
Nisa mencuci wajahnya diwastafel, berharap kekesalannya bisa menghilang ikut larut dalam basuhannya. Ditatapnya cermin besar yang berada di toilet sekolah.
"Apa mending jujur aja yah sama Yola?"
gumam Nisa bimbang. Nisa sendiri tak tahu apa yang sedang dirasakannya. Hatinya tak rela melihat Yola yang tak gencar mendekati Azam.
Jika respon Azam sangat tidak mengenakan hati dan gendang telinganya seperti tadi, bisa darah tinggi nanti.
Bagaimana jika Yola baper?. Nisa sekarang paham Azam memang akan menutup rapat tentang hubungannya, tetapi Nisa yakin jika Ia cemburu pasti akan balas dendam.
Jika jujur, sanggupkah Ia dikatai penikung sahabat sendiri?. Seberapa banyak orang yang akan mencaci makinya, menanyakan hati nuraninya. Bagaimana jika Yola menampakan watak aslinya jika sedang marah?. mengamuk? mencincang, memutilasi, memfitnah, atau bahkan menyantet?.
"Astagfirullah, aku benci pikiran kotor ku"
Nisa membasuh lagi wajahnya.
Helaan nafas keluar pelan, hubungannya terlalu rumit. Banyak sekali orang disekitarnya yang akan tersakiti dari ketidakjujurannya.
Aldo, ditilik dari perlakuannya, Dia sepertinya masih berharap. Namun juga tak tegas dalam mengambil langkah. Di gertak sedikit saja sudah mundur.
Nisa semakin tak enak hati jika tak berterus terang telah memiliki pacar, Aldo pasti akan semakin berharap.
"Kok bisa yah Filla mati-matian ngejar Aldo?"
Nisa nyengir kuda, mungkin ini yang dinamakan pasangan serasi. Yang namamya jodoh kan saling melengkapi, cocok tuh. Wanita iblis bersatu dengan cowok berhati hello kitty"
"Hadeh. Selera lo rendah juga ya Fil. Gue pikir cewek ganas kayak lo cari yang gangster"
Nisa membasuh lagi wajahnya.
Kini bayangan Filla yang menyebalkan justru muncul dibenaknya. Entah rencana licik apa yang akan dia buat jika Aldo masih mendekatinya. Mungkinkah kejadian beberapa waktu lalu akan terulang? atau bahkan semakin brutal. Seperti mengahabisi diwaktu sepi misalnya.
"Nisa dicariin Azam tuh" teriak Nadifa sembari memasuki toilet wanita.
Nisa sontak menoleh ke samping, keningnya berkerut menatap Nadifa yang tergesa melenggang masuk.
"Apa Dif?" ulang Nisa masih tak percaya.
"Ada Azam diluar nungguin lo" jawab Nadifa.
"Lo serius?"
"Iya. Makanya buruan samperin, keburu lumutan tuh"
"Oke" Nisa merapikan anak rambutnya yang sedikit berantakan. Diusapnya sisa air yang masih membasahi wajahnya dengan tissue.
"Lo belum pulang Dif?"
"Belum, gue mau wifian dulu di perpus" jujur Difa seraya masuk ke dalam salah satu bilik toilet.
Nisa tertawa kecil, teman satu kelasnya memang sedikit berbeda dari yang lain. Enggak ada jaim-jaim nya.
"Gue duluan Dif" pamit Nisa kemudian.
"Yoi" jawab Nadifa singkat. Dirinya sedang sibuk dengan panggilan alam di perutnya.
Nisa melangkah pelan-pelan. Semoga bukan prank. Ada apakah gerangan Azam mencarinya? bukankan Ia tadi aysik bercanda dengan Yola?.
Nisa menghentikan langkahnya, rasa bersalah kembali menggelayutinya. Tidak seharusnya dia merahasiakan hubungannya.
"Sekuat apakah hati Azam menahan rasa cemburu di hatinya. Sesabar apa kah Ia sampai bisa bertahan dalam kepura-puraan? bersikap biasa saja tanpa tegur sapa padahal mereka berdua adalah sepasang kekasih".
