Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 53


__ADS_3

Nisa mengelap keringat dengan lengannya, membuat baju hodie yang dikenakannya sedikit basah.


"Istirahat dulu lah, gue capek" teriak Nisa saat melihat Azam yang berjarak jauh dengannya, Ia mendekat ke sebuah kursi taman.


"Baru sebentar aja udah capek, gimana nanti kalo ikut lomba lari maraton? bisa meninggal ditempat lo Nis" jawab Azam setelah sampai di dekat Nisa.


"Gue tu capek nungguin lo yang jalannya kek siput" gerutu Nisa kesal, Ia merapikan anak rambut yang berantakan.


"Nih" Azam menyerahkan beberapa tangkai bunga mawar yang beraneka warna, merah putih, kuning dan pink.


"Nggak modal banget lo, yakali ngasih gue barang curian"


"Emang sih nggak modal materi, tapi lo harus tau buat dapetin itu harus punya modal keberanian yang besar, harus gentle, belum lagi kalo digebukin massa karena ketauan nyolong" seru Azam cemberut usahanya tidak dihargai.


"Enggak usah alay deh. Jangankan massa mau gebukin lo, tikus aja lari kalo liat muka jelek lo" Nisa menarik kedua sudut bibir Azam, memaksakan membentuk sebuah senyuman" kemudian mengambil Bunga mawar dari genggaman Azam.


"Lo tau kenapa gue kasi banyak bunga buat lo?"


Nisa menggelengkan kepalanya, sibuk menciumi bunga mawar didepannya.


"Karena gue mau lo bisa kayak bunga mawar itu"


"Maksudnya?"


"Gue mau lo bisa memberikan banyak warna dihidup gue" ucap Azam menjelaskan.


Nisa tersenyum kecil,


"Pake nippon paint aja biar hasil warnanya lebih cerah dan tahan lama"


Azam berdecak kesal, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


"Oh iya, gue berharap lo jangan jadi pelangi yah"


Azam menegakan tubuhnya,


"kenapa?"


"Karena keindahan lo nggak bisa dilihat sama semua orang, ada beberapa orang yang buta warna"


Azam menghembuskan nafas berat, mengalah. Baiklah, mungkin gomblannya tidak akan mempan untuk seseorang yang berhati batu seperti Nisa, namun masih ada cara lain. Ya, apa lagi jika bukan mencintai dalam diam.


Azam mengepalkan tanganya kuat-kuat menanamkan keyakinan baru dalam dirinya. kini sudah bukan saatnya lagi untuk memperbanyak gaya atau frasa namun berjuang lah secara rahasia melalu doa, semoga dengan begitu Yang Maha Kuasa mau menjadikan ekspetaksi menjadi realita.


"Hey" Nisa menjentikan jarinya didepan wajah Azam yang tampak melamun.


"Eh iya?"


"Ngelamunin apa?"


"Nggak kok, cuma lagi nikmati hari gue aja" tatapan Azam masih lurus ke depan. Meski hanya melalui sudut matanya, namun Azam bisa melihat kerutan di kening Nisa.

__ADS_1


Azam menoleh ke samping, memandang Nisa lekat.


"Lo tau? gue bersyukur banget hari ini".


Nisa menatap bingung ke arah Azam, Ia sabar menunggu Azam yang tampak masih ingin berbicara.


"Setelah lima belas tahun gue ngerayain ultah sendiri. Akhirnya setelah genap diusia enam belas tahun, sekarang gue bisa merayakan bareng seseorang yang spesial dihidup gue"


Nisa ingin sekali mencakar Azam saat itu, namun melihat sorot mata serius Azam membuat dirinya hanya mampu menahan semua umpatan dikerongkongannya tanpa menyuarakannya. Nisa memutar bola matanya malas menatap arah lainnya, jengah dengan tatapan serius Azam yang tampak menyebalkan dimatanya.


"Baru juga beberapa detik diem, sekarang kumat lagi modus lagi"


Azam menarik tangan kanan Nisa ke pangkuannya, membuat Nisa terperanjat kaget.


"Lo nggak mau ngucapin sesuatu sama gue?"


"Sebentar gue mikir dulu" Nisa mengetukan jari-jarinya di pelipis, berpikir keras.


