Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 91


__ADS_3

Seperti janjinya, Icha akan membantu Nisa menyelesaikan masalahnya dengan Yola. Ia kini menahan kepulangan Yola sampai kelasnya sepi ditemani Zen.


"Lo mau ngomong apa Cha?" tanya Yola tanpa basa basi. Perutnya sudah keroncongan meminta asupan nutrisi.


"Gue udah tau semuanya"


"Tau apa?" ucap Yola bingung.


"Tau tentang masalah lo sama Nisa"


"Oo itu" jawab Yola cuek.


"Gue harap lo nggak marah sama Nisa" tutur Icha penuh harap.


"Lo belain dia?"


"Emm bukan gitu, tapi bukan salah dia juga kan?. Kita nggak tau dengan siapa akan jatuh cinta. Hati nggak dipaksa La, gue harap lo bisa berpikir lebih logis"


"Ya. ya .ya" jawab Yola malas. Ardan bahkan tadi pagi sudah menceramahinya sampai mulutnya berbusa.


"Lo suka sama Azam bukan berarti Nisa itu penikung. Sekarang kita balik posisinya, andai Nisa yang lebih dulu suka sama azam, apa bisa ngeklaim Azam itu milik kita?. Enggak La, selama kita belum punya hubungan yang jelas, ya fine aja"


"Hmm" gumam Yola pendek.


"Gue tau mungkin lo kecewa sama Nisa, gue akui Nisa salah merahasiakan ini dari lo. Tapi Nisa lakuin itu semua karena dia nggak mau lo terluka. Coba lo ambil sisi positiftnya" ucap Icha panjang lebar


"Iya"


"Dan sekarang saat Nisa jujur juga lo nggak terima kan? terus harusnya gimana?"


"Udah lah gue capek pengen balik"


"Gue tau rasanya pasti anj*ng banget, kayak nggak habis pikir gitu kenapa Nisa mau nerima Azam. Tapi kalo warasnya si, kita boleh suka sama seseornag selama orang itu belum punya pasangan"


"Iya bawel"


"Gue harap lo nggak egois. Nggak semua hal yang lo inginkan berjalan sesuai kehendak lo"


Yola terdiam sesaat, kenapa masalahnya menjadi besar sekarang. Toh Ia hanya ingin menenangkan dirinya bukan menjauhinya.


"Iya gue tau ini dunia bukan surga"


"Jadi lo nggak marah sama Nisa?"


"Enggak. Gue cuma belum bisa nerima kenyataan aja"


"Syukur lah. jangan lama-lama kasian Nisa kepikiran terus"


"Iya. Paling juga cuma setahun dua tahun gue ngambeknya"


"Yolaaa!!!" teriak Icha kesal.


"Iya..maap. Becanda juga"


"Gue serius La. Kasian Nisa disudutkan Filla terus"


"Filla?"


"Iya tadi pagi Filla bertengkar sama Azam gara-gara Filla nyalahin Nisa terus"


"Kenapa bukan Aldo yang ngelayanin ocehan Azam?"


"Mana gue tau" balas Icha mengendikan bahunya.


"Ya ampun Filla, punya laki kagak berfaedah banget"


"Ya udah biarin. Yang penting mereka bahagai"


"Kalo gue sih ya, gue suruh tuh si Aldo buat nonjok Azam. ya kali ribut sama cewek emang nggak malu?"


"Tau sendiri Azam cinta mati sama Nisa"


"Gue nggak tau, kalo tau pasti gue mundur dari dulu😭😭"


"Lo aja yang nggak peka😐". sewot Icha.


"Hadeh ya udah deh. Udah jadi masa lalu"

__ADS_1


Icha menghembuskan nafas lega. Ia berharap hubungan Yola dan Nisa segera membaik.


"Eh terus respon aldo gimana?" tanya Yola kepo.


"Cuma pindah meja biar nggak jadi baku hantam"


"Aish jggak asyik, harusnya kasih oigem aja"


"Gue tau lo kesel sama Azam tapi jangan kompor dong" timpal Zen sebal. Sudah dua puluh menit lamanya Ia menjadi obat nyamuk disini.


Yola nyengir kuda tanpa merasa berdosa.


"Untung pacarnya Azam Nisa bukan Lo, bisa bobrok dia kalo setiap ribut sama Filla suruh main fisik" cibir Icha menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan jalan pikiran Yola.


"Ishh...iya deh gue sadar diri Nisa mah baek, kalem, pecicilan cuma dikit. Nggk kayak gue yang bar-bar"


"Sorry, gue nggak maksud buat bandingin lo" ucap Icha tak enak hati.


"Sakit hati gue, rasanya seperti ditusuk-tusuk pisau dan garpu"


"Lebay" sambung Zen yang sudah tak sabar ingin pulang. Entah kapan drama ini akan berakhir.


"Ini serius dari hati gue yang paling dalam" cerca Yola mencebikan bibirnya


"Serah deh" ucap Zen tak mau ambil pusing.