Nisa mengusap wajahnya, Ia terlalu takut untuk terluka padahal Ia sendiri telah melukai hati banyak orang.
Meneruskan hubungan akan mematahkan dua hati sekaligus, Aldo dan Yola. Jika dibubarkan pun tetap akan melukai, yah Azam pasti akan sangat sangat terluka.
Nisa memantapkan hatinya, Ia harus jujur. Seburuk apa pun kejadian yang akan menimpanya, Ia siap menanggung. Nisa yakin Azam pasti akan selalu dipihaknya. Ia tidak sendirian, masih ada seseorang yang tulus mendukungnya.
"Semoga aja Aldo udah pulang" harap Nisa cemas. Usahanya setengah jam bersembunyi ditoilet bisa sia-sia jika masih beepapasan.
Azam yang sedari tadi menyandarkan tubuhnya ke tembok menegakan punggungnya saat mendengar langkah kaki menuju ke arah luar.
Posisinya kini berada di toilet wanita dekat ruangan kelas. Hal ini membuat dirinya tak bisa bebas keluar masuk seperti waktu dulu saat ditoilet belakang sekolah yang jarang dijamah orang. Jika nekat masuk bisa heboh seisi sekolah, seorang siswa tampan terciduk sedang mengintip. Haduh, nggak lucu kan.
"Azam? lo ngapain disini?" seru Nisa dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Senang sekaligus terkejut Azam bisa ada disini.
"Nunggu bidadari lewat"
"Kok lo bisa disini?" tanya Nisa seraya mendekati Azam.
"Cintamu yang menuntunku kemari"
"Gombal" ketus Nisa.
"Betah banget lo ditoilet, ngapain aja?"
"Tidur"
__ADS_1
"Pantes, ratu kebo"
"Ayang aku kangen" ucap Nisa dengan nada manja. Di usapnya rambut Azam dengan lembut. Yah, dirinya takut kehilangan Azam sekarang. Ia takut jika Yola mampu meluluhkan hati Azam.
Azam menyipitkan matanya, merasa ada yang aneh.
"Setan mana yang tengah merasuki mu hah?"
Nisa refleks menjambak rambut Azam.
"Kurang ajar lo yah"
"Aww sakit nyet" Azam mengusap kepalanya.
"Bodo amat"
"Maap, lagian lo biasanya jutek ke gue kenapa sekarang sok manis"
"Gue emang manis"
"Masa sih?"
"Iya"
"Tapi kalo di pikir-pikir Yola juga manis"
Nisa mengepalkan tinju didepan wajah Azam.
"Coba ulang"
"Emm..Annisa emang pualing manis kok" ralat Azam cepat. Tangannya hati-hati menurunkan kepalan tangan Nisa.
"Gue mau jalan-jalan"
"Sekarang?"
"Besok nunggu lebaran monyet"
"Kalo sekarang nggak boleh"
"Kenapa?"
"Pacar gue lagi ujian, harus banyak belajar"
"Tapi gue pengen jalan-jalan sama lo" sergah Nisa keberatan.
"Sebentar aja kok"
"Bilang sebentar tapi nanti seharian"
"Azam pelit"
"Bukan gitu. Lo harus giat belajar biar nilai lo bagus jadi bisa membanggakan orang tua" jelas Azam mencoba memberi pengertian.
Nisa terdiam, membenarkan ucapan Azam. Namun Ia masih ingin dekat dengan Azam. Aish Yola, kau membuatku cemburu sehingga aku tak ingin jauh dari pacarku😔😔.
"Besok kalo udah selesai ujian kita muncak deh" bujuk Azam tak tega melihat raut muka Nisa yang terlipat.
"Serius?"
"Iya nanti kan kita libur selama 2 minggu jadi bisa nginep sekalian"
"Waah berdua?" tanya Nisa dengan tersenyum jail.
"Bertiga sama Yola biar lo jadi obat nyamuk"
"Azam" Nisa melotot kesal manatap Azam. Ia berjalan meninggalkan Azam dengan langkah kaki dihentak-hentakan ke lantai.
Azam tertawa keras melihat Nisa yang tengah merajuk.
