
Malam harinya....
Zen memandang ragu ke arah ponsel disamping bantal tempat tidurnya, berulang kali mengetik dan menghapus pesan chat yang akan Ia kirimkan pada nomer yang Nisa berikan tadi siang.
Zen mengusap wajahnya gusar, frustasi dengan dirinya sendiri.
"Ayolah, masa cuma nge chat aja lo nggak berani pengecut amat lo bang" ucap Zen pada dirinya sendiri.
"Aha gue searching aja deh, pasti banyak tuh kiat-kiat ampuh buat PDKT lewat chat" Zen menyeringai licik. Perlahan dia mengetikan sesuatu pada menu pencarian online.
Zen menjambak rambutnya pelan, merasa pusing dengan banyak pilihan tutorial modus chat pada gebetan untuk pemula yang tersaji dilaman pencarian.
"Nggak ada ide bingung mo gimana, giliran banyak pilihan jadi pusing"
Zen menekan tombol enter di ponselnya,
"Inget kata yang beb Nisa, harus jadi diri sendiri"
Zen kembali mengetik sesuatu, Ia membacanya sekilas.
Zen: [Selamat malam Cantik😊]
Zen mantap menekan menu send, yang kemudian berganti menjadi ceklist dua.
"Njir, cuma nulis kek gini aja gue udah grogi"
Zen mengelap keringat ditelapak tangannya pada bad cover miliknya. Ia menggigit bibirnya saat warna abu-abu pada centang dua di Whatsapp nya berubah menjadi biru.
Zen menahan napasnya saat seseorang diseberang sana sedang mengetikan sesuatu balasan untuknya. Tak selang berapa lama, notifikasi pesan baru masuk dalam ponselnya.
XXX: [Mlm, siapa?]
Zen membaca lamat-lamat balasan pesan itu, Jantungnya berdegup kencang.
"Kok jutek yak?" tanya Zen tidak percaya membaca pesan singkat itu.
XXX:[Btw gue udah tau kalo gue cantik nggak perlu lo sebutin]
Zen berdecak pelan,
"Gue juga tau kalo lo cantik, tapi emang nggak bisa yah basa basi dikit" batin Zen. Ia memijat pelipisnya, mati kutu harus mencari topik pembicaraan selanjutnya.
Zen: [Lagi apa?]
"Yaelah, cuma nulis gitu doang mikirnya sampe jamuren gue"
XXX: [Kepo]
[Lo siapa si? jangan SKSD deh]
Zen: [Seseorang yang mengagumi mu dari jauh]
XXX:[ Yang mana? Fans gue banyak]
Zen:[ Kenalan dulu yuk, tak kenal maka tak...]
XXX: [Tak apa?]
Zen: [Sayang]
XXX: [Sayang pala lo peyang]
[Lo siapa sih?]
Zen: [Biarkan waktu yang akan menjawabnya]
XXX: [Waktu nggak punya mulut bego]
Zen: [Tapi waktu punya jalannya sendiri buat mengungkap siapa diri gue sebenarnya]
XXX: [Lari aja bisa nggak? kelamaan kalo jalan.]
Zen: [Engga, pelan-pelan aja biar nggak sakit]
XXX: [Lo waras?]
Zen:[ Waras kok, mesti aku tergila-gila padamu namun aku sadar cinta ku hanya untukmu seutuhnya.]
XXX: [Lo siapa si?]
__ADS_1
Zen: [Seseorang yang mencintaimu dengan sepenuh hati, segenap jiwa, dan dengan seluruh nafasku .]
XXX: [Jawab/blok?]
Zen mengerutkan keningnya, Ia mengamati foto profile di akun WA nya.
"Apa foto gue terlalu ganteng sampe lo nggak ngenalin gue?"
Drttt..drtt
Ponsel digenggamannya kembali bergetar, menandakan pesna baru.
XXX: [Gue hitung sampe tiga, kalo lo nggak jawab fiks gue blok.]
Zen: [Eh jangan dong, gue cuma mau nya sesuatu sama lo😓]
XXX:[ apa?]
Zen: [Lo udah makan?]
XXX: [******, pertanyaan lo nggak bermutu😑]
Zen menelan ludahnya,
"Dodol, kenapa lo tanya sesuatu yang nggak penting sih" Zen merutuki kebodohannya sendiri.
XXX: [Oh sekarang gue tau lo siapa🤔🤔]
Matanya Zen terlihat berbinar, nggak sia-sia gue selfi ratusan kali buat dapet foto yang bagus, akhirnya lo tau juga siapa gue.
Zen tersenyun kecil, mengingat dirnya yang berjam-jam mengedit fotonya agar tampak sempurna.
XXX: [Lo pasti wartawan yang lagi kurang kerjaan kan? makanya pertanyaan lo jadi basi.]
Mata Zen terbelalak lebar,
"Apa seperfect itu filter kamera gue sampe lo nggak ngenalin gue?"
