Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 58


__ADS_3

"Al buka pintunya Al" Teriak Zen nyaring.


Tok...tok...tok...


Ardan bersemangat menggedor pintu rumah Aldo.


"Al woy lo masih hidup kan" panggil Zen semakin tak sabar, jiwa keponya sudah berada pucuk ubun-ubun.


"Lo berdua ngapain sih malem-malem berisik banget" jawab Aldo saat membukakan pintu.


"Sumpah gue kecewa banget sama lo"


"Lo jadi cowok yang konsisten dong" sambung Ardan.


"Iya maksud lo apa sih sumpah gue nggak ngerti" imbuh Zen.


"Lo itu sebenarnya masih sayang apa enggak sih?"


"Mau berjuang apa melepas? jangan tarik ulur kek layangan" cerca Ardan bergantian dengan Zen.


"Lo mau berjuang buat Nisa or Filla hah?" tambah Zen.


"Masuk dulu gih, nggak enak diliat tetangga" jawab Aldo yang pusing mendengarkan ocehan para sahabatnya.


Zen dan Ardan serempak masuk.


"Cepet lo kasi Alasan lo kenapa bisa berubah pikiran" oceh Zen saat telah duduk disofa ruang tamu Aldo.


"Lo harus tanggung jawab karena ulah lo, gue jadi nggak bisa tidur nyenyak" tambah Ardan.


"Kalian bisa diem dulu nggak? kalo kalian ngerecokin gue terus kapan gue ceritanya?" seru Aldo kesal.


"Oke gue diem" Ardan menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.


"Tadi gue udah ke kelas Nis" Aldo menghembuskan nafasnya berat, mengingat kejadian tadi siang.


"Terus gue di pelototin sama dia" ucap Aldo lirih.


"Ya elah cuma di pelototin doang lo langsung nyerah?"


"Gue belum selesai ngomongnya"


"Lanjut aja Al" seru Zen.


"Terus badan gue merinding semua"


"Jangan lebay deh Al" serga Ardan.


"Gue serius, jantung gue berdetak kenceng banget sumpah rasanya udah mau copot"


"Terus?"


"Gue diem di tempat buat nenangin diri gue sendiri"


"Al langsung ke pembahasan aja deh" gemas Ardan yang kesal mendengar Aldo bertele-tele.


"Lo sabar dikit napa si, nanti kalo gue langsung ke inti otak cetek lo nggak bakal nyambung" gerutu Aldo sebal.


"Cerita gue nggak ada lima menit, okey? sabar ya"


Keduanya pun mengangguk kompak.


***Flash back****


Aldo dengan ragu memasuki kelas Nisa, entah kemana semangatnya yang tadi menggebu-gebu.


"Masuk, Engga, Masuk, Engga, Masuk" ucap Aldo Bimbang menghitung kancing seragamnya.


"Okey masuk" tandas Aldo saat kata terakhir berhenti pada kata masuk.


Pelan tapi pasti, Aldo pun memasuki kelas X IPS 3. Baru saja diambang pintu, Ia sudah disambut tatapan tajam milik Nisa.


Jantungnya kini telah berdegup kencang dua kali lipat. Aldo terdiam sebentar ditempatnya, berusaha menetralkan detak jantungnya agar tidak terlihat gugup.


"Hai Nis" Sapa Ardan membuka suranya.


"Hmm" jawab Nisa cuek. Aldo hendak membuka lagi namun didahului oleh Azam.


"Pulang bareng gue yuk Nis" potong Azam yang kini sudah berada di meja Nisa


Nisa hanya melirik sekilas pada Azam, masi menunggu Aldo untuk mengucapkan kalimat selajutnya.


"Aldo? lo mau pulang bareng gue?" tanya Filla yang duduk dibelakang meja Nisa penuh percaya diri.


"Emm gue itu mau..."


"Udah yok jangan malu-malu" ucap Filla menarik Aldo keluar kelas.


*****

__ADS_1


"Jadi gitu ceritanya" papar. Aldo menyelesaikan ceritanya.


"Nisa udah nolak lo?" tandas Ardan semakin geregetan


"Belumlah, Si Filla tau-tau udah nemplok ke gue" jelas Aldo.


"Lo kenapa mua diajakin pulang bareng Filla?" cerca Ardan sambil merapatkan giginya.


"Gue nggak tega"


"Lo tega sama Filla tapi lo tega nyakitin Nisa?" ketus Ardan sengit.


"Al, emang lo nggak sadar Nisa masih sayang sayang sama lo?" timpal Zen.


"Gue nggak tau, kan lo tau sendiri Nisa cuek banget smaa gue" ucap Aldo lirih sambil menunduk.


