
Hari ke empat mengikuti UAS.
Seperti biasa siswa siswi SMA Nusa Bhakti duduk berjejer didepan teras kelas sembari belajar bersama. Ada pula yang hanya ikut nimbrung duduk sambil berghibah.
X IPS 2
Sama hari sebelumnya, Ardan masih dirawat rumah sakit. Hanya ada Aldo, Fian dan Zen yang duduk melingkar.
"Al nanti geografi bagi-bagi ya jawabannya" ucap Fian tanpa dosa.
Aldo mengangguk singkat. Sejak pulang dari rumah sakit pikirannya menjadi kacau. Disatu sisi ia sangat kecewa pada Filla yang melukai Ardan. Sebagai sahabat mungkin Ia akan membela Ardan dan menjauhinya.
Namun bagaimana dengan hubungannya? egoiskan jika ia memilih sahabat dari pada kekasih?. Memikirkan itu membuatnya tak lagi berselera untuk berbicara.
Berbagai macam rasa berkecambuk di dadanya Marah,sedih,kecewa, rindu bercampur jadi satu. Ia melirik sekilas ponsel di samping tempat duduknya. Sampai saat ini Filla bahkan tak memberinya kabar.
"Lo punya otak isinya apaan sih?" sahut Zen tanpa mengalihkan pandangan matanya dari buku geo yang sedang di pelajarinya.
"Itu namanya sedekah cuy"
"Emang lo anak terlantar atau fakir miskin?"
"Gue orang nggak mampu, alias sobat misquen"
" Percuma lo sekolah bertahun-tahun"
"Enggak ada yang percuma di dunia ini bahkan ketika nyamuk diciptakan sekalipun"
"Serah deh, susah emang ngomong sama orang yang otaknya ketinggalan dirahim emaknya" cecar Zen pasrah.
"Ishh hati lo dimana sih, nggak kasian kalo gue diomelin emak gara-gara dapet nilai merah?"
"Kagak"
"Lo temen gue bukan sih?" picing Fian.
"Enggak tau mendadak amnesia gue"
"Ooo gitu". Fian manggut-manggut sembari berfikir.
"Oh iya, btw Icha pacar gue nanti jangan lo godain yah" imbuh Fian tersenyum lebar.
Satu jitakan mendarat mulus dikepala Fian
"Sembarangan" ucap Zen menatap galak Fian
__ADS_1
"Aduh, katanya lupa ingatan"
"Gue ralat, nggak jadi amnesia"
"Cih, doi aja inget, giliran susah baru tanya posisi temen" sungut Fian sebal.
"Secara doi tuh masa depan yang harus dipertahankan dan dilestarikan"
"Halah gaya lo, iya kalo sampe pelaminan lha kalau cuma jadi mantan?"
"Gue getok pala lo boleh nggak?" balas Zen sengit.
"Kayak cewek PMS ja lo, nggak bisa diajak becanda ngomel mulu"
Zen menghela nafas kasar.
"Al lo nggak ada niatan buat misahin kita gitu?" tanya Zen sewot.
Aldo mendongakan kepalanya yang sejak tadi tenggelam dibalik buku.
"Nggak, lanjutin aja terosss" jawab Al cuek.
"Temen lucknut" timpal Fian menjengitkan bibirnya.
*********
Ruang X IPS 3. Sepulang sekolah.
Bel tanda usai ujian telah berdering sejak 10 menit yang lalu. Ruang kelas terlihat sepi, hanya menyisakan segelintir, termasuk Nisa CS.
Filla melangkah takut-takut mendekati Nisa. Sejak pagi ketiga sahabatnya itu terus mendiamkanya bahkan tak menyapanya. Menilik dari raut sini yang tercetak diwajah Yola Ia yakin mereka semua pasti sudah tau.
"Nis" panggil Filla lirih. Ia menguatkan hatinya agar tetap tegar. Apapun yang mereka katakan nanti Filla tak peduli, walaupun akan dicaci maki sekalipun.
