Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
76


__ADS_3

Nisa berusaha bangkit dari duduknya, dilepasnya helm yang dipakainya untuk berjaga-jaga.


"Hallo manis" sapa seorang laki-laki bertubuh gempal yang kini berjarak satu meter dari Nisa.


Nisa menahan nafas sebentar berusaha tenang. Ditegakkan tubuhnya dengan paksa, Ia tidak boleh terlihat lemah atau kedua orang itu akan semakin girang melihatnya kesusahan.


"Maaf anda siapa?" tanya Nisa sesopan mungkin. Meski Ia kesal karena tubuhnya terasa seperti remuk sehabis mencium aspal, namun Ia berusaha bersabar. Ia yakin bukannya bertanggung jawab dua orang asing di depannya justru akan mempermainkannya.


"Apa kau mau berkenalan dengan kami?" ucap seseorang yang bertubuh kurus. Keduanya semakin memangkas jarak dengan Nisa.


"Tidak" jawab Nisa tegas. Ia merutuki kebodohaan manusia yang tampak seperti preman itu.


"Siapa manausia normal yang ingin berteman dengan sosok mengerikan seperti kalian hah?" batin Nisa menggerutu kesal.


Lihatlah tatto di sekujur tubuhnya, telinganya yang bertindik sebelah, rambut gerondongnya yanug tampak satu tahun tak tercuci dan jaket kulit hitamnya.


"Maksud ku, ada urusan apa kalian dengan ku?" tanya Nisa sembari terus melangkah mundur. Beruntung posisinya berada di jalan raya, sejauh apa pun melangkah sepertinya tidak akan buntu.


"Ah tenang saja nona, kita hanya ingin bersenang-senang dengan mu" ucap si gendut dengan mengedipkan sebelah matanya.


Nisa mengerjap-ngerjap kan matanya, menerna baik-baik kalimat baru saja masuk digendang telinganya.


Nisa memasang kuda-kuda, cepat atau lambat keduanya pasti akan menyerangnya. Ia bukan gadis bodoh yang tak tahu arti kedipaan genit dari manusia nggak ada akhlak di depannya.


Keduanya serempak tertawa lebar melihat kesiagaan Nisa.


"Ayolah tak perlu takut, kami janji tidak akan menyakitimu jika kamu mau menurut" ucap si cungkring.


"Cuih, kalian pikir gue udah hilang kewarasan hingga mudah dikibuli?"


"Mau kalian apa sih? jangan basa-basi. Dirumah ada seseorang yang menantiku pulang. Aku tidak ada waktu untuk melayani ocehan sampah kalian" ucap Nisa selembut mungkin. Kesabarannya sudah habis, Ia tidak ingin mamanya cemas karena terlalu lama menunggu.


"Aku juga sudah tidak sabar ingin bersenang-senang dengan mu" kedua preman itu memperlebar langkahnya, Ia menatap Nisa buah ingin segera memakannya.


Astaga bukan ini yang Nisa mau. Ia hanya ingin keduanya menjelaskan maksud dan tujuannya mencegat Nisa. Ia mempercepat lanngkahnya, berlari sejauh mungkin. Keduanya pun semakin semangat mengejar Nisa.


Nisa mencari ponslenya dengan gesit, segera mencari kontak Azam. Nisa bersyukur melihat Wa Azam yang masih on line, Ia langsung menelepon tanpa basa basi.


"Azam tolongin gue" pekik Nisa dengan sedikit berbisik. Ia tidak ingin memancing kemarahan preman di belakangnya karena tahu Ia meminta bantuan.


"Lo dimana?"


"Gue dijalan X, jarak gue sekitar lima KM dari rumah Yola, Cepatan" Nisa menutup telepon cepat. Jarak keduanya tinggal tiga meter. Ia harus kembali fokus pada larinya.


Nafas Nisa tersenggal, dia mengehentikan langkahnya. Ia hampir kehabisan nafas karena berlari.


Nisa melirik kiri kanannya, tidak ada celah untuk bersembunyi. Kiri kananya hanya pepohonan rindang. Jika ia memilih dari jalan raya, itu artinya Ia akan masuk hutan atau jika apes Ia akan terperosok ke jurang.


Nisa menggigit bibirnya, bingung harus memilih jalan mana.


"Ya Tuhan, gue harus gimana" Nisa sekuat tenaga menahanan bendungan air matanya, menangis hanya akan membuatnya semakin lemah tak berdaya. Menangis juga menguras tenaga kan?.

__ADS_1


Baiklah, tidak ada jalan lain selain melawan. Berlari sejauh mungkin pun tak mungkin, Ia tentu kalah tenaga dengan dua orang laki-laki yang mengejarnya.


Nisa menghela nafas, menetralkan detak jantungnya. Ia kembali memasang kuda-kuda.


"Hahhaha...menyerah juga kau gadis kecil" ucap si gendut, tertawa jahat.


Nisa mendengus kecil,


"Tidak semudah itu ferguso" balas Nisa dingin.


Kedua preman perlahan itu berjalan mendekat.


"Kalau berani, satu lawan satu jangan keroyokan" ucap Nisa ketus.


"Kenapa? kau takut?" ejek si cungkring.


"Aku takut? tentu saja tidak. Tidak ada yang patut ditakuti kecuali Tuhan yang Maha Esa"


"Waaah pandai juga kau cermah rupanya" jawab si gendut.


"Ayok kalu berani maju satu-satu" pancing Nisa memanasi.


