
Ardan memakirkan kendaraannya disebuah restoran sea food yang tidak terlalu jauh dari sekolah. Mereka melangkah beriringan memasuki retoran dengan bangunan yang tampak klasik itu.
Nisa melambaikan tangan kearah sebuah meja yang berisi tiga sahabatnya. Sebuah kebetulan yang luar biasa. Matanya berbinar bahagia bisa makan siang gratis sekaligus bergibah dengan para sahabatnya.
"Hay Nis" sapa Yola sesampainya Nisa dimeja mereka ikut bergabung.
"Hey " Nisa menarik kursi didekat Yola, diikuti Ardan yang menarik kursi dengan lemah. Firasatnya mengatakan hal buruk akan menimpanya.
"Jadi ini alesan lo nolak kita?" cerca Filla langsung tanpa basa-basi. Ia menarik salah satu sudut bibirnya memperjelas ketidaksukaanya sejak pertama kali melihat kedatangannya di pintu masuk.
"Cie pacar baru" Seru Icha antusias menggoda Nisa.
"Pantesan aja kita ajak hangout nggak mau, udah punya yang baru rupanya"
"Sorry every body tadi Ardan udah janji duluan mau nganterin gue pulang terus dia bilang mau mampir ke sini dulu" ucap Nisa menjelaskan. Ia menginjak kaki Ardan agar tidak membocorkan kronologi yang sebenarnya.
Filla memicingkan matanya, tidak percaya dengan yang dikatakan Nisa.
"Kok lo mau sih jalan sama dia, bukannya tadi malem lo abis kencan sama Fian?" ungkap Filla sinis, ia melirik Ardan sekilas melalui sudut matanya.
Dahi Ardan membentuk banyak lipatan,
"Apa? Lo serius?" Ardan menimpali ia terkejut mendengar pengungkapan Filla.
"Serius lah, gue liat dengan mata kepala gue sendiri" tutur Filla menyudutkan Nisa. Sudah lama ia menahan mulutnya yang gatal ingin melabrak Nisa. Sekarang waktu yang tepat untuk balas dendam, ia harus mengontrol emosinya agar tidak terlalu kentara membenci Nisa.
Semua pandangan mata tertuju pada Nisa menuntut jawaban.
"Bener Nis?" Tanya Yola meminta jawaban langsung dari Nisa, ia tertarik mendengar cerita tentang gebetan barunya.
Nisa mematung menatap Filla, ia menghayati setiap sudut wajahnya. Ia terkesima dengan ekspresi marah yang ditutupi Filla. Mata Nisa memang setajam elang, ia tidak mungkin salah lihat dengan mata Filla yang berapi-api sedikit emosi. feelingnya yang tajam tidak mungkin keliru menafsirkan arti tatapan mata itu.
"Nisa" ulang Yola.
Ardan menyenggol lengan Nisa, ia juga penasaran dengan kisahnya yang bisa berkencan dengan Fian.
"Iya apa?" Nisa terlonjak kaget dengan senggolan keras dari Ardan. Ia meringis kecil merasakan nyeri yang perlahan menjalar dari lengan kirinya.
"Lo bener kencan sama Fian?" Ardan mengulangi pertanyaan Icha.
"Engga kok" jawab Nisa santai.
"Jangan munafik lo, gue liat kok lo lagi bermesraan sama Fian" cecar Filla sewot. Ia menatap tajam Nisa yang sejak tadi mengawasinya ketat saat mengungkapkan kejadian tadi malam.
"Nggak usah ngegas Fil, gue cuma kebetulan ketemu Fian di warung makan" jujur Nisa meluskan kesalahpahaman Filla.
"Lo yakin bisa kebetulan?"
"Yakin Fil, Dia semalem mau kerumah Aldo tapi karena hujan dia mampir diwarung makan buat berteduh"
Ardan menghembuskan nafas kecewa, Ia pikir Nisa benar-benar jalan dengan Fian. Hal itu pasti akan menjadi trending topik jika disebar luaskan dalam grup geng somplak.
"Ya elah itu sih gue udah tau" celetuk Ardan cuek antusiasme dirinya hilang seketika. Tadi malam Fian sudah mengatakan jika dirinya terjebak hujan sehingga harus berteduh membuatnya datang terlambat kerumah Aldo.
"Terus kenapa lo bisa sama Ardan?" Filla masih belum kehabisan akal, ia masih ingin menjatuhkan Nisa didepan teman-temannya sebagai wanita murahan.
__ADS_1
"Dia kan penggemar gue maklum dong kalo fans ngajak makan sang idola" seru Nisa penuh percaya diri. Sebenarnya dia merasa kesal dengan nada suara yang Filla lontarkan saat bertanya seakan merendahkannya. Namun Nisa mencoba bersabar, dia sendiri juga tidak tahu mengapa Filla seolah memusuhinya.
Ardan mendengus kasar saat Nisa melotot tajam menyuruhnya mengiyakan.
"Lagian kalo gue benaran kencan sama Fian emang kenapa?" Nisa menyerang balik menyudutkan.
Filla terperanjat kaget mendengar ucapan Nisa.
"Lo suka sama Fian?" tukas Nisa cepat saat melihat raut gugup wajah Filla.
"Enggak lah" jawab Filla ketus.
"Kalo enggak kenapa lo sewot?"
"Siapa yang sewot?" balas Filla sengit.
