Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 37 Baper


__ADS_3

Malam harinya, Nisa berjalan menyusuri jalanan kompleks perumahannya. Badannya yang terasa sayu membuat dirinya ingin pergi mencari angin segar. Pelan tapi pasti, kakinya melangkah ke sebuah penjual nasi goreng yang mangkal di tepi jalan.


Seorang wanita berusia dua puluh lima tahun tersenyum hangat menyambut kedatangan Nisa.


"Selamat malam mbak, mau pesan apa?" ucap nya ramah.


Nisa tersenyum simpul "Malam mbak, pesan nasi goreng satu super pedes poll"


"Mau dibungkus atau di makan disini?"


"Disini saja mbak" Nisa mengambil tempat diduduk diujung kursi panjang yang disediakan.


"Mau minum apa ya?"


"Es jeruk aja mbak "


"Baik mbak ditunggu sebentar yah"


Nisa menganguk kecil, menopang dagu dengan satu tangan. Ia mengamati jalanan didepannya menghitung jumlah kendaraan yang lewat. Jarinya mengetuk meja didepannya menunggu dengan sabar pesanannya. Meski tempat makan itu hanya berdiri dibawah tenda namun pembelinya sangat ramai sampai mengantri.


Angan Nisa melayang terbang ke angkasa mengenang kembali masa-masa yang telah ia lalui. Rintik gerimis menghujam luruh ke bumi. Hujan bulan oktober. Nisa menghembuskan napas berat. Jika bulan oktober itu menyakitkan, semoga bulan november yang akan datang mengikhlaskan berakhir dengan Desember menyembuhkan.


"Ini mbak pesanannya, silahkan dinikmati"


Nisa tersentak kaget, ia tesenyum kikuk saat seorang pengantar makanan menyiapkan pesanannya dimeja.


"Terima kasih" balas Nisa kemudian mencium aroma nasi goreng yang mengepul. Ia meniup-niupnya lantas menyuapnya perlahan.


Kunyahan di mulutnya melambat ketika mendengar suara yang tak asing ditelinganya menyapanya dengan penuh percaya diri.


"Eh dedek emes, sendirian aja?" panggilnya lantas menarik kursi didepan Nisa.


"Eh abang buaya, disini juga yah. Mau ngapain bang?" tanya Nisa balik, tebakannya tidak keliru sama sekali. Ia memandang Fian dengan malas.


"Mau nyatain cinta ke kamu"


"Dih najis" Nisa menyendokan sesuap nasi goreng dengan sedikit sentakan merasa il feel.


"Ya mau makan lah udah tau warung makan" serunya tak kalah pedas.


"Terus ngapain duduk didepan gue?" tanya Nisa berusaha untuk tenang, emosinya sedikit tersulut.


"Mau deket sama lo, biar bisa mengenal lebih jauh" ujarnya mantap sambil menyisir rambutnya kebelakang.


"Ya udah minggir duduk aja dipojok sana"


"kenapa harus minggir? kan mau PDKT" Fian menatap Nisa bingung. seorang wanita datang ke meja Nisa sambil membawa sepiring nasi goreng pesanan Fian beserta segelas es teh memutus perbincangan Nisa dan Fian sebentar.


"Terima kasih Mbak" Fian tersenyum manis, suaranya dibuat selemah lembut mungkin.


Wanita itu berlalu dengan kedua sudut bibirnya mengembangkan senyuman. Ia melirik Fian malu-malu.


"Lo bilang mau ngenal gue lebih jauh ya udah jauhin gue" jelas Nisa saat wanita tadi sudah kembali ke tempatnya semula, melayani para pembeli yang terus membludak.


Fian membulatkan bibirnya "Bukan gitu juga maksud gue"


Nisa melahap makanannya rakus tidak peduli ekpresi Fian yang sedikit kesal.


"Lo abis dari mana?" ucap Nisa membuka suara.


"Gue abis dari rumah Aldo tapi kebetulan hujan turun mungkin takdir ingin mempertemukan kita"


Nisa mendengus kasar, Ia mengambil es jeruk miliknya. Makanan yang ia telan seperti tersangkut dikerongkongan mendengar gombalan Fian.


"Siapa tau aja kita jodohkan?" timpal Fian lagi seraya mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Hah? jodoh kata lo?"


"Iya buktinya kita bisa ketemu disini secara kebetulan"


"Jodoh itu ketemunya dipelaminan bukan warung makan" ucap Nisa sinis tidak sudi berjodoh dengannya.


"Kalau Tuhan sudah menakdirkan lo bisa apa?"


"Bisa bunuh diri" cerca Nisa kesal ia melotot tajam kerah Fian.


"Lo kalo udah selesai pergi gih" usir Nisa galak melihat isi piring Fian yang sudah tinggal separuh.


"Masih hujan Nis, nanti kalo abang sakit siapa yang mau gombalin dedek?"


"Mending lo sekarat aja deh"


"Lo tega mau ngusir gue? hujan masih air Nis" jawab Fian memelas, ia melihat kearah luar hujan masih deras mengguyur tanpa ampun.


"Bodo amat"


"Jahat bener dek, sakit hati abang"


"Biarin" sahut Nisa cuek.


