
Nisa terperanjat kaget saat pintu kamarnya digedor keras. Nisa secepat kilat membukakan pintu, tidak biasanya Sari membangunkannya sepagi ini.
"Kenapa Ma?" mata Nisa kini sudah terbuka sempurna, Ia penasaran sekali ada hal urgent apakah sampai Sari membangunkannya dengan tidak sabar.
"Dicariin tuh sama Abang ganteng kamu" ucap Sari berkacang pinggang diambang pintu, Ia berdecak takjub melihat rambut kusut masai Nisa yang acak-acakan.
"Siapa Ma?" tanya Nisa tidak paham.
"Aduh Nisa emang kamu punya doi berapa sih sampe lupa yang mana" gerutu Sari gemas.
"Satu aja nggak punya" Nisa menguap lebar, lantas kembali berbalik menghampiri ranjang.
"Eehhh..ehhh mau kemana kamu Nisa, Mama belum selesai bicara" seru Sari sambil menarik ujung baju tidur Nisa dari belakang.
"Apa sih Ma, Nisa ngantuk tau. Kalo mau becanda nanti sore aja yah" ungkap Nisa malas.
"Mama serius ada yang nyariin kamu"
"Serius Ma? siapa?" tanya Nisa antusias.
"Aaa..." Sari sengaja menggantung ucapnnya.
"Siapa Ma?" rengek Nisa tidak sabar.
Jantung Nisa berdetak cepat,
"Njir pasti bukan Aldo kan" Nisa berusaha positif thingking.
"Hayo tebak siapa?" Sari mengedipkan matanya menggoda.
"Nggak tau, kan Nisa belum ketemu" ujar Nisa kesal.
"Menurut kamu siapa temen kamu yang namanya pake huruf A?"
Nisa menggigit bibirnya, ragu hendak menjawab.
"Ya udah gih buruan temuin dulu, kasian dia udah nunggu lama" perintah Sari yang jengah menunggu Nisa membuka suaranya.
Nisa bergegas melenggang pergi dari hadapan Mamanya saking penasarannya
Sari menarik lagi baju Nisa saat Ia melewatinya.
"Aduh, kenapa si Ma?" Nisa sempoyongan menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh karena ditarik mendadak dari belakang oleh Mamanya.
"Mandi dulu"
"Duh Ma, nanti aja deh. Nanti keburu Nisa mati penasaran Nih" sanggah Nisa keberatan.
Sari melototkan matanya,
"Kamu itu anak gadis Nisa, apa yang bakal cowok pikirin tentang kamu kalau tau kamu belum mandi jam segini?"
"Ya bodo amat lah, Nisa kan nggak nyuruh dia mikirin Nisa"
"Ampun dah, good looking dikit lah" cerca Sari sengit.
"Iya..iya" Nisa mencebikan bibirnya menurut, Ia kembali melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Good girl" Sari mengembangkan senyumnya, merasa beruntung tidak harus beradu mulut di hari yang masih pagi ini. Ia kemudian melangkah turun menuju ruang tamu dilantai satu.
Sari mengerutkan keningya saat mendengar langkah kaki yang mengikutinya.
"Astaga Nisa" seru Sari melotot tajam melihat Nisa yang berjarak tidak jauh darinya.
Nisa nyengir kuda,
"Kenapa Ma? ada yang salah?" Nisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tidak merasa bersalah. Ia mengelap sisa air yang menempel diwajahnya bekas basuhannya dengan telapak tangannya.
Sari benar-benar dibuat takjub dengan kelakuan Nisa.
"Mama menyuruh kamu mandi Nisa bukan hanya berganti pakaian" Sari menggelengkan kepalanya, baru beberapa menit beryukur karena Nisa mau menurut, sekarang sudah berulah lagi.
Nisa memperlihatkan telapak tangannya yang basah.
"Nisa udah mandi kok Ma, tapi mukanya aja yang Nisa mandiin yang lainnya nanti nyusul"
Sari yang geregetan lantas menjewer telinga Nisa.
"Apa perlu Mama mama ajarin cara mandi yang bener?" omel Sari.
