Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 42


__ADS_3

"Alhamdulillah Rezeki anak sholeh" Fian mengibas-ngibaskan uang pemberian Nisa.


Zen menyenggol lengan Fian "Norak lo" serunya sedikit berbisik. Mereka berdua menjadi sorotan publik saat ini.


Fian menggaruk tengkuknya, Ia tersenyum canggung kearah salah satu pengunjung yang menatapnya.


"Tadi kok gue nggak liat Ardan?" tanya Zen. Ia menyapukan seluruh pandangannya mencari keberadaannya.


"Tadi Nisa keluar sendirian kan?" tambah Zen.


"Mungkin Nisa lagi ada urusan mendadak makannya pulang duluan" sahut Fian logis.


"Terus Ardan dimana?"


"Bisa aja kan dia lagi di toilet? " timpal Fian menjawab asal, dia sendiri masih menerka situasi yang sedang terjadi.


"Atau jangam-jangan malah Ardan udah pulang duluan?" ungkap Zen menuturkan kecurigaannya saat melihat Nisa yang tergesa seperti mengejar sesuatu, kemudian berjalan mendahului Fian.


"Lo mau kemana? udah ketemu sama sosok Ardan?" Fian menoleh samping kirinya mencari batang hidung Ardan saat Zen berjalan kesuatu arah.


"Gue capek berdiri terus duduk dulu " Zen menuding bangku kosong disudut pojok kanan.


Fian menarik baju Zen dari belakang, membuat Zen berhenti ditengah jalan.


"Stop....stop" ucap Fian cepat saat matanya menemukan meja tempat Yola Cs berada.


"Ada apa?"


"Ada yang beb Icha tuh" Fian menunjuk kearah Icha dengan dagunya.


"Samperin gih" Fian berjalan mengomando sedangkan Zen mengekor dari belakang.


"Mau ngapain kita kesana?" tolak Zen halus. Dirinya merasa canggung harus berhadapan dengan Icha. Seperti ada perasaan yang campur aduk saat berada berdekatan antara senang sekaligus malu harus berbicara apa nanti.


"Melepas rindu" celetuk Fian singkat.


Zen menarik salah satu sudut bibir keatas.


"Ya mau cari informasi lah" lanjut Fian lagi. Ia berjalan mantap mendekati mereka tidak peduli dengan jantung Zen yang berdetak lebih cepat.


"Boleh ikut gabung?" Tanya Fian tanpa basa-basi saat Yola menyadari kedatangan mereka berdua.


Yola menatap Icha lalu bergantian dengan Filla, meminta persetujuan mereka dari tatapan matanya.


"Silahkan" Filla memutuskan lebih dahulu, tangannya memegangi pipinya yang lebam. Ia meringis kecil menahan nyeri saat membuka suara.


"Lo kenapa Fil?"tanya Fian penasaran saat melihat lebam biru dipipi Filla saat ia menurukan tangannya.


Filla hanya tersenyum kecil sembari memasang wajah kesakitan yang amat sangat untuk menyakinkan Fian bahwa dirinya sedang terluka.


"Lo kenapa sih? kok bisa lebam gitu? mau gue tiupin? itu mesti perih banget" tutur Fian yang jelas saja hanya modus.

__ADS_1


"Itu cuma luka kecil kok" jawab Yola berbohong. Ia tidak ingin menyangkutkan masalah pribadi mereka dengan orang lain.


"Luka kecil lo bilang? bibir gue hampir robek gara-gara manusia laknat itu" seru Filla penuh emosi, Ia menjadi kesal dengan Yola yang menganggap enteng lukanya. Filla berpikir bahwa Yola tidak berpihak kepadanya namun justru membela Nisa.


"Maksud lo?" ucap Fian tidak mengerti yang dimaksud manusia laknat oleh Filla jiwa keponya mendadak muncul. Pokok permasalahan ini pasti seru tidak mungkin masalah kecil bisa membuat seseorang melakukan tindak kekerasan.


"Lo pasti kenal kan sama Nisa?" pancing Filla mulai menjelaskan.


"Iya gue tau, dia kenapa?" tukas Fian tidak sabar mendengar inti permasalahanya.


"Dia nampar gue"


"Apa?" seru Fian dan Zen serempak.


"Lo enggak lagi becanda kan?" ungkap Fian mewakili rasa penasaran Zen.


"Menurut lo luka gue cuma becanda?"


"Engga juga sih" jawab Fian tersenyum tanggung.


"Tapi gimana ceritanya?" lanjut Fian lagi.


"Udah deh nggak perlu dibahas yang harus lo tau Nisa tuh nggak sebaik yang kalian kira".


"Gue kenal Nisa kayak apa nggak mungkin Nisa ngelakuin hal itu tanpa sebab yang jelas" papar Zen masih tidak percaya ucapan Filla.


"Itu karena lo udah kemakan pesona busuk Nisa" Sindir Filla.