"Berani juga kau menantang kami hah?" gertak si cungkring sedikit tersulut emosi.


"Baiklah jika itu maumu" Si cungkring pun maju.


Nisa bernafas lega, lebih mudah mengatasi satu orang dari pada dua orang kan?. Nisa tersenyum smrik, Ia yakin dia pasti bisa.


Nisa berdiam ditempatnya, menungu si cungkring melawan lebih dulu.


"Aaargh" pekik si cungring terkejut dengan pukulan tak terduga yang diterimanya. membuat Ia sedikit kelimpungan.


Nisa tak memberikan jeda sedikit pun, Ia mendang perut si cungring hingga jatuh tersungkur.


Si gendut menggeram marah melihat temannya ambruk ke sisi jalan. Ia segera berlari mendekati Nisa untuk menyerang, mengabaikan temannya yang mengerang kesakitan. Ia melayangkan satu tinjunya.


Nisa dengan sigap berkelit ke samping kiri. Tangan kanannya dengan sigap menahan pergelangan tangan si gendut yang mengenai udara kosong didepannya. Ia lantas memutar ke dalam hingga hampir 380 derajat.


"Aaarh" si gendut menjerit kesakitan, merasa tangan kananya terkilir. Tangan kirinya pun beraksi, Ia meraih menghantam punggung belakang Nisa.


Nisa menghentakan peganganya, lalu mundur ke belakang. Si gendut kehilangan ke seimbangan, Ia terhuyung ke samping.


Nisa maju lagi, Ia melayang kan bogemnya ke arah pelipis di gendut. Ta ayal tubuh gempal Itu kini terpental ke tanah.


Pergerakan Nisa terlalu kilat, belum sempat Si gendut bangun. Nisa lebih dulu memukul kakinya agar Ia lumpuh.


Nisa menatap nanar tubuh tambun di depannya yang kini sedang merintih kesakitan.


Si cungkring perlahan bangkit, matanya memerah menahan amarah.


Nisa balas menatap galak.

__ADS_1


"Aku tak akan membiarkan mu lepas bocah nakal. Akan ku buat kau menyesali perbuatan mu itu"


"Oh ya? kau tak kan pernah bisa membuatku menyesal karena aku tak akan pernah menyesal telah menjaga kehormatan ku" balas Nisa sengit.


"Cuih, berani kau menjawab? rasakn ini"


Si cungkring melepas tinjunya ke arah perut Nisa.


Nisa mengayunkan tangannya kedapan untuk menangkis serangan.


Si gendut mengayunkan tangan kirinya, Nisa menangkis balik dengan tangan kiri.


Jual beli pukulan pun terjadi, Nisa berusaha sekuat tenaga untuk menangkis.


Nisa berfikir keras mencari celah untuk menyerang balik, saat keduanya sibuk dengan pukukan tangan, Nisa memundurkan tubuhnya beberapa langkah, membuat jarak agar memudahkan kakinya untuk menendang bagian perut lawann.


Bugh


Sebuah tebuah tendangan kedua mendarat di perut lawan.


"Arrg" rintih si cungkring lirih, Ia memegang perutnya yang terasa nyeri.


Nisa sedikit membungkuk, Ia membabi buta memukuli wajah si cungkring.


"Argh hentikan" ucapnya pelan menutupi wajahnya. Nisa memukul kencang untung terkahir kalinya.


"Aku minta maaf telah melukaimu, tapi aku tak bisa tinggal diam jika kamu meremehkan harga diriku" ucap Nisa tegas.


Tidak ada lagi perlawanan, Nisa segera bangkit menjauh.


Melihat buronanya kabur, si gendut susah payah merangkak bangun. Ia tak peduli lagi dengan rasa sakit di betisnya, Ia harus berhasil menjalankan misinya.


Ia tertatih mengejar Nisa. Meninggalkan Si cungkring yang mungkin saja telah pingsan akibat keganasan Nisa.


"Apa kamu mau ku kirim ke kuburan sekalian?" seru Nisa yang kesal preman itu masih saja mengikutinya.


"Tidak, aku hanya ingin memperingatkan mu. Jangan pernah kau dekati Aldo lagi" ancamnya menatap Nisa tajam.


Nisa mengerutkan dahinya, tidak paham.


"Aku tahu dia kini sedang mendekati mu, tapi ku berita tahu pada mu jauhi Aldo karena kau sangat tidak pantas untuknya"


"Apa maksudmu? kau hampir saja membuat ku celaka hanya karena itu?"


"Ya. Orang miskin seperti mu harus di beri pelajaran agar tahu diri"


Nisa mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Ku beri tahu padamu juga bahwa aku sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun dengannya. Seharusnya kau mengahajar Aldo bukan aku. Dia yang mendekati ku bukan Aku" seru Nisa menaikan nada suaranya.


"Dulu kau memang orang kaya saat Wijaya masih menjadi Ayahmu, sangat sepandan dengan Aldo. Tapi kau sekarang sudah jadi miskin semenjak kedua orang tua mu bercerai. Jadi jauhi Aldo, masih banyak wanita yang lebih pantas untuk bersanding dengan Aldo".

__ADS_1


Nisa meninju mulut si gendut keras.


"Beraninya kau menghina Mama ku. kau tidak tahu apa-apa tentangnya. Meski ku akui dia memang tidak semapan ayah ku tapi dia sudah berusaha sepenuh jiwa raganya untuk menghidupi kami" kecam Nisa sembari memukul secara bibirnya secara beruntun.


__ADS_2