Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 31 Mengalah


__ADS_3

Nisa mengerjapkan matanya saat jam weker dinakas samping kiri tempat tidurnya berdering. Ia merentangkan tangannya merenggangkan persediannya, berjalan menuju kamar mandi. Langkahnya terasa ringan, seolah beban dihatinya sudah menguap hilang.


Ia merendamkan tubuhnya dibathup, air hangat yang menyentuh kulitnya terasa sejuk. Dia bangun pukull lima pagi, masih banyak waktu untuk merilekskan badannya dengan berendam air hangat.


Pukul enam, ia menuruni anak tangga pergi menjemput sarapan paginya.


"Selamat pagi Mama" sambut Nisa semangat memulai harinya.


"Selmat pagi juga anak Mama" balas Dian, ia tersenyum hangat memandang wajah anak gadisnya yang ceria. Tidak sia-dia rupanya ia menasehati panjang lebar tadi malam.


"Kamu sarapan apa, biar Mama yang mengambilkan"


"Nisa mau makan nasi goreng spesial buatan Mama dong" Nisa mencium aroma wangi makanan didepannya, nafsu makannya bertambah.


Dian dengan sigap mengambilkan sepiring nasi goreng, menyerahkan pada Nisa.


"Makasi Ma" Nisa dengan senang hati menerimanya. Menyantap dengan lahap.


"Sama sama sayang" Dian mengambil jatah nasi goreng miliknya, sarapan pagi bersama Nisa.


Hening, hanya ada dentingan sendok yang beradu dengan piring. Nisa menyelesaikan satapan paginya dengn cepat, ia harus berangkat lebih awal agar tidak terlambat mengikuti upacara bendera.


"Nisa berangjat dulu Ma" Pamit Nisa sambil mencium punggung tangan Dian.


"Hati hati yah".


"Iya Ma".


Dian mencium dahi Nisa singkat, mengikuti langkah Nisa keluar rumah mengantaran keberangkatannya.


Nisa bergegas menuju garasi, mengeluarkan motor scoopy waran pink nya. Ia melambaikan tangannya sebelum perlahan melajukan motornya. Ia mengendarai dengan kecepatan sedang, menikmati suasana pagi yang masih sejuk. Mengirup udara sebanyak-banyaknya.


Selang 25 menit kemudian, ia sudah sampai dipintu gerbang. Berdesakan sengan siswa siswi lainnya.


"Tumben enggak telat" celetuk Bang Apip, salah satu satpam di SMA Nusa Bhakti tepat ketika Nisa melewati pos satpam.


Nisa mendengus kasar, tidak menyahuti. Ia melenggang pergi menuju parkiran.


"Huh akhirnya beres juga" Nisa memakirkan motor scoopynya, setelah selesai Ia membenarkan seragamnya yang sedikit keluar. Ia meneruskan perjalanannya yang sempat tertunda menuju ruang kelasnya.


Azam melirik jam dipeegelangan taangannya,


"Eh Nisa" seru Azam takjub melihat kedatanganya yang lebih awal dari biasaya, ia berpapasan dengan Nisa diambang pintu kelas saat hendak membuang sampah.


"Tumben berangakt pagi Nis" lanjut Azam seraya membuang sampah ditempatnya.


Nisa melengos melangkah masuk kelas sebentar lagi bel tanda masuk akan berbunyi.


"Sombong amat bund" seru Azam sembari mengekor dibelakang Nisa.

__ADS_1


Nisa membalikan badannya,


"Emang kenapa kalo gue berangkat pagi?" seru Nisa ketus, ia melirik jam dinding yang menunjukan pukul tujuh kurang lima menit.


Setiap hari senin, literasi memaca ditiadakan diganti dengan persiapan upacara. Bel masuk masuk normal seperti biasa, pukul tujuh.


Azam meringis kecil, sikap jutek Nisa kepadanya membuat ia senang menggodanya. Meski dengan raut wajah kesal atau cemberut Nisa tetap terlihat menggemaskan dimatanya.