"Enggak baik berduaan. Nanti kita ajak Icha sekalian" ucap Azam berusaha mensejajari langkah Nisa.
"Masa cewek semua?"
"Iyalah biar gue yang paling gateng"
"Mending nggak usah liburan" ketus Nisa.
"Kenapa? anda jealous?"
"Pikir sendiri"
"Nanti juga Icha pasti ngajak bebeb nya"
"Oh iya" Nisa membuka matanya lebar.
"Gue ajak geng somplak sekalian"
__ADS_1
"Ehmm.. ajak Aldo maksudnya gitu?" tandas Azam memperjelas.
"Eh bukan gitu" ucap Nisa tak enak hati.
"Ajakin aja biar rame"
"Kayak bakaran rumah aja rame"
"Bakaran hati"
"Terus gimana? nggak enak cuma ngajak Fian sama Ardan"
"Ajak Aldo juga nggak papa asal nggak CLBK aja" peringat Azam tegas.
Senyum Nisa terkembang lebar.
"Tentu saja tidak. Karena sekarang dihati telah terisi namamu" Nisa menggenggam tangan Azam seolah takut kehilangan menuju parkiran.
Azam menggaruk pelipisnya, Ia merasa ada yang aneh dengan Nisa. Entah apa yang terjadi di toliet, sikap Nisa benar-benar berubah 180°. Mungkinkah Ia telah mendapat Ilham?.
"Em Nis, nggak malu diliatin orang?"
"Biarin"
Azam memandang lekat Nisa, sejak kapan Nisa tak peduli dengan komentar orang lain?. Biasanya dia sendiri yang marah-marah agar Azam menjaga jarak bukan?.
"Ehm nanti kalo Yola liat gimana?"
Nisa menghentakan tangan Azam kasar.
"Kenapa sih lo suka banget manggil nama Yola?" tanya Nisa sengit.
Azam sedikit terkejut dengan perubahan sikap Nisa yang mendadak jutek.
"Ya bukan gitu. Kan lo sendiri yang bilang mau jaga perasaan Yola"
Nisa menghembuskan nafas,
"Biarin aja dia tau"
"Nis lo sadar?" tanya Azam heran.
"Gue nggak mau Yola semakin berharap sama lo. Gue nggak mau dia ngejar sesuatu yang sia-sia"
Azam mengangguk singkat. Yang bisa ia lakukan hanya menurut, dibantah pun Nisa tak akan terima. Meski Ia heran dengan mood perempuan yang super labil ini.
"Gue mau kenalin lo sama Bunda gue. Mau nggak?"
"Eh..enggak ah. Gue malu"
"Tenang bunda gue orangnya welcome kok"
"Tapi.."
"Udah sellow aja. Sekalian sama ambil motor lo"
"Motor gue kenapa bisa sama lo sih?
"Takdir"
Nisa mengerucutkan bibirnya kesal. Sumpah Ia sangat kepo sekarang. Nisa melirik Azam sekilas, sekarang Ia juga kepo dengan latar belakang Azam.
"Astaga Nisa, gimana bisa lo pacaran sama orang yang belum lo kenal jati dirinya?"
"Ehm..gue ganteng yak" seru Azam saat Nisa tak kunjung mengedipkan matanya.
"Dih PD" balas Nisa membuang muka.
"Apa cuma Yol...."
Nisa membungkam mulut Azam,
"Iya lo emang ganteng banget" sungut Nisa yang tau kelanjutan ucapan Azam. Cuma Yola yang sadar lo ganteng gitu? batin Nisa sebal.
Azam terkekeh kecil,
Nisa termenung ditempatnya, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan tentang Azam.
"Hari ini ulang tahun Bunda, jadi gue mau ngenalin lo sebagai kado spesial dari gue"
"Emang gue barang"
"Tapi kan lo spesial"
Nisa menyenderkan kepalanya di pundak Azam. Hatinya melambung tinggi di angkasa. Seserius itu kah Azam sampai Ia mau mengenalkan ku pada keluarganya?.
Azam menggengam tangan Nisa. Gadis disampingnya pasti sedang menenangkan kecambuk di hatinya. Bertemu camer, siapa yang nggak grogi?.
__ADS_1