"Gue tau" seru Nisa riang, Ia menghembuskan nafasnya dalam satu tarikan.


"Apa?"


"Oh" ucap Nisa ketus


Seketika mata Azam melotot penuh, syok mendengar kata yang keluar dari dari bibir tipis Nisa, Ia mengelus dadanya agar tidak terpancing emosi.


"Emang penting?" tanya Nisa acuh.


"Iya gue tau kok, nggak ada yang istimewa dalam berulang tahun selain berulang-ulang bersama mu" Azam tersenyum kecut, sudah terbiasa dengan kejutekan Nisa. Namun hal itu membuat semangatnya menjadi membara untuk mendapatkan Nisa, wanita langka yang tidak mudah tergoda dengan rayuan buaya.


"Oke..oke, serius sekarang" Nada suara Nisa kini terdengar serius, ia menggenggam tangan Azam dengan tangan kirinya.


"Sendiri bukan berati tersakiti, berdua juga belum tentu bahagia. Kenyamanan bukan berarti harus berdua, namun nyaman lah pada diri mu sendiri sampai benar-benar seseorang yang tepat datang menghampiri. Ketika saat itu tiba, barulah kamu boleh merasa nyaman dengan orang lain" Nisa mengelus punggung tangan Azam, memberikan kekuatan padanya agar kuat menerima kenyataan.


Azam menghela nafas, mengangguk.


"Makasi"


"Lo mau kado dari gue nggak?" tawar Nisa mengalihkan pembicaran.


"Emang lo mau ngasi gue?" tanya Azam antusias.


"Iya, tapi ada syaratnya"


"Apa?"


"Lo harus nangkepin gue itu" jari telunjuk Nisa mengarah pada seekor kupu-kupu cantik berwarna orange bercampur hitam.


"Kenapa lo nggak sekalian minta di cariin jarum dalam tumpukan jerami? biar puyengnya jadi nggak nanggung"


"Gue ganti sama ini gimana?"

__ADS_1


"Okey, jadi lo mau minta apa?" Nisa dengan senang hati menerima capung dari tangan Azam, menempelkan jari telunjuknya pada kaki-kaki lengketnya.


"Seikhkasnya aja"


"Lo maunya apa?"


"Gue nerima apa adanya"


"Serius? nanti kalo nggak suka lo nyinyir"


"Nanti kalo gue sesuatu lo tolak mentah-mentah"


"Udah su'udzon aja lo bang"


"Kalo gue mau hati lo gimana?" ejek Azam sambil tertawa.


"Hati gue cuma satu bambang, kalo lo ambil sama aja lo ngebunuh gue perlahan" sahut Nisa sembari menarik hidung mancung Azam.


"Kan tadi lo yang nawarin"


"Yang lain"


"Gue mau.." Azam menunjuk bibirnya.


"Ooo itu, gampang mah"


"Serius?"


Nisa mengangguk-angguk. Cuma sekali? nggak papa kan? hihi.


"Lo tapi merem yak?" Tangan kiri Nisa menutup mata Azam rapat.


Azam santai memejamkan matanya, Nisa mendekatkan tubuhnya. Ia mendaratkan tangan kanannya di dagu Azam.


"Awwww" Azam menjerit saat sesuatu melukai bibirnya. Ia segera menarik tangan Nisa menjauh dari bibirnya. Tak lupa juga melepas telapak tangan Nisa yang menutupi matanya.


"Gila lo" Azam mengelus bibirnya yang lecet.


"Gimana enak?" Nisa tertawa puas melihat raut kesal Azam.


"Enak banget sampe pengen gue kunyah sekalian" gerutu Azam.


"Mau lagi?"


"Nggak" sahut Azam dingin.


"Yakin nih?" Nisa menaik turunkan alisnya.


"Hmmm"


"Ya udah" Nisa melepas capung yang sejak tadi dipegangnya.

__ADS_1


"Dadaaaah, see you next time" Nisa melambaikan tangannya.


Azam melirik tidak suka pada binatang yang baru saja tanpa dosa kembali terbang bebas saat dilepas. Ingin sekali dia mencincang bibir capung yang baru saja mendarat dibibirnya.


__ADS_2