Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 61


__ADS_3

Azam menghentikan laju mobilnya disebuah mini market, Ia memamdang ragu pada Nisa.


Namun Nisa tak bergeming dari posisinya, matanya masih terpejam rapat.


"Nis lo serius nyuruh gue beli itu?" tanya Azam pelan, ditatapnya lekat wajah Nisa yang pucat.


Nisa membuka perlahan matanya saat merasa diperhatikan. Tawanya langsung pecah saat melihat ekpresi kebimbangan Azam yang tampak terlihat lucu.


Azam menatap Nisa penuh makna agar membatalkan permintaannya. Namun sayangnya Nisa malah mengangguk, menyorot tajam Azam.


Azam menghela nafas pasrah. Ia pun bersiap hendak keluar mobilnya.


"Zam" panggil Nisa lirih,


"Gue udah tau lo nggak bakal tega nyuruh gue buat beli itu" Azam membalikan badannya menoleh pada Nisa, tersenyum ceria.


"GR banget lo, gue cuma mau bilang sekalian beliin gue Kiranti yah"


"Hah apaan tuh?" tanya Azam bingung.


"Minuman spesial khusus datang bulan" jawab Nisa seraya nyengir kuda.


"Astaga" Azam membulatkan bibirnya.


"Cepet sana, perut gue kram nih"


"Gue nggak tau itu minuman kek gimana" tolak Azam halus.


"Lo kan nggak buta huruf ya tinggal baca aja merknya"


Azam termenung ditempat, menguatkan diri untuk memutus urat malunya.


"Ayo dong" rengek Nisa memelas.


"Iya..iya" Azam berbalik malas menghadap pintu mobil hendak keluar.


Nisa tersenyum hangat melihat Azam yang kini sudah turun.


"Semangat Bee" Nisa melambaikan tangan keluar.


Azam memutar bola matanya malah ke arah Nisa, kemudian melengos pergi. Azam segera melangkah masuk ke mini market jengah melihat senyum kemenangan yang tercetak jelas dibibir Nisa.


Azam menggaruk tengkuknya, bingung akan melangkah kemana, ini baru pertama kalinya Ia membeli pembalut wanita.


Seorang karyawan wanita tersenyum manis pada azam.


"Mau cari apa mas? perlu saya bantu?" tawarnya ramah. Azam membisikan sesuatu, sontak membuat wanita itu menutup mulitnya menahan tawa. Tak lama kemudian wanita itu membawa Azam ke tempat barang yang Ia cari.


Ia menyapukan pandangannya, mencari barang dengan tulisan Xxx berbungkus orange.


"Mau cari yang merk apa?"


"Biar saya cari sendiri mbak" ucap Azam sopan. Wanita itu mengangguk ramah lalu bergegas pergi. Azam pun memberanikan diri membawa barang itu ke kasir setelah sebelumnya mencari minuman spesial untuk Nisa.


Azam menghembuskan nafas lega saat telah kembali ke dalam mobil.


"Nih" Azam menyerahkan kantung kresek ditangannya tanpa menoleh pada Nisa. Wajahnya kini merah padam malu setengah mati.


"Maaciw Azam, lo emang yang terbaek" Nisa mencubit ke dua pipi Azam senyuman tak pernah pudar dari bibirnya.


"Hmmm" Azam bergumam pendek, ingin segera melupakan kejadian barusan saat kasir minimarket itu mengigit bibir mati-matian menahan tawa.


"Lo nggak ikhas yah?" terka Nisa melihat bibir manyun Azam.


"Kalo udah tau ngapain tanya" jawab Azam cuek, ia segera melajukan mobilnya ke arah rumah Nisa.


Nisa menyerahkan bungkusan yang diberikan Azam kembali.


"Apa?" tanya Azam tak memgert.


"Kalo nggak ikhlas balikin aja" jawab Nisa enteng.


Azam spontan mengerem mendadak.


"Lo gile nyuruh gue balikin?" ucap Azam kesal.


"lo tuh yang gila, ngapain si ngerem mendadak"


"Ya kali dibalikin ya nggak bisa la" jawab Azam sembari kembali melajukan mobilnya.


"Ya udah lo bawa pulang"


"Gue cowok tulen nj*r"


"Buat emak lo" sahut Nisa.


"Malu lah" kukuh Azam menolak.


"Pokonya gue nggak mau trima kalo lo belum ikhlas"


"Iya gue ikhlas" tandas Azam mengalah.


"Nggak lo bohong"


"Serius" ucap Azam tegas.


"Kok nggak senyum? katanya ikhlas?"


Azam menarik kedua sudut bibirnya, memaksakan senyuman.


"Nah gitu dong" Nisa memgambil sebotol minuman dari kantung kreseknya.

__ADS_1


Azam mempercepat laju kendaraannya, kepalanya terasa pening mendegar ocehan Nisa. Azam menutup rapat mulutnya fokus menyetir.


"Zam"


"Iya"


"Mau nggak" Nisa sengaja mengeraskan suara tegukanya saat meminum jamu spesialnya.


