ardan dulu boleh?"
Azam terdiam sebentar menatap Nisa dengan ekpresi dingin.
"Bolehin yah please" rengek Nisa memasang wajah memelas.
"Oke tapi cuma sebentar"
"Iyaps"
Azam membantu Nisa bangkit, memapahnya perlahan ke ruang perawatan Ardan.
"Nisa lo udah sadar" tanya Yola saat melihat Nisa yang berdiri di ambang pintu.
"Gimana keadaan lo berdua?" tanya Nisa balik.
"Udah baikan Nis" tanya keduanya serempak.
Nisa mengamati wajah Yola yang lebam, selebihnya Ia tak menemukan luka apapun.
Nisa beralih menatap Ardan, hatinya terasa miris melihat wajah Ardan yang babak belur.
"Gue minta maaf, gara gara gue kalian jadi celaka" ucap Nisa menunduk. Air matanya tak lagi terbendung.
__ADS_1
Yola memegang tangan Nisa lembut.
"Ini musibah Nis. Lo cuma jadi perantara buat kita dapet musibah ini"
Yola memeluk Nisa yang terlihat sangat terpuruk. Ia yakin sahabatnya itu pasti merasakan rasa bersalah yang mendalam.
Azam mengusap-usap punggung Nisa yang bergetar, menguatkan.
"Sekarang lo ceritain apa masalah lo sama preman itu Nis. Biar kita bisa cari jalan keluarnya" pinta Ardan.
Nisa melepas pelukannya, lantas mengusap air matanya. Kini Ia harus jujur agar masalahnya cepat kelar.
"Lo masih inget kan waktu kita kumpul dirumah lo buat minta PJ dari Icha?"
"Iya"
"Sewaktu pulang dari rumah lo. Ada dua preman yang ngehadang gue, yang kurus sama yang gendut tadi"
"Urusannya apa?"
"Gue nggak tau pasti, tapi mereka cuma bilang kalau gue harus jauhin Aldo"
Sontak semua mata yang tertuju pada Nisa terperangah lebar.
"Aldo?" tanya Yola terkejut mewakili ketiganya.
"Iyah, yang gue heran kenapa mereka masih ngejar gue, padahal gue udah nggak ada apa apa lagi sama Aldo. Pacarnya Al kan Filla bukan gue"
"Seinget gue mereka dendam sama lo karena udah bikin babak belur mereka" timpal Ardan menyahut.
"Gimana gue nggak hajar mereka selain memperingatkan gue mereka cuma mau melecehkan. Yakali gue diem aja" sungut Nisa kesal.
"Tapi Nis setahu gue body guard bokap Aldo nggak ada yang kayak mereka" timpal Yola merasa ada yang janggal.
"Lo tau dari mana?"
"Aldo tuh sepupu gue, gue tau persis setiap pengawal keluarga Om hendra"
"Apah?" ucap Nisa membukatkan matanya.
"Hatusnya nggak mungkin kan mereka ikut nyerang gue? secara gue sepupunya. cari mati namanya mereka mah"
Nisa memandang Yola intens. Ucapan Yola ada benarnya.
"Kenapa jadi rumit gini sih" desah Nisa fristasi.
Nisa menumduk sedih gara gara dia masalah menjadi runyam. Sekarang ada empat keluarga sekaligus yang akan terlibat.
"Gue harap kalian jangan gegabah dulu.Gue yakin Om hendra nfgak sepicik itu" jelas Yola masih tak percaya.
"Kalian tenang aja, biar gue selidiki masalah ini" balas Azam mencoba tenang.
"Kalo sampe terjadi pertumpahan darah body guard gue banyak di ruamh Zam" sambung Ardan menggebu.
"Weeh anak sultan lo yah" ledek Azam.
"Lo jangan sedih Nis kita semua pasti bakal bantu lo" imbuh Ardan membesarkan hati Nisa.
"Iya Nis. Kalo gue bantu doa aja yah. Kan lo tau gue sobat misquen lo. Mana ada la pengawal2 segala" tutur Yola bergurai untuk menguranfi ketegangan.
"Bisa aja lo" Nisa tersenyum lega. Setidaknya mereka tidak memusuhinya.
"Gue balik dulu yah. Masih banyak urusan" ucap Azam tanpa basa basi.
"Gue ikut" jawab Nisa cepat.
"Lo masih sakit harus dirawat" tolak Azam tegas.
"Nggak bisa Zam. Bentar lagi Mama gue pulang gue ggak mau nyokap gue cemas. Gue istirahat di rumah aja"
"Lo masih sakit Nis"
"Gue lebih sakit lagi kalo liat Mama gue sedih" kukuh Nisa ingin ikut pulang.
Azam mengangguk pasrah. Keduanya pun bangkit berdiri.
"Yola gue titip Ardan yah. Nanti malem gue balik ke sini buat gantian jagain"
"Lo nggak usah khawatir, biar gue yang jagain sampai sembuh" ucap Yola tulus.
"Nggak bisa gitu, gue yang harus tangggung jawab"
"Keadaan lo nggak memungkinkan Nis, biar gue aja" ucap Yola menyakinkan.
"Bener Nis. Lagain gue lebih butuhin Yola dari pada lo. Enggak mungkin kan lo mau nyuapin gue makan?" cerca Ardan sembari melirik Azam sekilas.
Nisa memaksakan senyumnya, membenarkan ucapan Ardan.
"Iya udah pulang gih istirahat. Jangan pikirin masalah ini terlalu berat" Ucap Yola menepuk bahu Nisa untuk memberikan semangat.
__ADS_1
"Iya makasih banyak Ar, La? Gue pulang dulu" pamit Nisa.
"Hati-hati" balas Yola melambaikan tangan.