
Aldo mengemudikan mobilnya pelan mengulur waktu agar bisa berlama lama dengan Nisa.
"Nis" Panggil Aldo lirih, berusaha mencairkan susasana.
"Mmmm" jawab Nisa mengambang. Situasinya sangat sulit bagi Nisa, Hatinya belum siap. Perasaan marah, benci juga kecewa tiba tiba menyeruak memenuhi rongga dadanya. Kenangan pahit itu sudah tertinggal satu tahun tahun lamanya, namun keihklasan belum juga hadir. Justru dendam lama semakin terbuka lebar.
Rasa itu masih sama. Lukanya masih terasa meskipun waktu dan tempatnya sudah berbeda. Nisa membenci situasi seperti ini, seakan bahagia tak pernah berpihak padanya.
Perlahan ingatannya muncul pada masa satu tahun silam. Saat terakhirnya dengan Aldo yang berakhir dengan tragis.
*Flash back*
Nisa melirik tangan kirinya. Sebuah jam dengan bingkai berbentuk kotak melingkari pergelangan tangannya. Arah jarum jam sudah menunjuk pada angka 9. Malam semakin larut.
Raut wajah yang semula ceria berubah menjadi cemas, hatinya gelisah menanti seseorang yang beberapa minggu terakhir menghilang tanpa kabar . Sekian lama menunggu, sesorang itu belum juga menampakan wajahnya, sedangkan ribuan titik air hujan bersiap menghujaninya tanpa ampun.
Pikiran Nisa melayang jauh entah kemana. Menebak kesalahan apa yang dibuatnya sehingga Aldo, kekasih nya berubah mengacuhkanya.
Nisa menoleh, terlihat sesosok lelaki berjalan menuju tempatnya kini berada. Nisa tak bisa memastikan siapa sosok yang mengarah padanya, pandangannya mengabur seiring rintik air hujan menerpa wajahnya, menghalangi pandangannya.
Menitik dari perawakannya mirip sekali dengan Aldo. Nisa berharap tebakannya benar dengan begitu kegelisahannyan akan segera berakhir.
Derap langkah kakinya semakin terdengar jelas, jaraknya tinggal beberapa meter dari tempatnya berdiri. Seulas senyum mengembang dari kedua sudut bibirnya, begitu mengetahui sosok yang sangat dikenalinya. Ya dia adalah Aldo, lelaki yang membuatku menunggu lama ditempat ini. Tempat yang sama saat pertama kalinya aku mengenalnya.
Nisa terkejut melihat ekspresi wajah Aldo. Tidak seperti bisanya. Tidak ada senyum manis yang tergambar dari bibirnya. Ekspresi wajahnya datar, bahkan terkesan sangat dingin.
Aldo tidak memedulikan tatapan wajah bingun dari Nisa. Ia terdiam mematung ditempatnya, menatap Nisa intens. Berusaha mengatur nafasnya jaraknya hanya selangkah dari Nisa, jantungnya berdegup kencang.
Aldo mendesahkan nafasnya perlahan, Ia berharap desahannya dapat membantu menetralkan perasaanya yang bercampur aduk. Perlahan tangannya kirinya menggenggam tangan Nisa. Tangan kanannya meraih wajah Nisa mendongakkan nya agar sejajar dengannya . Ditatapnya wajah itu dengan lekat.
"Maaf Nisa" sebuah kalimat akhirnya meluncur dari bibir Aldo.
Suaranya terdengar bergetar menahan tangis.
Kutatap wajah Aldo dengan seksama, Kulihat matanya mulai memerah. Apakah Aldo menangis? hati kecilku mulai bertanya. Sulit membedakan antara air hujan dengan air mata sungguhan.
"Aku harus pergi meninggalkan mu dan kau tak perlu mencariku"
Aldo menuntaskan kalimatnya, kemudian berlari meenjauhi Nisa yang masih diam membeku, berusaha mencerna kata kata yang masuk indera pendengarannya.
Nisa terisak. Air mata meluncur bebas menuruni pipinya. Ketakutannya benar terjadi. Aldo yang mendadak mendiamkan nya minggu lalu membuatnya khawatir hal buruk akan menimpa hubungan mereka. Meskipun Nisa masih tak habis pikir apa kesalahanya sehingga Aldo memutuskanya begitu saja. Kejadiannya begitu cepat tanpa penjelasan apa pun, bahkan Aldo meninggalkannya seorang diri ditengah hujan yang mulai menderas.
"Aldooo" teriak Nisa kesadarannya mulai pulih.
__ADS_1
Otaknya kembali bekerja. Refleks kakinya berlari secepat mungkin mengejar Aldo.
"Al.." Teriak Nisa sekali lagi, berusaha mengalahkan suara hujan di sekitarnya.
Aldo berhenti beberapa detik, samar samar mendengar suara Nisa. Telinganya berusaha untuk tak memedulikan panggilan Nisa, kakinya refleks hendak berlari. Namun hatinya tak tega. Berbagai rasa berkecamuk dalam hatinya.
Bahagia bercampur luka. Kecewa sekaligus lega.