"Aduh..duh...Kan enggak baik lho Ma membuat tamu nunggu lama-lama" sangkal Nisa membela diri.
"Terserah lah, Mama mau ke dapur dulu buatin minum" ucap Sari menyerah tidak mau meladeni Nisa, takut darah tinginya naik.
"Thanks Ma" jawab Nisa sambil memberi kiss bye untuk Sari yang beranjak pergi.
__ADS_1
Nisa melongo lebar melihat sosok lelaki yang tengah berdiri anggun saat melihat kedatangannya. Ia menatap tidak percaya dengan penglihatannya.
"Pagi Nis" ucapnya ramah sambil tersenyum manis ke arahnya.
"Lo lagi? ngapain kesini?"
"Mau numpang sarapan" ketus Azam kesal melihat Nisa raut jutek miliknya.
"Rumah gue bukan warteg"
"Ya elah jutek banget lo Nis, nanti cantiknya ilang lho"
"Jangan samain kecantikan gue sama doi lo" Nisa melipatkan tangannya didada,
" Asal lo tau yah cantik gue udah bawaan lair, nggak bakal ilang dalam situasi dan kondisi apa pun" ucap Nisa bangga.
"Btw udah abis darah pw berapa biar bisa awet kayak gitu?" tanya nya penasaran.
"Heh, lo pikir gue Elisabeth Bathory?
"Hehe maap"
"Lo ngapin masih pagi buta udah ke sini?"
"Ini udah luamyan siang kalee" Azam melirik pergelangan tangannya, melihat angka yang ditunjuk jarum jam. Pukul 06.30.
"Buat kaum rebahan kayak gue, ini masih pagi masih waktunya bobo bukan keluyuran"
"Maaf Nis abis gue udah capek banget"
Nisa mengerutkan keningnya,
"Capek nahan kangen sama lo, makanya gue langsung cepet-cepet ke kesini" lamjut Azam sambil menyunggingkan senyumnya.
"Dasar lelaki kardus" Nisa mencubit lengan Azam.
Azam berbelit kesamping kiri kanannya, gesit menghindari cubitan beruntun Nisa.
"Udah stop..stop gue kesini cuma mau ketemu lo kok"
Nisa menghentikan serangannya,
"Mau minta morning kiss" ucap Azam seraya menunjuk pipinya sendiri.
"Apa kata lo barusan?"
"Emm..enggak kok, gue cuma mau ngobrol sama lo" jawab Azam meralat ucapannya.
"Karena banyak orang bilang wong tresno jalaran soko kulino (orang jatuh cinta karena terbiasa )"
Nisa menautkan kedua alisnya, memahami kalimat Azam.
"So gue mau membiasakan diri biar lo terbiasa sama gue, biar lo nyaman sama gue, terus lo nggak bisa hidup tanpa gue dan akhirnya lo takut kehilangan sama gue alias cinta mati sama gue" tambah Azam.
Nisa memegang dahi Azam, namun Ia tidak merasa ada suhu panas di dahinya itu berati Azam masih waras.
"Lo lupa? orang ngerasa boring karena apah? karena mereka sering melakukan sesuatu yang sama secara berulang-ulang" papar Nisa.
Azam menghela nafas, berusaha tegar menghadapi Nisa.
"Lo tunggu dulu disini" Nisa membalikkan badanya, hendak pergi menuju kamarnya.
"Lo mau kemana?" seru Azam panik.
"Mau tidur, ngantuk"
"Astaga Nis, gue tamu lho masa elo tinggalin"
"Lo kan tadi bikang mau numpang sarapan ya udah gih ke meja makan"
"Gue becanda kali"
"Serius juga boleh, Mama gue baik kok"
"Lo bener-bener manusia terjahat yang gue kenal sepanjang hidup gue" Azam berdecak kagum atas kecuekan Nisa yang tingkat dewa itu.
Nisa kembali mengahampiri Azam sambil terrtawa.
"Uuuunch dasar bocil, gue bikang tunggu ya tunggu jangan bawel" seru Nisa sembari berjinjit untuk mengacak pucuk rambut Azam.
"Gue bukan mau tidur kok, gue mau mandi dulu" jelas Nisa.
