
"Eh" Nisa berhenti mengirim cubitannya, Ia memandang Mbok Inah yang tengah berdiri kikuk didepan sana.
"Sejak kapan di situ mbok?" tanya Nisa salah tingkah. Ia merapikan posisi duduknya.
"Emm itu..sudah sejak tadi" ceplos mbok Inah jujur.
"Lho kok nggak langsung kesini?"
"Hehe takut ganggu non" ucap Mbok Inah seraya melangkah mendekat. Ia meletakan minuman dari nampan yang dibawanya ke atas meja.
"Aduh mbok harusnya dari tadi aja kesini" gerutu Azam sembari memegangi perutnya yang terasa nyeri bekas cubitan.
"Maap den"
Mbok Inah menggaruk tengguknya yang tidak gatal, posisinya menjadi serba salah.
"Emm itu non, mau sarapan atau dipijat dulu?atau mau sarapan sekalian dipijat?" tanya nya untuk mencairkan suasana.
"Nisa sarapan dulu deh mbok, udah laper"
"Ya sudah mbok bereskan ini dulu yah" ucap mbok minah menunjuk tempat tidur Nisa tadi malam.
"Astaga" desis Nisa lirih. Ia sendiri lupa membereskan.
"Biar Nisa aja mbok" cegah Nisa menghentikan gerakan Mbok Inah yang mulai melipat kasur lantainya.
"Non Nisa sarapan aja dulu. Nanti malu lagi kalo mau disuapin"
Pipi Nisa mendadak memerah,
"Apaan sih mbok, Nisa makan sendiri kok" elaknya seraya mengambil satu bungkus bubur ayam.
"Bohong dosa lho non" ledek mbok Inah tersenyum menggoda.
"Aish simbok, tau aja kek cenayang"
"Simbok kan pernah muda"
Mbok inah tertawa kecil, Lantas bangkit dengan menenteng kasur lantai.
"Dimana kamarnya non?"
"Dilantai dua, dari ujung anak tangga belok kanan mbok"
"Iya sudah, Simbok Izin masuk yah"
"Iya mbok makasih"
"Sejak kapan lo punya malu?" cerca Azam saat punggung mbok Inah telah menjauh.
"Sejak zaman kolonial"
"Busyet, lahir tahun berapa lo"
"Nggak tau, udah lupa. Gue cuma inget nama mantan soalnya" jawab Nisa tanpa dosa.
"Alhamdulillh. Jadi nggak perlu susah-susah beli kado buat ultah" ucap Azam sinis.
Nisa memicingkan matanya,
"Iya, gue juga nggak susah kok buat ngebunuh orang tanpa menyentuh"
Azam menelan salivanya susah payah, nyalinya menciut.
"Sini gue suapin Nis, lo kan lagi sakit nggak boleh capek-capek" tutur Azam lembut.
"Gue bisa sendiri"
"oooo oke" Azam melipat tangannya di dada, tidak ada niatan sedikitpun untuk mencegah.
Nisa menyendok bubur ayamnya dengan kesal.
"Lo sendiri yang bilang mau makan sendiri" cecar Azam merasa tak tenang melihat kekesalan yang terpampang diwajah manis Nisa.
"Iya. Tapi jangan salahin gue kalo sehabis pulang dari sini lo muntah darah"
Azam spontan menurunkan tanganya
"Sini gue suapin aja" Ia buru-buru mengambil bungkusan bubur Azam ditangan Nisa
"Pacar gue manusia tulen atau titisan mak lampir sih? kalo marah serem banget anj*r"
"Aaaa" ucap Azam meminta Nisa membuka mulut.
"Enak?"
Nisa memgangguk singkat, mulutnya penuh dengan makanan
"Lo beli dimana? enak banget makanannya"
" Serius enak?"
"Iya. Jadi pengen gue pacarin abang penjualnya "
"Itu Bunda gue yang masak"
"Apah?" ucap Nisa tak percaya.
"Iya, masih pengen mau macarin?"
"Hehe enggak, jadi camer aja udah cukup"
Azam menyuapkan lagi makanan ke mulut Nisa.
"Zam"
"hmm" gumam Azam pendek.
"Gue nggak bisa masak"
"Udah tau"
__ADS_1
"Nanti kalo Bunda lo nggak suka sama gue gimana?"
"Emang lo mau nikah sama Bunda gue?"
"Ya enggak gitu, cuma kan..ya gimana yah..gue insecure gitu"
"Bunda gue orangnya welcome kok. Nanti dia pasti mau ngajarin"
"Serius nih?
"Dua rius"
Nisa menghela nafas semoga saja hubungannya tidak terhalang restu orang tua.
Azam dengan telaten menyuapi Nisa hingga makanannya tandas.
Tampak Mbok inah yang tengah berjalan kearah ruang tamu.
"Non, maaf tadi ada yang telpon" ucap mbok minah menyerah kan ponsel Nisa.
"Siapa mbok?" jawab Nisa sembari menerima ponselnya.
"Nomor baru Non. Nggak ada namanya"
Nisa sedikit terkejut melihat riwayat panggilan diponselnya, meski tanpa nama Nisa paham betul nomor siapa yang menelepon nya. Ia juga melihat notif pesan masuk.
Aldo: Pagi Nis.
Lo ada acara nggak hari ini? main yuk
mumpung weekend.
"Siapa Nis?" tanya Azam ingin tahu.
Nisa buru-buru menutup pesan chat nya.
"Emm temen gue" ucapnya gugup.
"Siapa?"
"Eh itu..ya temen gue lah" Nisa membuang wajahnya ke arah lain.
"Temen yang mana?"
Nisa terdiam menunduk, tak menyahuti. Hatinya ragu hendak menjawab jujur.