"Kenapa cuma hati nurani lo yang mati sih kenapa engga orangnya aja sekalian, nyakitin orang aja" Fian memicingkan matanya, mengejek Nisa.


"lo jadi cowok banyak cingcong tau nggak, udah pergi gih" usir Nisa lagi.


"Lo bener-bener nggak punya hati"


"Emang gue engga punya" tegas Nisa.


"Iya gue tau hati lo kan udah dibuang sama Aldo makanya jadi nggak punya hati kan sekarang"


"becanda doang kok sensi"


"Lo nggak pernah paham kepala gue mau semeledak apa, Batin gue secapek apa, lo engga pernah tau semau remuk apa hati gue"


"Maaf Nis gue enggak tau" sesal Fian ia menundukan kepalanya pura-pura menyeka sudut matanya.


"Gue tau"


"Tapi gue mau tau kok" ucap Fian antusias.


"Emang seremuk apa sih hati lo?" tanya Fian penasaran sontak mendapat jitakan dari Nisa.


"itu cuma kiasan nj*r" sungut Nisa geram.


"Realitanya?"


"Kenyataannya gue masih bisa haha hahi meskipun cuma sekedar basa-basi" papar Nisa santai, Ia mengunyah suapan terkahir nais gorengnya membalik sendok makannya tanda telah selesai.


"Udah move on lo?"


"Udah lah" balas Nisa yakin.


"Tapi kok masih sendiri?" ledek Fian lagi.


"Kata siapa gue sendiri? gue berdua kok"


Fian mengerutkan keningnya,


"Berdua?"


"Iya, berdua sama masa depan gue" sahut Nisa memandang Fian penuh arti. ia tersenyum licik. "Emang lo pikir cuma lo aja yang bisa nge gombal?"

__ADS_1


"Bukannya bertiga?" pancing Fian, ia tidak ingin kalah dari Nisa.


"Bertiga?" ucap Nisa heran,


"Sama siapa?" lanjutnya.


"Aku kamu dan cinta kita"


Nisa menendang kaki Fian keras, "Dasar siluman buaya"


"Cie..cie..baper nih" Goda Fian.


"Udah deh gue mau pulang" Nisa bangkit dari duduknya hendak melangkah pergi.


"Nisa tugu" Fian memegang lengan Nisa mencegahnya pergi.


"Apa?" serunya ketus.


"Gue nggak mau denger gombalan lo, telinga gue udah hampir budeg" tambahnya.


"Engga gue cuma mau minta lo anterin gue"


"Lo udah gila? malem-malem minta anterin cewe pulang?"


"Gue engga mau minta lo anter gue pulang" tolak Fian tegas ia menatap Nisa tepat dikedua manik matanya.


"Terus?"


"Anter gue ke kelurahan?"


"Ngapain?" ucap Nisa sewot mendengar permintaan Fian yang absurd.


"Kalo lo mau pergi dari gue, gue mau ke kelurahan buat minta surat keterangan tidak mampu".


Nisa menghentakan pegangan Fian dilengannya melenggang pergi.


Nisa segera menuju kasir, saat itulah ia melihat Filla yang tengah beradu mulut dengan seseorang.


"Kalau enggak punya duit jangan beli disini dasar penipu" ucap seorang ibu paruh baya, ia mencaci maki Filla yang tampak bergetar ketakutan didepannya.


"Maaf Bu, bukan begitu saya beneran lupa membawa dompet" jawab Filla lirih, wajahnya pucat pasi mendengar cacian dari wanita tua yang berjaga sebagai kasir.


"Saya enggak mau tau, kamu harus bayar pesanan kamu"


Filla menundukan kepalanya, menahan tangis sekaligus malu menjadi pusat perhatian.


"Berapa Bu jumlahnya? biar saya saja yang membayar sekalian makanan saya ".


Wanita itu membalikan badan, melihat Nisa yang tengah serius menatapnya. Ia menyerahkan kertas berisi rincian pesanan Filla beserta total harga yang harus dibayar.


Nisa menerimanya lalu membacanya sekilas ia menyerahkan dua lembar uang lima puluhan.


"Ini kembaliannya mbak, terimakasih" ucap kasir wanita itu dengan lembut merasa sungkan dengan Nisa, lalu menyerahkan tiga bungkus nasi goreng yang tadi dipesan Filla.


Filla mau tidak mau menerima bungkusan itu, berjalan cepat keluar diikuti Nisa.


"Kok gue engga dibayarin juga?" protes Fian pada Nisa saat telah sampai ikut keluar.


"Lo bayar aja sendiri"


Filla tersenyum sinis melihat Nisa dengan pandangan jijik.


"Baru kemaren kencan sama Zen sekarang udah ganti temen kencan aja" sindir Filla pedas saat melihat kedekatan Nisa dan Fian didepan matanya. Ia sempat mendengar keduanya saling melempar gombalan saat makan membuatnya batal makan ditempat memilih untuk membawanya pulang.


"Cewek cantik mah bebas" sahut Nisa bangga, ia belum menyadari arti sindiran Filla ia hanya menanggap ucapan Filla sebagai gurauan seperti kebiasaan mereka selama ini. Ia belum meyadari, ada hati yang berubah seiring waktu, ada perasaan "lain" yang tumbuh, ia masih menganggapnya sama seperti kemarin.

__ADS_1


__ADS_2