"Lo belum mandi?" Azam terkejut mendengar pengakuan Nisa.
Nisa mengangguk kecil,
__ADS_1
"Malah gue belum bangun waktu lo dateng ke sini"
"Luar biasa sekali anda" Azam bertepuk tangan riuh, terkejut sekaligus kagum.
"Gue kan insom, makanya suka bangun siang"
"Insom atau begadang?" ejek Azam.
"Sama aja keles"
"Beda lah"
"Betis"
"Terserah lo deh" ucap Azam pasrah.
"Dih gitu aja udah nyerah gimana nanti kalo berjuang?" sindir Nisa.
"Gue tuh berjuang buat cinta lo bukan ocehan lo"
"Ya udah deh, gue siap-siap dulu" ucap Nisa pamit pada Azam. Ia berbalik lagi meneruskan langkahnya yang tertunda. Tepat saat itu, dari arah dapur Sari datang membawa nampan berisi minuman.
"Ayo minum dulu" Sari meletakan dengan hati-hati.
"Si Nisa kemana?" tanya Sari saat melihat Nisa pergi.
"Mau mandi dulu katanya Tan" jawab Azam kikuk. Sari memaksakan senyumnya, merasa malu sekali dengan anak gadisnya.
"Kamu udah kenal lama sama Nisa?"
"Udah Tan" Azam sedikit menunduk untuk menghindari bertatap langsung dengan Sari, berharap agar groginya terkurangi.
"Kenal dari mana?"
"Kebetulan teman sekelas Tan"
"Ooo,kamu beneran cuma temen Nisa?" Selidik Sari kepo.
"Maunya sih lebih tan"
Sari tersenyum kecil, "Siapa sih yang nggak mau punya menantu ganteng kayak oppa begini, udah mancung, sis pack, sopan pula" Sari terus mengamati dengan seksama setiap inci tubuh Azam, terpesona dengan ketampanan Azam sekaligus kagum dengan kesopanannya yang terus menunduk dan lemah lembut dalam berbicara.
Azam semakin tertunduk merasa canggung dengan Sari yang menatapnya tanpa kedip.
Azam mengangkat kepalanya saat melihat Nisa datang.
"Udah selesai Nis?" seru Azam membuat lamunan Sari buyar.
Nisa bergumam pendek, mengambil tempat duduk disebelah Nisa.
"Tante tinggal dulu yah"
"Iya Tan" sahut Azam singkat.
"Lo seriusan nggak ada keperluan apa-apa sama gue ?" tanya Nisa santai tidak semencak-mencak tadi saat pertama kali menemui Azam. Dirinya kini merasa lebih fresh sehingga bisa mengontrol intonasi suaranya.
"Enggak ada kok, gue cuma mau jogging"
"Terus lo ngapain nyasar kerumah gue?"
"kan gue mau ngajak lo"
"Yaelah tinggal lari doang, ngapain harus ngajakin gue" gerutu Nisae
"kan gue mau hidup sehat bareng lo"
"Iya kalo sehat kalo malah ketularan virus rabies lo gimana?"
"Ya enggak lah gue sehat wal afiat kok"
"Bagus deh, semoga nggak cuma badan lo yang sehat tapi akal lo juga"
"Otw yok keburu siang nih nanti bukannya jogging malah jadi berjemur" ajak Azam
"Lo minum dulu"
Azam mengangguk menurut, tidak ingin urusanya menjadi runyam karena omelan Nisa yang tidak suka dibantah. Azam meneguk cepat minumannya, membuatnya tersedak.
Nisa mengusap-usap punggung Azam dengan lembut.
"Thanks" ucap Azam disela, batuknya.
"Gue panggilan Mama dulu" ucap Nisa saat Azam batuk Azam mulai mereda.
Azam tersenyum menatap punggung Nisa yang kini sudah menjauh, berangan-angan betapa beruntungnya jika bisa memilik Nisa. Ia merasa nyaman dengan Nisa meski dirinya sangat cuek padanya, meski terlihat jutek namun Ia tau Nisa tipe orang yang peduli. Sifat cerianya selalu menular kepada siapa pun membuatnya selalu bahagia hanya dengan melihat senyumannya.
__ADS_1