"Atau lo suka sama Ardan makanya sewot gue jalan bareng dia?"
Ardan menjitak kepala Nisa
"Sembarangan aja lo kalo ngomong"
"Lumayankan kan kalau Filla benaran naksir lo, Bisa pamer gebatan baru" bisik Nisa membujuk Ardan untuk berpikir realistis.
Filla mengepalkan tangannya merasa jengah dengan Nisa yang selalu bisa mengelak dan balik menyudutkannya.
"Gue cuma nggak habis pikir aja, kenapa lo bisa gampang banget jalan sama cowo" cibir Filla blak-blakan lalu melipatkan tangannya didada.
"Dia temen gue, jadi gue pikir fine aja jalan bareng mereka" sanggah Nisa
"Gue cuma pulang bareng emang salahnya dimana? "
"Kenapa enggak sama Zen aja?dia kan penggemar setia lo? bukannya waktu diacara ulang taun Aldo lo diantar jemput sama dia?"
Icha menarik napas dalam, dadanya terasa sesak saat Filla mengucapkan kalimat tersebut.
"Apa lo udah bosen makanya lo buang?"
"Lo kenapa jadi nyinyir sih?" Nisa menyipitkan matanya, emosinya seakan hendak meledak meladeni ocehan Filla.
"Gue cuma kasihan aja sama Zen"
"Maksud lo apa ngomong kayak begitu?"
"Ya gue kasihan aja, udah dibaperin tapi malah ditinggalin"
"Jangan asal ngomong lo Fil, gue nggak ada apa-apa sama Zen. Dia temen gue sejak SMP nggak ada salahnya gue minta tolong sama dia buat nganterin gue, ngapain jadi lo yang baper sama dia?" seru Nisa sedikit berteriak berusaha memberikan pengertian kepada Filla.
"Gampang banget lo nyuruh-nyuruh anak orang, masang ilmu pelet dari mana lo?"
"Dari gua monyet, kenapa mau ikut cari ilmunya juga?"
"Sorry gue nggak level pake ilmu begituan"
"Terus kenapa lo julid banget sih?"
__ADS_1
"Gue cuma nanya kok"
"Kalo iri bilang bos" jawab Nisa santai. Ia menopang dagu dengan satu tangannya menikmati raut wajah Filla yang merah padam.
"Lo cemburu sama Nisa?" seru Yola membuka suara, sejak tadi ia memperhatikan perdebatan Filla dan Nisa ia juga sadar ucapan Filla yang selalu meninggi setiap berbicara dengan Nisa.
"Enggak" jawab Filla ketus
Yola membulatkan bibirnya, ia berpikir mengapa Filla bisa berubah emosi seperti ini.
"Dibayar berapa lo sama Nisa?" Filla bertanya serius kepada Ardan.Tatapan matanya lurus memandangnya.
"Maksud lo apa gue nggak ngerti" jawab Ardan bingung.
"Bukannya lo sekarang jadi kacung Nisa makanya mau nganterin dia pulang? ngomong-ngomonh bayaran lo berapa sih?"
Ardan langsung menggebrak meja didepannya.
"Jaga mulut lo, gue cuma sekedar temenan sama Nisa. Gue nggak pernah ngarep bayaran dari dia dan gue juga nggak pernah dibayar sama dia"
"Uuuh kasian banget lo. Mending lo anterin gue. Gue bakal kasih lo bayaran berapapun yang lo mau"
Ardan bangkit hendak mengangkat tangannya kearah Filla.
"Lo cowok nggak pantes buat nampar cewek" cegah Nisa yang bangkit ikut berdiri.
Ardan menghembuskan nafas membenarkan perkataan Nisa. Ia pun berlalu meninggalkan mereka
Nisa mendekat kearah Filla.
"Gue nggak nyangka lo sepicik itu. Ardan nggak serendah yang lo bayangin. Asal lo tau ucapan lo barusan membuktikan bahwa lo lebih rendah dari orang yang lo rendahin. Selesai menguntaskan kalimatnya Nisa mengayunkan tangannya keras ke arah Filla.
Filla mengerang pelan menahan nyeri di pipinya.
"Rasa sakit dipipi yang lo rasain sekarang belum ada apa-apanya dibanding sakit di hati orang yang lo sayat pake mulut lo"
Nisa membalikan badan meninggalkan kedua temannya yang masih mematung ditempat mereka duduk. Nisa tidak peduli dengan teriakan Filla yang mengumpatnya. Ia memacu langkah kakinya lebih cepat saat Ardan perlahan melajukan motornya.
Brukk..
Nisa menubruk dua orang sekaligus membuat Nisa mundur beberapa langkah.
"Nisa lo mau kemana?" tanya Fian yang baru saja sampai direstoran.
"Balik" Nisa menerobos pergi.
"Kok cepet banget? kita baru aja sampai" ucap Fian memelas usahanya sia-sia mengejar Nisa.
"Lo berdua aja yang telat"
"Yaelah Nisa baru telat dua pulut menit" desah Fian kecewa.
Nisa memberikan tiga lembar ratusan dari dompetnya. lalu melenggang pergi.
"Baik bener lo Nis" Seru Fian girang. Ia tidak peduli dengan Nisa yang sudah berjalan menjauhinya.
__ADS_1
Nisa hanys melambaikan tangan. Pikirannya hanya fokus pada Ardan.