Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 95


__ADS_3

Malam harinya..


Azam tersenyum puas dari kejauhan saat kedua pengawalnya telah berhasil membawa Filla ke markasnya.


"Lepasin gue" teriak Filla memberontak.


"Diam" bentak sang pengawal sembari terus menyeretnya mendekati Azam yang tengah duduk disalah satu sofa.


"Sakit b*go" geram Filla terus meronta saat tangan kanan kirinya di pegang dengan kencang.


Srttt


Mulut Filla kini dilakban oleh salah satu pengawal yang jengah mendengar ocehan kasar Filla.


"Kerja yang bagus" ucap Azam mengacungkan jempolnya pada para pengawalnya saat mereka tiba.


Filla mendelik galak menatap Azam.


"Apa-apan ini?"


"Ikat dia" perintah Azam tegas.


"Tapi bos, bukankah tidak boleh menyakiti perempuan?" tanya pengawal Azam polos. Dia masih ingat saat Azam mengatakan itu tadi siang.


"Hanya dilarang menyakiti perempuan bukan wanita iblis kan?"


Pengawal itu mengangguk-angguk lantas melaksanakan perintah Azam.


Azam menatap tajam gadis yang tengah di ikat pada sebuah kursi dengan mulut terlakban.


Filla menyorot Azam sengit, dia menatap marah pada Azam yang telah memperlakukannya seperti hewan. Menyeret paksa bahkan mengikatnya erat seperti kambing.


Azam melepas lakban yang menyumpal mulut Filla kasar.


"Sakit bangs*t" umpat Filla geram.


"Oo sakit yah kasian" balas Azam dengan nada meledek.


"Mau lo apa hah?" tanya Filla dengan nada tinggi.


"Gue cuma mau main-main kok sama lo" Azam menginjak perlahan ujung kaki Filla.


"Aww. lo apa-apain sih Zam" Filla menatap nanar kakinya yang memerah bekas terinjak Azam.


"Sakit? ini bahkan belum seberepa atas apa yang telah kau lakukan pada Nisa" balas Azam sinis.


"Lo bakal nyesel udah nyakitin gue" hardik Filla tersenyum kecut.


"Hahaha kenapa nyesel? apa karena lo anak dari Pak Asril? yang seorang pembisnis terkenal itu?. Atau karena pacar lo yang yang calon pewaris tunggal dari keluarga Ganesta?"


"Bagus deh kalo lo tau" cerca Filla sombong.


"Ckk...sayangnya lo yang belum tau apa-apa" cibir Azam mendekatkan wajahnya pada Filla.


Filla memalingkan wajahnya, hembusan nafas Azam yang menderu membuat diwajahnya membuatnya sedikit gugup.


"Sini gue kasi tau, biar nggak kudet"


Filla masih bertahan diposisinya, Ia takut jika harus beradu pandang dengan Azam yang terlihat ganas.


"Asal lo tau yah. Keluarga Ganesta cuma orang kaya nomor dua. Lo pasti tau dong yang pertama siapa"


Filla tertegun sejenak, yah tentu saja dia tau. Yang pertama ditempati oleh keluarga Errick Yusfi. Jangan-jangan Azam...


Azam tertawa keras.


"Jawaban dari pikiran lo adalah iya" ucap Azam bangga.


Mata Filla membulat sempurna. **** kenapa gue nggak kepikiran sampai situ. Tau gini mending gue deketin Azam dari pada Aldo.


"Mau lo apa sih Zam?" tanya Filla tanpa basa basi ke inti.


"Harusnya gue yang tanya, apa maksud lo nyuruh body guard lo buat nyerang Nisa?"

__ADS_1


Filla mengerjapkan matanya, bagaimana Azam bisa tahu?.


"Jawab" bentak Azam dengan tatapan bengis.


Filla menundukan kepalanya, Azam terlihat seperti monster yang siap memakannya hidup-hidup.


"Oke kalo lo nggak mau jawab jangan salahin gue kalo lima menit ke depan nyawa lo udah melayang"


"Iya..iya.. gue ngaku" jawab Filla panik.


Azam tersenyum sinis, baru digertak aja udha ciut nyalo lo.


"Gue emang nyuruh orang buat ngasi peringatan buat Nisa. Tapi itu udah sebulan yang lalu dan gue nggak pernah nyuruh orang buat nyelakain Nisa lagi"


"Peringatan buat apa si Fil? harusnya lo sadar diri Aldo emang cinta sama Nisa bukan sama lo"


Mata Filla memanas ia belum pernah melibat Azam seganas ini.


"Lo itu manusia apa iblis sih kenapa nggak ada hati nuraninya sama sekali?" cibir Azam sembari mengelus pipi Filla.


"Gu..e khilaf Zam"


"Hanya karena cinta lo mau ngebunuh Nisa? otak lo udah kering sampe nggak bisa mikir?" tandas Azam.


"Gue cuma nyuruh orang buat ngancem Nisa, gue nggak nyuruh mereka buat bunuh Nisa"


"Apa lo nggak sadar, mulut pedes lo yang nyulut emosi mereka sampe mau nyelakain Nisa lagi"


Filla semakin menunduk, ia ingat saat memaki kedua preman suruhannya saat melihat mereka justru babak belur dihajar Nisa.


"Gimana kalo gue ngelakuin hal yang sama?" ucap Azam semabari menopang dagunya.


"Biar adil?" imbuhnya


"Azam gue mohon jangan, gue minta maaf. "


"Lo pikir minta maaf biza bikin mental Nisa yang down balik lagi?"


