
Seusainya pulang sekolah, seperti kesepakatan tadi siang. Azam tak ingin memancing Yola semakin kepo tentang kedekatan dirinya dengan Nisa.
Ia pun dengan langkah berat menuju kelas X IPA 3 sekedar untuk menengok kekasihnya tanpa bisa menyapanya.
Azam menautkan kedua alisnya, sayup-sayup Ia mendengar suara Aldo.
"Nis pulang bareng yuk" tawar Aldo tersenyum manis.
Yola tersenyum getir, padahal Ia sepupunya namun tak sekali pun Aldo mengajaknya. Salahnya sendiri sih dirinya meminta Aldo agar tak sok akrab dengannya.
Andai saja mereka tau, pasti banyak kaum hawa yang mendekati Yola. Bukan untuk berteman tulus melainkan mau menjadikannya mak comblang. Yola mengendikan bahu tak peduli, Ia membereskan peralatan tulisnya agar bisa segera pulang.
Filla menggebrak kecil meja di depannya. Matanya berkilat tak suka melihat adegan drama sampah dihadapannya. Kebencian pada Nisa semakin bertambah kali lipat. Sepertinya memang benar, Ia harus melenyapkan manusia tak tahu diri itu.
"Maaf Al gue udah di jemput Mama gue" tolak Nisa spontan berbohong.
"Cih, sok jual malah" geram Filla semakin kepanasan.
"Tumben?" tanya Aldo heran. Ia tau persis jam pulang kerja Mama Nisa. Pukul empat sore, namun akan tiba dirumah sekitar pukul 5 karena jaraknya jauh, dutambah membeli makan malam terlebih dahulu.
"Iya..katanya pulang lebih awal"
"Udah dijemput di depan?"
Azam perlahan memasuki kelas, Ia ingin melihat reaksi Nisa dengan mata kepalanya sendiri.
Azam berdehem kencang, membuat Nisa salah tingkah seolah ketahuan berselingkuh.
"U..dah" jawab Nisa terbata. Saat ini azam tengah menyorotnya tajam.
"Oke gue anterin ke depan"
Nisa menahan nafas, mencari alibi lain untuk menolak Aldo.
"Ya ampun babang handsome ngapain disini" pekik Yola girang melihat pujaan hatinya.
Azam menggaruk kepalanya, seharusnya dia menunggu luar hasilnya diluar.
Aaarghh sekarang urusannya menjadi rumit dengan kehebohan yang akan diciptakan mak lampir yang satu ini.Tidak mungkin Ia jujur jika ingin berjumpa Nisa.
"Cuma mampir aja" jawab Azam menciba setenang mungkin.
"Aaa pasti Kangen kan sama gue" ucap Yola penuh percaya diri.
"Maybe" balas Azam diimbuhi senyuman super manisnya.
Nisa melotot tajam mendengar ucapan Azam.
"Mau pulang bareng?" tanya Yola penuh harap.
"Enggak deh takut ada yang marah"
"Hah? siapa? nggak ada kok"
"Siapa tau aja kan ada seseorang yang sedang mengagumi mu dari jauh" tutur Azam dengan nada mencibir.
Nisa menelan salivanya, tersindir dengan ucapan Azam.
"Mungkin lo yang nggak sadar, ada orang yang tulus mencintai lo dalam diam. Memandang dari kejauhan sambil bergumam, aah mantap" ucap Azam gencar menyindir.
"Halah, sok tau lo bang" sanggah Yola tak percaya.
__ADS_1
"Al gue bisa ke depan sendiri kok, nggak perlu repot-repot nganterin gue" ketus Nisa lantas berlalu dari hadapan Aldo.
Aldo mematung ditempatnya tak berniat mengejar, jika Nisa sudah dingin padannya maka lebih baik mundur sebentar jika tak ingin kena amukan.
Aldo melirik sepupunya sekilas, nasib keduanya miris. Sama-sama sedang menjadi pengemis cinta.
Tak membuang waktu lebih lama, Aldo ikut meninggalkan ruang kelas.
Filla menghembuskan nafas kasar, sepahit inikah kenyataan hidup. Kenapa Tuhan menghadirkan cinta pada seseorang yang justru mencintai orang lain?.
