Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 29 Menguak Masa Lalu


__ADS_3

Aldo termenung ditaman belakang rumahnya. Suasana hatinya masih buruk, tatapan matanya kosong menghadap lurus kedepan.


Bayangan hitam melewati permukaan wajahnya, Aldo menepis kasar tangan Yola.


"Ngelamun aja lo bang, nanti kesambet baru tahu rasa" celetuk Yola. Ia menepati janjinya untuk bertemu Aldo seusai acara pesta ulang tahunnya.


"Enggak papa asal setannya bule, gue mah fine aja"


"Dih bulenya yang mau sama lo"


"Tumben pinter, otak lo lagi encer yah" timpal Aldo mengoloknya.


"Dari dulu juga udah pinter"


"Kok gue baru tau? bukannya biasanya otak lo beku kayak beruang kutub?"


"Tau dari mana lo otak beruang kutub beku?"


"Ya tau lah, beruang kutub pasti tinggal dikutub, yang namanya kutub tuh dingin jadi beku deh tuh otaknya" papar Aldo, tangannya mengacak rambut Yola pelan.


"Awas deh Al, berantakan nih" Yola cemberut, ia merasa kecantikannya akan berkurang karena rambutnya yang acak acakan.


"mulai kan lo jail" lanjut Yola, tangannya kini merapikan rambutnya dengan jari jemarinya.


"Emang lo pikir gue lagi lomba pake mulai segala"


"Iya lomba buat dapet gue kan"


"Lagi belajar nge gombal lo dek? basi tau nggak" ucap Aldo sarkas.


"Udah tau gue lagi ngegombal, harusnya lo muji gue biar semangat gombalinnya bukan malah jatuhin"


"Guenya yang ogah kali digombalin sama mak lampir kayak lo" Aldo memegang perutnya yang terasa kram, tidak sanggup menahan tawa melihat ekspresi masam Yola.


"Nggak asik lo" ucap Yola ketus, ia tersenyum kecut melihat Aldo yang tertawa ngakak disampingnya.


"Lo yang nggak asik, gitu aja ngambek" ledek Aldo, ia menjitak kepala Yola


"Awww, lo suka banget sih cari gara-gara" Yola mencubit perut Aldo.


"Aduh duh" Aldo mengaduh memegang bekas cubitan Yola.


"Sakit banget La" Aldo menekuk badanya kebawah, terus mengaduh kesakitan.


"Rasain, impaskan" seru Yola puas, ia menyeringai lebar kearah Aldo.


Aldo menegakan kembali badanya "Tapi bohong" Aldo tertawa keras, sukses menge prank Yola.


"Aldo" teriak Yola marah tangannya memuku bahu Aldo bertubi-tubi.


"Aaaaa, ampun La" Aldo memelas memohon, tulang bisa remuk jika tidak segera dihentikan.

__ADS_1


Yola tidak peduli, suara Aldo yang memelas menambah semangatnya memukul dengan sekuat tenaga. Setelah merasa puas baru berhenti mengirim pukulannya, melipat kedua tangannya didada.


Aldo mengelus bahunya, "sakit Nih" rajuknya.


"La" panggil Aldo pelan sisa nyeri masih menempel dipundaknya.


"Hmm" guman Yola pendek.


"Gue mendadak kangen nih sama lo"


Yola mengernyitkan dahinya "Maksud lo?" tanya nya tidak mengerti.


Aldo mencubit pipi Yola keras "Kangen sama pipi lo pengen nyubit" jelasnya santai, ia belum melepaskan cubitannya.


"Aww sakit, Aldo lepas" yola menarik paksa tangan Aldo yang tidak bergeming dari tempatnya, tenaganya kalah jauh.


"Aduh udah dong sakit nih" ucap Yola memelas. Aldo melepaskan cubitannya, meninggalkan jejak warna merah dipipi cubby milik Yola.


"Al sakit nih" rengek Yola, ia merasa panas dipipinya. Matanya berkaca-kaca hendak menangis.


"Cuma segitu aja lo mau nangis, cengeng banget" Aldo menarik dagu Yola mendekat kearahnya meniup kedua pipi Yola bergantian.


Yola merasakan kesejukan dipipinya, hatinya berdesir pelan. Melihatnya dari jarak sedekat ini membuat Aldo terlihat handsome.


"Kenapa liatin gue?"


Yola tersentak kaget mendengar suara Aldo yang tepat diwajahnya, ia bahkan bisa merasakan hembusan nafas Aldo.


"GR banget lo" Yola mengalihkan pandangan matanya pada sekumpulan bunga mawar disamping kanannya. Berat sekali rasanya menyelaraskan antara perasaan dengan keadaan. "Inget Yola, Aldo saudara sepupu lo. Engga boleh ada perasaan love love sama dia".