"Temen lama" balas Nisa lirih.
Azam mengangguk-anggukan kepalanya, tak ingin berdebat. Nanti-nanti juga bisa nyadap WA nya kan?😉
"Mbok? Nisa boleh minta pijit sekarang?"
"Boleh dong" mbok Inah pun memulai tugasnya.
Drrtt...
Satu pesan baru masuk. Nisa melirik sekilas isi pesan yang masuk.
Aldo: bisa kan?
Azam semakin dibuat penasaran.
"Kok nggak dibales?"
"Emang harus yah?" tanya Nisa balik.
"Menunggu kabar nggak seenak roti bakar Nis"
"Iya gue bales" jawab Nisa cuek.
Nisa: Maaf gue nggak bisa. lagi nggak enak badan.
"Cewek atau cowok sih?"
Nisa menganggkat kepalanya, menatap wajah Azam lamat-lamat. Ingin Jujur tapi takut nanti marah. Berbohong pun jika ketahuan dimarahi.
Drt....drtttt
Ponsel Nisa bergetar lama, menandakan panggilan masuk.
Nisa cepat-cepat menggeser tanda merah.
"Siapa sih?"
"Bukan siapa-siapa kok"
Drrt...drttt
Nisa semakin gugup, sekali lagi menolak panggilanya. Bukannya berhenti, panggilan yang masuk menjadi beruntun.
"Angkat aja siapa tau penting"
"Tapi..."
"Kasian lo tolak mulu. Kayak gue dulu" cibir Azam.
"Serius nih?"
Azam mengangguk mantap. Nisa menurut, Ia menerima panggilan telepon dari Aldo.
Aldo: Lo sakit apa?
Nisa: Cuma kecapean kok
Aldo: Udah ke dokter?
Nisa: Gue mau istirahat aja, nanti juga sembuh.
Aldo: Nanti kalo kenapa-napa gimana?
Nisa: Doa in aja biar cepet sembuh
__ADS_1
Aldo: Iya-iya. Kalo ada apa-apa kabarin gue.
Nisa: oke
Aldo: Selamat beristirahat.
Nisa: he.em
Tuuut... Sambungan telepon pun terputus.
1 jam berlalu, Azam akhirnya pamit pulang.
"Mama lo mana? gue mau pamit pulang"
"Mama paling masih tidur, maklum hari libur kan enaknya bobo cantik"
"Nyindir nih?"
"Enggak"
"Terus nyesel gue dateng kesini?"
"Seneng kok"
Azam mendengus pelan, ini cewek maunya apa sih?.
"Ya udah gue balik dulu"
Nisa membuka pintu rumahnya, mempersilahkan Azam keluar.
Tiba-tibaTerdengar deru mesin mobil dari luar pagar rumah, membuat arah pandangan mata teralihkan keluar.
"Gue bukain dulu" ucap Nisa saat yakin ada tamu yang hendak mampir.
Deg...
Jantung Nisa berdetak kencang, Ia sangat mengenali mobil yang berhenti di depan pagar rumahnya.
"Aldo? ngapain dia disini?" batin Nisa.
"Al" panggil Nisa lirih mendekati Aldo yang telah berdiri di depan pintu mobilnya.
"Hai Nis" balas Aldo tersenyum lebar sembari mengeluarkan beberapa bingkisan.
" Ada apa Al?"
"Gue mau jengukin lo"
"Emm gue cuma nggak enak badan aja kok"
Aldo memberikan bingkisan yang dibawanya.
"Buat lo, semoga cepet sembuh yah"
Nisa menerima pemberian Aldo sedikit canggung.
"Makasi, maaf jadi ngerepotin"
"Ngerepotin apaan? gue malah seneng rindu gue terobati"
Nisa menggigit bibirnya menahan senyumannya agar tak terkembang lebar. Meski hatinya berbunga namun Ia sadar ada hati yang harus dijaga.
"Masuk duku yuk" tawar Nisa tulus, meski Ia akan menjadi tak enak hati dengan Azam.
"Enggak usah, gue langsung balik aja"
"Kenapa? baru juga sampe" balas Nisa basa-basi.
"Nanti kalo gue mampir lo kapan istirahatnya" sambung Aldo mengacak rambut Nisa.
"Aduh Al, berantakan nih"
"Nggak papah masih tetep cantik kok"
Nisa merapikan rambutnya yang acak-acakan dengan bibir cemberut.
"Gue balik dulu. Istirahat yang cukup biar cepet sembuh. Jangan lupa makan teratatur dan minum obat"
"Iya"
Aldo kembali masuk ke mobilnya, melambaikan tangan sebentar sebelum menjalankan mobilnya.
Kedua sudut bibir Nisa tertarik ke atas, melepas mobil Aldo yang mulai merambat jalan.
"Astaga, Azam liat nggak yah" desis Nisa panik. Ia berlari masuk ke dalam.
"Gue pulang Nis" ucap Azam dingin seraya membuka pintu mobilnya.
"Azam lo marah?"
"Enggak"
"Iih nggak marah tapi cuek"
"Enggak" Azam memperlihatkan senyuman yang dipaksa keluar.
"Kan Aldo sendiri yang kesini bukan gue yang nyuruh"
"Iya"
"Lo nggak cemburu kan?"
"enggak"
"Terus? bibir manyun begitu apa namanya?"
"Gue cuma lagi mikir"
"Mikir apa?"
"Selingkuh dosa nggak sih?"
__ADS_1
Kedua mata Nisa terbelalak lebar.
"Pengen gitu punya doi yang bisa tegas sama mantan" seru Azam lalu menyalakan mesin mobilnya, meninggalkan Nisa yang mematung mencerna kalimatnya.