Filla bangkit dari duduknya, Ia akan berjuang sekali lagi. Jika cinta ditolak, apa salahnya setelah ini dukun bertindak?
Azam tertawa puas dalam hati. Sikap ku tergantung sikap mu padaku.
"Jika kamu menganggap hal sepele kecemburuanku, maka aku akan melakukan hak yang sama dengan apa yang kamu lakukan. Agar kau tau seperti apa rasanya sulitnya aku memendam cemburu dalam diam".
"Enggak ada kok" tegas Yola menyadarkan Azam yang melamun.
"Lo nggak sadar kali"
"Emang siapa orangnya? elo?"
Azam mendelikkan matanya,
"Enak aja, gue mah ogah"
"Iiish jahatnya"
"Anak sholeh nggak boleh pacaran" jelas Azam sembari melipatkan tangannya.
"Kalo nikah boleh kan?"
"Azammm" kesal Yola memukul lengan Azam.
"Sorry bre, masa depan gue masih panjang gue nggak mau nikah muda" ucap Azam mengelus lengannya yang terasa panas.
"Gue tungguin kok"
"Tapi gue nungguin yang lain" ucap Azam tanpa dosa.
"Nisa?"
"Bukan"
"Siapa?"
"Seseorang yang telah ditulis dilauful mahfudz Nya"
Yola berdecak kesal, lagi-lagi Azam menolaknya halus.
*******
"Al" panggil Filla menghentikan langkah Aldo di koridor kelas.
"Iya Fil?" balas Aldo setengah hati.
"Pulang sama gue aja yuk"
Aldo memaksakan senyumnya,
"Boleh. Tapi motor lo gimana?"
__ADS_1
"Itu urusan gampang. Lo mau kan nganterin gue?"
Aldo mengangguk mengiyakan. Apa ini yang membuat Nisa menjauhinya?. Dia tidak bisa tegas dengan Filla. Apa Nisa cemburu? atau memang tak ada lagi rasa cinta dihatinya.
Aldo sedikit terkejut saat Filla bergelayut manja di lengannya. Hatinya menolak tegas perlakuan Filla, namun tangannya tak bergeming sama sekali untuk menepis.
"Astaga Al, gimana lo mau dapetin Nisa kalo lo lembek begini" desis Aldo membatin.
"Nanti mampir makan siang dulu boleh nggak? gue laper" rengek Filla manja.
"Mau makan dimana?"
"Restoran seafood mau?"
"oke"
Filla tersenyum lebar. Ia berharap ini akan menjadi awal baik untuknya.
"Gue juga pengen shopping" sambung Filla memancing Aldo.
"Terserah gue ikutin kemana lo pergi"
"Sadar Al, lo sedang berjuang buat Nisa" akal sehat Aldo mencoba untuk menyadarkan Aldo.
"wth"
Aldo lagi-lagi merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa Ia semudah itu mengucapkan barusan?.
"Waaa serius nih"
"Iya, lo mau sekalian jalan-jalan?"Aldo menggigit bibirnya, mengapa kalimat itu yang justru keluar dari bibirnya.
Filla mengangguk cepat, tidak ingin Aldo berubah pikiran. Pegangan dilengan Aldo semakin erat.
"Tapi pulang kerumah gue dulu yah, mau ganti baju. Udah lengket nih"
"Siap bos"
Jantung Aldo berdesir merasakan kehangatan saat Filla berada disampingnya. Tak ada rasa risih pun saat Filla berada di dekatnya seperti waktu lalu. Apa ia mulai menyukai Filla? atau karena tubuhnya sudah lelah mengejar Nisa.
Nisa menjauh namun malah Filla semakin mendekat. Apakah Tuhan ingin agar aku membuka lembaran baru?.
Aldo berjalan gontai menuju parkiran, hatinya terlalu lemah untuk memilih.
Aldo membukakan pintu mobil untuk Filla
"Makasi Al"
"Sama-sama"
Filla meremas kedua tangnnya sendiri, euforia bahagia menyeruak memenuhi hatinya.
"Semoga selamanya tetap begini" ucap Filla lirih dengan tersenyum ceria
Visualnya Yola
Visulanya Icha
__ADS_1