"Lo bilang mau ngejar Nisa? tapi lo malah main-main sama Filla? yang ada juga Nisa semakin benci sama lo" cibir Ardan


"Jadi gue bodoh banget udah nerima ajakan Filla?"


"Bodoh stadium akut ini mah" celetuk Zen.


"Enggak cuma bodoh lagi, tapi udah gob*ok tingkat dewa" seru Ardan emosi.


"Terus gue harus gimana?"


"Lo tanya aja sama pakarnya langsung" tegas Ardan menyerah.


Zen yang sedari tadi hanya menyimak segera menghubungi seseorang.


"Katanya lagi otw kesini" ucap Zen seusaimya mengakhiri pembicaraan diteleponya.


Tak selang beberapa lama seseorang yang ditunggu pun datang.


"Kan gue udah bilang, cinta ditolak dukun bertindak" sindir Fian saat melihat Aldo yang menunduk menahan air matanya.


"Heh emang siapa yang ditolak?" tanya Ardan sarkas.


"Lho bukannya Aldo ditolak sama Nisa?" ujar Fian saat melihat mata Aldo yang berkaca-kaca.


"Ditolak kata lo? ngomong aja belum" jawab Ardan gusar.


"Terus kenapa Aldo mewek?"


"Di dampart noh sama temen lo" jawab Zen sambil menunjuk Ardan dengan dagunya.


"Kok bisa?" ucap Fian heran.


Fian pun segera meminta penjelasan pada Aldo yang akhirnya membuat Fian tepuk jidat saat Aldo mengakhiri ceritanya.


*****


Masih di malam yang sama ditempat yang berbeda...


"Nisa boleh Mama masuk Nak?" panggil Dian dari balik pintu kamar. Ia merasa resah karena sejak pulang sekolah Nisa hanya mengurung dirinya dikamar. Ia yakin pasti ada yang tidak beres dengan putrinya itu.


"Masuk Ma, pintunya tidak di kunci" jawab Nisa malas, sebenarnya Ia ingin menyediri malam itu namun Ia tidak ingin Mamanya khawatir dengannya jika tidak di izinkan masuk.


Dian perlahan mendekati Nisa, duduk ditepi ranjang. Ia mengelus pucuk kepala Nisa lembut.


"Kenapa Ma?" ucap Nisa sambil membuka matanya merasa sentuhan dikepalanya yang penuh makna.


"Ayok Makan dulu, kamu kan belum makan sejak pulang sekolah" tutur Dian sambil menatap Nisa intens.


Sontak hal itu membuat Nisa risih. Ia memalingkan wajahnya dari tatapan Dian, tidak ingin Mamanya melihat mata sembabnya. Dian mengamati dengan seksama semua gerak-gerik Nisa, Ia yakin tebakannya tidak keliru, putrinya pasti sedang ada masalah.


"Ada masalah apa sayang? ayok cerita sama Mama" tukas Sari tanpa basa-basi.


"Maksud Mama apa sih? Nisa cuma kecapean pengen tidur lebih awal" jawab Nisa sambil menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, menyisakan pucuk ubun-ubun.


"Anak Mama sekarang udah berani bohong hmm?" balas Sari seraya menarik selimut Nisa hingga dadanya.


"Nisa nggak ada masalah apa-apa kok Ma" elak Nisa masih kukuh menyembunyikan kegalauannya.


Dian mendekatkan wajahnya pada wajah Nisa, menyisakan jarak lima senti.


"Kalau ada apa-apa bilang sama Mama, jangan kamu pendam sendirian. Mungkin Mama nggak punya solusi yang baik tapi Mama mau menjadi pendengar yang baik. Mama emang nggak bisa menghilangkan masalah kamu, tapi mama punya bahu untuk kamu bersandar agar tidak rapuh"


Air mata Nisa tanpa permisi menerobos turun, hatinya begitu terenyuh mendengar ucapan Mamanya.


"Mama nggak bisa mengubah tangis menjadi tawa tapi Mama akan selalu bersama melewati suka dan duka. Mama juga nggak bisa menjamin kamu bahagia namun Mama punya doa yang mungkin bisa mengubah lara menjadi suka dari jalan yang tak terduga" imbuh Dian sambil mengusap sudut mata Nisa.


"Nisa sendiri juga nggak tau Ma" ungkap Nisa jujur. Ya dia bimbang denfan perasaannya sendiri.


"Apa ada hubungannya sama Aldo?" tebak Dian hati-hati.


"Mama tau dari mana?" Nisa tersenyum kecut, membenarkan ucapan Dian.


"Emang siapa lagi sih yang bisa bikin kamu galau kayak gini kalo bukan dia?"

