Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 22 Merasa Bersalah


__ADS_3

Nisa menghentikan sebuah taxi dipinggir jalan, ia memastikan plat nomor yang terpampang di mobil sama dengan plat nomor yang tertera di rincian taxi on line yang tadi dipesannya.


"jalan Pak" ucapnya dingin. pikirannya sedang kacau.


"Kemana Neng?"


"Jalan aja dulu pak" ucap Nisa lemah. ia sendiri masih bingung hendak langsung pulang ke rumahnya atau mampir dulu di rumah Yola, mengambil motornya.


Nisa memejamkan matanya setelah memberi tau tujuan alamatnya. Ia mencari celah pembenaran atas apa yang baru saja dilakukan.


"Apa gue udah keterlaluan? gue nggak bermaksud ngehina lo La. kenapa lo marah banget sama gue? kenapa lo langsung pergi gitu aja?bahkan lo nggak ngasi kesempatan buat gue kasi penjelasan".


"Gue akui gue salah, tapi apa lo nggak bisa bedain lagi mana yang becanda sama yang serius?"


"Apa mungkin lo lagi PMS makanya sensi banget sama omongan gue?"


"Argggh" Nisa meremas rambutnya kencang, kepalanya mendadak pening.


"Inikah yang dinamakan persahabatan? hancur hanya karena masalah kecil? semua ini bisa dibicarakan baik-baik. Gue bahkan udah minta maaf" batin Nisa panjang lebar. Ia benar benar menyesali perbuatannya.


" harusnya gue nggak egois, harusnya gue ngalah cari yang lain bukan malah becanda" hiks Nisa terisak pelan.


"Neng" panggil sopir taxi itu pelan, takut merusak suasana haru di kursi penumpangnya.


Nisa mendongakan kepalanya. Mengelap sisa air matanya kasar.


"Sudah sampai" jelas sang supir, ia merasa iba melihat kondisi Nisa yang sembab. Rambutnya yang terlihat berantakan ditambah bajunya yang kusut masai menambah suasana dramatis kesedihannya.


Nisa menolehkan pandangannya kesamping. Tampak sebuah rumah besar dengan aneka pepohonan yang menghiasi depan rumahnya.


"Ini pak" ucap Nisa memberikan dua lembar uang lima puluhan.


"Uang pas ada neng?"


"Ambil aja kembaliannya Pak, makasih sudah mengantarkan saya pulang" ucap Nisa sambil memaksakan senyumnya, berusaha mengontrol diri.


"Serius neng?"


"Iya Pak. Saya permisi turun dulu yah" kata Nisa sesopan mungkin. Ia menahan emosinya, sebenarnya ia tidak ingin berbasa basi. Air matanya meronta turun ia ingin segera sampai kamarnya dan menumpahkan isi hatinya.


"Baik, Terima kasih"


"Sama-sama". Nisa melangkah turun, menatap bangunan didepannya dengan seksama. Ia menghembuskan nafanya pelan, mamantapkan hatinya sebelum melangkah mendekati rumah tersebut.


"Assalammu'alaikum"


Tidak ada jawaban. Nisa memberanikan diri mengetuk pintu.

__ADS_1


Tok..tok..tok.


Lenggang. Tidak ada suara langkah kaki mendekat. Nisa mengetuk sekali lagi kali ini dengan melipat gandakan tenaganya.


Tok..tok..tok..


Sepi. Nisa mengusap wajahnya kasar, sekian lama menunggu tetap tidak ada jawaban. Nisa menundukan kepalanya, berjalan gontai menuju motor scopy nya. Melajukan dengan kecepatan diatas rata rata melampiaskan segala gundah dihatinya.


Kedua mata Yola tak berkedip menatap kebergian Nisa lewat jendela kaca ruang tengah. Rasa tidak tega menyergap hatinya saat menatap wajah sendu Nisa. Tapi dia tidak bisa menemuinya, ia sedang merencanakan balas dendam untuknya.


Nisa membuka pintu rumahnya dengan hati- hati. mengendap-ngendap masuk, tidak ingin jika harus bertemu Dian, Mamanya dengan kondisi yang mengenaskan saat ini.


"Loh kamu sudah pulang Nis?" sapa Dian dari arah dapur.


Nisa menghentikan langkahnya yang hendak menaiki tangga, tersentak kaget mendengar suara mamanya.


"Eh iya Mah" seru Nisa masih dengan posisi membelakangi Dian. Meremas ujung baju nya hinggah lecek.


"Tangan kamu sakit?"


"Enggak kok Ma, emang kenapa?" seru Nisa tidak paham.


"Mama khawatir tangan kamu lagi sakit sampe nggak bisa ketuk pintu" Cibir Dian.


Nisa menggaruk tengkuknya, salah tingkah debgan sindiran Mamanya.