"Nggak"


"Enak lho" goda Nisa lagi.


"Buat lo aja biar cepet sembuh"


"Ya udah" Nisa menenggak habis minumannya.


"Udah sampe, turun gih" seru Azam tidak ingin memperpamjang urusannya dengan Nisa.


"Mau mampir nggak?"


"Enggak deh, gue langsung balik aja"


"Okey, makasih yah"


"Sama-sama" Azam melambaikan tangan ke arah Nisa.


Nisa berjalan keluar dengan tertatih, meski nyeri diperutnya sudah mereda namun nyeri disekujur tubuhnya masih membekas.


"Sini gue bantu" ucap Azam yang tak tega melihat Nisa berjalan dengan memegangi perut sambil menunduk.


"Makasi" Nisa tersenyum tanpa menolak saat Azam memapahnya membantu berjalan.


"Apa perlu gue gendong?"


"Enggak kok, kayak gini juga udah cukup" Nisa pun membuka pintu rumahnya.


"Lo duduk dulu yah"


"Gue langsung balik aja Nis"


"Enggak, lo tunggu disini sebentar" Nisa kemudian melangkah meninggalkan ruang tamu.


Azam mengangguk menurut, toh hanya disuruh duduk bukan membeli yang aneh-aneh lagi.


"Ma" ucap Nisa menghampiri Dian yang berada di dapur sedang memasak.


"Nisa?" balas Dian terkejut melihat Nisa yang pulang lebih awal dari biasanya.


"Kamu sakit?"


"Enggak kok Ma cuma nggak enak badan kok"


"Nisa nggak papa kok" Nisa mengeluarkan sesuatu dari bungkusan yang dibawanya.


"Oh ya, didepan ada temen Nisa. Mama temenen dulu yah Nisa mau bersih-bersih" sambung Nisa.


"Oo itu" Dian mengangguk-angguk paham saat melihat jaket yang dikenakan Nisa hanya ditautkan dipinggang. Nisa kemudian melenggang ke kamarnya.


"Eh Nak Azam" ucap Dian hangat melihat Azam yang tengah duduk di sofa.


"Siang tante" jawab Azam ramah.


"Maaf ya nunggu lama" Dian meletakan dua gelas jus mangga dihadapan Azam.


"Nggak papa ko Tan"


"Ayok diminum dulu"


"Makasi Tan"


"Justru Tante yang bilang makasi uda mau nganterin Nisa"


Azam tersenyim manis menyahuti Dian.


"Jangan senyum terus dong nanti Tante diabet nih"


Uhuk..


Azam tersedak jus mangga yang sedang diminumnya. "Anak sama emak sama gesreknya".


"Pelan-pelan dong, grogi yah ngomong sama camer" Ucap Dian seraya mengedipkan matanya.


Tak selang beberapa lama Nisa muncul diruang tamu, memotong pembicaraan Dian dan Azam.


"Thanks Ma" ucap Nisa sambil menyeruput jus mangganya.


"Tante tinggal dulu yah" pamit Dian tak ingin mengganggu atau diamuk Nisa jika mendengar obrolannya baru saja.


"Tumben peka" cibir Nisa yang kini duduk didekat Azam. Dian mengepalkam tinjunya kesal dengan sindiran halus Nisa.


"Lo nggapain disini?" tanya Azam sesusainya Dian pergi.


"Nemenin lo lah"


"Lo istirahat aja, gue mau pulang"


"Nanti aja pulangnya"


"Kenapa? nggak bisa jauh lo dari gue?"


"Dih enak aja, Mama gue lagi nyiapain makan siang jadi lo tunggu sebentaryah"

__ADS_1


"Yaelah repot-repot, gue udah kenyang digombalin emak lo" cerca Azam kembali meneguk minumannya.


"Emmm btw gue boleh tanya sesuatu nggak sama lo" tanya Azam hati-hati.


"Apa? lo mau myalon jadi bapak baru gue?" cerca Nisa.


"Hiss ngawurnya, gue cuma mau tanya gimana sejarahnya Mak lampir bisa tiba-tiba ngamuk sama lo?"


"Oh itu" jawab Nisa cuek, moodnya kembali buruk.


"Gue nggak keberatan kok buat dengerin curhatan lo"


"Gue yang keberatan curhat sama lo. Peduli kagak kepo iya" ucap Nisa sinis.


"Su'udzon mulu lo sama gue"


"Emang bener kan lo kepo?"


"Iya sih, tapi nyatanya tadi gue bantuin lo itu artinya gue peduli"


"Tadi tuh cuma salah paham"


"Salah paham gimana?" tanya Azam semakin penasaran.


"Tadi pagi Aldo naruh coklat dilaci gue, berhubung nggak dikasi nama buat siapa ya udah gue kasi ke Filla kan dia sekarang lagi deket sama Aldo"


"Terus?" ucap Azam antusias.