Nisa terdiam mematung didepan kelas, melihat bangku kursinya yang sudah diduduki siswi lain. Semula ia ingin mengusir siswi tersebut, tetapi begitu melihat tas yang juga bertengker dikursinya, membuatnya terdiam.


Nisa melangkah ke bangku pojok depan menuju bangku Nadifa, ia meletakan tas nya disana.


Difa tersenyum canggung kepada Nisa, tadi pagi Yola memaksa Nayla, teman satu bangkunya untuk duduk dengannya, membuat Nisa tergusur.


Nisa membalas senyumnya, tidak mau ambil pusing. Sudah sejak kemarin dia mengirimi Yola pesan permintamaafannya. Namun tidak ada balasan, sekarang jika Yola ingin memutus pertemannan dengannya, Nisa akan menghargai keputusaan. Ia akan menjadikan sebagai pembelajaran


"Gue boleh duduk disini?" tanya Nisa pelan, sekedar basa basi.


"Iya.. silahkan" jawab Difa putus-putus mendadak grogi berhadapan dengan Nisa.


Difa sedikit membuka mulutnya, melongo dengan sikap Nisa yang santai duduk ditempat bangku barunya. Dimana jiwa ke bar-baran Nisa selama ini? kemana suara cempreng itu pergi melihat dirinya diusir tanpa persetujuannnya? Ia tau Nisa ratu cerewet dikelasnya, hal sekecil apa pun akan diributkannya.


Tapi saat ini dia sangat menurut dan tidak menuntut apa pun. Apa Gue lagi bermimpi? tanya Difa pada dirinya sendiri. Meski Nisa terkenal berisik, tetapi hal itu justru menghibur orang lain. Tanpa kecerewatannya, suasana kelas seperti di kuburan , sepi.


Meski ada beberapa yang suka mencibir sifat alay Nisa, tetapi lebih banyak yang suka dengan kebobrokannya. Nisa tidak pernah bertidak arogan meski memiliki geng elit dikelasnya, ia tidak pernah sombong meski menjadi salah satu primadona disekolahnya, Nisa yang baik meski sedikit jutek.


"Kenapa liatin gue?" tanya Nisa tiba-tiba, membuyarkan lamunan Difa.


"Yakin nggak ada apa-apa?" Nisa menaikan turunkan alisnya, menatap menyelidik.


"Iya serisu kok" Jawab Difa, jantungnya berdetak kencang tidak pernah ia duduk sedekat ini dengan Nisa, salah satu siswi idola sekolahnya. Bukan hanya karena kecantikan Nisa, tetapi karena juga kepandaian, kebaikannya saat menolong temannya yang kesusahan apa lagi saat ulangan ia akan dengan senag hati memberikan contekan.


"Gue tau gue cantik, tapi biasa aja dong liatinnya masa jeruk makan jeruk" Timpal Nisa penuh percaya diri.


Difa sontak tersenyum.


"Enggak lah, gue masih normal kok" jawabnya riang, mulai terbiasa dengan kehadiran Nisa.


Bel tanda masuk melengking terdengar, semua siswa siswi segera berhamburan keluar menempatkan diri si barisan kelasnya masing masing.


Nisa mencari topi upacaranya,


"Keluar yuk" ajak Nisa ramah, menunggu Difa yang masih sibuk mencari topinya.


Difa menerima uluran tangan Nisa, bergandengan keluar kelas.


"Dasi lo?" seru Difa, ia menunjuk kerah Nisa.


"O iya gue lupa" seru Nisa menepuk jidatnya. Berjalan berbalik, mengambik dasinya.

__ADS_1


Woy cepet keluar" Suara Azam menggema diseluruh sudut kelas, membuat anak buahnya kelimpungan keluar.


Nisa semakin panik, ia mengeluarkan semua isi tasnya mengobrak abrik tanpa ampun.