__ADS_1


Nisa menghela nafas, bimbang harus mengatakan yang sejujurnya atau lebih baik memedamnya.


"Nisa bingung Ma"


"Kenapa?"


"Nisa nggak tau harus gimana lagi, Nisa pengen lupain Aldo tapi nggak bisa"


"Kamu masih suka sama dia?"


"Enggak, Nisa benci sama Aldo tapi Nisa juga nggak rela Aldo sama yang lain"


"Terus maunya gimana?"


"Ya ga tau Ma, kalo Nisa tau Nisa maunya gimana Nisa nggak bakal segalau ini" seru Nisa gemas.


"Aldo masih deketin kamu?"


"Iya tapi Enggak"


"Maksudnya?" Dian memgerutkan keningnya bingung.


"Iya, karena Nisa ngerasa Aldo masih sayang sama Nisa, Nisa tau ada yang beda sama tatapan Aldo ke Nisa. Enggak karena nyatanya Aldo lagi deket sama Filla sekarang"


"Pas Aldo deketin kamu? ada kamu jutek ke dia"


"Iya, banget malah"


"Terus gimana Aldo mau merjuangain kamu kalo lagi kamunya aja judes? kan kamu tau sendiri Aldo mlehoy" seru Dian kesal.


"Ma, gimana Nisa nggak jutek ke Ado? Mama bayangin aja gimana rasanya ditinggal pas lagi sayang-sayangnya" ucap Nisa dengan nada meninggi.


"Rasanya? kek odading Mang oleh, An*ay banget" celetuk Dian.


"Nah ya udah" jawab Nisa ketus.


"Sekarang Mama tanya sama kamu" ucap Dian kini mulai serius.


"Kamu mau diperjuangin apa di ikhlasin?"


Nisa terdiam sebentar, mencerna kalimat Mamanya.


"Kalau kamu mau diperjuangin ya kamu baikin dia, jangan kamu jutekin. Kecuali kalau kamu mau nolak, tolak secara baik-baik jangan tolak mentah-mentah. Kalau dia lagi berjuang ya hargain dong , jual mahal itu harus tapi ingat jangan ngejatuhin"


"Iya Ma" jawab Nisa lirih menyadari kekeliruannya.


"Mama tau mungkin kamu masih kecewa, tapi jangan sampai kamu memendam kebencian. Memafkan memang nggak semudah menyakiti. Tapi asal kamu tau, hasil dari balas dendam nggak seindah hasil mengikhlaskan"


"Iya Ma, Nisa akan coba buat lapang dada"


"Bagus, Mama doain biar kamu bisa istiqomah" ucap Dian sembari tersenyum hangat pada Nisa.


"Btw kamu sama Azam gimana? udah jadian?"


"Astaga Ma, Nisa cuma temenan sama Azam" jawab Nisa cemberut.


"Temen apa?"


"Temen deket" jawab Nisa lantas nyengir kuda.


"Jangan bilang ke Mama kalau Azam cuma pelampiasan"


"Hehe kan sayang orang ganteng disia-siain"


"Ya ampun Nisa, Mama masih bisa beliin kamu banyak mainan jangan jadiin anak orang sebagai bahan permainan" omel Dian menjewer telinga Nisa.


"AWwuh sakit Ma" jerit Nisa saat merasakan panas ditelinganya.


"Becanda ih" gerutu Nisa mencebikan bibirnya.


"Mama seriusan Nisa"


"Iya..iya"


"Ingat Nisa, kamu yakinkan diri kamu sendiri apa benar-benar kamu cinta atau hanya sekedar suka. Bedakan antara nyaman dengan sayang meski kedua rasa itu hanya berbeda tipis, namun keduanya memiliki makna besar yang berbeda"


"Siap ndan"


"Jangan gegabah dalam menentukan pasangan, kenali baik-baik bentuk perasaannya dulu, Hubungan tidak cukup hanya dibangun karena rasa snyaman namun juga perlu kasih sayang" tegas Dian lagi.


"Iya Mamaku, sayang ku, cinta ku, belahan jiwaku, aku tak bisa hidup tanpamu karna kamu separuh nafasku" balas Nisa.


"Nggak udah Alay" jawab Dian mencubit hidung mancung Nisa.


"Udah Mama mau tidur dulu"


"Ukay, good night bee, have a Nice dreams. ucap Nisa sambil menarik selimutnya kembali bersiap tidur.


"Too" Dian pun melenggang pergi.

__ADS_1


"Astaga, gue ucapin sepenuh hati cuma dibales separuh jiwa" Nisa menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu memejamkan matanya.


__ADS_2