"Gue ga tau gimana ceritanya Aldo tau kalo coklat itu gue kasi ke Filla, terus dia nyamperin gue, nyeret gue ke taman belakang, bilang kalo coklat itu sebenarnya buat gue"


"Langsung the point aja kenapa Filla marah bisa nggak?" ujar Azam tidak sabar.


"Sabar bisa nggak?"


"Kan gue kepo sama Filla kenapa lo cerita Aldo si"


"Ya karna Aldo nyeret gue makanya Filla nyeret gue ke toilet"


"Kok bisa?"


"Mungkin dia jealous"


"Parah cuma gitu doang?"


"Cinta emang buta, makanya dia nggak bisa bedain mana yang romantis sama yang miris"


"Emang punya hubangan apa sama Aldo?"


"Nggak ada apa-apa" jawab Nisa dingin.


"Masa sih nggak aada angin nggak ada petir mendadak Aldo ngasi surprise buat lo?"


"Dia temen SMP gue dulu" ucap Nisa sambil tersenyum getir.


"Temen atau ehm mantan?" jelas Azam saat melihat raut wajah Nisa yang berubah sendu.


"Ga tau gue lupa"


"Dulu aja pernah happy bareng sekarang sok amnesia"


"Oh ya? emang dia masih inget nyakitin gue? enggak kan? nngapin gue repot-repot nginget mantan" seru Nisa menggebu-gebu.


"Lo nggak tau gimana perasaan gue yang udah hancur tak berbentuk ini" Nisa memejamkan matanya, menahan butiran bening disudut matanya agar tidak jatuh.


"Apa lo tau? gimana rasanya saat lo sayang sama seseorang namun malah ditinggal tanpa alasan?" sambung Nisa.


"Gue emang nggak tau, tapi gue tau rasanya berjuang sendirian" balas Azam berubah serius.


" Dua tahun bersama. Bilangan tahun bukan waktu yang singkat dalam menjalin hubungan. Berapa juta detik yang telah kita lewati untuk bisa mengukir senyuman saat menjalin kebersamaan. Ratusan menit waktu yang kita luangkan hanya untuk memberi kabar agar hubungan tetap terjaga". Nisa menyeka sudut matanya, tak kuat lagi membendung buliran bening itu.


"Apa lo juga tau berapa banyak jam yang gue buang hanya untuk menjaga jodoh orang?" Azam memgambil tangan Nisa, menyimpan dipangkuannya.


"Setiap yang pergi pasti akan terganti. mungkin perpisahan meninggalkan lara namun percayalah hal itu adalah awal bahagia yang sedang Tuhan rencanakan" Azam menggengam tangan Nisa lebih erat.


"Digantikan sama gue misalnya" imbuh Azam sambil tertawa kecil.


Nisa mencebikan bibirnya.


"Apa sih arti cinta?" tanya Nisa tiba-tiba. Luka lama membuatnya mati rasa.


"cinta itu seharusnya bisa membuat kita bahagia sekalipun kita sedang terluka, perasaan yang indah tanpa menuntut apa pun karena sejatinya cinta suci ialah yang mau menerima apa adanya" jawab Azam asal.


"Sekarang pilihannya ada dua, pasrah atau merubah. Jika takdir lebih memihak untuk berpisah ya sudah lepaskan, ikhlaskan. Karena apa? karena ada saatnya kita lelah. Ingat hanya lelah bukan menyerah. Ikuti saja dulu alurnya,karena kita masih punya doa yang siap merubah dari menerima apa adanya menjadi apa pun. Takdir dapat dirubah dan berubah dengan usaha" tambah Azam.


"Perpisahan bukan untuk disesali ataupun diratapi apa lagi menangis patah hati"


Nisa mengangguk, membenarkan perkataan Azam. Mulutnya terkunci rapat atas semua kebenaran ucapan Azam.


"Jangan pernah mengabaikan seseorang yang peduli sama lo karena itu bisa membuatnya terluka. Jangan menangisi orang lain seolah-olah dia adalah orang paling istmewa sehingga patut ditangisi karna akan membuat seseorng yang sedang berjuang membahagiakan mu kecewa. Jangan berharap pada seseornag karna itu akan membuatku tersiksa"


"Gue udah berusaha untuk membuka hati buat yang baru, tapi gue sadar luka lama belum sembuh. Gue takut saat menerima kehadiran yang baru bukan karena gue tulus sayang tapi karena cuma kasihan"


"Lo nyindir?" tanya Azam mencebikan bibirnya.


"lebih sakit mana? kehilangan seseorang yang belum sempat lo miliki atau bersama seseorang namun tanpa rasa apa-apa?" Nisa menaik turunkan alisnya meledek Azam.


Azam menarik napas dalam-dalam, memgeluarkan dalam sekali sentakan. Nisa menyadarkan tubuhnya disofa, menanti jawaban Azam.


"Gue milih pulang, capek ngomong sama lo" Azam pun bangkit dari duduknya.


"Assalammu'alaikum"

__ADS_1


__ADS_2