Senyap, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Yola menghirup dalam-dalam udara yang bergerak bebas disekitarnya, memenuhi rongga dadanya.


Aldo kembali termenung, memikirkan teka teki tentang kejadian tadi siang. Menerka apa yang sebenarnya terjadi. Ia sendiri bingung harus memulai dari mana. Aldo mengigit bibir bawahnya, ia memandangi Yola yang tak jua bicara. menyadari betapa pengecut dirinya, hanya memulai pembicraan pun dia tidak berani.


"La, gue mau ngomong sesuatu sama lo" ungkap Aldo lirih, ia memberanikan dirinya. Menunggu bukanlah suatu hal yang mudah, banyak perasaan tidak nyaman yang dirasakan. Bertanya jauh lebih ringan dari pada menanggung beban tanya yang tidak kunjung terjawab.


Yola berdehem kecil, situasi mulai serius. Lupakan sejenak tentang perasaan aneh dihatinya. Ada hal yang jauh lebih penting untuk diluruskan.


"Iya Al"


"Lo kenapa bisa bertengkar sama Nisa?" tanyanya hati-hati.


"Bukan karena lo nggak ngundang dia kan?" imbuh Aldo.


"kalo menurut lo bukan karena masalah itu, terus apa?"


"Kalo gue tau gue nggak bakal tanya sama lo La" sergah Aldo sedikit kesal, bukan jawaban itu yang ingin dia dengar.


"Terus kenapa lo yakin bukan sebab itu Nisa marah?"


"Gue kenal Nisa sejak lama, gue tau Nisa kayak gimana, nggak mungkin cuma masalah sepele sampai dia ngebentak lo dan nampar gue"

__ADS_1


"Kenapa lo bisa seyakin itu?"


"Lo belum jawab pertanyaan gue" Aldo mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin menceritakan masa lalu, menceritakan ulang sama saja membuka luka lama.


"Ada masalah apa lo sampe bisa bertengkar sama Nisa?" ulang Aldo dengan nada menuntut.


"Segitu pentingnya buat lo tau?"


"Yola, tolong jawab gue" seru Aldo meninggi, tidak sabar dengan sikap bertele-tele Yola.


"Gue akan jawab tapi lo kasih tau gue apa hubungan lo sama Nisa, gimana?"


Aldo terdiam sebentar, ia menimbang sesatu. Tidak masalah baginya jika harus membasahi lukanya lagi, asal dia bisa menyesaikan masalahanya dengan Nisa.


"Gue ngak punya hubungan apa-apa" elak Aldo, ia ternyata belum siap.


"Lo yakin?"


"Iya" jawab Aldo tegas, semuanya sudah berlalu.


"Kalo lo nggak punya hubungan apa-apa kenapa Nisa marah saat gue bilang lo pacar gue?"


Deg..Aldo melotot kearah Yola, bola matanya seperti hendak keluar. Yola bergidik ngeri melihatnya.


"Apa lo bilang?"


"Gue bilang kalo lo pacar gue"


Aldo menelan salivanya, matanya memerah ia tidak menyangka Nisa masih menyimpan rasa itu. Selama ini ia hanya mampu menebak dan feelingnya ternyata benar.


"Al lo kenapa?" Yola khawatir melihat Aldo yang terkulai lemas, wajahnya terlihat pucat.


"Gue nggak enak badan La" ucap Aldo tiba-tiba.


"Masuk yuk" Ajak Aldo sembari bangkit dari duduknya, rasa bersalah kembali menyeruak memenuhi hatinya. Ia merasa lemah tidak berdaya mengungkap perasaan yang sebenarnya.


Langit terlihat mendung, hawa dingin menebar keseluruh arah. Yola berpikir hal itu mungkin yang membuat Aldo masuk angin tidak enak badan.


Yola menurut, ia tidak ingin kerepotan jika Aldo mendadak pingsan. Yola membantu memapah Aldo sampai kamarnya. Membaringkannya perlahan.


"Lo pulang gih La" usir Aldo halus, ia ingin sendiri saat ini.


"Tapi lo belum jawab pertanyaan gue"


Aldo membisikan sesuatu, tiga kata yang cukup membuat Yola terperanjang kaget.


"Lo serius?"


Aldo mengangguk lemah "Gue mau istirahat, lo buruan pulang gih" usirnya lagi, Aldo menarik selimut berwarna hitam miliknya, pura pura hendak tidur.


Yola menurut, ia melangkah keluar. Pikirannya kini melayang tak tentu arah.

__ADS_1


__ADS_2