Ia bahagia mencintai dan dicintai Nisa tapi ia juga terluka kehilangannya. Ia kecewa takdir tak mengizinkannya bersama namun juga lega diberi kesempatan bisa menemuinya meskipun untuk terakhir kalinya.
Nisa mempercepat langkah kakinya.
Matanya menangkap sosok Aldo yang berdiri tak jauh darinya.
Melihat Nisa mendekat padanya Aldo memutuskan beranjak darinya tempatnya.
Nisa tertegun, Aldo benar benar meninggalkannya. Membuang dirinya seperti sampah. Nisa berhenti, memilih duduk diatas rerumputan
Lampu jalan remang-remang kekuningan menghiasi sunyinya malam. Jalanan sepi akan kendaraan yang melintas, menambah kesan syahdu malam itu.
Suara jangkrik terdengar riuh seiring larutnya malam. Air mata Nisa tak terbendung menyatu dengan air hujan. Berharap rasa sakit di dadanya dapat terhapus bersaman air hujan yang meluruh ke bumi. Perpisahan ini menyisakan luka mendalam, menyesakkan dadanya.
Baru saja ia mencecap manisnya cinta, sekarang ia harus menyesap pahitnya perpisahan. Bahagianya baru berhitung bulan.
"Kenapa semua ini terjadi, apa salah ku" isak Nisa batinnya benar benar terluka.
*****
"Nisa" Aldo menyenggol pelan lengan Nisa. Membuyarkan lamunannya.
Nisa menatap Aldo tajam.
Aldo paham apa yang dipikirkan Nisa.
"Aku minta maaf Nis. Aku tau aku pernah berbuat salah sama kamu, tapi semua itu ada alasannya".
Lo bilang ada alasannya? lo ngebuang gue kayak sampah Al.
"Nggak perlu bahas masa lalu" ucap Nisa sinis.
Nisa membuang pandangannya keluar jendela. Semakin lama menatap Aldo membuatnya takut terkena diabetes.
"Nanti pulangnya mau sekalian?
__ADS_1
"Nggak"
"kamu kenapa sih Nis? kamu masih marah sama aku?" Aldo sebenarnya ingin diam tapi mulutnya tak bisa berkompromi.
Aldo diam, ia paham bagaimana jika Nisa sedang marah. Lebih baik mengalah. Aldo juga menyadari kesalahannya dulu . Sikapnya memang keterlaluan, ia tak bisa memungkiri jika Nisa membencinya. Tapi sekarang dia sudah insyaf dan mau memperbaikinya.
"Nggak harus sesuatu mesti dijabarkan Al, Coba belajar memahami dan mengerti tanpa harus dijelaskan oleh lisan. Buat apa diciptakan hati kalo kita nggak bisa ngerasa apa-apa"
"Kalo kamu nggak punya hati, seenggaknya kamu punya otak kan? bisa kan mikir dulu". Sindir Nisa pedas.
Aldo seperti tersengat listrik. Dasar ratu nyinyir gumamnya. Aldo menghembuskan nafaskan kasar. Memfokuskan pandangannya pada jalanan di depannya. Lalu lalang kendaraan bermotor memadati jalanan, ia harus berhati-hati untuk menyebrang.
Jaraknya kurang 600 meter untuk sampai ke sekolahnya.
Nisa melirik Aldo sekilas. Dalam hatinya ia tertawa melihat raut wajah Aldo yang berubah masam, justru terlihat semakin cute.
Berdua dengan Aldo terasa seperti mentega dalam wajan panas, membuatnya meleleh.
Aldo mengurangi kecepatan laju mobilnya yang memasuki area sekolah. Sesampainya dipakiran Nisa bersiap hendak turun namun gerakannya ditahan oleh Aldo.
"Apaan sih?" Nisa mendorong Aldo menjauh darinya.
"Kalo kamu mau keluar harus ada syaratnya".
Nisa mengernyitkan dahinya, belum mengerti arah pembicaraan Aldo.
"Nggak ada peraturannya keluar dari mobil harus pake syarat". Sanggah Nisa, pikirannya menjadi kotor melihat senyuman licik Aldo.
"Aku nggak akan minta sesuatu yang aneh anah kok Nis". Aldo mengerti apa yang difikirkan Nisa, imajinasinya pasti menjadi liar.
"Cukup dengerin kalimat yang akan aku ucap kan setelah itu kamu boleh turun".
"Oke, cepetang ngomong". Nisa bersyukur ternyata Aldo tak sekotor pikirannya.
"Nis cukup badan kamu aja yang turun perasaan kamu jangan".
Nisa tersentak kaget. Telingannya terasa panas.
"Basi tau nggak"
Wajah Nisa berubah menjadi merah tomat, menahan malu sekaligus marah dengan sikap Aldo yang tanpa dosa menggodanya.
"kamu boleh keluar pergi asal perasaan kamu ke aku nggak keluar pergi dari hatimu juga".
__ADS_1
Brakkk.
Nisa menutup pintu mobil Aldo dengan kasar, sebagai jawaban dari gombalan yang dilontarkan Aldo.