"Cha lo nemu pacar dimana sih? nggak ada lembutnya sama sekali"


"Dia lembut kalo sama gue aja, nanti kalo lo dilembutin baper lagi"


"Ya nggak papa, sama temen sendiri berbagi lah"


"Dih kalo gue berbagi juga belum tentunya mau" Icha melirik Zen penuh arti.


"Kalo dikasi cuma-cuma gue juga mau..sayang orang sesksi kayak gitu di sia-sia in" jawab Zen menaikan satu alisnya.


Icha molotot galak sembari memajukan bibirnya.


"Tega lo beb" gerutu Icha.


Yola tertawa ngakak sembari memegang perutnya.


Icha menoyor kepala Yola.


"Ya udah gih sono balik" usir Icha.


Yola refleks memgangi kepalanya,


"Husss pergi yang jauh sampe ke mars sana" imbuh Icha mengibaskan.


"Inget besok harus udah baikan sama Nisa" peringat Icha untuk terakhir kalinya.


"Siap ibu negara. Lo tenang aja, Lo kira aku tanpa Azam bagaikan butiran debu? oh jelas tidak. Aku tanpa mu cari yang baru"


"Bagus, gue suka gaya lo" balas Icha mengacungkan jempolnya.


Yola lantas melenggang pergi ke luar kelas, menyisakan Icha dan Zen.


Icha menyedekapkan tangannya diatas dada, melanjut kekesalannya pada Zen.


"Becanda atuh " ucap Zen mengacak rambut Icha.


"Jangan berantakin rambut gue" ketus Icha.


"Ya udah sini gue rapiin yank"


"Enggak usah panggil sayang-sayang"


Zen mencubit pipi Icha gemas.


"Lo kalo marah nambah cantik tau nggak"


"Jangan pegang-pegang"


Zen sedikit memajukan tubuhnya, membalik tubuh Icha agar berhadapan dengan dirinya. Ia sedikit mengangkat dagu icha agar menatap dirinya


"Kalau cium boleh?"

__ADS_1


Icha sontak memalingkan wajahnya yang terasa memanas.


"Pilih cium apa udahan marah nya?'


"Em.. iya..udah nggak marah lagi" ucap Icha cepat.


"Nah sip. Yok pulang" Zen mengamit tangan Icha yang masih tampak gugup.


Nggak usha dimasukin hati, aku setia kok". seru Zen disela langkah kakinya.


"Setia sama dua orang maksudnya?"


"Satu orang juga udah cukup".


"Halah muna" ucap Icha dingin.


"Serius ayang. Tadi cuma becanda ih. abisnya kamu lama banget ceramahnya bikin gabut" jelas Zen.


"Sabar lah. ngebujuk cewek ngambek emang lama"


"Lama sih boleh tapi jangan kelamaan"


"Mau aku tau cara cepetnya?" tawar Icha memberi ide.


Zen mengangguk antusias.


"Diajak jalan, dianterin shopping, abis itu mukbang. Dibeliin coklat, ice cream, seblak, susu kotak, terus jajan cemilan gitu"


"Busyettt" jawab Zen membukatkan bibirnya.


"Besok klo aku marah digituin yaah" pinta Icha.


"Emm ehe oke deh" jawab Zen dengan setengah hati.


"Maaciw bebeb" ucap Icha sembari tersenyum lebar.


"Kita mampir ke resto dulu yah, kasian dede cacing udah kelaparan"


"Siap"


Icha semakin erat memegang lengan Zen. Semoga ini bukan kebersamaan yang semenatara namun sampai nanti di pelaminan💙💙


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Pukul 1 siang, Azam telah sampai mengantarkan Nisa sampai depan rumahnya. Hanya ada dua mapel selama UAS sehingga siswa siswi SMA Nusa Bhakati pukang lebih awal dari biasanya.


"Mau mampir dulu nggak?" tawar Nisa.


"Enggak langsung balik aja"


"Serius nih?"


"Inget, selama UAS nggak ada waktu buat ketemuan, kencan, jalan, apa lagi malam mingguan. Kitaa harus fokus belajar"


""Yaah terus kalo kangen gimana?"


"Nanti gue vidcall sebelum tidur"


"Ya udah deh" ucap Nisa pasrah.


"Nggak usah sedih besok ketemu disekolah"


"Iya"


"Gue balik, Assalammu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam hati-hati"


Azam mengangguk singkat lantas masuk ke dalam mobilnya.


Nisa melambaikan tangannya lesu, kesepian melandanya sepeninggal Azam.


"Terima kasih sudah hadir, semoga kehadiran mu bukan hanya karena rasa sesaat namun juga karena ingin menetap"


Buat kalian yang PC author tolong chat ulang yah. Chat yang kalian kirim telah hilang tanpa ada yang tersisa😭😭.


sekian terima kasih 😌😌

__ADS_1


Salam dari Pujas😚😗



__ADS_2