"Kalo lo enggak percaya lo bisa liat di cctv" tantang Filla optimis.


Zen terperangah mendengar keberanian Filla yang tak gentar menyakinkan dirinya. Zen menimbang bimbang meski sudah jelas Filla terluka namun dia tidak percaya Nisa bisa melakukan hal yang gila.


"Gue harap semoga lo masih bisa berpikir waras" Ucap Filla menatap Fian tulus.


Fian hanya bisa menelan ludah tidak tahu harus percaya pada siapa.


Yola menggelengkan kepalanya, ia tidak habis pikir bahwa Fila dapat selicik itu. Dalam masalah ini bukan sepenuhnya salah Nisa, ia sendiri yakin ingin melakukan hal yang sama seperti Nisa jika ada seseorang yang menginjak harga dirinya.


"Gue pamit pulang dulu yah" pamit Yola. Ia merasa jengah dengan sikap Filla yang mulai seenaknya sendiri.


"Makanan lo aja belum habis La" balas Icha mencoba menahan Yola. Ia sendiri tidak tahu harus bersikap bagaimana sekarang menghadapi Filla. Sebenarnya dia ingin menegur Filla namun Ia sendiri takut Filla akan semakin emosi. Meski tidak bisa dipungkiri Nisa juga bersalah dalam kasus ini, tidak seharusnya dia menampar Filla.


"Gue ada urusan mendadak" ucap Yola cuek. Ia butuh waktu untuk menjernihkan pikirannya.


Icha hanya mengangguk lemah. Ia menatap punggung Yola yang sudah menjauh. Icha menghembuskan napas tidak kuasa melihat kepergian Yola.


"Hati-hati dijalan" teriak Fian memperingatkan.


Yola melambaikan tangannya tanpa menoleh kearah Fian sebagai jawaban.


"Lo berdua mau pesan apa?" tanya Filla mengalihkan perhatian.

__ADS_1


"Terus Ardan kemana?" ucap Zen mengingat tujuan mereka datang kemari. Ia menginjak pelan kaki Fian yang akan menyahuti Filla.


"Dia udah pulang dari tadi"


"Pulang?" ulang Zen.


"Iya"


"Kenapa nggak pulang bareng Nisa?"


Filla mengedikan bahu "Mungkin malu sama kelakuan dajal Nisa" jawab Filla memutar balikan fakta. Icha memegang lengan Filla lembut meredam emosi Filla.


Zen menatap bingung kepada Fian. Ia merasa ada yang tidak beres.


"Kita cabut dulu yah. Ada urusen urgent nih" Ucap Zen undur diri. Ia menarik paksa agar Fian mau bangkit berdiri.


"Mau ngejar Nisa?"


"Kita mau pulang kok Mama Fian udah nyariin anaknya" sanggah Zen halus, ia tidak ingin menyinggung perasaan Filla jika tau dia ingin menyelidiki kasus ini lebih lanjut.


Fian hanya melongo tidak paham dengan pola pikir Zen. Zen mencubit pelan tangan Fian yang masih berada digengamannya mengode agar dirinya mengiyakan saja.


"I..ya nih, gue pulang duluan yah" Fian mengikuti langkah kaki Zen.


"Zen" panggil Filla.


"Iya?" Zen membalikan badannya merasa terpanggil.


"Jangan lupa mandi kembang nanti malam"


"Biar apa?"


"Siapa tau aja ada ilmu pelet yang nempel sama lo"


Zen menatap Filla sekilas,


"Kayaknya bukan gue yang harus mandi kembang, tapi lo Fil"


"Gue masih normal" cetus Filla.


"Gue ngerasa lo lagi kemasukan setan makanya jadi suka su'udzon sama orang".


Zen membalikan badannya lagi meneruskan langkah kakinya.


"Sialan lo Zen" teriak Filla kesal. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.


"Kali ini lo bisa menang dari gue Nis tapi gue nggak akan biarin lo bahagia diatas penderitaan gue. Enggak apa-apa kalau sekarang mereka berpihak sama lo tapi gue yakin cepat atau lambat mereka akan benci sama lo" Filla menghembuskan napas berat. Hilang sudah seleranya untuk menikmati makan siang.


"Kita pulang yuk" ajak Filla tegas..


Icha hanya menurut dia sendiri juga membutuhkan waktu untuk merenungi tindakannya. Apa dia sudah benar jika membela Filla? hatinya yang lembut selalu menyalahkan Nisa yang sudah menampar Filla. Hal itu merupakan tindakan kasar sangat bertolak belakang dengan dirinya.

__ADS_1


Tetapi untuk sebagian hatinya yang perasa ia yakin jika tindakan Filla salah tidak seharusnya dia menghakimi orang lain sekehendak mulutnya, itu sudah jelas menyakiti hati orang lain, jelas salah.


__ADS_2