Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 66


__ADS_3

Cup.


Nisa menggeliat saat merasakan kecupan di dahinya. Meski matanya masih terpejam namun Ia segera tau siapa yang berada disisi melalui aroma parfum yang dikenakannya.


"Selamat pagi anak Mama" ucap Dian mengelus-elus rambut Nisa lembut.


"Pagi juga Mama Nisa" balas Dian mengecup dahi Nisa lagi, tadi malam Ia pulang terlalu larut sehingga tak sempat berbincang dengan Nisa.


"Mama Nisa kangen" rengek Nisa memeluk Mama.


"Mama kok enggak bales pelukan Nisa?" tanyanya cemberut.


"Enggak kangen soalnya" canda Dian sambil menarik hidung mancung Nisa.


"Aww" Nisa mengusap hidungnya.


"Buruan bangun nanti terlambat"


"Nisa masih ngantuk Ma" jawab Nisa menarik selimutnya kembali sampai dada, pura-pura tidur.


"Ayok bangun, nanti Mama potong uang jajannya kalo kamu bandel" ancam Dian.


Nisa membuka matanya sempurna, membuang selimutnya ke sembarang arah.


"Masalah duit ajah gercep" Dian menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Nisa yang terbirit-birit lari ke kamar mandi.


"Pelan-pelan nanti terpeleset" sambung Dian memperingati.


Nisa mengabaikan ucapan Dian. Ia membuka pintu dengan gusar, perutnya terasa melilit.


"Ya ampun gimana nanti kalo disekolah masi mules? mampus gue" rutuk Nisa sambil menepuk keningnya berkali-kali. Lima menit berlalu, Nisa melepas pakainnya bersiap mandi.


Perlahan Ia mengguyur air dari ujung kepalanya.


"Apa gue absen lagi yah?" gumam Nisa seraya menggosok tubuhya dengan sabun.


"Tapi nanti gue ketinggalan banyak pelajaran dong" ucap Nisa keberatan. Ia tampak berfikir keras dengan tangan yang sibuk membilas kulitnya dengan air.


"Awww" Nisa menggeram pelan, perutnya mulai kambuh.


"Anj*r kapan selesainya mandi nya gue" celetuk Nisa kembali jongkok.


"Salah makan apa si gue" keluh Nisa.


"Apa ada yang sengaja ngeracunin gue, hiks"

__ADS_1


"Nisa" teriak Dian dari arah luar kamar mandi.


"Iya Ma" sahut Nisa yang tengah mencuci mukanya dengan fasial wash.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Dian khawatir pada Nisa yang tak kunjung turun ke meja makan


"Iya Ma" sahut Nisa pendek karena takut busa diwajahnya ikut tercecap saat membuka suara.


"Buruan mandinya nanti kamu sakit"


"Iya Ma" jawab Nisa yang telah beralih menggosok giginya.


"Hadeh, akhirnya selesai juga". Nisa berjalan gontai keluar kamar mandi, menggosok rambutnya dengan handuk agar cepat kering. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskan nafas dalam sekali sentakan. Bersyukur acara mandi paginya telah selesai meski harus dijeda iklan berulang kali.


"Hai Ma" sapa Nisa lemah, dirinya tampak lesu karena energinya terkuras habis untuk duduk jongkok.


"Hai kok lemes gitu?" tanya Dian heran.


"Laper Ma" jawab Nisa asal takut Dian khawatir.


"Masi sakit?"


Nisa mengangguk pelan, mulai menyendok sarapan paginya.


"Wajar lah, kan masih hari kedua" ucap Dian memaklumi. Nisa tersenyum tipis, membiarkan Dian mengiranya sakit karena PMS.


*******


Pukul 06.45


Anak-anak SMA Nusa Bhakti berhamburan masuk ke kelas masing-masing, sebentar lagi literasi membaca akan dimulai.


"Nisa mana La?" tanya Icha yang baru saja masuk kelas, Ia meletakan tas punggungnya disandaran kursi.


"Enggak tau nih, kayaknya absen lagi" jawab Yola seraya memutar badannya menghadap Icha yang duduk dibelakang bangkunya.


"Masih sakit kali" timpal Filla cuek tanpa memandang ke arah lawan bicaranya, Ia masih asyik menscroll layar ponselnya.


"Palingan juga telat" sangkal Azam ikut nimbrung. Letak duduknya yang berada disebelah meja Yola membuatnya mudah untuk menguping. Ia menatap Filla intens, merasa curiga dengan jawaban Filla.


Filla balas melirik tajam Azam,


"Enggak ada yang ngajak lo ngobrol, ngapain nyahut" cibir Filla.


"Emang ada yang tanya sama lo? Icha kan tanya sama Yola" balas Azam memeletkan lidahnya. Filla mengangkat ponsel yang di pegangnya mengarah pada Azam.

__ADS_1


"Apa mo lempar ke gue?" tantang Azam berani.


"Cih Hand phone mahal, sayang kalee" jawab Filla menurunkan tangannya.


"Kebanyakan gaya doang tapi nyatanya zonk"


"Heh HP gue lebih mahal dari pada harga skincare lo"


"Iya gue tau kok. saking mahalnya sampe kalo rusak lo nggak mampu beli lagi ye kan?"


"Terserah males gue ngomong sama badak" ketus Filla membuang muka.


"Dih ngatain gue badak. Kagak sadar diri lo, gue sama lo masih glowingan gue"


"Glowing dari mananya coba? glowing in the dark maksud lo?" ledek Filla.


"Ya nggak papa lah, dari pada glowing ketolong mercury"


"Sembarangan yah kalo ngomong"


"Suka-suka lah, mulut gue kok. Lo aja kalo ngomong suka nyablak"


"Gue patahin juga lama-lama leher lo" geram Filla mendelik galak.


"Gue colok juga mata lo yang mau copot" balas Azam tak mau kalah.


"Udah deh jangan ribut, masih pagi udah pada nge gas" lerai Icha memegang lengan Yola, mengisyaratkan agar mengalah tak menyahuti.


"Iya tuh, jangan-jangan jodoh lagi" timpal Yola menahan tawa.


"Dih ogah" ucap keduanya serempak lantas saling menatap satu sama lain.


"Nah kan baru juga dibilang" seru Yola senang.


"Benci sama cinta beda tipis lho" imbuh Icha mengompori.


"Jangan ngada-ngada deh" sergah Filla cemberut.


"He.eh fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan" sambung Azam yang kini pro dengan Filla.


Yola masih ingin menjawab namun mulutnya kalah cepat dengan seorang guru yang telah masuk ke dalam ruang kelasnya.


"Selamat pagi anak-anak" sapa Bu Ratna ceria, Ia juga menyunggingkan sebuah senyuman.


"Pagi Bu" jawab Siswa X IPS 3 kompak.

__ADS_1


Filla melirik sekilas pintu yang kelasnya yang tertutup rapat, menanti kedatangan Nisa dengan was-was.


Setalah pembukaan basa basi Bu Ratna pun segera memulai pembelajaran. Sepuluh menit berlalu, Filla mengepalkan tangannya berseru riang. "Kena lo Nis" ucapnya lirih menyeringai licik melihat pintu yang tak jua terbuka.


__ADS_2