"Nisa!" Seru Dian dengan sedikit berteriak.


"Nisa capek mau istirahat Ma" balas Nisa ikut sedikit berteriak tidak peduli dengan seruan Mamanya. Ia merasa lelah hari ini, tidak hanya lelah Fisik, tetapi juga lelah pikiran badannya butuh Istirahat.


Nisa merebahkan badannya. Pikirannya melayang pada kejadian di butik tadi siang. Ia tidak habis pikir dengan sikap Yola, bentakan Filla terngiang ngiang di gendang telingannya. Ia baru sadar, bahkan Icha tidak membelanya dia memilih ikut pergi meninggalkannya bersma Filla. Seketerlaluan itu kah Aku?


Peristiwa itu seperti melekat dimemori otaknya, terus berputar. Nisa memeluk boneka Bear kesayangannya, menyalurkan kesedihannya agar sedikit berkurang. Perlahan tapi pasti Nisa menutupkan kelopak matanya. Jiwa raga nya sangat lelah, membuatnya mengantuk.


Entah sudah berapa lama Nisa tertidur, hingga seseorang menggoyangkan badannya memutus mimpinya.


"Nisa" Panggilan seorang wanita paruh baya menyadarkan dirinya.


"Hmmm" Nisa menggeliat matanya terasa berat.


"Nisa " panggilnya lagi, menegakkan tubuh Nisa secara paksa.


" Masih ngantuk" Nisa mencoba merebahkan badannya lagi.


"Nisa bangun Nak" ucap Dian lembut, membangunkan putrinya harus ekstra sabar.


"Apaan si Ma, Nisa masih ngantuk berat tau" Protes Nisa. Ia memeluk Dian menopangkan berat tubuhnya.

__ADS_1


"Ayo kita makan malam dulu"


"Nanti aja Ma, Nisa ngantuk, lagian Nisa belum laper kok"


"Kamu belum makan sejak sore, nanti kamu sakit asam lambung mu bisa naik" Dian menarik daun telinga Nisa, kesabarannya sudah habis. membangunkan Nisa tidak bisa hanya menggunakan mulut, tangannya juga harus bertindak.


"Awww aduh sakit Ma" nisa membuka mata dengan sempurna. Lenyap sudah rasa kantuknya berganti rasa panas menyengat telinganya


"Masih mau tidur?"


"Iya Nisa bangun"


"Lepasin Ma" rengek Nisa manja, Telinganya seperti hendak putus.


"Mama tunggu dibawah, kamu cepat mandi dulu"


"Iya" jawab Nisa cuek sambil mengibas ngibaskan tangan di depan telinganya mencari angin segar.


"Bagus, anak mama memang pintar" Dian mengacak pucuk kepala Nisa sembari tersenyum. Ia pun keluar dari kamar Nisa.


Nisa menguap lebar, ia segera bersiap mandi tubunya terasa lengket sekarang.


Nisa menuruni anak tangga dengan malas, suasana hatinya sedang buruk. Ia mengambil tempat duduk yang berselisih dua kursi disamping mamanya. Ia tidak ingin mamanya bisa menebak raut kesedihan diwajahnya.


Nisa menghabiskan makan malamnya tanpa bersuara. Membuat Dian heran, ia hapal sifat Nisa yang ceria dan cerewet seperti kicauan burung.


"Kamu kenapa Nis?" cerca Dian khawatir Nisa sakit atau sesuatu hal telah terjadi tanpa sepengetahuannya.


"Nggak papa kok Ma"


"Kamu nggak suka menu masakan Mama?" tebak mamanya, melihat Nisa yang lesu menguyah makanannya tidak seperti biasanya


Nisa menggeleng cepat " Nisa suka kok"


" kamu sakit?" tebak nya lagi.


"Engga Ma, Nisa Alhandulillah sehat wal afiat"


"Kamu lgi ada masalah?" Dian mengungkapkan kekhwatirannya.


"Engga Mama, Nisa enggak kenapa-kenapa" Tegas Nisa. Kepalanya mendadak pening mendengar ocehan Mamanya.


"Terus kamu kenapa? sejak pulang dari rumah Yola, kamu cuma diem Mama khawatir terjadi sesuatu sama kamu"


"Nisa cuma kecapean Ma" Sanggah Nisa cepat, ia tidak ingin mamanya menebak lebih lanjut, Ia tau Dian tipe orang yang peka dan pintar membaca pikiran orang lain. Ia tidak ingin mama nya mengetahui masalahnya. Sudah cukup bentakan Filla yang memarahinya ia tidak ingin Dian juga memarahi kesalahannya.


"Ya sudah selsaikan dulu makanannya Habis itu langsung istirahat"

__ADS_1


"Iya Ma" Nisa dengan kilat menghabiskan makanannya. Takut jika Dian berubah pikiran dan menanyainya segala macam.


__ADS_2