"Gue tau gue salah..gue minta maaf"


Filla memicingkan matanya, mencari kebohongan dikedua manik hitam Azam.


"Satu hal yang perlu lo tau, yola juga jadi korban disini"


Filla semakin syok mendengar ucaoan azam.


"Nggak mungkin, Nisa sendirian waktu itu"


"Memang waktu itu Nisa sendirian. Tapi tadi pagi preman suruhan lo berulah lagi. Kebetulan Ardan sama Yola lagi mampir keruamah Nisa"


Azam mengangkat dagu Filla.


"Awww" Filla meringis kesakitan saa tangan Azam dengan kuat mencengkeram dagunya.


"Meski pun lo anak orang kaya ditambah pacar lo tajir melintir tapi gue nggak takut, inget diatas langit maish ada langit".


Filla membisu, Ia benar benar ketakutan sekarang.


"Cuma ada dua pilihan. Lo akui semua kesalahan lo atau kita balas dengan darah?.


"Lo tau kan Ardan sama Yola juga ikut jadi korban. Gue yakin orang tua mereka nggak bakal terima melihat anaknya tersakiti" ancam Azam.


"Belum lagi kalo sahabat lo Icha tau. Gue yakin dia bakal jijik punya temen kaya lo dan lebih memilih Yola dan Nisa" tambah Azam semakin gencar menakuti Filla.


"Masalah ini bisa lebih panjang lagi kalo lo semakin menyimpan dendam. Bakal ada 4 keluarga yang akan bales kejahatan lo"


Filla mematung ditempatnya mencerna semua kalimat Azam. Bagaimana bisa ia sebodoh ini? dia tidak memikirkan hasilnya akan jadi seperti ini. Akan banyak orang-orang yang akan terlibat.


Filla merutuki kebodohannya, bagaimana bisa dia mengabaikan azam?. lihatlah dia yang meremehkan dia sendiri yang dibinasakan oleh Azam.


"Gue minta maaf" lirih Filla menunduk dalam.


"Minta maaf bukan sama gue tapi sama mereka"

__ADS_1


Filla mengangguk lemah.


"Gue minta maaf kasar sama lo. Tapi gue cuma lo mau sadar. Lo sendiri nggak mau kan kalo dijahatin? jadi ya udah la jangan jahat"


"Iya gue salah, gue nggak akan ngulangin lagi"


"Bagus. Gue pegang janji lo"


"Iya" jawab Filla pasrah.


♡♡♡♡♡♡♡♡


Keesokan paginya. Hari ke tiga mengikuti UAS.


Icha melongokan kepalanya keluar kelas. Sebentar lagi tanda jam masuk akan berbunyi namun ketiga temannya belum ada satupun yang datang.


"Mungkin nggak sih mereka sakit berjamaah?" ucap Icha heran pada dirinya sendiri.


"Bahkan Azam juga nggak masuk. ada apa sebenarnya?" batin Icha mulai bertanya-tanya kebetulan tak disengaja ini.


Tet...tet...tet...


UAS pun dimulai tanpa kehadiran ketiga temannya. Tak lama kemudiaan datang seorang guru yang mengawasi UAS.


Icha menatap malas soal ujian yang dibagikan. Pikirannya sibuk memikirkan ketiga temannya.


"Fokus Icha, nanti sepulang sekolah kita cari tau. Okey?" oceh Icha menyemangati dirinya sendiri.


2 jam tanpa sadar telah berlalu.


Icha menghembuskan nafas panjang sembari membereskan perlatan tulisnya. Semoga saja Zen segera datang menjemputnya ke kantin.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, Icha menatap sumringah Zen yang sedang berada diambang pintu dengan kedua teman mengekor dibelakangnya. Siapa lagi jika bukan Al dan Fian.


"Kantin yuk yank" ajak Zen merangkul pundak Icha.


Icha memaksakan senyumnya menerima tawaran Zen


"Eh Filla mana Cha?" tanya Aldo saat tak mendapati Filla dikursinya.


"Enggak berangkat"


"Kenapa?"


"Enggak tau. Kan lo pacarnya masa tanya sama gue"


"Kan cuma pacar bukan bapaknya. Dari tadi malem nggak ada kabar, WA nya off terus sampe sekarang" jelas Aldo bingung.


"Aneh sih. Nisa sama Yola juga nggak berangkat"


"Kok bisa barengan gitu yah?" timpal Zen ikut bingung.


"Ikatan batin mereka kuat banget kali makanya sakit satu sakit semua" celetuk Fian asal.


"Azam juga nggak brangkat tau" imbuh Icha membuat ke tiga temannya semakin heran.


"Ardan juga nggak berangkat" sambung Aldo.


"Mereka semua kenapa sih?" tanya Icha terheran heran.


"Nanti sore kita jengukin satu-satu, gimana?" usul Zen yang juga kepo.


"Boleh tuh, biar jelas" sahut Fian setuju.


"Kita mau jenguk siapa dulu?"


"Ardan aja, dia yang paling parah sampe masuk rumah sakit" ucap Aldo.


"Oke gue setuju" jawab Icha.


"Gila kita sehari mau jengukin 5 orang?" tukas Fian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iya mo gimana lagi? masa nyicil nggak enak dong takut ada yang iri" jawab Icha logis.

__ADS_1


"Iya sih. Ya udah lah" ucap Fian menurut


__ADS_2