
Bel tanda istirahat baru saja berbunyi. Nisa melangkah masuk ke dalam perpustakaan. Mengabaikan perutnya yang kelaparan, demi melihat wajah menyebalkan Filla. Nisa masih tidak mengerti kenapa Filla terlihat sinis terhadapnya.
Nisa tersenyum licik melihat mangsa untuk melampiaskan kegabutannya.
"Astagfirullah" serunya kaget melihat kemunculan Nisa.
"Kenapa lo" tanya Nisa gusar, kesal mendengar respon yang diberikan Ardan saat melihat kedatangannya.
"Lo ngapain disini? mau numpang wifi?" ujar Ardan sok tau. Menakjubkan sekali melihat sosok Nisa yang terkenal perut karet berada diperpus bukan berada di kantin.
"Mau belajar jadi idaman lo" ungkap Nisa asal melupakan rasa kesalnya, jiwa isengnya perlahan kambuh.
"Gue mau cari yang kutu buku asli bukan KW kaya lo" Ardan hendak mengambil sebuah novel fiksi remaja, disaat yang bersamaan Nisa mengulurkan tangannya menarik buku yang hendak diambil Ardan.
Ardan berdecak kesal melihat ulah Nisa.
"Gue duluan yang ngambil berarti punya gue"
"Novel sama lo cuma buat bantal tidur, mending kasih gue aja biar bermanfaat"
"Gue mau baca kok" tukas Nisa cepat ia membaca sekilas judul buku yang dipegangnya. CERITA CINTA MASA SMA.
Nisa tertawa keras saat matanya selesai membaca judul novel tersebut.
"Hahahha...lo gak salah baca novel begian?"
Nisa berusaha meredam tawanya.
"Manusia tembok kayak lo bisa bucin juga yah?"
"Walau pun manusia tembok tetep aja yang namanya manusia masih punya perasaan punya hati"
"Iya punya hati meski keras kayak batu namanya juga tembok ya jelas aja terbuat dari material bangunan"
"Terserah lo mau ngomong apa" Ardan memilih mengalah, ia mencari buku novel lainnya. Nisa mengeikuti arah mata Ardan, sekilas matanya menangkap sebuah judul novel horor. Ia menyelipkan buku novel didagunya mengambil buku baru.Ardan membolak balik puluhan buku novel didepannya mencari yang sefrekuensi.
Nisa menyodorkan buku novel temuannya ke arah Ardan.
"Apa" ucap Ardan tanpa mengalihkan pandangan matanya manatap Nisa.
"Buat lo"
"Nggak mau, lo mana ngerti selera gue"
"belum liat aja udah bac*t" Nisa menyodorkan tepat didepan wajah Ardan.
Ardan terkejut, bibirnya tanpa sadar membulat. Nisa menarik kilat Novel horor tersebut dari jangkauan Ardan.
"Eits, Didunia ini nggak ada yang gratis" Nisa menaikkan satu alisnya.
"Maksud lo?" tanya Ardan tidak paham.
"Gue kasih novel ini ke lo, tapi lo nanti harus anterin gue pulang gimana?" tawar Nisa merugikan Ardan.
"Ckk...kenapa enggak minta antering ayang beb lo aja sih" sergah Ardan, ia tidak ingin membuat sahabat karibnya salah paham.
Nisa mengerutkan keningnya,
"Ayang beb siapa?" jelas Nisa bingung, ia sepenuhnya sadar jika dirinya sedang menjomblo.
"Emang pacar lo berapa sih sampe tanya siapa segala? Ardan menyipitkan matanya tersinggung dengan ucapan Nisa yang tidak menghargai sahabatnya sebagai pacar.
"Berapa kata lo? satu aja engga ada"
"Lo yakin?"
"Yakin" jawab Nisa tegas meski merasa heran kenapa malah Ardan yang menyakinkan dirinya tentang stastusnya.
__ADS_1
"Terus si Zen gimana?"
"Gimana apanya? ya enggak gimana-gimana lah"
"Emang dia bukan pacar lo?"
"Pacar pala lo peyang bukan lah" sergah Nisa cepat.
"Lo enggak jadian sama dia?"
"Enggak" jawab Nisa ketus.
"Kirain lo udah jadian"
"Jadiannya bukan sekarang tapi besok"
"Besok?" ungkap Ardan penasaran. Ia bertanya serius pada Nisa,
"Kapan?"
"Kapan-kapan"
"Gue serius" cerca Ardan meninggi.
"Gue juga serius"
"Kapan-kapannya kapan? yang jelas"
Nisa menatap kedua manik Ardan, menghembuskan nafasnya berusaha tenang.
"Sabar yah, nunggu lebaran monyet" ucap Nisa santai lantas melangkah menuju kursi baca yang disedian oleh petugas perpus.
Ardan mengacungkan kedua tangannya diatas Nisa, mengambang beberapa senti, gerakan tangannya seolah ingin mencakar Nisa. Ia menahan napas sebentar kemudian mengeluarkan napas perlahan, menarik kursi kosong disamping Nisa.
"Semuanya udah jelas, gue males debat" Nisa melambaikan tangannya mengusir Ardan.
Nisa memberikan novel horor yang berjudul INDIGO GIRL. Ia menyambut novel yang disodorkan Nisa menerima dengan tangan terbuka, membalik cover novel tersebut membaca ulasan cerita pada sampul belakang
"Thanks Nis" ucapnya setelah selesai membaca ulasan karya Pujas, lalu membuka daftar isi.
"Berarti Fix lo nerima gawaran gue" putus Nisa cepat, ia tersenyum penuh kemenangan.
Ardan terlonjak kaget mengingat syarat yang Nisa tawarkan.