Nisa tersentum lega saat kain panajng berwarna abu-abu meluncur turun bersama sobekan kertas, ia segera melekatkan dikerah bajunya.


"Ayok Dif" Nisa berjalan sambil membentuk segitiga didasinya. Difa mengangguk, mereka berjalan beriringan.


Nisa tersemyum bangga melihat hasil karyanya, dasinya terbentuk segitiga sama sisi. Ia menyampirkan ujung dasinya kepundak belakang untuk memepermudah menarik pangkal dasinya.


Sreett. Dasinya yang semula sesikit turun, kini berada tepat dibawah kancing baju atasnya.


"Buruan jalannya lelet banget sih" Azam yang sudah menunggu diambang pintu langsung menarik dasi Nisa yang masih tersampir dipundak begitu mereka berdua melewatinya. Menyeretnya menuju barisan kelasnya.


"Apaan sih lo Zam" seru Nisa, ia sempoyongkan menyesuaikan diri dari tarikan Azam.


"Aduh Azam lepasin dong" Nisa mempercepat langkahnya mengikuti tempo langkah Azam.


"Brisik lo"


"Nanti rusak" gerutu Nisa kesal, hasil jerih payahnya tidak dihargai sama sekali.


Azam berjalan santai didepan Nisa tidak menanggapi ucapannya, tangannya terjulur kebalakang masih menarik dasi Nisa. Difa menahan tawanya, semua ornag memperhatikan ulah Azam tanpa kedip. tak luput bisik-bisik berdengung pelan.


"Lo baris yang rapi, kalo enggak gue tarik lagi dasi lo" Azam melepas pegangan didasi Nisa tersenyum jahat kearahnya. Mereka telah sampai dibarisan kelasnya.


"Iya bawel" Nisa merapikan dasinya, ia menatap malang melihat ujung dasinya yang sudah lecek. "Tunggu aja pembalasan gue" bisik Nisa pelan. Ia mengehbuskan nafasnya berat.


"Kenapa cemberut gitu?" tanya Zen yang baris di samping Nisa, kelas mereka bersebelahan. Otomatis saat membentuk barisan upacara pasti akan bersebelahan juga.


"Kepo lo" seruh Nisa cuek, meski sebenarnya kaget menyadari keberadaan Zen didekatnya.


" Lo nggak ada kerjaan apa selain marah marah nggak jelas? betah banget cemberut terus" tanya Zen, ia hafal dengan ekspresi wajah Nisa, jika tidak memasang raut cemberut kesal pasti akan memasang raut wajah yang bahagia tanpa merasa memiliki dosa. Tidak bisakah Nisa memasang wajah biasa saja atau netral seperti manusia pada umumnya? gumam Zen dalam hati.


"Udah deh gue lagi kesel tau nggak" seru Nisa ketus, ia menghentakan kakinya.


"Makanya gue tanya kenapa?" ulang Zen lagi.


"Emang tadi lo nggak liat dasi gue ditarik paksa sama iblis jahanam? liat nih dasi gue sampe lecek gini" sahut Niasa sembari menunjukam dasinya.


Azam yang berdiri dibelakang Nisa menendangnya kecil. Nisa menolehkan matanya, melotot tajam kearah Azam


"Yaelah gitu aja sewot, mau tukeran sama dasi gue?" Tawar Zen, ia memamerkan dasinya yang masih mulus. Pak Jay menatap awas ke arah Nisa yang asyik mengbrol dengan Zen, tatapannya sukses membungkan keduanya


Fian yang menyenggol lengan Zen berbisik pelan.


"Sejak kapan lo perhatian gitu sama Nisa?"


Zen menjitak kepala Fian.

__ADS_1


"Biasa aja kali" .


"Siaappp grak" Suara tegas di depan lapangan memutus suara bisik bisik ditengah lapangan. semua yang peserta upacara berdiri tegak, Khidmat mengikuti upacara.


__ADS_2