Zen:[Gue bukan wartawan kok😟]
XXX: [Terus lo siapa? ngapain nanya2 gue😤]
XXX: [Gue bukan bocil yang makan aja harus diingetin]
Zen: [Iya2 deh😔😔😔]
[Emang lo serius nggak kenal sama gue
yank?]
XXX: [Yank?😲😲😲]
Zen: [Nama lo kepanjangan, makanya gue singkat jadi sayang😉]
XXX:[ Sorry, tapi gue gak sayang tuh sama lo]
Zen: [Bukannya enggak tapi belum😊]
XXX: [Belum ngebunuh lo maksudnya? 😬😬]
Zen: [Lo kok jahat banget si Cha😣😣, nanti kalo lo bunuh gue yang sayang sama lo siapa😢😢😢]
XXX: [Wait? Cha? maksud lo?]
Zen: [Lo Icha kan?]
XXX:[Gue bukan Icha!!😠]
Zen: [Hah?lo serius?]
XXX: [Dua rius ]
Zen:[ Terus lo siapa?]
XXX: [Gue....]
Zen melotot kaget membaca isi pesan tersebut. Rona wajahnya memerah menahan malu sekaligus kesal. Ia dengn terburu-buru mengblok nomor itu.
"Sumpah mau ditaruh mana muka gue, gimana kalo besok ketemu sama dia? malu banget njir"
__ADS_1
Zen meninju ranjangnya,
"Tega banget lo ngerjain gue Nis, hiks"
Zen meng Screenshot percakapan terakhir dirinya, mengirimkan pada Nisa hendak protes.
*****
Nisa tertawa lepas membaca foto Ss-an yang dikirim Zen, membuat Sari terlonjak kaget mendengar tawa Nisa yang tiba-tiba meledak dimeja makan.
"Nis, kamu nggak lagi nggak kesambet kan?" ucap Sari cemas.
"Enggak kok Ma" jawab Nisa masih meneruskan membaca pesan Zen.
"Terus kamu kenapa ketawa gitu? Mama jadi merinding nih" Sari mengedikan bahu merasa ngeri
"Mama ada-ada aja, Nisa cuma lagi baca chat lucu dari temen Nisa kok"
"Dari Zen? tebak Sari.
Nisa hanya mengangguk, masih asyik meladeni dampratan Zen. Ia tidak bisa membayangkan sekusut apa waja Zen saat telah sadar dikerjai.
"Emang bener yah cinta itu gila" Sari menggelengkan kepalanya melihat tingkah Nisa yang susah payah menghentikan tawanya.
"Maksud Mama?"
"Apa lagi kalo bukan gila namanya senyum-senyum sendiri begitu?" ketus Sari.
Nisa mencebikan bibirnya mendengar penuturan Mamanya
"His Mama ini, kayak nggak pernah muda aja" cerca Nisa sinis.
"Dasar bucin"
"Enggak kok Ma"
"Digombalin apaan si, bahagia banget" Sari mendekat ke arah Nisa, melongok pada layar ponsel Nisa yang masih menyala.
"Iiiih Mama kok kepo sih" Nisa menjauhkan ponselnya dari jangkaun Sari yang hendak merebutnya.
"Mama kan cuma pengen tau" sanggah Sari mengejar Nisa yang kini berlari menaiki tangga.
"Emang Papa dulu nggak pernah nge gombal?"
"Aduh Nisa kok jadi balik kepo sama Mama"
"Ya udah deh, sama-sama laki-laki ya pasti gombalannya beda tipis la" Nisa mengedipkan matanya menggoda Mamanya.
"Sok tau kamu Nis"
"Emang Papa dulu gombalin Mama gimana sih? kok bisa Mama mau jadian sama Papa?" Nisa menghentikan langkahnya diujung anak tangga, menatap serius pada Mamanya.
"Cuma orang dewasa yang boleh tau, Kamu masih kecil belajar aja gih yang bener" Sari memalingkan wajahnya menghindari tatapan Nisa yang tampak mengintrogasinya. Ia mengurunkang niatnta untuk menggoda Nisa, alamat nantinya malah dia sendiri yang kena sasaran ledekan Nisa.
Nisa tersenyum gembira penuh kemenangan, Ia melanjutkan langkahnya menuju kamarnya dilantai dua.
Nisa merebahkan dirinya diranjang, tak lupa Ia meng off kan paket datanya. Ia tidak ingin tidurnya terganggu dengan panggilan suara dari Zen yang tengah mencak-mencak pada dirinya. Nisa mulai memejamkan matanya, tidak peduli dengan Zen yang kini pasti setengah mati kesal padanya karena telah mengerjainya.
*****
NB:
Gays, jangan lupa tinggalkan jejak positif kalian:
LIKE yak kalau kalian suka, cuma satu detik kok..please luangkan waktu kalian 1 detik buat pencet gambar jempol disetiap akhir episode.
komen,
Vote
Rate 5
And Follow ( nanti aku Follback kok😉)
Ayok dukung Author biar nggak down, jangan jadi silent readers yak😘😘😘
Happy readings say🤗 Maaciw buat semua yang udah mau mampir😍😍
Salam hangat dari Pujas🤓
__ADS_1