Nisa menolehkan ke kiri, Ia sedikit gugup saaf Filla menatap ragu-ragu ke arahnya.
"Gue mau minta maaf" ucap Filla menunduk. Matanya berkaca-kaca menahan tangis.
"Gue udah maafin lo" balas Nisa tulus namun dengan nada kecewa.
"Maaf? lo pikir kata maaf bisa menyembukan luka?" sahut Yola pedas. Ia menatap jijik pada Filla yang berada tak jauh darinya.
"Gue sadar gue salah, gue khilaf"
Nisa terdiam sebentar, hatinya menjadi iba menatap Filla yang tertunduk lesu.
__ADS_1
"Hati nurani boleh mati, tapi tolong logika mesti tetep jalan. Lo mikir nggak? nyawa Nisa bisa melayang akibat ambisi nggak bermutu lo" hardik Yola panjang lebar. Ia tak mampu lagi mengendalikam emosinya.
Nisa memegang lengan Yola yang tampak masih ingin menghujat.
"Gue udah maafin lo Fil, tapi buat saat ini jujur gue belum bisa nerima lo"
Filla menganguk tipis.
"Gue cukup sadar diri Nis, gue nggak oantes jadi sahabat lo. gue cuma mau lo maafin gue"
"Gue udah maafin" tegas Nisa.
"Gue juga mau minta maaf sama lo La"
"Sorry gue nggak bakal tertipu sama air mata buaya lo" cibir Yola sinis menyedekapkan tangannya didada.
Filla menghemuskan nafas berat. Ia bisa maklum.
"Sebenarnya apa sih yang lo fikirin Fil? gue tau lo nggak mau kehilangan Aldo. Tapi lo fikir baik-baik mana ada cowok yang mau sama lo kalo kelakuan lo kayak baj*ngan begitu?"
Filla membisu ditempatnya, mendengarkan dengan lapang dada semua hujatan dari Yola. Membantah pun percuma, posisinya yang salah disini. Mengemis maaf pun tiada guna. Yola bukan Nisa yang mudah luluh hanya dengan bujuk rayu. Semakin mengelak justru akan membuat Yola mengamuk.
"Cantik sih, tapi nggak punya harga diri. Buat apa?" tandas Yola lalu melenggang pergi.
Icha menatap miris sahabat kecilnya. Sampai detik iniIa masih tak percaya Filla bisa nekat melakukan hal keji itu.
Icha mengusap wajah gusar, lantas ikut menyusul Yola keluar.
"Gue pulang dulu Fil" pamit Nisa kemudian.
"Hati-hati Nis" jawab Filla memaksakan senyumnya melepas kepergian Nisa.
Filla menatap punggung Nisa dengan penuh penyelasan yang menyeruak di dadanya.
"Harusnya kamu bisa bersabar sedikit saja, mungkin semuanya ini tak akan terjadi. Lihatlah Aldo bahkan menjadi milik mu meski Nisa masih disini"
Filla terduduk lemas di bangku kosong kelasnya. Samar-samar bola matanya menangkap bayangan tubuh Aldo yang melintasi kelasnya.
Pandangan mereka sekilas bertemu namun keduanya hanya membisu. Aldo berjalan lurus tak menghentikan langkahnya.
Filla tersenyum getir. Hidupnya sekarang menjadi hampa. Ia tak lagi peduli pada Aldo, yang Ia mau adalah sahabatnya kembali tertawa seperti dulu.
Filla tak lagi mengejar Aldo yang mengabaikannya begitu saja. Aldo pasti kecewa padanya, hubungannya sudah pasti berakhir.
Biarkan saja Ia berlalu. Jika dia memang jodoh mu, Ia pasti akan kembali padamu. Seterjal apa pun jalannya, jika memang berjodoh keduanya pasti bersatu. ~Nafilla Amalia~
__ADS_1