"Iya"
"Good Boy". Nisa menepuk-nepuk bahu Ardan.
"Inget kalau ingkar janji dosa"
"Hmm" Ardan bergumam pelan mulai fokus pada bacaannya.
"Btw lo manis juga yah" Ucap Nisa yang memperhatikan Ardan dari dekat hanya berjarak sejengkal. Ia melihat dengan intens. Ardan tampak gugup menatap balik kearah Nisa. Hanya sedetik, namun mampu memompa detak jantungnya lebih cepat.
Ardan berusaha keras menetralkan detak jantungnya, ia berpindah tempat duduk yang berjarak satu kursi dari Nisa.
"Lo kenapa lo pindah?"
"Gimana gue mau baca kalo lo ngoceh terus? cecar Ardan ia memalingkan wajah dari bola mata Nisa kearah buku Novel yang ia letakan persis didepannya, menghindari bersitatap dengan Nisa.
"Emang harus ngehindar gitu?"
Ardan tidak menyahuti Nisa mulutnya memilih untuk bungkam. Ia tidak ingin merasakan lagi getaran aneh dihatinya.
"Lo serius banget sih bacanya" timpal Nisa lagi merasa jengah dikacangi Ardan.
"Lo bisa diem nggak? lama-lama telinga gue bisa geser gara-gara ocehan lo"
__ADS_1
"Yang ada juga telinga lo jadi fresh karena ocehan merdu membahana gue"
Ardan diam ditempat lebih asyik menyimak bacaannya.
"Lo mau sampe kapan sih diemin gue, lo beruntung bisa ngobrol sama cewek cetar kayak gue" tambahnya.
Hening, tidak ada yang menyahuti. Ardan tanpa ragu mengupil disela membacanya, mengacuhkan keberadaan Nisa disampingnya yang merasa gigu.
Nggak harus sesuatu mesti dijabarkan Coba belajar memahami dan mengerti tanpa harus dijelaskan oleh lisan. Buat apa diciptakan hati kalo kita nggak bisa ngerasa apa-apa" Ucap Ardan membuka suara.
Nisa melipat dahinya mendengar ucapan Ardan sepertinya dia pernah membaca quotes itu.
"Dasar plagiat" seru Nisa tiba-tiba dia bahkan ingat dibab berapa kalimat itu tertulis. Tepatnya di bab 7.
"Eh maksud lo?"
"Itu kata-kata njiplak dari sini kan?" Nisa menunjukan novel yang sedang dibacanya.
Ardan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Gue cuma mengamalkan isi dari novel yang gue baca kok" sanggah Ardan tidak terima dikatai plagiat. Kemarin dia sudah membaca novel CCMA separuh halaman tetapi karena lupa membawa kartu membuatnya tidak bisa meminjam novel tersebut, menundanya sampai hari ini , tetapi sayang novel itu sudah direbut oleh Nisa.
"Ngeles aja lo".
Ardan menempelkan jari telunjuknya kerah bibir Nisa.
"Diem bisa nggak?"
. Ia bergidik jijik saat jari itu mendarat dibibirnya. Nisa menutup rapat bibirnya tidak ingin mencicipi rasa asin di telunjuk Ardan yang bekas mengupil.
Nisa menarik kasar tangan Ardan.
"iiiuuh" Nisa berungkali mengusap mulutnya dengan telapak tangannya.
"Bodo amat yang penting lo mingkem"
" Dih sok jual mahal lo, seribu perak aja nggak ada yang mau" celetuk Nisa dongkol, hidupnya terasa hambar tanpa ada yang bisa digombali.
"Abisnya lo udah jual murah sih, makanya gue jual mahal biar nggak saingan sama lo" ujar Ardan sengit, jika di diamkan ucapan Nisa bisa sampai Mars.
"Anyi*g" Nisa melotot tajam telinganya terasa panas mendengar jawaban balasan Ardan.
"Masalah cerewet emang gue enggak bisa nandingin, tapi kalau mau adu nyinyiran boleh dicoba" Ardan menarik kerah bajunya pelan menantang Nisa.
"lo serius mau nyinyirin gue?" ucap Nisa lemah ia manatap penuh harap pada Arda.
"Iya ga tau juga sih" Jawan Ardan ragu, ia tidak mengerti arti tatapan sendu milik Nisa.
"Padahal gue kan cuma mau uwu-uwuan" Nisa menempelkan kepalanya pada meja didepannya. Jarinya membentuk lingkaran pada meja berulangkali, kegabutan melandanya.
"Sumpah muka memelas lo udah mirip kayak orang susah"
"Emang gue lagi susah" Nisa memejamkan matanya menghayati keadaan dirinya.
"Susah banget buat ngebuka hati lo" Nisa membuka matanya, ingin melihat ekpresi Ardan.
Ardan tersenyum kecut, hendak menimpuk Nisa dengan buku novelnya.
"Jangan salahin gue kalo otak lo berubah gesrek" Ardan gemas ingin mendaratkan lembaran kertas tebal ke kepala Nisa.
"Ampun Ar, kalo gue amnesia gimana?"
"Nggak ada urusan sama gue"
"Lo yakin? nanti kalo gue amnesia gue bisa lupa lho caranya mencintai mu, emang lo mau?"
"Bodo amat" Ardan bangkit berdiri tidak ingin termakan bualan Nisa. Nisa tertawa jahat menatap punggung Ardan. Ia yakin bisa meruntuhkan hati Ardan yang seperti tembok. Hatinya yang sekeras palu pasti akan mudah menghancurkan tembok pertahanan Ardan.
__ADS_1
Yess Nisa berseru riang, Ia yakin bisa menaklukan mangsa barunya.